Review: Silence (2016)


Di tahun 1988, Vatikan memberikan Martin Scorsese sebuah buku berjudul Silence yang ditulis oleh Shūsaku Endō. Buku tersebut diberikan Vatikan kepada Scorsese setelah sebelumnya pihak Vatikan dilaporkan merasa kecewa dengan penggambaran kehidupan Yesus Kristus oleh Scorsese pada The Last Temptation of Christ (1988). Meskipun telah difilmkan sebelumnya oleh Masahiro Shinoda pada tahun 1971 dengan menggunakan judul yang sama, Scorsese kemudian terobsesi dengan buku karangan Endō tersebut dan berhasrat untuk mengadaptasi Silence sebagai film berikutnya. Perjalanan proses adaptasi Silence menjadi sebuah film dimulai Scorsese semenjak tahun 1990. Sayangnya, berbagai hambatan yang merintangi jalan Scorsese – mulai dari naskah cerita yang tak kunjung dirasakan memuaskan, jajaran pemeran yang silih berganti hingga beberapa tuntutan hukum yang kemudian muncul akibat molornya proses produksi film – membuat Silence gagal untuk diselesaikan. Akhirnya, setelah menyelesaikan proses produksi The Wolf of Wall Street (2013) dan lebih dari dua dekade berusaha mengadaptasi Silence, Scorsese memilih untuk berkonsentrasi pada film yang telah menjadi hasrat pribadinya tersebut. Dan sebagai film yang telah menunggu hampir 30 tahun untuk dirilis, Scorsese mampu membuktikan bahwa Silence adalah sebuah mahakarya yang patut untuk diperjuangkan.

Berlatar belakang di abad ke-17, Silence memulai pengisahannya ketika dua orang pastur Yesuit asal Portugal, Sebastião Rodrigues (Andrew Garfield) dan Francisco Garupe (Adam Driver), dikirim ke Jepang untuk mencari keberadaan pastur senior sekaligus mentor mereka, Father Cristóvão Ferreira (Liam Neeson). Jepang pada saat itu menolak kedatangan agama Kristen dan menghukum setiap orang yang memeluk atau menyebarkan Kristen di tanah Jepang. Father Cristóvão Ferreira sendiri dikabarkan telah murtad sebagai pemeluk Kristen akibat merasa tidak tahan dengan siksaan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang. Kedatangan Sebastião Rodrigues dan Francisco Garupe ternyata kemudian disambut dengan hangat oleh beberapa penduduk desa yang telah memeluk Kristen namun terpaksa menjalankan ibadah mereka secara diam-diam akibat teror dari pemerintah. Dengan bantuan penduduk desa yang mereka yang mereka singgahi, kedua pastur muda tersebut mulai mengumpulkan petunjuk mengenai dimana keberadaan Father Cristóvão Ferreira. Di saat yang bersamaan, pemerintah Jepang mulai mengetahui keberadaan keduanya dan mengerahkan berbagai cara untuk dapat menangkap mereka.

Epik mungkin adalah kata perdana dan yang paling tepat untuk menggambarkan Silence. Bagaimana tidak. Dengan durasi pengisahan yang mencapai 161 menit, Scorsese berhasil menggarap Silence sebagai sebuah film yang brutal, indah sekaligus meditatif mengenai bagaimana manusia mampu bertahan hidup dan berjuang demi kepercayaan yang mereka pegang teguh. Tidak semenitpun dari hampir tiga jam perjalanan durasi penceritaan Scorsese akan Silence terbuang dengan sia-sia. Paruh pertama pengisahan Silence diisi Scorsese dengan mengenalkan wilayah Jepang pada masa terdahulu yang cukup terisolasi dari dunia luar – bayangkan The New World (Terrence Malick, 2005) namun tanpa segala sentuhan puitisnya. Paruh kedua kemudian diisi dengan renungan kejiwaan sang karakter utama akan keyakinan yang ia pegang: Apakah keyakinan tersebut pantas untuk tetap diperjuangkan ketika banyak orang menjadi korban akibat keberadaan keyakinan tersebut? Sementara patuh ketiga Silence menandai datangnya seorang narator cerita yang baru sekaligus perubahan sikap yang dialami oleh sang karakter utama. Setiap bagian pengisahan tersebut mampu diolah Scorsese dengan begitu apik, rapi dan akan membuat setiap penonton turut menyelami perjalanan rohaniah sang karakter utama.

Yang membuat Silence berbeda dengan kebanyakan film-film Hollywood bertema reliji lainnya – selain karena film ini ditangani oleh seorang Scorsese, tentu saja – adalah alur pengisahan film ini memiliki struktur yang kompleks namun mampu dipaparkan dengan penuh kesederhanaan. Lihat saja bagaimana karakter Sebastião Rodrigues dan Francisco Garupe yang tak melulu digambarkan sebagai sosok suci dalam film ini. Atau karakter Kichijiro (Yōsuke Kubozuka) yang acapkali terasa sebagai Judas akibat deretan pengkhianatannya kepada dua orang pastur yang menjadi karakter utama film namun, di saat yang bersamaan, digambarkan menyimpan beban berat rasa bersalah akibat perbuatannya tersebut. Seperti halnya kehidupan, Scorsese juga mampu menyelipkan komedi diantara kebrutalan pengisahan yang ia sajikan. Sebuah sentuhan yang akan membuat Silence semakin sukar untuk dilepaskan dari pemikiran para penontonnya jauh seusai mereka menyaksikan film ini. Sejujurnya, tidak mudah untuk menyaksikan film ini. Dengan durasi penceritaan yang panjang dan tata pengisahan Scorsese yang secara perlahan demi pemaparan yang lebih kuat jelas akan membuat beberapa orang merasa kelelahan. Terasa sebagai sebuah hukuman yang harus dijalani. Namun, di saat yang sama, hampir tidak ada yang akan menyangkal bahwa Silence juga memberikan hadiah yang fantastis bagi mereka yang bersabar menyimak penceritaannya. Sebuah perjalanan yang begitu terasa personal dan penuh gairah tentang kisah spritual umat manusia yang akan mampu menjangkau tidak hanya sekelompok umat saja.

Selain tata pengisahan yang begitu mengikat, Silence juga mendapatkan dukungan kualitas yang prima dari departemen produksi serta penampilan para pengisi departemen akting filmnya. Garfield, Driver dan Neeson menampilkan penampilan terbaik mereka untuk film ini. Garfield, khususnya, bahkan mampu membuat karakter yang ia perankan akan terasa begitu emosional bagi para penontonnya. Penampilan Kubozuka sebagai sosok Kichijiro juga mampu mencuri perhatian dalam kehadiran karakter tersebut di dalam pengisahan film. Dari departemen produksi, tata sinematografi arahan Rodrigo Prieto menjadi yang paling menonjol dalam Silence ketika Scorsese, seperti yang ingin disampaikan film ini, menggunakan banyak gambar Prieto untuk menghasilkan atmosfer kemuraman dan kesunyian cerita. Selebihnya, Silence adalah sebuah karya Scorsese yang monumental dan mampu berdiri kuat diantara mahakarya terbaik Scorsese di sepanjang karirnya sebagai seorang sutradara. [A-]

silence-andrew-garfield-martin-scorsese-movie-posterSilence (2016)

Directed by Martin Scorsese Produced by Barbara De Fina, Randall Emmett, Vittorio Cecchi Gori, Emma Tillinger Koskoff, Gaston Pavlovich, Martin Scorsese, Irwin Winkler Written by Jay Cocks, Martin Scorsese (screenplay), Shūsaku Endō (book, Silence) Starring Andrew Garfield, Adam Driver, Liam Neeson, Tadanobu Asano, Ciarán Hinds, Issey Ogata, Shinya Tsukamoto, Yoshi Oida, Yōsuke Kubozuka, Nana Komatsu, Ryo Kase, Béla Baptiste Music by Kim Allen Kluge, Kathryn Kluge Cinematography Rodrigo Prieto Edited by Thelma Schoonmaker Production company SharpSword Films/AI Film/Emmett/Furla/Oasis Films/CatchPlay/IM Global/Verdi Productions/YLK Sikelia/Fábrica de Cine Running time 161 minutes Country United States/Taiwan/Mexico/United Kingdom/Italy/Japan Language English, Japanese

Advertisements

2 thoughts on “Review: Silence (2016)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s