Review: Lion (2016)


Diadaptasi dari buku berjudul A Long Way Home yang ditulis oleh Saroo Brierley berdasarkan kisah kehidupannya sendiri, Lion memulai perjalanan kisahnya ketika Saroo kecil (Sunny Pawar) secara tidak sengaja terpisah dari kakaknya, Guddu (Abhisek Bharate), di sebuah kota kecil di India. Setelah terombang-ambing selama beberapa waktu di jalanan India, Saroo akhirnya ditempatkan di sebuah panti asuhan. Disana, Saroo kemudian diadopsi oleh pasangan suami istri, John (David Wenham) dan Sue Brierley (Nicole Kidman), yang lantas membawa Saroo untuk tinggal di tempat tinggal mereka di Australia. Baik John dan Sue, yang juga mengadopsi anak laki-laki lain dari jalanan India, merawat Saroo layaknya anak mereka sendiri. Tahun demi tahun berlalu, Saroo dewasa (Dev Patel) masih belum dapat melupakan berbagai kenangan masa lalunya akan sang ibu, kakak dan adiknya di India. Perasaan itu secara perlahan mulai membebani Saroo dan membuat kehidupannya lantas berjalan tanpa arah yang jelas. Depresi, Saroo lantas memutuskan bahwa satu-satunya cara agar ia dapat berdamai dengan masa lalunya adalah dengan mencari dan menemui sendiri dimana keberadaan keluarga kandungnya di India.

Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara asal Australia, Garth Davis, Lion menghabiskan paruh pertama pengisahannya untuk memperkenalkan latar belakang kehidupan sang karakter utama, Saroo. Didukung dengan penampilan yang sangat menyita perhatian dari aktor cilik Pawar, Davis berhasil menyajikan kehidupan Saroo kecil dengan begitu dinamis – mulai dari latar kehidupannya yang diwarnai dengan kemiskinan yang kental hingga hubungan antara dirinya dengan sang ibu serta kakaknya yang begitu erat. Tata sinematografi buatan Greig Fraser juga begitu mampu menangkap kerasnya kehidupan Saroo kecil di belantara jalanan India dalam kesehariannya. Secara perlahan, Davis berhasil merangkum kekuatan emosional dari naskah cerita garapan Luke Davies dan mengubahnya menjadi sebuah sajian yang akan mampu menyentuh perasaan para penonton.

Sayangnya, kedinamisan pengisahan Lion mulai terusik ketika film ini mencapai tahap pengisahan selanjutnya – dengan Patel menggantikan posisi Pawar untuk memerankan karakter Saroo dewasa. Lion yang awalnya berjalan dengan ritme pengisahan yang cenderung cepat kemudian mulai melambat dengan deretan konflik yang terasa dituturkan secara bertele-tele tanpa pernah mendapatkan penggambaran yang cukup kuat. Dengan durasi pengisahan yang mencapai 118 menit, dan konflik yang gagal untuk terbangun dengan sempurna, banyak bagian pengisahan Lion menjadi terasa hambar dan dapat saja ditinggalkan tanpa pernah memberikan pengaruh yang signifikan pada konflik utama pengisahan film. Lihat saja bagaimana beberapa karakter pendukung, seperti karakter Lucy yang diperankan Rooney Mara atau Mantosh yang diperankan Divian Ladwa, yang hadir dengan pengisahan yang sebenarnya cukup potensial namun kemudian gagal dikembangkan sehingga menjadi beban tersendiri bagi penceritaan keseluruhan film ini. Untungnya, walau terasa sedikit terlambat, Davis mampu mengangkat kembali ritme pengisahan di paruh ketiga film. Ending yang dipilihkan juga cukup memuaskan secara emosional sehingga mampu membuat penonton melupakan kehambaran jalan pengisahan di penceritaan sebelumnya.

Garapan pengisahan Davis atas Lion mungkin menemui permasalahan di banyak bagiannya. Namun, untuk kualitas departemen akting, Davis jelas berhasil mendapatkan kualitas akting terbaik dari jajaran pemerannya. Penampilan Patel sebagai Saroo dewasa cukup mampu melanjutkan penampilan Pawar yang berperan sebagai Saroo kecil dan menjadikan karakter tersebut memiliki ikatan emosional yang cukup kuat kepada penonton. Begitu juga dengan Kidman. Berperan sebagai seorang ibu, Kidman mampu menjalin chemistry yang sangat erat dan meyakinkan, baik kepada Pawar maupun Patel. Namun, adalah penampilan Pawar yang sangat kuat yang membuat Lion menjadi sebuah sajian yang istimewa. Layaknya penampilan Jacob Tremblay dalam Room (Lenny Abrahamson, 2015), penampilan Pawar menjadi sumber kehidupan bagi Lion. Hal ini yang menjadi sebagian faktor kenapa Lion kemudian terasa kehilangan sebagian nyawanya ketika Pawar tidak lagi muncul dalam pengisahannya. Meskipun begitu, Lion adalah sebuah drama yang tergarap dengan cukup baik. Dapat saja tampil lebih kuat jika paruh pertengahan kisah mampu dieksekusi dengan lebih baik. Namun, secara keseluruhan, Davis mampu membuktikan dirinya sebagai sosok sutradara yang memiliki potensi yang cukup menjanjikan di masa yang akan datang. [B-]

lion-dev-patel-movie-poster-02Lion (2016)

Directed by Garth Davis Produced by Iain Canning, Angie Fielder, Emile Sherman Written by  Luke Davies (screenplay), Saroo Brierley, Larry Buttrose (book, A Long Way Home) Starring  Sunny Pawar, Dev Patel, Rooney Mara, Nicole Kidman, David Wenham, Abhishek Bharate, Divian Ladwa, Keshav Jadhav, Priyanka Bose, Deepti Naval, Tannishtha Chatterjee, Nawazuddin Siddiqui, Benjamin Rigby, Riddhi Sen, Kaushik Sen, Rita Boy, Pallavi Sharda, Sachin Joab, Arka Das, Emilie Cocquerel Music by Hauschka, Dustin O’Halloran Cinematography by Greig Fraser Edited by Alexandre de Franceschi Production company See-Saw Films/Aquarius Films/Screen Australia/Sunstar Entertainment/The Weinstein Company Running time 118 minutes Country Australia, United Kingdom Language English, Hindi, Bengali

Advertisements

2 thoughts on “Review: Lion (2016)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s