Review: Collateral Beauty (2016)


How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Tidak ingin Howard tenggelam lebih lama dalam rasa dukanya, sekaligus berusaha untuk menyelamatkan perusahaan tempat mereka bekerja, rekan kerja sekaligus sahabat Howard, Whit Yardsham (Edward Norton), Simon Scott (Michael Peña) dan Claire Wilson (Kate Winslet) akhirnya menyusun sebuah rencana besar yang mereka percaya dapat merubah situasi buruk yang sedang mereka hadapi.

Sebagai sebuah pengisahan yang ingin menggambarkan rasa duka mendalam yang dirasakan oleh seorang ayah ketika kehilangan puteri yang sangat ia cintai, naskah cerita garapan Allan Loeb (So Undercover, 2013) sebenarnya memiliki begitu banyak potensi untuk merebut hati dan simpati penontonnya. Sayang, daripada berusaha memberikan penggalian yang lebih mendalam mengenai karakter Howard Inlet dan rasa duka yang ia rasakan, Loeb lebih tertarik untuk mengisi filmnya dengan kalimat-kalimat puitis nan inspiratif yang (mungkin) ia rasakan dapat memberikan dorongan semangat bagi sang karakter utama. Tentu, pada beberapa momen, dengan tambahan tata musik yang tepat dan penampilan barisan pemeran yang tepat, adegan-adegan penuh dengan kalimat puitis tersebut mampu memberikan sentuhan emosional tersendiri. Namun, pada kebanyakan bagian, Collateral Beauty terasa hampa akibat naskah penceritaan Loeb yang hanya mampu menyentuh bagian permukaan dari rasa kesedihan yang sebenarnya menjadi inti utama pengisahan film ini.

Collateral Beauty sendiri tidak melulu berkisah mengenai sang karakter utama. Karakter-karakter pendukung yang diperankan oleh Norton, Peña dan Winslet juga diberikan ruang penceritaan tersendiri. Namun, sama sekali seperti yang dialami oleh penceritaan sang karakter utama, kisah-kisah dari para karakter pendukung ini juga tampil dengan begitu dangkal. Sama sekali tidak pernah diberikan ruang yang cukup untuk mendapatkan eksplorasi yang layak sehingga seringkali terasa dihadirkan hanya untuk menjadi distraksi akan bagaimana sempitnya pengisahan yang diberikan film ini pada karakter utamanya. Karakter-karakter pendukung yang diperankan oleh Helen Mirren, Keira Knightley dan Jacob Latimore juga bernasib tidak lebih baik. Ketiganya nyaris hanya tampil sebagai penampilan selingan belaka. Sebuah twist yang diberikan Loeb pada ketiga karakter tersebut di akhir cerita bahkan membuat kehadiran mereka menjadi terasa begitu menggelikan.

Harus diakui, kualitas penulisan naskah cerita Loeb memang menjadi masalah utama bagi Collateral Beauty. Frankel harusnya memang memilih jalur pengarahan yang lebih imajinatif dan kuat untuk menutupi kekurangan kualitas penceritaan filmnya, Namun, terlepas dari kekurangan tersebut, Frankel cukup mampu menjaga ritme penceritaan Collateral Beauty sehingga sama sekali tidak pernah benar-benar terasa membosankan, Dan, tentu saja, film ini sangat terbantu dengan kualitas akting yang ditampilkan barisan pengisi departemen aktingnya. Meskipun karakter-karakter mereka tampil dengan kapasitas yang begitu terbatas, Smith, Norton, Peña, Winslet, Mirren, Knightley, Latimore dan Naomie Harris setidaknya layak untuk diberikan sedikit pujian atas usaha mereka untuk menjadikan Collateral Beauty tidak pernah benar-benar tampil sebagai sebuah film yang buruk. Smith dan Mirren bahkan seringkali muncul dalam kualitas akting yang mencuri perhatian. Namun, dengan kualitas pengisahan pas-pasan, tetap saja membuat barisan penampilan berkelas para aktor dan aktris Hollywood tersebut terasa terbuang dengan percuma. [C]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s