gending-sriwijaya-header

In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?

Berlatar belakang waktu pada abad ke-16, tiga abad setelah keruntuhan Kerajaan Sriwijaya, Gending Sriwijaya berkisah mengenai kerajaan kecil yang bernama Kedatuan Bukit Jerai yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Mahawangsa (Slamet Rahardjo) dan permaisurinya, Ratu Kalimanyang (Jajang C Noer). Konflik di kerajaan tersebut muncul setelah Dapunta lebih memilih anak lelaki keduanya, Purnama Kelana (Sahrul Gunawan), untuk menggantikan posisinya duduk di singgasana karena menilai bahwa putera keduanya tersebut memiliki wawasan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam memimpin sebuah kerajaan. Padahal menurut adat, Dapunta seharusnya memilih anak tertuanya, Awang Kencana (Agus Kuncoro), untuk menjadi raja berikutnya. Konflik tersebut semakin meruncing dan akhirnya memaksa Purnama Kelana untuk menjauh dari keluarganya sendiri.

Dalam pelariannya, Purnama Kelana lalu bertemu dengan Malini (Julia Perez), puteri pimpinan kelompok perampok bernama Ki Goblek (Mathias Muchus) yang sebenarnya menyimpan dendam terhadap Dapunta karena pengkhianatan yang telah ia lakukan terhadap Ki Goblek di masa lampau. Pun begitu, secara perlahan, Purnama Kelana mulai menemukan tempatnya bersama kelompok Ki Goblek. Sementara itu, setelah meninggalnya Dapunta, Awang Kencana yang kini telah menduduki singgasana, mulai menugaskan seluruh prajurit kerajaan untuk menumpas seluruh anggota kelompok Ki Goblek karena menilai kelompok tersebut telah mengganggu keamanan Kedatuan Bukit Jerai.

Walaupun menggunakan latar belakang sejarah Kerajaan Sriwijaya yang dahulu pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Indonesia, namun jalan cerita Gending Sriwijaya yang ditulis oleh Hanung Bramantyo sendiri merupakan sebuah karya fiksi. Tidak masalah sama sekali. Dengan tidak mendasarkan kisahnya pada catatan sejarah manapun di masa lampau, Hanung jelas mendapatkan porsi yang lebih luas untuk mengeksplorasi kisah yang ingin ia hadirkan. Dan harus diakui, Hanung mampu mengkreasikan sebuah jalan cerita berlatar belakang masa kerajaan lampau yang cukup menarik, lengkap dengan berbagai intrik seperti sibling rivalry, perebutan kekuasaan, pengkhianatan dan rasa dendam yang tercipta antara satu karakter dengan yang lain.

Hanung juga sepertinya berusaha memperdalam kualitas penceritaannya dengan menghadirkan beberapa unsur cerita yang jelas terlihat menjadi sebuah bayangan akan bentuk kekuasaan yang sedang berlangsung di masa modern saat ini. Hanung dengan cerdas memberikan sindiran mengenai tindakan korupsi, kesejahteraan rakyat, kondisi sosial masyarakat hingga bagaimana catatan dan berbagai bukti-bukti sejarah sama sekali tidak mendapatkan perlindungan dan cenderung hilang begitu saja dimakan usia. Dan yang lebih mengesankan lagi, Hanung berhasil menghantarkan seluruh pesan-pesan sosial tersebut melalui sebuah penceritaan yang ringan dan sama sekali tidak pernah terasa terlalu dipaksakan kehadirannya di dalam jalan cerita.

Pun begitu, bukan berarti Gending Sriwijaya hadir sama sekali tanpa cela. Dengan durasi penceritaan yang mencapai 138 menit, Gending Sriwijaya terasa terlalu banyak membuang-buang waktu pada beberapa bagian ceritanya. Kebalikannya, Hanung justru gagal untuk menghadirkan penggalian yang lebih mendalam pada beberapa bagian cerita film ini sehingga seringkali penonton dibiarkan menterjemahkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada jalan cerita yang sedang berlangsung. Penggunaan bahasa Palembang pada keseluruhan jalan cerita jelas memberikan kesan autentik yang lebih mendalam pada jalan cerita Gending Sriwijaya. Sayangnya, beberapa bagian film justru tidak diberikan terjemahan dialog yang mumpuni sehingga kemungkinan besar akan semakin menambah kebingungan penonton.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Hanung Bramantyo layak diberikan pujian untuk kemampuannya dalam menyajikan sebuah jalan cerita yang berlatar masa lalu dengan kualitas tata produksi yang sangat meyakinkan. Mulai dari tata rias, tata kostum hingga desain produksi film ini mampu memberikan kesan yang kuat bahwa jalan cerita film ini berada pada linimasa waktu yang diinginkan para pembuat filmnya untuk dapat dirasakan penonton. Tata musik arahan Djaduk Ferianto juga sama efektifnya dalam menjaga intensitas emosional jalan cerita. Keberadaan beberapa adegan laga juga mampu dieksplorasi dengan sempurna. Tata koreografi aksi film ini disajikan dengan penataan yang sangat detil dan begitu meyakinkan. Untuk departemen akting, rasanya pengarahan Hanung kepada para pemerannya tidak perlu diragukan lagi, khususnya ketika departemen akting yang ia miliki berisi nama-nama seperti Slamet Rahardjo, Mathias Muchus, Jajang C Noer, Yati Surachman, Teuku Rifnu Wikana hingga nama-nama seperti Sahrul Gunawan, Julia Perez dan Qausar Harta Yudhana. Seluruh pemeran Gending Sriwijaya berhasil memberikan penampilan akting terbaik mereka.

Jelas adalah selalu menyenangkan untuk melihat seorang sutradara yang mau mengeksplorasi berbagai genre film dalam setiap karya penyutradaraannya. Dalam Gending Sriwijaya, Hanung Bramantyo menggarap sebuah film kolosal yang jelas telah sangat jarang ditemui di industri film Indonesia saat ini. Walaupun terdapat kekurangan pada pengembangan cerita dan karakterisasi di beberapa bagian ceritanya, namun Hanung mampu membungkus Gending Sriwijaya dengan baik melalui penghantaran berbagai intrik yang terdapat di dalam jalan cerita, kualitas tata produksi yang terlihat begitu sangat meyakinkan hingga penampilan para jajaran pemeran yang mampu menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan dengan baik. Tidak sempurna namun jelas layak untuk diberikan apresiasi positif.

popcornpopcornpopcorn popcorn3 popcorn2

Gending Sriwijaya (Putaar Production/Pemprov Sumatera Selatan, 2013)

Gending Sriwijaya (Putaar Production/Pemprov Sumatera Selatan, 2013)

Gending Sriwijaya (2013)

Directed by Hanung Bramantyo Produced by Dhoni Ramadhan, Dian Permata Purnamasari, Irene Camelyn Sinaga Written by Hanung Bramantyo Starring Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Sahrul Gunawan, Hafsary Thanial Dinoto, Mathias Muchus, Julia Perez, Oim Ibrahim, Jajang C Noer, Teuku Rifnu Wikana, Qausar Harta Yudana, Anwar Fuady, Yati Surachman, Early Ashy, Goeteng Music by Djaduk Ferianto Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Cesa David Luckmansyah, Ryan Purwoko Studio Putaar Production/Pemprov Sumatera Selatan Running time 138 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s