Review: 5 cm (2012)


Film 5 cm adalah sebuah film yang menandai kali pertama dalam karir penyutradaraan Rizal Mantovani (Pupus, 2011) dimana ia menggarap sebuah film yang naskah ceritanya diangkat dari sebuah novel. Pertama kali dirilis pada tahun 2007, novel 5 cm yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro secara perlahan menjelma menjadi salah satu novel dengan penjualan paling laris di Indonesia. Dengan jalan cerita yang mengangkat mengenai tema persahabatan serta diselimuti dengan kisah petualangan, rasa nasionalisme serta dialog-dialog bernuansa puitis, novel tersebut berhasil menarik minat pembaca novel di seluruh Indonesia hingga berhasil  mengalami cetak ulang sebanyak 25 kali. Kesuksesan itulah yang kemudian menarik minat Sunil Soraya untuk mengadaptasi kisah 5 cm menjadi sebuah film layar lebar bersama dengan Rizal Mantovani.

5 cm sendiri berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara lima orang pemuda, Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), Genta (Fedi Nuril), Ian (Igor Saykoji) dan Arial (Denny Sumargo). Selalu menghabiskan banyak waktu mereka bersama membuat kelimanya telah begitu mampu untuk mengenai karakteristik satu sama lain. Kebersamaan tersebut kemudian mendapatkan tantangan ketika Genta mengusulkan selama tiga bulan ke depan, kelimanya tidak saling berhubungan dan berkomunikasi. Tantangan tersebut sendiri dimaksudkan agar masing-masing sahabat tersebut dapat menyelesaikan berbagai impian yang selama ini selalu tertunda akibat banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama. Kelimanya akhirnya setuju untuk menjalani ujian tersebut.

Tiga bulan berlalu, Genta akhirnya mengirimkan pesan agar keempat sahabatnya membawa sejumlah perlengkapan dan menemuinya di stasiun kereta api. Tak disangka, Genta mengajak sahabat-sahabatnya untuk menempuh sebuah perjalanan menuju kota Malang, Jawa Timur, untuk kemudian melanjutkan perjalanan tersebut dengan melakukan pendakian di Gunung Semeru dan menuju puncaknya, Mahameru, yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Ditemani oleh adik Arial, Dinda (Pevita Pearce),  perjalanan yang akan menguji kuatnya rasa persahabatan antara kelima karakter tersebut akhirnya dimulai.

5 cm memulai perjalanan ceritanya dengan cukup lancar. Proses pengenalan karakter yang disajikan di awal film mampu dihadirkan secara menghibur melalui deretan dialog bernuansa guyonan-guyonan persahabatan yang kental dan hangat. Walau porsi pengenalan karakter tersebut dihadirkan dalam durasi penceritaan yang sedikit terlalu lama, namun akting natural serta chemistry yang cukup erat yang hadir dari jajaran pemeran film ini membuat tempo penceritaan 5 cm tidak pernah terasa berjalan lamban. Kekuatan eksekusi pada bagian awal ini pula yang berhasil membuat deretan karakter dalam jalan cerita 5 cm menjadi begitu mudah untuk disukai.

Permasalahan mulai muncul ketika jalan cerita film mulai beranjak pada kisah mengenai petualangan keenam karakter dalam mendaki terjalnya Gunung Semeru. Ketika tata sinematografi arahan Yudi Datau selalu mampu menghadirkan deretan gambar yang berhasil mempesona penontonnya, tidak begitu halnya dengan pengembangan kisah yang dijalani karakter-karakter tersebut. Ketika 5 cm memulai perjalanannya sebagai sebuah film petualangan, tema penceritaan yang awalnya berkisah tentang persahabatan terasa berubah total menjadi kisah rasa nasionalisme masing-masing karakternya terhadap negara tempat mereka tinggal – lengkap dengan deretan dialog yang diutarakan dengan nada deklamasi yang, harus diakui, cukup menggelikan untuk didengarkan.

Tidak ada masalah dengan tema nasionalisme – ataupun dialog puitis yang dibacakan secara deklamasi ketika setiap karakter berada dalam situasi non formal di ruang terbuka. Yang terasa mengganggu adalah bagaimana sikap setiap karakter yang awalnya sama sekali tidak terlihat memiliki ‘bibit-bibit’ nasional seketika berubah penuh ketika mereka melakukan pendakian dan menyaksikan keindahan alam sekitarnya. Terasa tidak berjalan alami, semu dan… well… curang untuk lantas memasukkan tema penceritaan nasionalisme dengan sebuah latar belakang alasan yang tidak begitu kuat. Deretan konflik dan tantangan yang dialami setiap karakter dalam perjalanan mereka menuju puncak Mahameru juga gagal untuk dikembangkan dengan baik. Setiap permasalahan terkesan hanya dihadirkan untuk menambah intensitas ketegangan dalam jalan cerita untuk kemudian hilang begitu saja seperti sama sekali tidak pernah terjadi.

Bagian paling buruk dari deretan penceritaan 5 cm jelas berada pada akhir cerita film ini – yang kini kembali berpaling dari tema nasionalisme dan beralih menjadi tema romansa. Adalah sangat dimengerti bahwa bagian ini dihadirkan untuk memberikan penyelesaian atas pertanyaan-pertanyaan asmara yang hadir pada beberapa karakter semenjak jalan penceritaan dimulai. Namun, eksekusi cerita sendiri berlangsung dengan sangat cepat dan dilakukan dengan jalan yang murahan. Kehadiran bagian romansa ini juga seperti merusak tatanan cerita yang seharusnya telah mencapai klimaks ketika jalan cerita 5 cm lebih berfokus pada petualangan para karakternya.

Terlepas dari kurang mampunya Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya dan Hilman Mutasi sebagai penulis naskah dalam mengembangkan tema nasionalisme dan romansa dalam jalan cerita 5 cm, harus diakui bahwa film ini masih tetap mampu berdiri tegak sebagai sebuah fim berkelas atas pengarahan Rizal Mantovani yang dinamis. Rizal mampu menghadirkan jalan cerita 5 cm dengan ritme penceritaan yang begitu mudah untuk diikuti. Kualitas film ini semakin terasa kuat berkat dukungan tata teknis yang apik, khususnya tata sinematografi yang benar-benar mengagumkan karya Yudi Datau, serta dukungan penampilan para jajaran pengisi departemen aktingnya. Bukan sebuah film yang sempurna namun jelas merupakan film yang akan mampu memikat banyak penontonnya.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

5 cm (Soraya Intercine Film, 2012)
5 cm (PT. Soraya Intercine Film, 2012)

5 cm (2012)

Directed by Rizal Mantovani Produced by Sunil Soraya Written by Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, Hilman Mutasi (screenplay), Donny Dhirgantoro (novel, 5 cm) Starring Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, Denny Sumargo, Kenes Andari, Didi Petet, Tommy Adhitya Music by Nidji, The Future Conspiracy Cinematography Yudi Datau Editing by Sastha Sunu Studio PT. Soraya Intercine Film Running time 130minutes Country Indonesia Language Indonesian

20 thoughts on “Review: 5 cm (2012)”

  1. Harus diakui cinematography film ini SUPERB! Membuat kita jadi pingin naik Gunung Semeru dan tambah cinta sama Indonesia! Hahaha…
    Yang saya sukai lagi adalah bagaimana Rizal mampu bercerita dengan gambar, terutama adegan terakhir dimana kedua karakter hanya saling menatap namun mampu menyampaikan perasaannya masing-masing.
    Tapi, sayangnya, menurut saya, film ini kurang dramatisasi dan konflik. Padahal di BTS mereka sendiri yang bilang di gunung karakter asli seseorang akan keluar, namun kenyataannya Rizal terlalu sibuk merekam keindahan gunung Semeru dan lupa bermain dengan karakterisasi.
    Lalu, yang lainnya lagi adalah akting yang OFF, terutama adegan Riani dan temannya di lift. Untungnya Junot sebagai Zafran mampu menjadi STELLAR di movie ini dengan komedi2 yang mampu membuat satu studio tertawa, Fedi Nuril-pun mampu bermain dengan ekspresinya.
    Dengan segala kekurangannya, film ini tetap menghibur dan juga sebagai salah satu film Indonesia yang baik. Semoga penonton Indonesia bisa mengapresiasi film ini.

  2. Yah, kalau menurut aku sih, film ini jadi salah satu film terbaik Indonesia di tahun 2012 ini. JAdi bangga sama Indonesia.. 😀

  3. lagi2 komen tanggalnya telat,,hewhew telat nonton..

    Klo bicara soal persahabatan.sejujurnya saya lbh suka film indo dari pada thailand.soalnya thailand itu lebay.. Harus menunjukan dengan simbolik2 tertentu kayak genggam tangan, baca puisi, atau pake yel2. Nah film indo kyk sang pemimpi, rep twit, cat si boy, dn msh bnyk lg.. bnyk menunjukan sebetapa bersahabatnya mereka dengan perilaku, nasehat, dan hal2 non verbal lainnya.

    alhasil 5cm adalah film indo yg kental dengan gaya dramatisasi film thailand yg agak lebay.

    Walaupun begitu dialog2 lucu, ide cerita yg baru di indonesia, dan cinematografi yg modal. Menunjukan film 5 c.m cukup baik untuk diberikan apresisasi. Dan untuk segmentasi yg tepat, film ini cukup memberi motivasi bagi penontonnya.

    Mas review habibnun dung..

  4. menurut saya film ini LUAR BIASA. SANGAT BERBEDA DARI FILM INDO LAINNYA, BAIK PENGAMBILAN GAMBAR, PERCAKAPAN, TEMA YG DIANGKAT, dan KEINDAHAN ALAM INDONESIA YG cenderung SUKA KITA DILUPAKAN. MUDAH2 MASUK BOX OFFICE DEH.

  5. Kalo mau kritik cerita film tentunya pemegang kunci ada di novelnya, yg disajikan beranekaragam antara cinta, persahabatan, nasionalisme, petualangan. Entah mengapa orang suka novel yang sepertinya satu sama lain tidak terangkai dengan apik. Hal ini pun diakui Rizal Mantovani dalam sebuah media.
    Setidaknya saya cuci mata, menarik 🙂

  6. Baru aja nonton film ini dan terpukau. Sejujurnya, saya memang merasa ada beberapa bagian yang kurang “ngena” dalam alurnya. Seperti tema nasionalisme yang kurang “diantar” dari awal cerita. Romansanya juga kurang “nendang”, tapi tetep berarti banget.
    Secara keseluruhan, film ini bener2 bagus. Ini film Indonesia pertama yang saya sukai.

  7. Kalau diliat film 5cm agak sama dengan hormones di sesi komedinya dan kisah oercintaannya sama dengan love summer, agak janggal dan aneh, 5cm 2012, film thailand hormones 2008 dan love summer 2011

  8. ditengah kenyamanan menonton film hollywood, ketika menonton film produksi negri sendiri kok jadi serasa asing ya….

Leave a Reply