Beberapa saat setelah perilisan Mama Cake, penonton film Indonesia kembali “dianugerahi” dengan dirilisnya sebuah road movie – film yang menitikberatkan kisahnya pada perjalanan yang dilakukan oleh para karakter ceritanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya – lain yang berjudul Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Viva Westi, bersama dengan Emha Ainun Najib, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya disusun dengan deretan dialog benuansa puitis yang mungkin akan membuat sebagian penontonnya merasa jenuh. Pun begitu, karakter-karakter kuat yang mengisi jalan cerita film ini berhasil membuat Rayya, Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah film yang begitu kuat dalam menyampaikan jalan ceritanya.

Sebagai sebuah road movie, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya berkisah mengenai perjalanan yang dilakukan Rayya (Titi Sjuman) dalam melintasi berbagai daerah di Pulau Jawa bersama seorang fotografer. Rayya adalah seorang sosok selebritis yang saat ini sedang berada di puncak popularitasnya. Kepopuleran nama Rayya itulah yang kemudian ingin dimanfaatkan oleh manajemennya dengan merilis buku yang mengisahkan perjalanan hidup Rayya serta lengkap dengan foto-foto terbarunya. Namun, hal itu tidak berjalan dengan mudah. Rayya, yang juga dikenal sebagai sosok yang sulit diajak bekerjasama bagi mereka yang bekerja di industri hiburan, secara spontanitas memecat fotografer yang ditunjuk oleh manajemennya, Kemal (Alex Abbad), karena menemukan bahwa dirinya telah berbohong.

Tim manajemen Rayya kemudian memilih untuk mengirimkan Arya (Tio Pakusadewo), seorang fotografer yang dikenal dengan kemampuan handal namun masih memilih untuk menghindari berbagai teknik digital dalam pengerjaan karya fotografi-nya – hal yang ditakutkan tim manajemen Rayya akan menjadi sebuah halangan besar dalam kerjasama antara Rayya dan Arya. Dan… awalnya memang begitu. Rayya yang bersifat dingin pada setiap orang yang baru dikenalnya juga memperlakukan Arya dengan cara yang sama. Namun, secara perlahan, Rayya dan Arya saling bertukar pandangan hidup, khususnya mengenai perjalanan luka di hati mereka akibat ditinggal oleh orang-orang yang sangat mereka sayangi.

Sebuah road movie jelas sangat menggantungkan dirinya pada makna yang dapat digali dari perjalanan yang dilakukan oleh para karakter di dalam jalan cerita film tersebut – baik dari interaksi yang dilakukan antar karakternya maupun dengan orang-orang yang mereka jumpai dalam perjalanan tersebut, berbagai permasalahan pribadi yang secara perlahan menyeruak dan muncul selama masa perjalanan hingga akhirnya sebuah solusi yang kemudian sepertinya dapat merubah jalan hidup maupun kepribadian para karakternya. Dalam berbagai sisi hal tersebut, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya mampu menghadirkannya dengan baik.

Dialog-dialog bernuansa puitis yang digunakan Viva Westi dan Emha Ainun Najib dalam dialog-dialog yang dilontarkan oleh karakter Rayya maupun Arya memang dapat menjadi hambatan tersendiri bagi penonton dalam menyelami makna kehidupan yang akan dipelajari oleh kedua karakter tersebut. Namun, kehadiran dialog-dialog puitis tersebut bukan tanpa sebab. Secara perlahan, dialog puitis yang awalnya terkesan begitu berat tersebut mulai mampu berubah menjadi deretan dialog yang menyerupai percakapan “normal” dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mampu terjadi karena adanya interaksi yang kuat antara dua karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini.

Karakter Rayya dan Arya adalah dua karakter yang saling bertolak belakang. Namun, layaknya kutub selatan dan kutub utara, perbedaan yang mencolok antara mereka itulah yang menjadi daya tarik masing-masing. Ketertarikan itu sendiri bukan muncul tanpa sebab, melainkan karena keduanya sama-sama pernah merasakan bagaimana rasa ditinggal pergi oleh orang yang mereka kasihi. Bagaimana cara mereka masing-masing dalam menangani rasa pedih itulah yang kemudian menghasilkan interaksi yang mendalam antara keduanya sekaligus menggiring mereka ke sebuah perubahan yang akhirnya memperngaruhi hidup keduanya. Perubahan dalam diri karakter Rayya dan Arya juga dibantu dengan pengalaman serta karakter-karakter pendukung yang mereka temui selama di dalam perjalanan yang mereka lakukan – yang juga mampu digambarkan dengan begitu puitis dan berisi oleh Viva Westi dan Emha Ainun Najib.

Dengan mengandalkan hanya dua orang karakter utama dalam membawakan cerita, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya jelas membutuhkan chemistry yang erat antara dua orang pemerannya. Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo dengan cerdas berhasil menciptakannya. Catatan khusus perlu diberikan pada Titi Sjuman – mengingat Tio Pakusadewo adalah aktor yang selalu berhasil membawakan setiap karakternya dengan baik. Titi tampil dengan emosi yang meledak-ledak di awal film. Terlihat sebagai sebuah hal yang berlebihan pada awalnya. Namun, seiring dengan berjalannya jalan cerita film, dan semakin dalam penonton mengenal karakter yang dihidupkan oleh Titi, apa yang ditampilkan oleh Titi jelas adalah beralasan. Karakter Rayya adalah sosok yang ingin berontak dari lukanya dan akhirnya, setelah bertemu dengan karakter Arya, mulai menemukan kedamaian tersebut.

Di kualitas produksi, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya sama sekali tidak memiliki masalah. Sinematografi film ini, yang dihasilkan oleh Ipung Rachmat Syaiful, berhasil menangkap keindahan setiap sudut kota yang dikunjungi oleh karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Begitu juga dengan tata musik yang mengiringi kisah film ini. Pasangan Aksan dan Titi Sjuman kembali membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam memberikan nafas dan energi bagi sebuah jalan cerita. Departemen artistik – termasuk penataan busana yang dikenakan oleh karakter Rayya – juga berperan besar dalam menambah keindahan film ini. Sebuah kualitas produksi yang sangat, sangat memuaskan.

Ibarat sebuah perjalanan panjang, mungkin tidak semua orang akan berhasil menjelajahi dan mendapati apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Sebuah padanan road movie dengan deretan dialog yang puitis memang jelas bukan sebuah kombinasi yang mudah untuk dinikmati – khususnya ketika di beberapa bagian cerita, film ini gagal untuk tampil dengan intensitas emosional yang kuat. Pun begitu, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya mampu tampil begitu manusiawi seiring dengan berjalannya durasi film ini, menyeret penontonnya untuk masuk ke dalam jalan cerita dan akhirnya merasa menjadi bagian dari diri karakter Rayya maupun Arya. Poin itulah yang menjadi letak kekuatan Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Sebuah perjalanan emosional luar biasa yang jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (Pic[k]lock Production/Menara Alisya Multimedia, 2012)

Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)

Directed by Viva Westi Produced by Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh Written by Viva Westi, Emha Ainun Najib Starring Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Arie Dagienkz, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Masayu Anastasia, Fanny Fabriana, Vedie Bellamy, Bobby Rachman, Christine Hakim, Lila Azizah, Rico Marpaung, Emi Lemu, Landung Simatupang, Richard Oh, Tino Saroengallo, Sapto Soetarjo, Aksan Sjuman Music by Aksan Sjuman, Titi Sjuman Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Wawan I Wibowo Studio Pic[k]lock Production/Menara Alisya Multimedia Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

 

 

 

About these ads
Comments
  1. sutris says:

    keren nih film,, perpaduan karya sastra, fotografi n travelling,,

  2. helen says:

    sayang hanya tayang 1 minggu,, karena digantikan film HOROR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s