Dirilis dengan publikasi dan promosi yang minimalis, film terbaru karya sutradara Garin Nugroho, Mata Tertutup, ternyata mampu memiliki sudut pandang cerita tentang kondisi struktur sosial dan relijius masyarakat Indonesia lebih maksimal daripada kebanyakan film bertema sama yang beberapa kali dirilis oleh industri film Indonesia akhir-akhir ini. Dengan penyampaian cerita yang lebih dinamis daripada kebanyakan film-film karya Garin Nugroho sebelumnya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa film ini akan dengan mudah dapat dinikmati oleh penonton dalam skala yang lebih luas – Mata Tertutup berjalan secara perlahan dalam membangun struktur ceritanya. Pun begitu, dengan dukungan tata teknis dan kemampuan akting jajaran pemerannya yang begitu solid, Mata Tertutup akan mampu menarik hati, jiwa dan pemikiran setiap penontonnya secara mendalam kepada tiga alur cerita yang dihadirkan Garin di dalam film ini.

Mata Tertutup dibuka dengan adegan doktrinisasi yang dilakukan terhadap seorang gadis bernama Rima (Eka Nusa Pertiwi) oleh para anggota kelompok fundamentalis Islam yang menamakan dirinya Negara Islam Indonesia. Semenjak lama telah terombang-ambing dengan berbagai pemikiran mengapa pemerintahan negara Republik Indonesia seperti begitu mengacuhkan kesejahteraan anggota masyarakatnya, khususnya para kaum perempuan, Rima kemudian mendapatkan pengetahuan mendalam bahwa NII berencana membentuk sebuah pemerintahan baru yang akan mengayomi seluruh masyarakatnya dengan lebih baik. Secara perlahan, rasa simpatik Rima terhadap NII tumbuh semakin besar. Rima kemudian berkembang menjadi simpatisan NII dan turut membantu perekrutan puluhan anggota NII yang baru.

Di belahan cerita lain, penonton akan bertemu dengan Jabir (M Dinu Imansyah), seorang anak pesantren yang terpaksa menghentikan pendidikannya karena kedua orangtuanya telah tidak sanggup lagi untuk membiayainya. Perjalanan waktu, dan kondisi ekonomi dan sosialnya, kemudian membawanya berkenalan dan terjerumus dalam sebuah kelompok pengajian yang memiliki ajaran yang lebih ekstrem daripada kebanyakan pengajaran agama yang sebenarnya. Penonton juga akan dikenalkan dengan Asimah (Jajang C Noer), seorang orangtua tunggal yang sedang kebingungan akibat puterinya yang tidak kunjung pulang ke kediamannya. Asimah kemudian mendapatkan informasi bahwa puterinya telah direkrut untuk menjadi simpatisan NII. Tidak ingin kehilangan puterinya begitu saja, Asimah kemudian memulai perjalanannya untuk mencari keberadaan puteri semata wayangnya.

Mereka yang semenjak lama telah mengikuti karir penyutradaraan Garin Nugroho tentu akan dengan mudah untuk melabeli setiap karya Garin sebagai deretan cerita yang memiliki berjuta arti mengingat selipan simbol maupun metafora yang diletakkan Garin dalam visualisasi maupun dialog jalan ceritanya. Namun tidak begitu dengan Mata Tertutup. Garin memang masih menyampaikan jalan ceritanya dengan tempo yang begitu sederhana dan bertahap – yang jelas akan membuat beberapa bagian penonton merasa terasingkan – namun Mata Tertutup hadir dengan jalan cerita yang sederhana, lugas dan tanpa simbol maupun metafora yang rumit. Pun begitu, Mata Tertutup sendiri tetap tampil tegas dalam penyampaian kisahnya yang provokatif. Berbagai kritikan sosial yang cukup kuat secara cerdas tanpa pernah terasa terlalu menggebu-gebu maupun pretensius.

Kekuatan terbesar Mata Tertutup justru datang dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Selain Jajang C Noer, departemen akting Mata Tertutup memang diisi oleh nama-nama yang mungkin masih jarang terdengar oleh publik penikmat film Indonesia. Namun, jangan pernah sekalipun meragukan penampilan akting yang mereka hadirkan di film ini. Penampilan akting jajaran pemeran Mata Tertutup tampil begitu kuat dalam menghidupkan setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini sehingga mampu mengeluarkan sisi emosional dari jalan cerita yang kadang terasa begitu hambar. Sentuhan berkelas lainnya juga datang dari tata musik arahan Dwiki Darmawan yang berhasil muncul dengan pengaruh emosional yang begitu kuat pada banyak bagian cerita sekaligus tampil begitu elegan dengan sentuhan musik etnik yang dibawakan.

Cara penyampaian kisah yang dilakukan secara bertahap mungkin akan mengalienasi beberapa penonton sekaligus memberikan jarak yang cukup luas bagi penonton untuk mampu merasakan pengaruh emosional langsung dari jalan cerita yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Garin Nugroho. Pun begitu, tidak dapat disangkal, perjalanan yang terjalin begitu perlahan tersebut seakan memberikan kesempatan bagi penonton untuk dapat menyerap berbagai pesan yang dialirkan Garin dan membuat mereka tersadar bahwa apa yang mereka saksikan merupakan sebuah potret telanjang dari apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar mereka – walau seringkali terabaikan. Didukung denga penampilan departemen akting yang begitu kuat serta tata produksi yang sangat meyakinkan, Mata Tertutup adalah satu dari sangat sedikit sajian yang dapat ditawarkan oleh industri film Indonesia yang akan mampu memberikan bekas yang begitu mendalam kepada jalan pemikiran para penontonnya. Powerful stuff indeed.

Mata Tertutup (SET Film/Maarif Production, 2012)

Mata Tertutup (2012)

Directed by Garin Nugroho Produced by Asaf Antariksa, Endang Tirtana Written by Tri Sasongko Starring Jajang C Noer, M Dinu Imansyah, Eka Nusa Pertiwi, Andryani Isna, Rijal Maj, Yoga Bagus Satatagama, Tri Sasongko, Dyah Arum, Ign Wahono, Kedung Darma R, Taslim Idrus, Nanang Rakhmat Hidayat, Yesi Yoane, Kukuh Riyadi Music by Dwiki Darmawan Cinematography Anggi Frisca Editing by Beck, Arturo GP Studio SET Film/Maarif Production Running time 102 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Fotodeka says:

    sepertinya recomended film deh ini :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s