Jika saja The Fighter (2010) tidak dirilis terlebih dahulu, dan berhasil meraih kesuksesan kritikal dan komersial yang begitu besar, mungkin tahun ini perhatian dunia akan tertuju pada penampilan luar biasa dari trio Tom Hardy, Joel Edgerton dan Nick Nolte dalam sebuah film bertemakan olahraga arahan Gavin O’Connor (Pride and Glory, 2008), Warrior. Secara kualitas, Warrior sama sekali tidak jauh berbeda dengan The Fighter. Sama-sama mewarnai jalan ceritanya dengan konflik keluarga yang terjadi di antara karakter-karakternya, Warrior mampu tampil cemerlang, lebih keras dan lebih gelap di bagian awal pengisahan cerita. Sayangnya, seiring dengan berjalannya durasi film, Warrior terjebak dengan banyak dramatisasi kisah yang hanya membuat durasi film ini membengkak hingga sepanjang 140 menit tanpa mampu memberikan ikatan emosional yang berarti.

Warrior sendiri berkisah mengenai sosok dua orang pria yang bersaudara, namun sudah terpisah semenjak masa remaja akibat konflik yang terjadi di dalam keluarga mereka, Brendan Conlon (Joel Edgerton) dan Tommy Riordan (Tom Hardy). Ketika remaja, Tommy adalah seorang pegulat muda dengan masa depan yang sangat menjanjikan. Tidak tahan diperlakukan kasar oleh ayahnya, Paddy Conlon (Nick Nolte), yang seorang alkoholik, Tommy dan ibunya akhirnya pergi meninggalkan kediaman mereka. Sementara itu, Brendan menemukan cinta sejatinya, Tess Conlon (Jennifer Morrison), menikah dan tetap berhubungan dengan sang ayah walau telah menyatakan bahwa proses komunikasi antara diri mereka hanya dapat dilakukan dengan surat maupun telepon.

Masa tahunan berlalu, Paddy telah meninggalkan masa-masa kelamnya sebagai seorang alkoholik, walau hal tersebut masih belum dapat membuat Brendan dan Tommy memaafkan segala perbuatannya di masa lalu. Namun, karena ingin mengikuti sebuah kompetisi Mixed Martial Arts (MMA) yang bernama Sparta, Tommy mau tidak mau kembali ke rumah ayahnya dan meminta agar dirinya kembali dilatih seperti dahulu. Sementara itu, Brendan yang sekarang bekerja sebagai seorang guru, menemukan dirinya berada dalam kesulitan keuangan. Berbekal dengan pengalamannya yang pernah terlibat dalam berbagai pertarungan jalanan, Brendan akhirnya juga mengikuti pertandingan MMA Sparta guna memenangkan uang sebanyak US$5 juta.

Berbeda dengan The Fighter yang sepertinya menggunakan banyak formula lama film-film bertemakan olahraga dan menyandingkannya dengan performa luar biasa para jajaran pemerannya, Warrior sepertinya lebih berfokus pada kisah drama yang terjadi pada karakter-karakter yang mengisi jalan cerita film ini. Di awal film, naskah cerita yang ditulis oleh Gavin O’Connor bersama Cliff Dorfman dan Anthony Tambakis ini mampu menampilkan unsur-unsur drama yang kuat dari setiap karakter utama film ini sekaligus memperkenalkan mereka kepada penonton. Penonton akan diberikan tida pandangan emosional yang berbeda dari masa lalu Tommy, usaha Paddy untuk melepaskan imej buruk dirinya sebagai seorang ayah serta pengorbanan Brendan untuk menghidupi  dan melindungi keluarga kecil yang ia miliki.

Namun, ketika Warrior mencapai pertengahan pengisahannya, film ini secara perlahan mulai terasa melelahkan dengan terlalu banyaknya dramatisasi yang harus dilalui setiap karakternya. Intensitas cerita yang diberikan O’Connor juga seringkali terasa tertahan ketika O’Connor terlalu panjang dalam menyajikan kisah drama keluarga dalam film ini, berputar-putar dalam penyampaiannya dan hanya mampu menampilkan sedikit saja adegan aksi pertarungan yang dapat memuaskan hasrat para penonton yang ingin menyaksikan sebuah koreografi laga yang memukau. Untungny, ketika Warrior mulai memasuki menit-menit final pengisahannya, intensitas film ini mampu untuk merangkak naik kembali dengan menghadirkan sebuah adegan laga akhir yang dramatis dan akan sanggup menguras sisi emosional setiap penontonnya.

Diantara penampilan Hardy, Edgerton dan Nolte, harus diakui bahwa Hardy adalah sosok yang benar-benar menjadi sumber utama kekuatan jalan cerita film ini. Tidak seperti karakter yang diperankan oleh Edgerton dan Nolte, karakter Hardy harus diakui jauh dari kesan emosional. Bukan datar. Karakter Tommy yang diperankan Hardy juga memiliki sebuah alasan emosional mengapa ia mengikuti pertandingan MMA Sparta. Namun Hardy mampu menampilkan karakter Tommy sebagai sosok yang begitu dingin. Penonton mungkin akan sulit untuk menjalin hubungan emosional dengannya, namun ketika mereka berhasil melakukannya, karakter Tommy akan mampu menghasilkan sebuah daya tarik emosional yang luar biasa hangat. Pun begitu, kehadiran karakter yang diperankan Edgerton dan Nolte tak pelak memberikan dukungan sendiri bagi kuatnya penampilan Hardy di film ini.

Masalah terbesar Warrior adalah bagaimana Gavin O’Connor terlihat terlalu berusaha untuk membedakan film ini dari The Fighter: yakni dengan membuat setiap masalah yang dialami karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini menjadi lebih rumit, lebih gelap dan lebih sukar untuk dipecahkan. Sayangnya, eksekusi O’Connor kadang membuat beberapa permasalahan yang ia tampilkan gagal untuk menghasilkan jalinan kisah emosional yang kuat sehingga seringkali terasa sebagai sebuah usaha yang membuang-buang waktu. Penampilan para pengisi departemen akting film ini merupakan deretan penampilan kelas atas dengan Tom Hardy tampil begitu meyakinkan dan kuat. Pemilihan ending yang terbuka juga menjadi salah satu kelemahan Warrior yang mengurangi rasa kepuasan dalam menyaksikan film ini. Pun begitu, Warrior masih mampu untuk tampil sebagai salah satu kisah drama terbaik di sepanjang tahun ini.

Warrior (Lionsgate/Mimran Schur Pictures/Solaris, 2011)

Warrior (2011)

Directed by Gavin O’Connor Produced by Greg O’Connor Written by Gavin O’Connor, Cliff Dorfman, Anthony Tambakis (screenplay), Gavin O’Connor, Cliff Dorfman (story) Starring Tom Hardy, Joel Edgerton, Jennifer Morrison, Frank Grillo, Nick Nolte, Kurt Angle, Jake McLaughlin, Noah Emmerich, Kevin Dunn, Denzel Whitaker, Maximiliano Hernández,  Erik Apple, Vanessa Martinez, Nate Marquardt, Anthony “Rumble” Johnson, Josh Rosenthal, Bryan Callen, Sam Sheridan, Rashad Evans Music by Mark Isham Cinematography Masanobu Takayanagi Editing by Sean Albertson, Matt Chesse, John Gilroy, Aaron Marshall Studio Lionsgate/Mimran Schur Pictures/Solaris Running time 140 minutesCountry United States Language English

About these ads
Comments
  1. billy says:

    Tul bro, film ini durasinya kelamaan, adegan tarungnya juga dikit kebanyakan ngobrol.
    oya, mbok sekali2 review film2 yg lawas macam scarface, godfather, dll terutama yg dah ada bluray disc-nya. kan bagusan film dulu dibanding sekarang

    • Amir Syarif Siregar says:

      Ha! Terima kasih atas sarannya. Sebenarnya ingin sekali me-review film-film lawas. Khususnya film-film yang memang punya ‘nilai lebih’ seperti ‘Scarface,’ ‘Godfather’ dan sebagainya. Tapi seringkali berhalangan dengan waktu karena harus mengerjakan pekerjaan lainnya. Tapi kalau saya sudah nonton, saya pasti sempatkan waktu untuk bercerita sedikit tentang film tersebut di At the Movies kok.

  2. capcuz says:

    salam kenal bro amir…
    nice blog!!
    sangat membantu saya dalam memilih film yg layak untuk di tonton.
    bole di ctrl+D pan???

  3. yudi says:

    Saya mau nanya, itu Tommy katanya habis nembak temannya. Tapi kok janda temannya fine2 aja ?, trus alasan Tommy nembak temannya apa?

    • tway says:

      Tommy nggak nembak temennya, tapi pas temennya ditembak, dia satu2nya survivor di perang itu. makanya dia kabur, tapi dia masih punya rasa tanggung jawab sama keluarga temennya. Jadi maklum aja kalo istri temennya fine2 aja, mungkin setelah perang itu dia kontak2an sm istri temennya itu.

      Btw, ini film drama yg paling menguras emosi buat saya. emang di pertengahan agak hambar, tp saat pertandingan sparta dimulai, intensitas emosi mulai naik. klimaksnya jelas, saat tommy vs brendan. Asli, bagian Tommy di-submission (lock) sama Brendan, bener2 buat air mata nggak kebendung. didukung pula dgn scoring yg bener2 pas dan menyentuh.

      overall, film ini worth to watch. sayangnya orang2 banyak nggak tau, padahal pesan moral film ini bagus (khususnya bagi yg mengalami kisah serupa), soalnya di amerika konflik keluarga kyk kekerasan dan alkoholik itu banyak bgt..

  4. begu says:

    ahh sok tau sok iye lu pada….

  5. cloudmints says:

    ah mnurut saya kesan yg di sampaikan sangat jelas,, ngaco nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s