Well… mungkin Paul Bettany adalah seorang sosok yang relijius. Atau setidaknya merupakan seseorang yang menyukai sesuatu hal yang berbau keagamaan. Setelah berperan menjadi seorang biksu (The Da Vinci Code, 2006) dan kemudian berperan menjadi seorang malaikat (Legion, 2010), kini Bettany memutuskan adalah waktu yang tepat baginya untuk memerankan seorang pendeta. Tentu saja, dalam Priest — film yang menandai kali kedua Bettany berada di bawah arahan sutradara Scott Stewart setelah Legion – Anda tidak akan menyaksikan Bettany berperan sebagai seorang karakter relijius yang  hidup dalam keseharian kehidupan agamanya. Bettany berperan sebagai seorang pendeta yang melawan perintah gereja untuk kemudian melawan para gerombolan vampir yang siap untuk memangsa manusia. Menarik!

Dengan naskah cerita karya Cory Goodman yang mengadaptasi komik asal Korea Selatan berjudul sama karya Hyung Min-woo, Priest berkisah tentang sebuah dunia dimana ras vampir dan manusia telah saling berperang dan berusaha untuk menghancurkan satu sama lain selama berabad-abad. Manusia yang semakin terdesak kini dipimpin oleh kaum Gereja yang menugaskan sekelompok pendeta berkemampuan khusus untuk melawan kekejian kaum vampir. Usaha tersebut berhasil. Kaum vampir kini telah terpojok dan kaum manusia dapat hidup tenang dalam sebuah wilayah kota yang terjaga ketat oleh pasukan Gereja. Sayangnya, dengan tidak dibutuhkannya lagi kekuatan pasukan pendeta, banyak diantara mereka yang kemudian diasingkan dan menemukan dirinya tidak dapat melakukan apa-apa lagi di dalam kehidupan kesehariannya.

Namun, kondisi tersebut akan segera berubah. Ketika salah satu anggota pasukan pendeta veteran (Paul Bettany) menemukan bahwa keluarga kakaknya telah dibunuh oleh beberapa vampir, sekaligus menculik keponakannya, Lucy Pace (Lily Collins), ia tahu bahwa ia harus kembali berjuang melawan pasukan vampir tersebut. Sayangnya, keputusannya tersebut ditolak mentah-mentah oleh Dewan Gereja yang memandang bahwa adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi pasukan vampir untuk kembali menyerang manusia. Tidak tinggal diam, Priest, bersama kekasih keponakannya, Hicks (Cam Gigandet), akhirnya menempuh perjalanan mereka sendiri untuk menyelamatkan Lucy. Sementara itu, sebuah kekuatan yang selama ini telah mengenal bagaimana Priest sebenarnya, telah menunggu kedatangannya guna menghancurkan Priest untuk selamanya.

Cukup menyegarkan untuk mengetahui bahwa kalangan vampir tidaklah selalu berada dalam kondisi fisik seindah Tom Cruise, Robert Pattinson atau Ashley Greene seperti yang digambarkan di film ini. Dan adalah cukup menyenangkan untuk mengetahui bahwa sutradara Scott Stewart mampu membuat Priest tampil jauh lebih baik dari filmnya tahun lalu, Legion. Namun, hal tersebut tidak dapat membuat Priest dapat dikatakan sebagai sebuah hal yang baik. Priest menyenangkan untuk dilihat – rentetan adegan-adegan aksinya tergarap dengan baik dan tata produksi menampilkan visual yang amat mempesona – namun tetap saja naskah cerita tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Priest memiliki jalan cerita yang datar dan sama sekali akan gagal dalam menarik perhatian penontonnya.

Permasalahan terbesar dari naskah cerita Priest adalah naskah cerita tersebut seperti tidak mengetahui hendak dibawa kemana arah film ini akan berjalan. Sebagai sebuah film yang menampilkan deretan vampir yang mencoba menguasai dunia, Priest dapat saja bergerak ke arah horor yang menakutkan. Namun hal tersebut tidak terjadi karena naskah cerita Priest justru menampilkan para vampir dalam posisi yang sangat minimalis. Kisah perjuangan Priest dan beberapa rekannya untuk merebut kembali Lucy dari tangan sang vampir juga berpotensi untuk menghadirkan banyaknya adegan laga yang memukau. Tidak. Priest memang menampilkan beberapa adegan tersebut namun sama sekali tidak cukup untuk dikatakan menjadi daya tarik utama film ini. Ditambah dengan deretan karakter yang sama sekali tidak digali dengan begitu dalam, Priest terlihat begitu datar semenjak awal hingga film ini berakhir.

Jalan cerita yang memang begitu datar jelas saja akan memberikan pengaruh yang cukup dalam pada performa para jajaran pemeran film ini. Dua pemeran utama film ini, Paul Bettany sebagai Priest dan Karl Urban sebagai musuhnya, Black Hat, tetap mampu memberikan permainan terbaik mereka. Karl Urban, khususnya, yang terlihat begitu pas dan bersenang-senang dengan karakter antagonis yang ia perankan di film ini. Namun tetap saja, penampilan Bettany dan Urban, serta jajaran pemeran lainnya yang juga tidak mengecewakakan, gagal menutupi kelemahan besar yang terdapat pada susunan naskah cerita film ini.

Sejujurnya, Priest bukanlah sebuah film yang sangat buruk. Scott Stewart mampu mengemas tata produksi film ini dengan begitu baik sehingga Priest mampu terlihat sangat meyakinkan. Hal yang sama juga terjadi pada deretan jajaran pemeran film ini yang berhasil menghantarkan permainan akting terbaik mereka. Sayangnya, berbagai keunggulan tersebut tidak akan mampu menutupi jeleknya penulisan naskah cerita film ini. Datar dan tanpa kehadiran jalinan emosi yang mampu membuat cerita film ini terlihat menarik, Priest juga gagal dalam memberikan kedalaman pada setiap karakter untuk dapat membuat mereka tampil menarik. Anda dapat merasakan usaha keras Stewart untuk mendorong kualitas Priest, namun sayangnya belum terlalu kuat untuk mampu membuat filmnya memiliki kualitas yang prima.

Priest (Buckaroo Entertainment/Michael De Luca Productions/Screen Gems/Stars Road Entertainment /TOKYOPOP/Sony Pictures Entertainment, 2011)

Priest (2011)

Directed by Scott Stewart Produced by Michael DeLuca, Joshua Donen, Mitchell Peck Written by Cory Goodman (screenplay), Hyung Min-Woo (comic) Starring Paul Bettany, Karl Urban, Cam Gigandet, Maggie Q, Lucy Collins, Brad Dourif, Stephen Moyer, Christopher Plummer, Alan Dale, Madchen Amick, Jacob Hopkins, Dave Florek, Joel Polinsky, Josh Wingate  Music by Christopher Young Cinematography Don Burgess Editing by Lisa Zeno Churgin Studio Buckaroo Entertainment/Michael De Luca Productions/Screen Gems/Stars Road Entertainment /TOKYOPOP Distributed by Sony Pictures Entertainment Running time 87 minutes Country United States Language English

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s