Ketika Jaleswari (Marcella Zalianty) ditugaskan oleh pimpinan perusahaannya (Amroso Katamsi) untuk menyelidiki mengapa kegiatan Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan perusahaan mereka tidak berjalan dengan lancar pada sebuah perkampungan di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat, Jaleswari tentu saja tidak akan mengharapkan bahwa ia akan tertahan lama di wilayah tersebut. Jaleswari, seorang wanita yang terbiasa hidup dengan gaya hidup modern dan baru saja kehilangan suaminya sekaligus menyadari bahwa ia sedang hamil, hanya ingin agar masalah tersebut cepat selesai. Karenanya, walau sang ibu (Tetty Liz Indriati) dengan tegas meminta agar Jaleswari menolak penugasan tersebut, Jaleswari tetap bersikukuh untuk pergi ke wilayah terpencil itu selama dua minggu. Jauh dari peradaban dan keluarganya di Jakarta, Jaleswari akan segera mengenal sejauh mana batas ketahanan dirinya dalam mengenal dan bertahan dalam sebuah lingkungan baru.

Sesampainya di wilayah tersebut, Jaleswari kemudian dikenalkan dengan Adeus (Marcell Domits). Adeus, yang merupakan satu-satunya guru di wilayah tersebut, mengira Jaleswari adalah seorang guru yang ditugaskan untuk menggantikan guru-guru kiriman sebelumnya yang tidak pernah mampu bertahan lama mengajar di wilayah tersebut. Walau awalnya berusaha menjelaskan mengenai apa tugas yang sebenarnya, Jaleswari kemudian merasa tidak tega melihat anak-anak perkampungan tersebut. Dengan bantuan Adeus, Jaleswari akhirnya mulai mengajar dan dekat dengan anak-anak kampung tersebut. Di saat yang sama, kedatangan Jaleswari ternyata menimbulkan rasa ketidaksenangan pada beberapa orang, khususnya pada Otig (Otig Pakis), seorang pria yang menganggap bahwa kedatangan Jaleswari hanya akan merusak tatanan adat dan struktur masyarakat di kampung tersebut. ‘Perang dingin’ antara Jaleswari dan Otig-lah yang kemudian mengisi struktur cerita Batas sekaligus menumbuhkan beberapa plot cerita tambahan yang sekaligus akan mengarahkan Jaleswari kepada jawaban dari pertanyaan mengapa ia harus dikirimkan ke wilayah tersebut.

Dengan durasi yang hampir mencapai dua jam, Batas mencoba menceritakan mengenai banyak hal. Walau jalur utama kisah film ini menceritakan mengenai bagaimana usaha karakter Jaleswari untuk menyelesaikan tugasnya, Batas masih diisi dengan banyak konflik yang timbul dari setiap permasalahan pribadi para karakter yang dihadirkan di film ini. Dan untuk menceritakan rentetan konflik tersebut dengan lancar bukanlah sebuah tugas yang mudah. Beberapa kali, Batas terlihat kehilangan fokus dalam penceritaannya serta gagal dalam memberikan penjelasan yang pasti mengenai beberapa konflik yang sebelumnya telah dimunculkan. Walau begitu, sutradara film ini, Rudi Soedjarwo, masih mampu menghadirkan susunan cerita yang kuat dalam balutan gambar-gambar indah dan menghanyutkan karya sinematografer, Edi Michael.

Kalau mau dirunut dari awal, Batas memiliki struktur cerita yang cukup kompleks. Dengan beberapa lapisan cerita yang dimiliki, Rudi semakin membuat sulit penontonnya untuk dapat mencerna Batas dengan mudah lewat pemilihan ritme penceritaan film ini yang cukup lamban. Dibuka dengan adegan yang memperlihatkan seorang gadis (Ardina Rasti) yang dikejar-kejar oleh beberapa pria, Batas kemudian mengalihkan fokusnya kepada usaha karakter Jaleswari untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru. Kisah mengenai kedekatan yang dialami Jaleswari dengan anak-anak kampung dan tugas barunya sebagai seorang pengajar kemudian mengambil alih jalan cerita secara maksimal sebelum akhirnya misteri mengenai gadis misterius dan beberapa karakter yang dikenalkan di awal mulai dibuka dan diperkenalkan satu persatu.

Harus diakui, Batas adalah sebuah film yang memiliki kandungan filosofi yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan film-film lain yang beredar di layar lebar Indonesia saat ini. Secara literal, judul Batas menggambarkan lokasi dimana jalan cerita ini terjadi, yakni di Entikong, sebuah wilayah Kalimantan Barat yang populer karena berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Namun, Batas sama sekali tidak memfokuskan dirinya pada kisah tersebut. Kisah mengenai masyarakat dari dua negara yang masih berasal dari satu rumpun dan suku yang sama namun terpisah karena ideologi politik dua negara hanya menjadi latar belakang sementara bagi Batas. Batas sesungguhnya, yang ingin diceritakan oleh penulis naskah, Lintang Sugianto dan Slamet Rahardjo Djarot, justru berada pada diri setiap karakter yang ada di film ini.

Tentu saja dimulai dari karakter utama film ini, Jaleswari. Awalnya menganggap kedatangan dirinya hanya sebagai bagian dari tugas, Jaleswari kemudian dihadapkan pada batas kenyamanan dirinya pada lingkungannya yang baru. Ia harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat, pola pemikiran masyarakat, hingga tatanan masyarakat yang awalnya dianggap asing. Kemudian ada karakter Ubuh – gadis yang berada di awal cerita – dan Adeus, yang harus berhadapan dengan batas kemampuan diri mereka dalam menghadapi masalah yang datang dari luar dan mengencam diri mereka. Batas juga mengungkap mengenai bagaimana karakter Panglima Adayak (Piet Pagau) dan Nawara (Jajang C Noer) berusaha untuk menyingkirkan batas di antara hubungan mereka berdua yang mulai tercipta semenjak kematian puteri dari Nawara – yang merupakan menantu dari panglima Adayak. Namun secara luas, Batas secara perlahan menanamkan ide mengenai bagaimana sekelompok orang berusaha untuk keluar dari batas kenyamanan diri mereka ketika mereka dihadapkan pada sebuah tantangan atau permasalahan demi dapat segera menyelesaikannya.

Kompleks dan cukup rumit, beberapa penonton mungkin akan memilih untuk menyudutkan diri mereka dari usaha menerima berbagai filosofi-filosofi yang berusaha dihadirkan di dalam film ini. Batas bekerja secara personal. Ketika penonton mampu terhubung penuh dengan karakter Jaleswari dan bagaimana usahanya untuk dapat berbaur dengan lingkungan barunya, di titik itulah Batas kemudian dapat mengalir dengan mudahnya. Memang, harus diakui penceritaan yang dimiliki film ini terkesan terlalu ambisius sehingga pada beberapa bagian Batas terkesan hambar. Namun Rudi Soedjarwo sendiri harus diakui telah berhasil melewati batas kenyamanannya dalam menyutradarai sebuah film. Batas sangatlah berbeda dengan film-film yang ia hasilkan sebelumnya. Film ini begitu puitis serta penuh kandungan filosofis yang membuatnya tampil sangat indah.

Berbicara mengenai keindahan, Batas adalah salah satu film yang sepertinya semakin memperkuat tren yang hadir di film-film Indonesia akhir ini: bercerita melalui gambar yang indah. Pada Batas, Rudi Soedjarwo memiliki sinematografer, Edi Michael, yang melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Setiap gambar mampu tampil begitu menghanyutkan. Begitu menghanyutkannya gambar-gambar pilihan Edi Michael akan keindahan alam Entikong, ketika Batas menghadirkan suasana kebisingan, padat dan riuh rendahnya kota Jakarta di bagian akhir kisah, penonton akan dapat merasakan sentakan akibat dua perbedaan wilayah tersebut.

Selain tampil unggul di divisi visual, tampilan suara Batas juga sepertinya mampu menghadirkan kualitas yang seimbang. Tata musik yang disusun oleh Thoersi Argeswara adalah salah satu poin yang mampu membuat Batas tampil begitu mempesona. Juga menghadirkan pengaruh kebudayaan Dayak pada susunan musiknya, susunan musik arahan Thoersi tampil begitu bernyawa dengan kandungan emosi yang penuh. Lihat adegan dimana karakter Jaleswari dan Ubuh untuk pertama kalinya berkenalan. Lewat arahan Rudi, adegan tersebut terasa begitu personal. Namun berkat tata musik arahan Thoersi-lah yang membuat adegan tersebut mampu begitu menyentuh dan terasa kedekatan emosionalnya.

Dari divisi akting, rasanya dengan nama-nama seperti Marcella Zalianty, Piet Pagau dan Jajang C Noer yang mengisi jajaran departemen aktingnya, Batas seperti telah memiliki jaminan kualitas tersendiri. Dan memang benar, mereka mampu menampilkan permainan terbaik mereka. Selain Marcella, Piet dan Jajang, Batas juga menampilkan akting dari Arifin Putra yang walaupun karakternya sedikit kurang begitu mendapat pendalaman, namun mampu ditampilkan Arifin dengan cukup baik. Arifin juga mampu tampil lebih dewasa dari penampilan sebelumnya di Rumah Dara (2010). Kehadiran Batas juga mengenalkan penampilan dari Marcell Dormits dan aktor cilik, Alifyandra. Walau harus diakui keduanya masih memiliki kemampuan akting yang berada dibawah nama-nama pemaran lainnya, yang menyebabkan beberapa kali keduanya masih terlihat kaku, namun secara keseluruhan keduanya juga tampil tidak mengecewakan.

Namun, tak ada yang lebih mengejutkan dari bagaimana Ardina Rasti mampu menangani karakternya dengan sangat baik. Karakter yang diperankan Ardina, Ubuh, memiliki dialog yang sangat minim. Namun, Ubuh merupakan satu peran dengan karakter yang cukup kompleks. Penuh dengan depresi, penderitaan dan ketakutan, Ardina ternyata mampu menampilkan kemampuan akting terbaiknya. Dan bagian terbaiknya, Ardina menghantarkan kemampuan akting tersebut murni tanpa bantuan dialog sedikitpun. Ia tampil hanya dengan ekspresi yang begitu mendalam. Let’s just say… Piala Citra untuk Aktris Pendukung Terbaik telah menunggu Ardina Rasti?

Batas sama sekali tidak sempurna. Hasrat film ini yang ingin bercerita dengan begitu banyak dengan durasi film yang hanya mencapai 115 menit terkadang harus menerima konsekuensi bahwa beberapa bagian cerita menjadi kurang dapat tampil maksimal yang kemudian menciptakan beberapa lubang pada plot ceritanya. Walau begitu, ketika penonton tahu harus menempatkan dirinya di bagian mana pada jalan cerita film ini, berbagai aliran kisah yang disiapkan film ini akan mampu mengalir dengan begitu lancarnya. Tata produksi film ini juga sangat dinamis. Rudi mampu menghadirkan suasana Entikong yang sangat nyata bagi para penontonnya. Dukungan akting para pemerannya, tata sinematografi dan tata musik juga semakin membuat Batas tampil maksimal. Sebuah film  dengan jalan cerita yang berjalan personal, dan terlepas dari beberapa cacat yang hadir di beberapa bagian, tetap merupakan karya yang sangat memuaskan.

Batas (Keana Production & Communication, 2011)

Batas (2011)

Directed by Rudi Soedjarwo Produced by Marcella Zalianty Written by Slamet Rahardjo Djarot (screenplay), Lintang Sugianto (story Starring Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otig Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati, Amroso Katamsi Music by Thoersi Argeswara Cinematography Edi Michael Editing by Wawan I Wibowo Studio Keana Productions & Communication Running time 115 minutes Country Indonesia Language Indonesian, Dayak

About these ads
Comments
  1. Yulin Masdakaty says:

    Honestly, aku kecewa sama film ini, Mir. Kirain bagus karena trailer-nya keren. Tapi, setelah nonton… yah, cuma ada 2 hal aja yg bagus dari film ini (menurutku): pengambilan gambarnya yang keren (kalo yg ini aku sangat suka!!) sama backsound-nya (“aroma Kalimantan”-nya dapet!)
    Selebihnya.. nothing.
    Alurnya lambaaattt.. lambat banget dan cenderung bertele-tele. Udah lewat setengah perjalanan film, tapi intinya belum dapet. >.<
    Ceritanya juga ga klimaks.
    Akting Piet Pagau (maaf, aku ga setuju denganmu) masih kurang. Dia berperan sebagai "kepala suku' tapi.. hmm, kok kayaknya marwah ke-adat-annya kurang dapet aja gitu. Jadi lebih mirip kayak preman (apalagi dengan tattoo-nya–walaupun org Kalimantan memang menjadikan tattoo sebagai bagian dari adat).
    Yg mantebb memang Jajang C Noer (top abess dah!!). Aksen bahasa Dayak-nya (I'm not really sure whether it's a Dayaknese or not) dapet bangett!! Pas.
    Ada banyak dialog di film ini juga yg terkesan "sangat dipaksakan", jadi ga natural. (Bandingkan dengan Gie yg punya "tema" hampir sama–sama-sama serius dan menyimpan pesan di filmnya–tapi tetap ringan dicerna)

    Yah, barangkali yg harus dikaji lagi adalah penulisan naskahnya. Sama penyusunan plot-nya.

    Sekian. Hehehe….

  2. dila says:

    belum nonton film ini,, dicari susah nemunya..
    tapi kalo cuma liat sinopsisnya terbayang konsep utama film yg hebat..

  3. muhammad arifin says:

    keren…………..bang deny full tatto…..
    Assalamualaikum bg deny…. saya pak haji gg apel….
    keren abies………………………………………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s