Dari Helfi Kardit, seorang sutradara yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hantu Bangku Kosong, Mengaku Rasul hingga Arisan Brondong, hadirlah D’Love, yang secara mengagumkan mampu merangkum seluruh hal-hal klise yang ada di perfilman Indonesia di dalam durasinya yang hanya sepanjang 90 menit itu. Mulai dari cinta segitiga, karakter yang broken home, karakter yang terpaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, karakter gay hingga karakter yang harus menderita sakit terangkum dan dimanfaatkan dengan sangat baik di film ini.

Mampu merangkum seluruh karakter tersebut, bukan lantas berarti D’Love adalah sebuah film yang dapat dibanggakan keberadaannya di sejarah perfilman Indonesia. Karakter-karakter yang ada di dalam sebuah jalan cerita tentu saja dihadirkan untuk kemudian mendapatkan sebuah pendalaman yang akan membuat karakternya benar-benar terasa nyata dan mampu membentuk jalinan chemistry yang tepat dengan penontonnya. Untuk poin yang ini, menyaksikan D’Love bukanlah sebuah pengalaman terbaik yang akan Anda dapatkan.

D’Love sendiri memfokuskan kisahnya pada Elmo (Agung Saga), seorang pemuda yang memilih meninggalkan rumah mewah orangtuanya setelah menyadari bahwa sang ayah adalah seorang koruptor. Untuk menyambung hidup, Elmo harus menjadi petarung aduan di jalan. Meski hidupnya liar, Elmo tetap tak mau berhenti sekolah. Sahabat Elmo, Neina (Rebecca Reijman) tahu benar alasan Elmo bertahan di dua dunia yang serba bertentangan itu adalah karena Aprilia (Aurelie Mouremans).

Elmo dan Aprilia sendiri telah semenjak lama merasa saling tertarik. Namun Elmo yang sudah bersumpah untuk meninggalkan dunia kemapanan yang dianggapnya penuh orang munafik itu berusaha keras untuk menyangkal rasa cintanya pada April hanya karena April adalah seorang pianis muda yang glamour dan juga putri tunggal pengusaha ternama, Baskara (Ahmad Albar). Atas desakan Neina, Elmo akhirnya berani mengajak April memasuki dunianya dan bahkan bersahabat dengan Bocor (Rizky Adrianto), anak jalanan yang selama ini mengekor kemana pun Elmo pergi. Elmo sama sekali tak menyadari bahwa hubungannya dengan April sebenarnya membuat hati Neina hancur karena selama ini diam-diam Neina mencintai Elmo.

Tidak banyak yang dapat diungkapkan dari D’Love selain bahwa film ini terlalu berusaha untuk mempersulit plot cerita yang sebenarnya sangatlah simpel dengan berkali-kali menimpakan permasalahan pada sang karakter utama. Sayangnya, hal tersebut justru tidak dilakukan dengan sangat baik, bahkan satu masalah seringkali terlihat menjadi hanya sekedar tempelan belaka sebelum permasalahan baru muncul, yang menyebabkan D’Love menjadi sebuah film yang sangat datar semenjak awal hingga ke penghujung durasi film ini.

Ketiga pemeran utama film ini seharusnya tidak harus melalui permasalahan besar dalam memerankan karakter mereka, yang kalau mau diteliti dengan baik, sebenarnya sangatlah minim dialog. Lihat saja karakter Neina yang diperankan oleh Rebecca Reijman. Setiap kali tampil, Rebecca hanya mengucapkan sepatah dua kata dan tak pernah terlibat dalam sebuah percakapan panjang. Sama halnya dengan dua karakter lain, Elmo dan Aprilia yang diperankan oleh Agung Saga dan Aurelie Mouremans.

Permasalahannya bukan muncul karena ketiga karakter utama tersebut memiliki dialog yang minim. Masalah utama muncul karena ketiga pemerannya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghidupkan peran mereka dan seringkali terlihat mengucapkan dialog mereka dengan tone dan ekspresi wajah yang  teramat datar, khususnya sang pemeran utama, Agung Saga. Sudahlah karakternya diceritakan sedikit plin-plan dalam menentukan pilihan cintanya, datarnya permainan Agung juga membuat penonton perlahan-lahan mulai menjauhi karakternya.

Jika ketiga aktor utamanya mendapatkan bagian dialog yang sedikit, maka pemeran pendukung cilik, Rizky Adrianto, mendapatkan banyak kesempatan untuk berdialog panjang. Helfi Kardit mungkin ingin menempatkan karakter Bocor yang diperankan Rizki sebagai sidekick dari Elmo yang mampu menghibur penonton dengan tingkah polahnya dan gaya bicara yang semaunya. Beberapa kali, karakter Bocor mengungkapkan beberapa dialog yang seharusnya lucu, namun entah mengapa, cara penyampaian Rizky justru membuatnya seperti mengesalkan.

Pemeran pendukung lainnya, aktor senior Ahmad Albar, juga tidak akan mendapatkan penilaian yang positif atas peran kakunya sebagai seorang ayah yang gay. Karakter gay di film ini benar-benar hanya menjadi sebuah gimmick belaka ketika Helfi Kardit gagal dalam mengembangkan karakter tersebut lewat dialog-dialog yang (inginnya terdengar) bijaksana serta chemistry yang gagal antara Ahmad Albar dan Aurelie Mouremans.

Kesalahan utama D’Love terletak pada jajaran pemerannya yang terlihat sama sekali tidak berusaha untuk menghidupkan karakter mereka atas dasar sebuah naskah cerita yang memang dangkal tersebut. Dari sisi naskah, D’Love sendiri juga sangat terasa sebagai sebuah film yang terlalu berusaha untuk terlihat pintar dengan banyaknya variasi karakter serta tambahan plot cerita, yang ketika tidak berhasil dieksekusi dengan baik, justru membuat kualitas D’Love sebagai sebuah film semakin terpuruk tajam. Membosankan.

Rating: 2 / 5

D'Love (Bintang Timur Films/Dreamcatcher Pictures, 2010)

D’Love (2010)

Directed by Helfi Kardit Produced by Fanny Nasry, Helfi Kardit Written by Amorita D Starring Aurelie Mouremans, Rebecca Reijman, Agung Saga, Ahmad Albar, Rizky Adrianto, Shierly Rushworth Music by Tya Subiakto Satrio Studio Bintang Timur Films/Dreamcatcher Pictures Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Ryan cryant says:

    I LIKE IT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s