Alangkah Lucunya (Negeri Ini) adalah sebuah film komedi satir yang disutradarai oleh Deddy Mizwar. Film ini sendiri merupakan film pertama Deddy setelah sukses mengarahkan sekuel Naga Bonar, Naga Bonar (Jadi) 2, pada tahun 2007 lalu. Dengan naskah yang ditulis oleh Musfar Yasin (Ketika, Kiamat Sudah Dekat), film ini menampilkan permainan akting dari beberapa pemenang Piala Citra seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo dan Reza Rahadian.

Sarat dengan kritikan moral dan sosial, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mengisahkan mengenai Muluk (Reza Rahadian), seorang pemuda yang setelah dua tahun diwisuda menjadi seorang sarjana, masih belum menemukan pekerjaan yang tepat untuknya. Untungnya, ia tak pernah patah semangat. Ia selalu mendapat dukungan dari sang ayah, Pak Makbul (Deddy Mizwar), serta sang kekasih, Rahma (Sonia).

Suatu ketika, Muluk berkenalan dengan Komet (Angga), seorang pencopet cilik yang dijumpainya di pasar. Oleh Komet, Muluk kemudian dikenalkan dengan Jarot (Tio Pakusadewo), pimpinan dari sekelompok pencopet anak-anak yang seringkali beraksi di masyarakat. Atas pertemuan ini, Muluk kemudian menawarkan sebuah kerjasama pada Jarot. Ia akan melakukan sistem manajemen terhadap setiap penghasilan yang didapat dari setiap pencopet di setiap harinya. Muluk beralasan, dengan cara ini, maka sedikit demi sedikit, uang tersebut akan terkumpul dan para pencopet cilik tersebut nantinya dapat membuka sebuah usaha dan tak perlu lagi mencopet. Dengan mengenakan biaya 10% dari hasil setiap mencopet akan diberikan pada Muluk, Jarot pun setuju menjalani kerjasama tersebut.

Walau mendapat tentangan dari beberapa orang pada awalnya, hubungan Muluk dengan para pencopet cilik tersebut bertambah justru lama-kelamaan malah bertambah dekat. Tidak hanya menjadi manajer uang yang keluar masuk, Muluk kemudian mengajak dua orang temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan), untuk mengajarkan anak-anak tersebut ilmu kewarganegaraan serta ilmu agama. Hasilnya, kini anak-anak pencopet tersebut telah menjadi orang yang “berpendidikan”, baik secara sosial maupun relijius. Namun, apakah pendidikan mampu membuat mereka untuk berhenti dari mencopet?

Berbagai pertanyaan serta kritik moral dan sosial yang terjalin di sepanjang jalan cerita film ini, tentu saja merupakan sebuah tamparan keras pada mereka orang-orang yang mengaku berpendidikan dan memiliki nilai moral tinggi, namun dengan tega merampas hak-hak rakyat yang seharusnya mereka berikan. Seperti halnya di Naga Bonar (Jadi) 2, segala tema yang mungkin bagi sebagian kalangan, khususnya kaum muda, akan dirasakan terlalu berat dan terkesan menggurui, mampu disampaikan Deddy Mizwar dengan jalan yang lancar, komikal dan dipenuhi anekdot-anekdot politis yang pas ukurannya. Hasilnya, tanpa disadari oleh setiap penontonnya, berbagai pendidikan moral nan relijius mengalir lancar dalam 100 menit masa penayangan film ini.

Naskah cerita yang telah terjalin kuat, ternyata mampu mendapatkan sokongan yang sangat baik dari akting para pemeran film ini. Sebagian aktor yang berperan di dalam film ini, harus diakui, memang para aktor yang telah memiliki jam terbang akting kelas tinggi, seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja, hingga aktris Rina Hasyim yang mendapat bagian peran pendukung di film ini. Tak heran, departemen akting dari film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) bukanlah sebuah hal yang dapat dipermasalahkan.

Bahkan permainan para aktor dan aktris senior itupun, mampu ditandingi oleh akting para aktor dan aktris muda yang berada di posisi sebagai pemeran utama di film ini. Reza Rahadian — yang baru memenangkan Piala Citra untuk aktingnya di film Emak Ingin Naik Haji — kembali membuktikan bahwa kemampuan aktingnya semakin terpoles dengan sangat baik selepas hijrahnya ia dari layar televisi ke layar lebar. Penampilan Reza yang sederhana mampu menghidupkan dan sesuai dengan karakter Muluk yang ia perankan. Penampilan Reza juga seringkali mendapatkan sokongan akting yang pas dari dua pemeran sahabatnya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan). Yang tak kalah memukaunya tentu saja pemeran dari pasukan copet cilik yang berisi sekelompok aktor berusia muda. Penampilan mereka, dipimpin oleh Angga sebagai Komet dan Boy sebagai Glen, yang seringkali memberikan unsur hiburan di sepanjang film ini.

Beberapa bagian cerita di film ini, seperti kisah mengenai Jupri (Teuku Edwin), mungkin dimasukkan hanya sebagai bagian penghibur semata. Walau begitu, tetap saja, beberapa kali diantaranya sangat terasa bahwa beberapa adegan tersebut membuang-buang waktu dan tidak relevan dengan garis jalan cerita utama yang ada. Belum sampai pada level mengganggu harmonisnya jalan cerita yang sudah ada, namun kisah-kisah sampingan tersebut hadir tetapi seperti kurang mendapatkan penggalian cerita dan karakter yang tepat.

Menyaksikan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mungkin akan mengingatkan beberapa orang pada kekhasan kisah cerita Naga Bonar (Jadi) 2 yang sama-sama bermuatan cerita nasionalis dan sedikit relijius. Namun, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mampu ditampilkan secara lebih ringan dan lebih mengena kepada para penontonnya. Dengan dukungan barisan jajaran pemeran yang sangat kuat, naskah cerita yang tampil sederhana dan tidak berlebihan, serta dukungan teknis berupa tata suara dan sinematografi yang seringkali mengisi masuk ke dalam jalan cerita yang disampaikan, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mungkin akan menjadi suatu fenomena tersendiri di industri film Indonesia dimana film ini mampu berbicara secara kualitas serta dengan mudah akan disukai para penontonnya.

Rating: 4 / 5

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (Citra Sinema, 2010)

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)

Directed by Deddy Mizwar Produced by Zairin Zain Written by Musfar Yasin Starring Reza Rahadian, Tika Bravani, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja, Asrul Dahlan, Rinna Hasyim, Teuku Edwin, Sonia, Robby Tumewu, Sakurta Ginting, Boy, Angga Music by Ian Antono Cinematography Yudi Datau Editing by Tito Kurnianto, Enjah, Hanif Ridlo Studio Citra Sinema  Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. gunawan triantoro says:

    Hmm….4/5? Jd pengen cepet2 ke bioskop… Thanks for the review!

  2. Ben says:

    bro Amir, koq ga ada kritikan tentang produk built in yang terlalu berlebihan sih? gw yakin kritikus se-kritis bro Amir pasti sadar.

    jujur gw pas nonton kerasa keganggu banget sama usaha-usaha produk built in dari beberapa produk yang meng-endorse pak Deddy Mizwar, walau naskahnya om Musfar emang harus diakui cukup “nendang”

    rating gw untuk film ini mungkin cuma 3,5/5

    • Amir says:

      Ehhh… iya sih. Product placement di film ini lumayan berat juga. Tapi saya gak menilai itu sebagai sebuah hal yang buruk loh, mas. Hmmm… saya sih memposisikan sebagai seorang pembuat film dengan naskah cerita yang ‘tidak mainstream’ di perfilman Indonesia. Mungkin berat untuk mendanai sendiri, terpaksa harus bekerjasama dengan beberapa pihak tertentu. Selama prouct placement tersebut tidak mengganggu jalan cerita, saya rasa tidak ada yang perlu dikritisi…

      Product placement hanya sekedar sebuah jalan agar proses produksi sebuah film dapat berlangsung. Dalam kasus film ini, dimana jalan ceritanya benar-benar dapat tersalurkan dengan baik, product placement saya rasa sih bukan hal yang patut dikritisi secara khusus.

  3. [...] sifat atau tindakan nasionalisme, seperti yang pernah ditunjukkan lewat film Merah Putih atau Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Sebaliknya, Tanah Air Beta sama sekali tidak menyentuh wilayah tersebut. Film ini adalah sebuah [...]

  4. [...] Alangkah Lucunya Negeri Ini 2010 – recommended ! [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s