Tag Archives: Zoë Kravitz

Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Dengan pendapatan sebesar lebih dari US$7,8 milyar dari masa perilisan delapan filmnya di sepanjang satu dekade (2001 – 2011), jelas adalah sangat naif untuk beranggapan bahwa Warner Bros. akan melepaskan begitu saja kesempatan untuk kembali meraih peruntungan komersial dari seri Harry Potter. Well… kesempatan itu datang dari Fantastic Beasts and Where to Find Them, sebuah buku karya J.K. Rowling yang dirilis pada tahun 2001 dan awalnya diniatkan sebagai “bacaan pendamping” bagi buku seri pertama dari Harry Potter, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (1997). Continue reading Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Review: Mad Max: Fury Road (2015)

mad-max-fury-road-poster-02Masih ingat dengan Mad Max? Dibintangi oleh Mel Gibson dan dirilis pertama kali pada tahun 1979, film aksi dengan kandungan cerita yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik arahan George Miller tersebut kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial yang luar biasa sekaligus menjadi pembuka langkah film-film Australia lainnya untuk mendapatkan rekognisi lebih di Hollywood pada masa tersebut. Kesuksesan tersebut lantas membuat Miller memproduksi dua seri film Mad Max lainnya, Mad Max 2: The Road Warrior (1981) serta Mad Max Beyond Thunderdome (1985) yang juga berhasil meraih sambutan hangat baik dari para kritikus maupun para penikmat film dunia. Kini, 30 tahun setelah perilisan seri terakhir Mad Max, dan setelah mengarahkan film-film dari berbagai macam genre seperti The Witches of Eastwick (1987), Lorenzo’s Oil (1992), Babe: Pig in the City (1998) serta Happy Feet (2006), Miller kembali membawa Mad Max – lengkap dengan tata visual yang telah beradaptasi dengan era modern, deretan adegan aksi yang mampu menyaingi film-film aksi arahan sutradara yang berusia jauh dibawah usia Miller serta Tom Hardy yang kini menggantikan posisi Mel Gibson.

Berlatar belakang kisah di masa depan dimana hampir seluruh wilayah dunia telah berubah menjadi gurun dan peradaban manusia tidak lagi memiliki struktur serta aturan yang jelas, seorang pria bernama Max (Hardy) yang hidup berkelana sendirian baru saja ditangkap oleh pasukan War Boys milik Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Max lantas dipenjara serta dimanfaatkan sebagai kantong darah bagi salah satu anggota pasukan War Boys yang sedang menderita sakit, Nux (Nicholas Hoult). Di saat yang bersamaan, kekacauan terjadi dalam organisasi pimpinan Immortan Joe ketika salah satu orang kepercayaannya, Imperator Furiousa (Charlize Theron), membawa lari lima wanita yang dikenal sebagai Five Wives – lima sosok wanita bernama The Splendid Angharad (Rosie Huntington-Whiteley), Capable (Riley Keough), Cheedo the Fragile (Courtney Eaton), Toast the Knowing (Zoë Kravitz) serta The Dag (Abbey Lee) yang diseleksi khusus untuk melahirkan anak-anak dari Immortan Joe. Tidak pelak lagi, Immortan Joe lantas mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar, menangkap sekaligus membawa kembali Five Wives. Meskipun masih dalam kondisi yang lemah, Nux memilih untuk bergabung dengan pasukan War Boys. Jelas saja, Max yang bertugas sebagai kantong darahnya akhirnya harus turut dalam perjalanan sekaligus berperang di tengah liar dan tandusnya kondisi alam sekitar mereka.

Seperti halnya ketiga film lain dalam seri Mad Max, George Miller sekali lagi berhasil menyajikan deretan adegan aksi yang liar dan gila dalam Mad Max: Fury Road yang jelas akan memberikan rasa malu pada seluruh film aksi yang telah dan akan dirilis pada tahun ini. Bagaimana tidak. Dengan usianya yang telah menginjak 70 tahun, Miller masih memiliki kapabilitas untuk merangkai adegan-adegan aksi yang begitu kreatif, unik, segar dan jelas akan sanggup memuaskan hasrat setiap penikmat film aksi yang menyaksikannya. Seperti halnya The Raid (Gareth Evans, 2012) yang mampu menetapkan standar baru bagi penggunaan martial arts dalam adegan pertarungan dalam film-film aksi, Miller jelas telah menetapkan sebuah standar kualitas baru yang cukup tinggi bagi tatanan penceritaan serta visual bagi film-film aksi di masa yang akan datang.

Naskah cerita Mad Max: Fury Road yang ditulis oleh Miller bersama dengan Brendan McCarthy dan Nico Lathouris juga masih mengikuti pakem cerita film-film yang berada dalam seri Mad Max lainnya dalam menyajikan satir mengenai kehidupan sosial maupun politik masyarakat saat ini. Memang, seperti halnya kebanyakan film aksi yang dirilis saat ini, naskah cerita Mad Max: Fury Road memiliki beberapa keterbatasan dalam pengembangan konflik maupun karakternya. Namun, di saat yang bersamaan, Miller mampu mengisi keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan pengarahan yang begitu kuat. Miller menyajikan filmnya dengan alur penceritaan yang begitu cepat. Ritme penceritaan Mad Max: Fury Road telah tersaji dengan dorongan oktan tinggi semenjak film dimulai, memberikan ruang bagi penonton untuk menarik nafas di beberapa bagiannya namun terus hadir dengan intensitas yang terus meningkat hingga berakhirnya film. Dukungan tata produksi yang solid – mulai dari sinematografi arahan John Seale yang begitu memukau, desain produksi yang sangat berkelas hingga tata musik karya Junkie XL yang mampu mengiringi pengingkatan adrenalin dari jalan cerita film, Mad Max: Fury Road jelas hadir sebagai sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan begitu saja bagi para penikmatnya.

Miller juga mampu merangkai jalan cerita filmnya dengan kehadiran deretan karakter yang begitu mengesankan. Tom Hardy berhasil mengisi peran ikonik Max yang dahulu diperankan oleh Mel Gibson dengan tanpa cela. Meskipun begitu, karakter Max harus diakui tampil dengan kesan dikesampingkan jika dibandingkan dengan beberapa karakter utama lain dalam Mad Max: Fury Road. Imperator Furiousa yang diperankan oleh Charlize Theron jelas menjadi pencuri perhatian utama bagi film ini. Sosok wanita cerdas dan tangguh dengan latar belakang kekelaman masa lalu yang mampu dihidupkan Theron dengan sempurna. Karakter-karakter pendukung seperti Five Wives of Immortan Joe yang diperankan Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Courtney Eaton, Zoë Kravitz dan Abbey Lee juga berhasil menyajikan kesan tersendiri. Sama berkesannya dengan kehadiran Nicholas Hoult yang berperan sebagai Nux serta Hugh Keays-Byrne sebagai Immortan Joe. Karakter-karakter yang tercipta begitu unik dan mampu dihidupkan dengan sangat baik oleh deretan pengisi departemen akting film ini. Secara keseluruhan, Mad Max: Fury Road adalah sebuah pencapaian yang jelas akan menjadi kualitas pembanding bagi setiap film aksi yang dirilis di masa yang akan datang. Mengesankan! [A-]

Mad Max: Fury Road (2015)

Directed by George Miller Produced by Doug Mitchell, George Miller, P. J. Voeten Written by George Miller, Brendan McCarthy, Nico Lathouris Starring Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byrne, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Zoë Kravitz, Abbey Lee, Courtney Eaton, Nathan Jones, Megan Gale, Josh Helman, Melissa Jaffer, John Howard, Richard Carter, OTA, Angus Sampson, Jennifer Hagan, Gillian Jones, Joy Smithers Music by Junkie XL Cinematography John Seale Editing by Margaret Sixel Studio Kennedy Miller Mitchell/Village Roadshow Pictures Running time 120 minutes Country Australia, United States Language English

Review: Good Kill (2015)

good-kill-posterSetelah membintangi debut penyutradaraan Andrew Niccol, Gattaca (1997), Ethan Hawke kembali berada di bawah pengarahan sutradara asal Selandia Baru tersebut untuk film teranyarnya, Good Kill. Berbeda dengan Gattaca maupun beberapa film Niccol lain seperti S1m0ne (2002), In Time (2011) maupun The Host (2013), film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Niccol ini bukanlah sebuah film fiksi ilmiah yang menempatkan latar belakang kisah, karakter maupun desain produksi yang terlihat futuristik. Niccol justru menghadirkan sebagai sebuah kisah yang menyentuh isu politik perang Amerika Serikat yang memang semakin mamanas semenjak terjadinya tragedi 9/11 di negara itu sekaligus efek yang disebabkannya pada orang-orang yang terlibat langsung di dalam peperangan tersebut. Bayangkan American Sniper (2014)… namun dengan nada penceritaan yang lebih suram dan jauh dari kesan dramatis.

Good Kill berkisah mengenai seorang pilot bernama Major Thomas Egan (Hawke) yang kini ditugaskan oleh Angkatan Udara milik Amerika Serikat untuk mengontrol pesawat tanpa awak milik mereka yang digunakan untuk membunuh para tersangka pelaku kegiatan terorisme di beberapa negara asing yang dianggap dapat mempengaruhi atau mengancam stabilitas keamanan negara adikuasa itu. Major Thomas Egan sendiri merasa tugasnya cenderung membosankan dan ingin agar dirinya ditempatkan kembali langsung di medan peperangan. Ia juga mulai mempertanyakan etika pekerjaannya ketika banyak pihak sipil yang turut menjadi korban akibat tugas yang ia laksanakan. Secara perlahan, tekanan-tekanan tersebut mulai mempengaruhi kehidupan personal Major Thomas Egan, termasuk kehidupan pernikahan yang ia jalin dengan istrinya, Molly (January Jones).

Niccol benar-benar tertarik pada ide mengenai pemberontakan pada aturan yang telah diterapkan oleh pihak-pihak berkuasa. Layaknya film-film yang diarahkan Niccol sebelumnya, Good Kill juga menawarkan tema penceritaan yang sama – karakter utama dalam film ini mengalami kesulitan untuk menerima aturan yang diterapkan padanya yang kemudian mempengaruhi kepribadiannya sebelum akhirnya melakukan sebuah pembelotan atas aturan tersebut. Niccol sepertinya ingin menyuarakan kampanye anti-perangnya terhadap Amerika Serikat secara eksplisit melalui film ini. Dan harus diakui, Niccol mampu melakukannya dengan baik. Good Kill akan mampu menenggelamkan penontonnya pada kelamnya jalan penceritaan sekaligus membuat mereka sekali lagi ditampar oleh realita kejamnya politik peperangan di dunia yang berjalan layaknya sebuah lingkaran setan.

Niccol sendiri menitikberatkan pengisahan Good Kill pada hubungan yang terjalin antara sang karakter utama dengan konflik yang tengah ia hadapi. Sebuah pembelajaran karakter. Karena itulah, meskipun film ini menawarkan kisah yang berkaitan dengan dunia peperangan, Good Kill sama sekali tidak menyajikan deretan adegan aksi maupun efek ledakan di sepanjang 104 menit presentasi ceritanya. Warna cerita yang cukup kelam dengan konflik dramatis yang cukup minim serta perlakuan atas alur cerita yang dieksekusi dalam gerak yang cukup lamban memang akan memberikan sedikit kesulitan bagi sebagian penonton untuk menikmati film ini. Namun, Good Kill memang membutuhkan ruang penceritaan yang luas tersebut untuk membiarkan deretan konflik dan karakternya berkembang sedemikian rupa untuk kemudian mengambil alih perhatian penontonnya.

Sebagai pemeran sang karakter utama yang kisahnya menjadi perhatian penuh bagi film ini, Ethan Hawke mampu menyajikan penampilan akting terbaiknya. Good Kill mungkin tidak menyediakan ruang seluas yang disediakan American Sniper bagi Bradley Cooper dalam menyajikan transisi sikap akan sesosok karakter dengan mental yang terpengaruh akan perang. Karakter yang diperankan Hawke seringkali terlihat berada dalam kemuraman dan kesunyian. Dengan penampilan yang prima, Hawke mampu menghidupkan emosi tersebut untuk dapat dirasakan oleh penonton. Penampilan jajaran pemeran pendukung yang diisi oleh nama-nama seperti January Jones, Zoë Kravitz hingga Bruce Greenwood juga memberikan dukungan yang solid atas penampilan Hawke. Sebuah kualitas yang mampu meningkatkan kualitas performa film ini secara keseluruhan. [B-]

Good Kill (2015)

Directed by Andrew Niccol Produced by Mark Amin, Nicolas Chartier, Zev Foreman Written by Andrew Niccol Starring Ethan Hawke, January Jones, Zoë Kravitz, Jake Abel, Bruce Greenwood, Peter Coyote, Dylan Kenin Music by Christophe Beck Cinematography Amir Mokri Editing by Zach Staenberg Studio Voltage Pictures/Sobini Films Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)

insurgent-posterDirilis tepat setahun yang lalu, bagian pertama untuk adaptasi film layar lebar dari novel The Divergent Series karya Veronica Roth, Divergent, mampu mencuri perhatian penikmat film dunia ketika film arahan Neil Burger tersebut berhasil meraih kesuksesan komersial meskipun mendapatkan penilaian yang tidak terlalu memuaskan dari banyak kritikus film dunia. Bagian kedua dari adaptasi film layar lebar The Divergent Series sendiri, Insurgent, menghadirkan beberapa perubahan di belakang layar pembuatannya: kursi penyutradaraan kini beralih dari Burger ke Robert Schwentke (Red, 2010) dengan Brian Duffield, Akiva Goldsman dan Mark Bomback mengambil alih tugas penulisan naskah cerita dari Evan Daugherty dan Vanessa Taylor. Apakah perubahan-perubahan ini mampu memberikan nafas segar bagi penceritaan Insurgent? Tidak, sayangnya.

Insurgent sendiri masih mengikuti perjalanan dari Tris (Shailene Woodley) yang kini bersama dengan Four (Theo James), Peter (Miles Teller) dan Caleb (Ansel Elgort) bersembunyi di wilayah tempat tinggal kaum Amity setelah mereka diburu oleh pimpinan kelompok Erudite, Jeanine Matthews (Kate Winslet). Jeanine sendiri melakukan segala hal untuk berusaha menangkap Tris – mulai dari menugaskan pasukannya untuk memburu semua orang yang pernah berhubungan dengan gadis tersebut hingga melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah agar Tris mau keluar dari persembunyiannya. Benar saja. Meskipun dicegah oleh Four, Tris akhirnya memilih untuk meninggalkan persembunyiannya guna menghadapi Jeanine secara langsung.

Tidak seperti Divergent yang memperkenalkan dunia penceritaannya yang memiliki begitu banyak sisi dan konflik, Insurgent justru hadir hanya dengan satu permasalahan pokok: perburuan yang dilakukan karakter Jeanine Matthews terhadap Tris. Disinilah letak permasalahan utama dari film ini. Terlepas dari kehadiran sajian aksi yang lebih banyak dan mampu dieksekusi dengan baik oleh Schwentke, naskah cerita Insurgent tidak menawarkan apapun selain kisah perburuan yang dilakukan Jeanine Matthews tersebut. Duffield, Goldsman dan Bomback bahkan tidak berminat untuk menggali lebih dalam sisi romansa jalan cerita dari hubungan yang terjalin antara karakter Tris dan Four. Tentu saja, ketika jalan cerita dengan alur monoton dan tanpa tambahan plot pendukung yang kuat tersebut dihadirkan sepanjang 119 menit, Insurgent jelas berakhir datar dan gagal untuk menawarkan daya tarik yang berarti.

Entah karena ditangani oleh barisan penulis naskah yang baru, Insurgent sendiri terasa amat bergantung pada pengalaman para penontonnya dalam menyaksikan Divergent untuk dapat benar-benar mencerna konflik yang dihadirkan dalam film ini. Banyak bagian kisah yang melibatkan deskripsi kelas-kelas pada dunia penceritaan The Divergent Series sekaligus karakter-karakter yang terlibat di dalamnya gagal untuk disajikan secara jelas. Insurgent jelas bukan sebuah film yang dapat berdiri sendiri dan akan memberikan kebingungan yang cukup mendalam bagi mereka yang memutuskan untuk menyaksikan film ini sebelum menikmati seri pendahulunya. Dengan kondisi seperti ini, keputusan untuk menghadirkan seri terakhir The Divergent Series, Allegiant, dalam dua bagian film jelas terdengar cukup mengkhawatirkan.

Meskipun hadir dengan kapasitas kualitas penceritaan yang lebih terbatas dari Divergent, Insurgent setidaknya mampu hadir dengan penampilan akting yang begitu berkelas dari para barisan pengisi departemen aktingnya. Woodley jelas memegang penuh perhatian penonton pada kehadirannya dalam setiap adegan film. Begitu juga dengan Winslet yang semakin mampu membuat karakter antagonis Jeanine Matthews akan dibenci para penonton. Barisan pemeran lain seperti James, Teller, Elgort dan Jai Courtney juga tampil solid. Naomi Watts dan Octavia Spencer yang kini hadir memperkuat departemen akting Insurgent juga mampu memberikan warna tersendiri bagi kualitas film – meskipun dengan karakter yang begitu terbatas penceritaannya. [C]

The Divergent Series: Insurgent (2015)

Directed by Robert Schwentke Produced by Douglas Wick, Lucy Fisher, Pouya Shabazian Written by Brian Duffield, Akiva Goldsman, Mark Bomback (screenplay), Veronica Roth (novel, Insurgent) Starring Shailene Woodley, Theo James, Octavia Spencer, Jai Courtney, Ray Stevenson, Zoë Kravitz, Miles Teller, Ansel Elgort, Maggie Q, Naomi Watts, Kate Winslet, Mekhi Phifer, Ashley Judd, Daniel Dae Kim, Keiynan Lonsdale, Suki Waterhouse, Rosa Salazar, Emjay Anthony, Janet McTeer, Jonny Weston Music by Joseph Trapanese Cinematography Florian Ballhaus Edited by Nancy Richardson, Stuart Levy Production company Red Wagon Entertainment/Summit Entertainment/Mandeville Films Running time 119 minutes Country United States Language English

Review: Divergent (2014)

Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)
Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)

Hollywood’s search for the next great young adult adaptation continues with Divergent. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Veronica Roth, Divergent sekilas terasa seperti sebuah kolaborasi warna penceritaan dari beberapa film hasil adaptasi novel young adult yang sebelumnya telah dirilis: penggambaran mengenai struktur masyarakat yang modern dan sempurna seperti dalam The Host (2013), pengelompokan kondisi masyarakat serta pelatihan dan pengujian fisik seperti yang terdapat dalam The Hunger Games (2012 – 2013), pemilihan kelompok yang dilakukan oleh setiap individu muda seperti dalam dunia Harry Potter (2001 – 2011) hingga kehadiran sosok karakter terpilih layaknya dalam Ender’s Game (2013). Meskipun menawarkan jalinan kisah yang terasa familiar dan tidak lagi baru, Divergent cukup mampu tergarap dengan baik, khususnya dengan pengarahan sutradara Neil Burger (Limitless, 2011) yang mampu menghadirkan penceritaan film ini dengan ritme yang tepat sekaligus mendapatkan dukungan kuat dari penampilan akting para jajaran pengisi departemen aktingnya.

Continue reading Review: Divergent (2014)

Review: After Earth (2013)

after-earth-header

First of alllet’s just be clear about one thing. Melihat bagaimana kualitas presentasi cerita beberapa film M. Night Shyamalan terakhir, rasanya tidak seorangpun yang harusnya masih menantikan Shyamalan kembali hadir dengan kualitas yang serupa seperti yang pernah ia hadirkan dahulu dalam The Sixth Sense (1999). On the other hand, rasanya adalah suatu hal yang jelas pula bahwa hingga saat ini, Shyamalan sama sekali belum pernah hadir dengan kualitas film yang benar-benar buruk. Baiklah, Lady in the Water (2006), The Happening (2008) maupun The Last Airbender (2010) mungkin sulit diterima banyak orang sebagai deretan karya yang menonjol karena jalan cerita yang cenderung datar, membosankan atau gagal tergarap dengan baik. Pun begitu, harus diakui, bahkan dalam filmnya yang dianggap memiliki kualitas terlemah, Shyamalan mampu menghadirkan alur cerita serta desain produksi yang masih sanggup memberikan filmnya beberapa poin keunggulan.

Continue reading Review: After Earth (2013)

Review: X-Men: First Class (2011)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

Continue reading Review: X-Men: First Class (2011)