Tag Archives: Yati Surachman

Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Setelah sebelumnya bekerjasama dalam Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan penulis Asma Nadia dan Alim Sudio untuk Cinta Laki-Laki Biasa. Well… Judul film ini mungkin akan membuat beberapa orang lantas memandang sebelah mata. Atau malah premis yang dijual tentang kisah cinta segitiga dalam balutan nuansa reliji yang, harus diakui, telah terlalu sering “dieksploitasi” oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, jika Anda mampu melepas segala prasangka dan memberikan film ini sebuah kesempatan, Cinta Laki-Laki Biasa adalah sebuah drama romansa yang tergarap dengan cukup baik, mulai dari penataan naskah dan ritme penceritaan hingga chemistry yang terasa begitu hangat dan meyakinkan antara dua bintang utamanya, Deva Mahenra dan Velove Vexia. Continue reading Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Review: Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)

danum-baputi-posterMeskipun memiliki tampilan poster yang mungkin akan mengingatkan Anda pada kisah cinta segitiga antara seorang vampir dengan seorang gadis manusia biasa dengan seorang manusia serigala dalam sebuah seri film Hollywood – ataupun deretan tiruannya yang banyak tayang sebagai serial di berbagai saluran televisi Indonesia – Danum Baputi: Penjaga Mata Air sesungguhnya memiliki niat yang cukup mulia dalam garis penceritaannya. Namun, tentu saja, niat mulia tidak akan pernah cukup untuk menghasilkan sebuah sajian tontonan yang layak jika tidak dieksekusi dengan baik. Sayangnya, disanalah letak kelemahan terbesar dari film perdana arahan sutradara Gunawan Panggaru semenjak mengarahkan film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji pada tahun 2009 lalu.

Dikemas sebagai sebuah drama fantasi, Danum Baputi: Penjaga Mata Air berkisah mengenai sekelompok masyarakat di pedalaman Kalimantan yang begitu menghormati sekaligus menjunjung tinggi wilayah lingkungan hutan tempat mereka tinggal sekaligus mencari makan. Guna mencegah terjadinya satu ramalan nenek moyang mereka yang mengatakan bahwa wilayah hutan tersebut akan rusak akibat keserakahan umat manusia, kepala suku kelompok tersebut (Dolly Martin) kemudian mengangkat putrinya, Danum Baputi (Jovita Dwijayanti), sebagai Danum Pambelum atau penjaga mata air di lingkungan tersebut. Benar saja. Tak lama semenjak pemilihan Danum Baputi sebagai Danum Pambelum, sekelompok pengusaha asing kemudian datang dengan niat untuk melakukan pembukaan hutan guna dijadikan areal perkebunan kelapa sawit. Dan ketika masyarakat menentang keinginan tersebut, aksi brutal lantas dilayangkan oleh para pengusaha tersebut yang membuat warga mulai dihantui rasa ketakutan yang mendalam.

Danum Baputi: Penjaga Mata Air sebenarnya mencoba untuk menyinggung isu mengenai bagaimana manusia seringkali melupakan keseimbangan maupun kelestarian alam dalam usaha mereka untuk meraih keuntungan sendiri. Namun pesan sosial tersebut kemudian terasa tenggelam berkat ketidakmampuan para penulis naskah cerita film ini untuk mengemas kisahnya dalam balutan plot maupun penulisan karakter yang baik. Dengan durasi penceritaan yang berjalan hingga 120 menit, ada banyak momen dalam pengisahan film yang sebenarnya terasa monoton maupun tidak begitu berarti kehadirannya. Lihat saja plot tentang kepergian karakter Danum Baputi untuk melanjutkan pendidikannya di Pulau Jawa yang sama sekali tidak memiliki keterikatan apapun dengan jalan cerita utama. Atau bagian dimana karakter Penyang (Raditya Agung Yudistira) turut berangkat ke Jakarta dengan motivasi untuk menemui Danum Baputi – dan kemudian karakter tersebut tidak dikisahkan kegunaannya berangkat ke Jakarta dan juga gagal untuk bertemu Danum Bupati selama berada di Jakarta. Plot-plot kecil yang sama sekali tidak relevan dengan kisah utama yang kemudian hanya membuang-buang waktu penceritaan.

Naskah cerita yang dikemas oleh Gunawan Panggaru bersama dengan Azwar Sutan Malaka juga menyajikan terlalu banyak karakter yang terlibat dalam jalan cerita film. Dan, sayangnya, karakter-karakter dalam jumlah banyak tersebut kemudian tidak mampu dikendalikan kehadirannya di dalam cerita. Akhirnya, banyak karakter yang terasa datang dan menghilang di sepanjang penceritaan Danum Baputi: Penjaga Mata Air. Departemen akting film yang banyak diisi wajah-wajah baru sebenarnya tampil dalam kualitas yang tidak terlalu buruk. Meskipun masih diisi dengan beberapa kekakuan penampilan dalam beberapa adegan, namun secara keseluruhan, kualitas departemen akting Danum Baputi: Penjaga Mata Air tidaklah termasuk dalam bagian yang paling mengecewakan dari film ini.

Selain hadir dengan kualitas penceritaan yang cukup berantakan, Danum Baputi: Penjaga Mata Air juga gagal untuk dikemas dalam tampilan teknis yang kuat. Hampir tidak ada kualitas teknikal film ini yang dapat dibanggakan kemunculannya. Penggunaan tata musik yang sama di berbagai adegan jelas akan terasa begitu mengganggu. Begitu pula dengan penataan gambar yang terlihat menyatukan satu adegan dengan adegan lain dengan begitu kasar. Namun kejahatan terbesar Danum Baputi: Penjaga Mata Air jelas adalah menggunakan potongan-potongan gambar yang entah berasal darimana untuk mengisi banyak adegan film – entah dengan menggunakan izin atau enggak. Parahnya, banyak potongan-potongan gambar tersebut hadir dengan kualitas buruk yang jelas tampil semakin buruk ketika disajikan di layar lebar bioskop. [D-]

Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)

Directed by Gunawan Panggaru Produced by R. Yayank NN Written by Azwar Sutan Malaka, Gunawan Panggaru (screenplay), R. Yayank NN, Arifah Prihartini (story) Starring Jovita Dwijayanti, Raditya Agung Yudistira, Reiner Manopo, Yati Surachman, Dolly Martin, Billy Boedjanger, Arif Rahman, Hetty Soendjaya, Helmy Jagar, Putri Sabilah, E. F. Mahendra, Laras Sardipuri, Henky Hedo, Iid Nadjmoedin, Ferry Herawan, Yanti Wirawan, Andi Bersama, Hendra Conty, Khanza E. F., R. Yeyet Nadjmoedin, Marina Martin, Isnaldi Yahya, Yanthie I. Barakusuma, D. D. Yani, Ayi Suparti, Rita Arena Music by Titi Barce Van Houten Cinematography Capink VB Edited by Andi Shabrina Panggaru Production company Sa Villa Production/PT Vidi Vici Multimedia Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Kerasukan (2013)

kerasukan-header

Meskipun namanya akan selalu dikaitkan dengan film-film yang jalan ceritanya mengandung unsur mistis, Kerasukan sendiri menjadi film horor pertama arahan Chiska Doppert setelah sebelumnya mengarahkan Poconggg Juga Pocong (2011), Bila (2012), Love is Brondong (2012), Enak Sama Enak dan Udin Cari Alamat Palsu (2012). Yep. Chiska Doppert sepertinya telah kembali lagi ke genre film yang telah membesarkan namanya. Tidak berpengaruh banyak sebenarnya. Film-film arahan Chiska, baik yang berasal dari genre drama maupun horor, harus diakui masih belum pernah hadir dalam kualitas presentasi yang benar-benar memuaskan. Dan Kerasukan, sayangnya, juga sama sekali tidak akan mengubah pendapat banyak orang terhadap persepsi yang kurang baik tersebut.

Continue reading Review: Kerasukan (2013)

Review: Gending Sriwijaya (2013)

gending-sriwijaya-header

In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?

Continue reading Review: Gending Sriwijaya (2013)

Review: Misteri Pasar Kaget (2012)

Pasti pernah mendengar ungkapan ‘Jangan pernah menilai satu hal berdasarkan penampilan luarnya’ bukan? Well… seandainya ungkapan yang sama dapat diterapkan pada Misteri Pasar Kaget yang merupakan salah satu film yang memiliki desain poster terburuk yang pernah ada di industri film Indonesia modern. Poster buruk film ini sepertinya mencerminkan apa yang hendak disampaikan oleh para pembuat film ini bahwa… yah… Anda akan menyaksikan sebuah film dengan sebuah cerita yang berisi deretan karakter yang banyak serta saling tumpang tindih namun sama sekali tidak pernah diberi kejelasan mengenai apa sebenarnya kegunaan mereka hadir dalam cerita tersebut. Bersiaplah untuk menyaksikan salah satu film terburuk yang pernah dibuat oleh para pembuat film Indonesia. Sepanjang masa.

Continue reading Review: Misteri Pasar Kaget (2012)

Review: Fallin’ in Love (2012)

Jelas akan ada beberapa kekhawatiran bagi sebagian orang sebelum mereka menyaksikan Fallin’ in Love: film drama romansa ini diarahkan oleh Findo Purnomo HW – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Love in Perth (2010), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Ayah, Mengapa Aku Berbeda (2011), naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio – yang bertanggungjawab atas keberadaan jalan cerita film Air Terjun Pengantin (2009), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Pupus (2011), serta diproduseri oleh Firman Bintang – yang, sejujurnya, sama sekali belum pernah menjadi seorang produser bagi film yang dapat disebut berkualitas. Tiga kombinasi yang berbahaya dan… Anda dapat menebak bagaimana kualitas akhir Fallin’ in Love bahkan semenjak sepuluh menit pertama film ini dimulai.

Continue reading Review: Fallin’ in Love (2012)

Review: Cinta di Saku Celana (2012)

Berawal dari cerita pendek Cinta di Saku Belakang Celana karya Fajar Nugros yang terdapat dalam buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul I Didn’t Lose My Heart, I Sold it On eBay! (2010), Cinta di Saku Celana kemudian menjadi film kedua Fajar Nugros sebagai seorang sutradara setelah sebelumnya mengarahkan Queen Bee di tahun 2009. Berkisah mengenai perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh seorang pemuda untuk menyampaikan rasa sukanya kepada seorang gadis, cerita pendek karya Fajar Nugros tadi kemudian dikembangkan menjadi sebuah naskah cerita film layar lebar oleh Ben Sihombing (Pengejar Angin, 2011). Sayangnya, ekstensi ide yang dilakukan Ben Sihombing untuk cerita pendek Fajar Nugros tampil begitu lemah sehingga membuat Cinta di Saku Celana berjalan cenderung datar.

Continue reading Review: Cinta di Saku Celana (2012)