Tag Archives: Yama Carlos

Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Setelah sebelumnya bekerjasama dalam Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan penulis Asma Nadia dan Alim Sudio untuk Cinta Laki-Laki Biasa. Well… Judul film ini mungkin akan membuat beberapa orang lantas memandang sebelah mata. Atau malah premis yang dijual tentang kisah cinta segitiga dalam balutan nuansa reliji yang, harus diakui, telah terlalu sering “dieksploitasi” oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, jika Anda mampu melepas segala prasangka dan memberikan film ini sebuah kesempatan, Cinta Laki-Laki Biasa adalah sebuah drama romansa yang tergarap dengan cukup baik, mulai dari penataan naskah dan ritme penceritaan hingga chemistry yang terasa begitu hangat dan meyakinkan antara dua bintang utamanya, Deva Mahenra dan Velove Vexia. Continue reading Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Review: This is Cinta (2015)

this-is-cinta-posterIt’s only February but heyit’s never too early to release the likely strong contender for the year’s worst movie, right? Dan beruntung, This is Cinta memiliki semua unsur yang akan membuat penontonnya merasa berdosa telah menghabiskan uang maupun waktu mereka guna menyaksikan film ini. Yes. It’s that bad.

Dengan naskah yang ditulis oleh Haqi Achmad (Refrain, 2013), This is Cinta bercerita mengenai seorang gadis bernama Rachel (Yuki Kato) dan seorang pemuda bernama Farel (Shawn Adrian Khulafa) yang dikisahkan telah menyukai satu sama lain semenjak mereka bersekolah di tingkat dasar namun kemudian terpisah ketika keluarga Rachel membawa gadis tersebut ke luar negeri. Meskipun terpisah dan sama sekali tidak pernah berkomunikasi satu sama lain, rasa suka antara keduanya tidak pernah menghilang dan justru terus menguat. Dua belas tahun kemudian, Rachel akhirnya kembali ke Indonesia. Tentu saja, Rachel dengan segera mencari dimana keberadaan Farel. Sayang, hubungan antara Rachel dan Farel kini terhambat oleh perjodohan yang dibentuk oleh Mama Rachel (Aida Nurmala) dengan anak dari sahabatnya, Nico (Fandy Christian).

Ada begitu banyak masalah dalam presentasi cerita This is Cinta. Yang pertama, dan mungkin sumber utama masalah terbesar bagi film ini, adalah naskah ceritanya. This is Cinta sebenarnya menawarkan garis penceritaan yang familiar dan jelas telah diramu oleh banyak film sejenis sebelumnya. Namun, ramuan Haqi Achmad untuk film ini terasa lemah di begitu banyak bagiannya – mulai dari penulisan dialog, karakter-karakter pendukung yang hadir tanpa porsi penceritaan yang jelas hingga motif dari beberapa karakter yang gagal untuk dikembangkan dengan baik. Lihat saja bagian dimana Mama Rachel digambarkan begitu membenci hubungan persahabatan antara anaknya dengan Farel tanpa penyebab yang pasti atau bagaimana karakter Nico tiba-tiba digambarkan menjadi sosok psikopat yang mampu menculik gadis idamannya atau ketika karakter Sasha (Fahira Alidrus) yang begitu menyukai Farel hadir di banyak adegan tanpa pernah dilibatkan atau serasa berguna dalam adegan tersebut. Terasa begitu konyol dan sangat, sangat menggelikan.

Tidak berhenti sampai disitu. Naskah cerita This is Cinta juga beberapa kali mengalami perubahan nada cerita pada paruh kedua dan ketiganya. Selain perubahan dari pengisahan drama romansa menjadi thriller ketika adegan karakter Nico digambarkan menculik dan menyekap Rachel, film ini juga berubah menjadi drama supranatural ketika jiwa dari karakter Rachel digambarkan terperangkap di dunia arwah dan tak mampu kembali lagi ke dunia nyata. Usaha yang sepertinya ingin meniru Just Like Heaven (Mark Waters, 2005) atau The Lovely Bones (Peter Jackson, 2009) namun sekali lagi berakhir sangat mamalukan akibat penulisan yang sangat lemah. Perubahan nada-nada penceritaan yang seringkali hadir secara tiba-tiba inilah yang membuat naskah cerita This is Cinta semakin terpuruk seiring dengan berjalannya durasi penceritaan film ini.

Pengarahan dari Sony Gaokasak (Bidadari-Bidadari Surga, 2012) juga jelas sama sekali tidak membantu. Sony terasa mengarahkan jalan cerita This is Cinta dengan tanpa adanya dorongan semangat sama sekali. This is Cinta akhirnya berjalan dengan ritme penceritaan yang berantakan dan datar dalam penyampaian emosionalnya. Keputusan Sony untuk menghadirkan gambar-gambar indah bagi This is Cinta memang cukup sesuai dengan mood penceritaan bagi film-film sejenis. Sayangnya, naskah penceritaan dan pengarahan yang demikian buruk telah mendorong kualitas This is Cinta untuk jatuh sedemikian dalam. Begitu pula dengan arahan musik dari Andhika Triyadi yang menampilkan tatanan musik khas film drama romansa Indonesia sejenis: berusaha (memaksa?) untuk menyentuh sanubari penonton dengan susunan musik orkestra di banyak adegan film.

Dari departemen akting, hampir seluruh jajaran pemeran film ini tampil lugas dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hampir, karena pemeran utama pria dalam film ini, Shawn Adrian Khulafa, sama sekali tidak berakting dalam film ini. Dan mengingat bahwa ia merupakan pemeran utama yang tampil hampir di setiap adegan maka ketidakmampuan Shawn jelas menjadi sebuah lubang yang sangat besar lainnya bagi kualitas film. Di sepanjang penceritaan film, Shawn Adrian Khulafa tampil dengan mimik wajah dan pengucapan dialog yang sangat, sangat datar. Mungkin Shawn berniat menampilkan sosok karakternya seperti karakter… let’s say… Edward Cullen dalam seri The Twilight Saga (2008 – 2012). Namun bahkan sosok pria yang telah bangkit dari kematiannya saja akan memiliki ekspresi wajah yang berbeda ketika ia baru saja mengalami kecelakaan dan kemudian lari kesana-kemari di rumah sakit untuk mencari tahu keadaan sang kekasih yang juga terlibat kecelakaan tersebut. Shawn Adrian Khulafa? Tidak. Tampil tetap dengan wajah datarnya yang sangat mengesalkan. Dan oh… Suara Shawn juga tampil sama datarnya ketika berduet dengan Yuki Kato dalam menyanyikan lagu tema film yang berjudul This is Cinta. Ouch.

Pemeran lain tampil tidak begitu mengecewakan. Yuki Kato cukup lugas dalam memerankan Rachel. She’s a good actress. Sayang Yuki seringkali terjebak dalam film-film berkualitas buruk atau medioker. Ari Wibowo dan Unique Priscilla tampil lumayan dalam peran yang begitu terbatas. Begitu pula dengan Fandy Christian dan Sasha Alidrus. Sementara itu, Aida Nurmala seringkali terlihat berlebihan dalam menterjemahkan karakternya sebagai seorang ibu yang overprotective terhadap anaknya. But wellthis movie probably deserves that kind of overacting and half-hearted performance. [E]

This is Cinta (2015)

Directed by Sony Gaokasak Produced by Fiaz Servia Written by Haqi Achmad Starring Yuki Kato, Shawn Adrian Khulafa, Unique Priscilla, Ari Wibowo, Aida Nurmala, Fandy Christian, Sandrinna Skornicki, Alwi Assegaf, Richelle Skornicki, Fahira Alidrus, Indra Bekti, Yuka Idol, Yama Carlos, Joe Richard, Joshua Pandelaki, Monica Oemardi, Emmie Lemu, McDanny, Uus, Mosidik, Faradilla Yoshi Music by Andhika Triyadi Cinematography Hani Pradigya Edited by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 88 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (2013)

Azrax-header

Sinema Indonesia kembali mempersembahkan salah satu hasil produksi terburuknya lewat Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita yang diarahkan oleh Dedi Setiadi – seorang sutradara yang pernah berhasil menjebak Fanny Fabriana untuk tampil dalam sebuah film buruk lain berjudul True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011). Dedi sendiri sebenarnya terlihat berusaha keras untuk menjadikan Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita sebagai sebuah film yang dapat memberikan penontonnya berbagai kenangan manis akan film-film aksi Indonesia yang banyak dirilis pada tahun 1980an dahulu. Sayangnya, tidak ada satupun materi pendukung presentasi film ini yang mampu membuat Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita tampil memuaskan. Hasilnya, kemungkinan besar, Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita justru akan memberikan rasa malu bagi siapapun yang terlibat dalam film ini.

Continue reading Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (2013)

Review: Rectoverso (2013)

rectoverso-header

Disajikan dengan gaya interwoven, dimana setiap cerita dihadirkan dalam satu lini masa yang sama walaupun tidak pernah benar-benar saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, Rectoverso mencoba untuk menghadirkan lima buah cerita berbeda dengan satu tema cerita yang sama: cinta yang tak terucap, yang kisahnya diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Perahu Kertas, 2012). Rectoverso sendiri digarap oleh lima nama sutradara wanita pemula namun merupakan nama-nama yang cukup popular di kalangan dunia seni peran Indonesia: Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty.

Continue reading Review: Rectoverso (2013)

Review: Badai di Ujung Negeri (2011)

Setelah menggarap film musikal Garasi pada enam tahun lalu, dan kemudian sempat ambil bagian dalam salah satu segmen film omnibus Belkibolang (2010), Agung Sentausa kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan Badai di Ujung Negeri. Berbeda dengan Garasi yang naskah cerita bernuansa musikalnya sangat dekat dengan akar penyutradaraan Agung yang terlebih dulu dikenal sebagai seorang sutradara video musik, Badai di Ujung Negeri menghadapkan Agung pada sebuah naskah film drama dengan baluran beberapa adegan aksi yang masih cukup jarang diangkat pada banyak film nasional saat ini. Agung sendiri memang cukup berhasil dalam mengarahkan tim produksinya untuk menghasilkan film dengan tampilan visual dan aliran penceritaan yang kuat. Sayangnya, naskah Badai di Ujung Negeri arahan Ari M Syarief (Maskot, 2006) terlalu lemah untuk mampu membuat film ini tampil lebih istimewa lagi.

Continue reading Review: Badai di Ujung Negeri (2011)

Review: Aku atau Dia? (2010)

Walau tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kesuksesan besar jika dilihat dari sisi komersial, film drama komedi yang menjadi debut penyutradaraan Affandi Abdul Rachman, Heart-Break.Com (2009), dapat dikatakan berhasil menarik perhatian banyak penikmat film Indonesia. Walau memiliki jalan cerita yang sederhana, sang sutradara dinilai mampu menjadikan Heart-Break.Com menjadi sebuah film drama segar yang juga diselingi dengan banyak kandungan komedi pintar yang sepertinya masih sangat jarang disentuh di industri film Indonesia.

Continue reading Review: Aku atau Dia? (2010)

Review: I Know What You Did On Facebook (2010)

Nama Awi Suryadi sebagai seorang sutradara sempat memperoleh ulasan hangat di beberapa media setelah filmnya Claudia/Jasmine (2008) berhasil mendapatkan pengakuan kualitas dari banyak penonton film Indonesia. Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak bertahan lama setelah Awi justru memilih untuk menyutradarai sejumlah film ‘dangkal’ seperti Cintaku Selamanya (2008) dan Selendang Rocker (2009), yang selain gagal mendapatkan pujian secara kualitas, juga ternyata tidak begitu berhasil pada peredaran komersialnya. Kini, dengan membawa tema hubungan di dunia maya yang sedang banyak menjadi banyak perbincangan, Awi kembali merilis sebuah film drama berjudul I Know What You Did On Facebook.

Continue reading Review: I Know What You Did On Facebook (2010)