Tag Archives: Tiga Setia Gara

Review: Miss Call (2015)

miss-call-posterFilm-film Indonesia yang dirilis pada sepanjang bulan April lalu cukup mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Bukan. Bukan karena banyak diantara film-film tersebut berhasil menarik penonton dalam jumlah yang besar untuk menyaksikannya di layar bioskop. Namun, secara kualitas, hampir seluruh film Indonesia yang dirilis di sepanjang April lalu tersebut berhasil menunjukkan taji yang cukup kuat – termasuk film-film yang masih tergolong lemah seperti Wewe maupun Romeo + Rinjani. Hampir, karena di penghujung bulan, penikmat film Indonesia kembali dihadiahi sebuah film thriller berjudul Miss Call dengan kualitas yang layak dipertanyakan. Bukan sebuah hal yang terlalu mengejutkan mengingat film ini datang dari sutradara yang juga menghasilkan film-film seperti Rumah Pondok Indah (2006), Rumah Bekas Kuburan (2012) dan Main Dukun (2014).

Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh penulis naskah Main Dukun, Alexander Harry, Miss Call menceritakan tentang seorang gadis pengoleksi berbagai benda bernuansa mistis bernama Mitha (Susan Sameh) yang juga memiliki kegemaran untuk melakukan telepon iseng ke nomor-nomor telepon asing. Suatu hari, seperti yang mungkin dapat ditebak oleh banyak penggemar film-film sejenis, keisengan tersebut menghubungkan Mitha dengan kejadian tewasnya seorang gadis yang pernah diteleponnya. Meskipun dia tidak menyadari hal tersebut, namun kehidupan Mitha dan orang-orang yang ada disekitarnya mulai mendapatkan teror dari sosok asing. Mitha jelas harus segera melakukan sesuatu sebelum teror tersebut berhasil merenggut nyawanya.

Dibandingkan dengan film-film horor bernuansa supranatural yang ditawarkan oleh kebanyakan film Indonesia belakangan, Miss Call sebenarnya berusaha tampil unik sebagai sebuah slasher yang akan mengingatkan banyak penonton pada film-film semacam Scream (1996) atau I Know What You Did Last Summer (1997). Sayangnya, nyaris seluruh elemen penceritaan film tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membangun Miss Call hadir sekuat film-film tersebut. Naskah cerita yang digarap oleh Alexander Harry hadir berantakan. Banyak konflik dan karakter yang disajikan dalam jalan cerita film muncul dan menghilang seenaknya – yang jelas akan membuat film ini terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya. Dan, by the way, jika film ini hendak berkisah tentang “panggilan yang tak terjawab”, bukankah judul film ini seharusnya Missed Call?

Pengarahan Irwan Siregar atas alur penceritaan dan akting para pengisi departemen akting film juga tidak tampil lebih baik. Hadir dalam kualitas medioker dan cukup mengganggu. Lihat saja bagaimana Marcell Darwin yang tampil kaku di sepanjang penampilannya di film ini. Atau Susan Sameh – yang meskipun memiliki penampilan fisik yang cukup atraktif sebagai seorang pemeran utama dalam sebuah film – yang gagal untuk menjadikan karakternya dapat dengan mudah disukai penontonnya. Percayalah, sayang. Hadir meneriakkan setiap dialog yang dimiliki karaktermu dengan histeris tidak lantas akan membuat karaktermu terlihat lebih emosional. Sejujurnya, satu-satunya hal yang membuat film ini setidaknya tampil lebih baik dari Tes Nyali (Vijei Al Fajr, 2015) yang buruk itu adalah tata gambar film yang masih mampu dirangkai secara runut. Selebihnya? Miss Call akan sekali lagi mengingatkan penonton film Indonesia mengapa mereka seringkali bersikap apatis terhadap kualitas produksi film buatan sineas negara mereka sendiri. [E]

Miss Call (2015)

Directed by Irwan Siregar Produced by Shanker RS Written by Alexander Harry Starring Marcell Darwin, Susan Sameh, Naomi Appel, Wulandari, Maureisha, Agus Leo, M. Rizki Billar, Permata Persik, Ratu Sal Savana, Westny, Tiga Setia Gara, Maya Azizah, Salfa Music by Areng Widodo Cinematography Indra Edited by Bimmo DJ Production company Eagleclaw Entertainment Hollywood/PT Digital Film Media Running time 77 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: #republiktwitter (2012)

Pertama kali diluncurkan ke dunia maya pada tahun 2006 dan hingga saat ini telah memiliki sebanyak 300 juta pengguna di seluruh dunia – dengan 2,34% dari pengguna tersebut berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia – situs jejaring sosial Twitter telah menjadi sebuah fenomena sosial tersendiri bagi masyarakat dunia. Begitu berpengaruhnya penggunaan Twitter, situs yang saat ini bernilai sebesar lebih dari US$140 juta ini acapkali digunakan sebagai media promosi maupun kampanye yang cukup ampuh dalam masyarakat modern saat ini. Dan setelah kesuksesan The Social Network (2010) yang mengangkat tentang Facebook, cukup mengherankan untuk melihat mengapa Hollywood masih belum membuat sebuah film besar tentang Twitter. Tidak masalah! Industri film Indonesia yang akan mengambil kesempatan tersebut.

Continue reading Review: #republiktwitter (2012)