Tag Archives: Teuku Rifnu Wikana

Review: Love & Faith (2015)

love-and-faith-posterDiadaptasi dari buku berjudul Karmaka Surjaudaja: Tidak Ada Yang Tidak Bisa yang ditulis oleh mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia, Dahlan Iskan – yang biopik masa kecilnya juga sempat diangkat ke layar lebar lewat film Sepatu Dahlan (2014), Love & Faith bercerita mengenai perjalanan hidup pengusaha Kwee Tjie Hoei alias Karmaka Surjaudaja dalam menyelamatkan Bank Nilai Inti Sari Penyimpan yang dimiliki oleh mertuanya dari kemelut krisis ekonomi pada masa Orde Baru dan membangunnya menjadi sebuah bank besar beraset lebih dari Rp100 triliun yang kini dikenal sebagai Bank OCBC NISP. Yep. Love & Faith adalah sebuah film biopik yang sepertinya sedang gemar dieksplorasi oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, apakah sutradara pemenang Piala Citra, Benni Setiawan (3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta, 2010) mampu menyajikannya dengan cita rasa yang berbeda dengan film-film sejenis lainnya?

Naskah cerita Love & Faith yang disusun oleh Benni Setiawan dengan Bagus Bramanti sendiri dibangun sebagai sebuah drama romansa yang mengisahkan mengenai hubungan Kwee Tjie Hoei (Rio Dewanto) dengan istrinya Lim Kwei Ing (Laura Basuki). Pasang surut hubungan keduanya dalam menghadapi berbagai permasalahan ketika Kwee Tjie Hoei mulai membangun bank yang dipercayakan kepada dirinya inilah yang menjadi sentral kekuatan utama Love & Faith. Penampilan sekaligus chemistry yang begitu erat antara Rio Dewanto dan Laura Basuki membuat hubungan antara kedua karakter utama dalam film ini mampu dapat terasa begitu menyentuh. Didukung dengan penampilan akting dari para pemeran pendukung lainnya seperti Dion Wiyoko, Verdi Solaiman dan Ferry Salim, departemen akting Love & Faith harus diakui menjadi elemen paling memuaskan dalam presentasi film ini.

Tantangan terbesar dalam membawakan kisah hidup Kwee Tjie Hoei ke layar lebar jelas berasal dari upaya Benni Setiawan dan Bagus Bramanti dalam mensarikan deretan konflik kehidupan sang karakter di dunia nyata untuk dapat dimuat dalam sebuah film berdurasi 100 menit. Disinilah Love & Faith gagal untuk membentuk sebuah penceritaan yang meyakinkan. Benni Setiawan dan Bagus Bramanti mungkin berniat baik dengan mengisahkan bagaimana karakter Kwee Tjie Hoei mampu menghadapi tantangan demi tantangan dalam usahanya membersihkan imej sekaligus membangun sebuah bank bermasalah yang dipercayakan kepadanya. Sayangnya, dalam penceritaan sebuah film, permasalahan yang sepertinya tidak ada habisnya tersebut justru membuat kehidupan karakter Kwee Tjie Hoei terasa dikemas terlalu berlebihan. Parahnya, Benni Setiawan kemudian sepertinya acuh dalam memberikan berbagai solusi dari deretan banyak konflik yang telah ia hadirkan dalam Love & Faith dan memilih mengakhiri film ini dengan satu, dua baris kalimat mengenai kehidupan Kwee Tjie Hoei selepas deretan konflik tersebut. Deretan konflik tanpa adanya solusi di akhir cerita inilah yang membuat Love & Faith jelas terasa mengecewakan presentasi ceritanya.

Fokus yang diberikan Benni Setiawan pada deretan konflik yang terjadi dalam kehidupan karakter Kwee Tjie Hoei mau tidak mau juga mengurangi kesempatan dirinya untuk mengembangkan deretan kisah minor dari karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter utama. Hal inilah yang menyebabkan, meskipun pada awalnya karakter Kwee Tjie Hoei digambarkan dekat dengan keluarganya, karakter keluarganya kemudian tersingkir begitu saja di bagian lanjutan kisah dan hanya dimanfaatkan untuk memperumit konflik kehidupan Kwee Tjie Hoei di paruh kedua penceritaan dengan tanpa adanya penggalian cerita yang mendalam. Keluarga Kwee Tjie Hoei yang dibentuk dengan istrinya Lim Kwei Ing juga seringkali hadir sebagai tempelan saja. Kedua karakter anak mereka hanya hadir ketika dibutuhkan dan sama sekali tidak pernah mampu disajikan sebagai bagian pengisahan yang erat.

Dari departemen produksi, Love & Faith hadir tidak mengecewakan. Meskipun Benni Setiawan terasa sedikit malas dalam mengolah lokasi penceritaannya – Love & Faith seringkali tampak berputar-putar di wilayah Bandung yang sama demi memanfaatkan atmosfer klasik dari wilayah tersebut – serta beberapa efek khusus yang masih terasa kasar, secara keseluruhan tata produksi Love & Faith hadir tanpa masalah yang berarti. Tata rias dan rambut setiap pemeran mampu disajikan dengan baik untuk menonjolkan pengisahan yang berlangsung di awal era Orde Baru. Begitu juga dengan tata sinematografi dan tata musik yang cukup mendukung kekuatan atmosfer penceritaan film ini. [C-]

Love & Faith (2015)

Directed by Benni Setiawan Produced by Frans Limasnax Written by Benni Setiawan, Bagus Bramanti (screenplay), Dahlan Iskan (book, Karmaka Surjaudaja: Tidak Ada Yang Tidak BisaStarring Rio Dewanto, Laura Basuki, Dion Wiyoko, Irina Chiu Yen Tan, Ferry Salim, Verdi Solaiman, Teuku Rifnu Wikana, Iszur Muchtar, Epy Kusnandar, Henky Solaiman, Desy Limasnax Music by Aksan Sjuman Cinematography Edi Santoso Edited by Cesa David Luckmansyah Production company E-Motion Entertainment Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Di Balik 98 (2015)

di-balik-98-posterDengan judul sebombastis Di Balik 98, jelas tidak salah jika banyak orang mengharapkan bahwa film yang menjadi debut penyutradaraan film layar lebar aktor watak Lukman Sardi ini akan memberikan sesuatu yang baru atau bahkan mengungkap fakta tersembunyi mengenai Kerusuhan Mei 1998. Sayangnya, hal tersebut sepertinya bukan menjadi tujuan utama dari dibuatnya film yang naskah ceritanya ditulis oleh Samsul Hadi dan Ifan Ismail ini. Tragedi yang menjadi catatan kelam masyarakat Indonesia di bidang keamanan/sosial/politik/budaya/hukum tersebut hanyalah menjadi latar belakang dari kisah perjuangan cinta dan pengorbanan cinta dari film ini. Atau itu justru yang menjadi arti dari judul Di Balik 98?

Sebenarnya tidak juga. Selain mengisi 106 menit durasi perjalanan filmnya dengan kisah dan karakter-karakter fiktif seperti Diana (Chelsea Islan), Daniel (Boy William), Bagus (Donny Alamsyah), Salma (Ririn Ekawati), Rachmat (Teuku Rifnu Wikana) dan Gandung (Bima Azriel), Di Balik 98 juga berisi karakter-karakter nyata seperti B.J. Habibie (Agus Kuncoro), Susilo Bambang Yudhoyono (Panji Pragiwaksono), Amien Rais (Eduwart Soritua) hingga Soeharto (Amoroso Katamsi) serta sekelumit kisah keberadaan mereka dalam tragedi tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah utama bagi film ini. Lukman sepertinya terlalu berusaha untuk menyeimbangkan kehadiran “kisah drama fiktif” dengan “intrik politik” dalam jalan cerita Di Balik 98. Akibatnya, tidak satupun dari kedua bagian kisah tersebut mampu tampil dengan eksplorasi yang mendalam.

Lihat saja bagaimana indikasi hubungan romansa antara karakter Diana dan Daniel yang terasa hambar karena karakter dan kisah mereka tersaji dalam kapasitas apa adanya. Atau bagaimana tidak pentingnya kehadiran kisah karakter ayah dan anak, Rachmat dan Gandung, dalam keseluruhan pengisahan Di Balik 98. Begitu pula dengan sekelumit kisah para mahasiswa aktivis maupun berbagai kegiatan yang terjadi di Istana Negara. Kesemuanya tampil setengah matang akibat penceritaan yang kurang mendalam. Datar tanpa meninggalkan kesan yang berarti.

Bukan berarti Di Balik 98 adalah sebuah film yang buruk. Sebagai seorang rookie, Di Balik 98 justru telah memperlihatkan bahwa Lukman memiliki mata yang jeli dalam materi cerita yang menarik, tata produksi yang apik – meskipun Di Balik 98 seringkali terasa terlalu bergantung pada footagefootage pemberitaan ataupun rekaman video usang mengenai tragedi tersebut di masa lampau, serta pengarahan atas para pengisi departemen aktingnya. Namun Di Balik 98 jelas akan lebih mampu tampil lebih kuat seandainya film ini mau memilih apa yang paling ingin dihantarkannya kepada penonton: menjadi sebuah film drama keluarga yang mengharu biru dengan latar Kerusuhan Mei 1998 atau tampil tegas sebagai drama politik yang mampu menyingkap berbagai kisah yang terjadi di masa itu.

Tugas pengarahan Lukman jelas sangat terbantu dengan kehandalan aktor dan aktris yang mengisi departemen akting filmnya. Nama-nama seperti Donny Alamsyah, Teuku Rifnu Wikana, Ririn Ekawati, Chelsea Islan – dan tata rias yang menghitamkan kulitnya guna meyakinkan setiap penonton bahwa ia adalah seorang aktivis kampus – hingga Alya Rohali, Amoroso Katamsi, Agus Kuncoro – meskipun akan lebih terasa sebagai tiruan Reza Rahadian yang berperan sebagai B.J. Habibie dalam Habibie & Ainun (2012) daripada sebagai sosok B.J. Habibie sendiri – dan Asrul Dahlan tampil dengan lugas terlepas dari karakter-karakter mereka yang begitu terbatas pengisahannya. Beberapa cameo yang hadir dalam memerankan tokoh-tokoh politik Indonesia juga hadir dalam film ini meskipun seringkali hanya menjadi distraksi terhadap jalan cerita daripada sebagai pelengkap kualitas penceritaan akibat peran mereka yang tampil selintas kedipan mata belaka.

Bukan sebuah debut yang buruk namun jelas akan mampu lebih berkesan jika Lukman Sardi mau memberikan kualitas penceritaan dan pengarahan yang jauh lebih tegas lagi. [C]

Di Balik 98 (2015)

Directed by Lukman Sardi Produced by Affandi Abdul Rachman Written by Samsul Hadi, Ifan Ismail Starring Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana, Bima Azriel, Verdi Solaiman, Alya Rohali, Fauzi Baadilla, Agus Kuncoro, Amoroso Katamsi, Marissa Puspitasasri, Elkie Kwee, Iang Darmawan, Zulkifli Nasution, Asrul Dahlan, Eduwart Soritua, Agus Cholid, Guntoro Slamet, Nursalim Mas, Rudie Purwana, Meulela Meurah, Gito Juwono, Panji Pragiwaksono, Nugraha Music by Thoersi Argeswara Cinematography Yadi Sugandi, Muhammad Firdaus Edited by Yoga Krispratama Studio MNC Pictures Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Leher Angsa (2013)

leher-angsa-header

Alenia Pictures kembali hadir dengan film terbarunya, Leher Angsa. Seperti halnya film-film yang sebelumnya telah dirilis oleh rumah produksi milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen tersebut, Leher Angsa masih menawarkan sebuah jalinan kisah yang dikendalikan oleh sudut pandang karakter anak-anak, pengisahan yang berusaha merangkum masalah sosial hingga lokasi penceritaan yang berada di wilayah yang masih jarang dieksplorasi oleh kebanyakan film-film Indonesia lainnya – yang kali ini membawa penontonnya ke wilayah kaki Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejujurnya, jika dibandingkan dengan tiga film hasil pengarahan Ari Sihasale sebelumnya; Tanah Air Beta (2010), Serdadu Kumbang (2011) dan Di Timur Matahari (2012), Leher Angsa terasa begitu sederhana, tidak tampil berlebihan dan mengalir dengan mudah – sebagian besar karena kualitas tata penulisan Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010). Namun, disaat yang bersamaan, naskah arahan Musfar berusaha memasukkan terlalu banyak karakter serta konflik yang akhirnya membuat Leher Angsa tidak pernah tampil fokus ataupun kuat dalam bercerita.

Continue reading Review: Leher Angsa (2013)

Review: Jokowi (2013)

jokowi-header

Selain film-film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, penonton Indonesia sepertinya saat ini sedang benar-benar menggemari film-film biopik yang jalan ceritanya menghadirkan kisah hidup para tokoh masyarakat populer. Tercatat, film-film seperti Sang Pencerah (2010), Soegija (2012), Habibie & Ainun (2012) hingga Sang Kiai (2013) mampu membujuk penonton Indonesia – yang dikenal sulit untuk datang ke bioskop dan menyaksikan film produksi negara mereka sendiri – untuk kemudian datang secara beramai-ramai dan menikmati kembali perjalanan hidup tokoh idola mereka. Tidak mengherankan bila kemudian KK Dheeraj – yang namanya akan selamanya terpaut pada film-film seperti Genderuwo (2007), Anda Puas Saya Loyo (2008) atau Mr. Bean Kesurupan Depe (2012) yang diproduksi oleh rumah produksi yang ia miliki, K2K Production – secara jeli mencoba untuk memanfaatkan peluang pasar tersebut. Tokoh yang coba ia angkat? Tidak lain adalah sosok Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sedang menjabat, Joko Widodo atau yang lebih akrab dengan sebutan Jokowi, yang kepopuleran figurnya memang begitu menanjak di kalangan masyarakat Indonesia saat ini.

Continue reading Review: Jokowi (2013)

Review: Java Heat (2013)

java-heat-header

Disutradarai oleh Conor Allyn (Merah Putih III: Hati Merdeka, 2011), yang juga menulis naskah cerita serta menjadi produser film ini bersama ayahnya, Rob Allyn, Java Heat dibuka dengan berjalannya proses interogasi yang berjalan antara seorang petugas kepolisian Republik Indonesia, Letnan Hashim (Ario Bayu), dengan seorang pria misterius asal Amerika Serikat, Jake Travers (Kellan Lutz), yang dijadikan sebagai saksi dalam peristiwa pemboman bunuh diri yang telah menewaskan seorang puteri Kerajaan Jawa, Sultana (Atiqah Hasiholan). Walaupun Jake mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah seorang turis yang datang ke Indonesia sebagai bagian pembelajaran sejarah seni negara-negara Asia Tenggara yang sedang ia dalami, namun Hashim menaruh curiga bahwa Jake memiliki keterkaitan dalam peristiwa pemboman tersebut.

Continue reading Review: Java Heat (2013)

Review: Belenggu (2013)

belenggu-header

Menilai sekilas berdasarkan presentasi cerita dan penampilan visualnya, adalah sangat mudah untuk menduga bahwa Belenggu adalah hasil sebuah petualangan lain dari seorang Joko Anwar dalam melanjutkan kisah-kisah berdarahnya yang sebelumnya disajikan lewat film-film seperti Kala (2007) maupun Pintu Terlarang (2009). Salah! Terlepas dari gaya presentasi yang demikian serupa, Belenggu sendiri merupakan karya perdana Upi (Oh Tidak…!, 2011) dalam menyutradarai sebuah film thriller. Dan harus diakui, Upi memiliki kemampuan yang cukup dalam menghadirkan deretan misteri yang akan terus mampu menarik perhatian setiap penggemar film-film sejenis. Sayangnya, secara perlahan, deretan misteri tersebut menjadi terlalu rumit dan kemudian menyebabkan Upi terlihat terjebak sehingga akhirnya kebingungan untuk memberikan jalan penyelesaiannya.

Continue reading Review: Belenggu (2013)

Review: Gending Sriwijaya (2013)

gending-sriwijaya-header

In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?

Continue reading Review: Gending Sriwijaya (2013)