Tag Archives: Taylor Lautner

Review: Tracers (2015)

tracers-posterMasih ingat dengan Taylor Lautner? Yep. That big muscle guy from those The Twilight Saga (2008 – 2012) movies? Ketika baik Kristen Stewart dan Robert Pattinson melanjutkan karir film mereka dengan tampil di film-film arahan Olivier Assayas, David Cronenberg, Drake Doremus atau Werner Herzog, Lautner sepertinya masih mencoba meraba arah pergerakan karirnya di dunia film – mulai mencoba untuk tampil dalam sebuah film romansa (Valentine’s Day, 2010), komedi (Grown Ups 2, 2013) atau aksi (Abduction, 2011). Bukan salah Lautner sepenuhnya. Kemampuan aktingnya memang tidak berkembang terlalu banyak jika dibandingkan dengan otot-otot yang ada di berbagai bagian tubuhnya. Mungkin ada baiknya Lautner mencoba untuk mendekati Vin Diesel agar mau mengikutsertakannya dalam seri film Fast and Furious berikutnya. Who knows.

Anyway, Tracers sendiri merupakan sebuah usaha lain Lautner untuk membintangi sebuah film aksi. Diarahkan oleh Daniel Benmayor, Tracers bercerita tentang Cam (Lautner), seorang pria yang bekerja sebagai kurir antar berkendaraan sepeda di kota New York, Amerika Serikat – ingat Premium Rush (2012)? Pertemuan yang tidak disengaja dengan Nikki (Marie Avgeropoulos) kemudian memperkenalkan Cam pada dunia parkour. Rasa penasarannya terhadap parkour membuat Cam belajar secara otodidak mengenai kegiatan tersebut. Nikki lantas memperkenalkan Cam pada teman-temannya yang juga memiliki antusiasme yang sama terhadap parkour. Tidak berhenti disitu, melihat Cam yang memiliki dedikasi tinggi terhadap parkour, Nikki dan teman-temannya lantas mengajak Cam untuk melakukan sebuah pekerjaan ilegal yang melibatkan kemampuan parkour. Membutuhkan uang, Cam akhirnya bergabung dan mulai menjalani kehidupannya dalam dunia kelam tersebut.

Buruk? Sebenarnya tidak juga. Hanya saja Tracers gagal untuk menampilkan sesuatu yang istimewa dalam presentasinya. Keberadaan parkour dalam jalan cerita film jelas hanya menjadi pewarna cerita tanpa pernah mampu dikelola dan diperluas lagi fungsi penceritaannya. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal bahwa koreografi aksi yang melibatkan gerakan-gerakan parkour di sepanjang film mampu tergarap dengan baik dan cukup mengagumkan untuk disaksikan. Lebih dari itu, Tracers hanya mampu tampil dengan kualitas penceritaan film aksi remaja yang ringan dan gampang tertebak arahnya. Sebuah kejutan di akhir kisah juga tidak memberikan andil yang berarti. Justru hadir dengan kesan membingungkan karena gagal untuk tergali dengan lebih baik dan mendalam.

Penampilan para pengisi departemen akting film juga hadir dengan kualitas yang setara dengan kualitas penceritaan film. Jauh dari kesan istimewa. Juga bukan kesalahan Lautner, Avgeropoulos, Adam Reyner, Rafi Gavron atau para pemeran lain sepenuhnya. Karakter-karakter dalam film ini memang diberikan ruang yang terlalu sempit untuk dapat bergerak dengan leluasa untuk menceritakan kisahnya. Tracers memang hadir dengan skala kualitas yang terlalu dangkal untuk membuat film aksi ini mampu memberikan rasa kesenangan maupun ketegangan pada penontonnya. Bahkan terlalu datar untuk disajikan sebagai sebuah film dengan kriteria mindless fun. But heyif you’re aiming to see this film as another chance to see shirtless Taylor LautnerTada! [C-]

Tracers (2015)

Directed by Daniel Benmayor Produced by D. Scott Lumpkin, Marty Bowen, Wyck Godfrey Written by Kevin Lund, Leslie Bohem, Matt Johnson, Matthew Johnson, T.J. Scott Starring Taylor Lautner, Marie Avgeropoulos, Adam Rayner, Rafi Gavron, Luciano Acuna Jr., Josh Yadon, Johnny M. Wu, Sam Medina, Amirah Vann, Christian Steel, Wai Ching Ho Music by Lucas Vidal Cinematography Nelson Cragg Editing by Peter Amundson Studio Freerunning Melbarken/Temple Hill Entertainment Running time 94 minutes Country United States Language English

The 34th Annual Razzie Awards Nominations List

27th Annual Razzie Awards - Worst Picture - "Basically, It Stinks, Too"They’re back! Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sehari menjelang Academy of Motion Picture Arts and Sciences mengumumkan deretan film-film terbaik peraih nominasi Academy Awards, Golden Raspberry Award Foundation turut hadir untuk memeriahkan awards season dengan mengumumkan nominasi Razzie Awards yang akan diberikan pada film-film berkualitas buruk yang dirilis di sepanjang satu tahun terakhir. Untuk pelaksanaannya yang ke-34 kali ini, film Grown Ups 2 (2013) yang dibintangi oleh Adam Sandler berhasil menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak. Film tersebut berhasil menyabet sebanyak delapan nominasi termasuk nominasi untuk Worst Picture, Worst Director, Worst Screenplay serta tiga nominasi akting untuk Sandler (Worst Actor), Taylor Lautner (Worst Supporting Actor) dan Salma Hayek (Worst Supporting Actress). Yikes!

Continue reading The 34th Annual Razzie Awards Nominations List

The 33rd Annual Razzie Awards Winners List

the-twilight-saga-breaking-dawn-part-2-headerWellthis is hardly surprising. Seri terakhir dari The Twilight Saga, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012), akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memenangkan kategori utama, Worst Picture, di ajang Razzie Awards setelah beberapa kali dinominasikan pada seri-seri sebelumnya. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 berhasil memenangkan tujuh kategori dari sepuluh nominasi yang diraihnya pada The 33rd Annual Razzie Awards, termasuk untuk Worst Actress (Kristen Stewart – juga untuk penampilannya dalam Snow White and the Huntsman, 2012), Worst Supporting Actor (Taylor Lautner), Worst Director (Bill Condon) serta Worst Screen Ensemble.

Continue reading The 33rd Annual Razzie Awards Winners List

The 33rd Annual Razzie Awards Nominations List

27th Annual Razzie Awards - Worst Picture - "Basically, It Stinks, Too"Mengikuti prestasi seri-seri sebelumnya, seri terakhir The Twilight Saga, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2, berhasil mendapatkan nominasi terbanyak di ajang The 33rd Annual Golden Raspberry Awards – atau yang lebih dikenal dengan nama Razzie Awards. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 bahkan mendapatkan nominasi di setiap kategori, termasuk Worst Picture, Worst Actress untuk Kristen Stewart (juga untuk perannya di Snow White and the Huntsman), Worst Actor untuk Robert Pattinson dan Worst Screenplay. Jangan khawatir, Team Jacob! Taylor Lautner juga berhasil meraih nominasi di kategori Worst Supporting Actor.

Continue reading The 33rd Annual Razzie Awards Nominations List

Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012)

So… this is the end. Hold your breath and count to ten. No… seriously. Franchise James Bond masih akan ada untuk puluhan tahun mendatang. Namun, kecuali jika Hollywood kemudian berusaha untuk mengambil keuntungan komersial tambahan dengan melakukan reboot atau mengadaptasi novel karya Stephanie Meyer menjadi sebuah serial televisi, maka The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 akan menjadi kali terakhir dunia dapat menyaksikan kisah percintaan antara Bella Swan dan Edward Cullen di layar lebar – yang tentu akan menjadi momen yang sangat menyedihkan bagi beberapa orang dan… momen yang patut untuk dirayakan bagi sebagian orang lainnya. Pun begitu, sebenci apapun Anda terhadap keberadaan franchise ini, rasanya adalah tidak mungkin untuk menyangkal bahwa keberadaan sutradara Bill Condon semenjak The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 mampu memberikan perubahan yang menyegarkan pada franchise ini. Dan untuk menyelesaikan tugasnya, Condon ternyata mampu memberikan kejutan yang sangat, sangat manis pada The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2. Sebuah kejutan yang sebenarnya telah lama ditunggu kehadirannya dan, untungnya, mampu dieksekusi dengan sempurna.

Continue reading Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012)

The 32nd Annual Razzie Awards Nominations List

Nama Adam Sandler memang tidak dapat ditemukan dalam daftar jajaran penerima nominasi The 84th Annual Academy Awards. Namun, nama Sandler memenuhi daftar nominasi The 32nd Annual Razzie Awards – sebuah penghargaan yang berada di wilayah yang berseberangan dengan Academy Awards, untuk “menghargai” film-film berkualitas buruk yang dirilis dalam jangka waktu satu tahun terakhir. Dengan tiga film yang diproduksi oleh rumah produksi milik Sandler, Happy Madison Productions, semuanya mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia, tidak mengherankan bila untuk tahun ini, Sandler berhasil memperoleh 11 nominasi Razzie Awards sekaligus! Sebuah catatan sejarah!

Continue reading The 32nd Annual Razzie Awards Nominations List

Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 (2011)

Jika terdapat satu kesamaan yang pasti antara Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 dengan The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1, selain dari jalan cerita kedua film tersebut yang menawarkan sebuah alur kisah fantasi, maka hal tersebut dapat ditemukan dari kerakusan para produsernya untuk meraup keuntungan komersial sebanyak mungkin dari para penggemar berat franchise tersebut. Jujur saja, seri terakhir dari novel Harry Potter dan The Twilight Saga dapat saja ditampilkan dalam sebuah film cerita secara penuh – walau harus menghabiskan durasi waktu yang melebihi durasi penayangan standar film-film lainnya. Namun dengan alasan untuk ‘menampilkan seluruh esensi cerita yang terdapat dalam bagian terakhir dari seri novel tersebut,’ para produser film akhirnya membuatkan dua bagian film dari satu novel tersebut. Please!

Continue reading Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 (2011)