Tag Archives: Surya Saputra

Review: Ayat-Ayat Adinda (2015)

ayat-ayat-adinda-posterSetelah Pengejar Angin (2011) dan Cinta Tapi Beda (2012), Hestu Saputra kembali berkolaborasi bersama dengan Hanung Bramantyo untuk film Ayat-Ayat Adinda. Seperti halnya Cinta Tapi Beda, Ayat-Ayat Adinda juga berusaha mengangkat isu sosial dalam jalan penceritannya. Jika Cinta Tapi Beda tampil mengisahkan mengenai kerumitan hubungan antara dua orang kekasih yang berasal dari latar belakang kepercayaan yang berbeda, maka Ayat-Ayat Adinda ingin menjabarkan kekisruhan yang sering terjadi pada satu kelompok agama akibat perbedaan cara atau aliran beberapa penganutnya dalam menunaikan ibadah mereka. Sebuah tema penceritaan yang rumit dan jelas cukup sensitif. Namun, tema-tema sosial bernuansa relijius seperti ini sendiri telah beberapa kali (dan cukup sukses) diangkat Hanung Bramantyo dalam film-filmnya seperti Doa Yang Mengancam (2008), Tanda Tanya (2011) ataupun Hijab yang baru saja tayang pada awal tahun ini. Apakah Ayat-Ayat Adinda mampu meraih keberhasilan yang sama?

Film yang naskah ceritanya digarap oleh Salman Aristo ini sendiri memulai kisahnya dengan memperkenalkan pasangan suami istri, Faisal (Surya Saputra) dan Amira (Cynthia Lamusu), bersama dengan kedua anaknya, Zulfikar (Muhammad Hasan Ainul) dan Adinda (Tissa Biani Azzahra), yang baru saja pindah rumah ke sebuah lingkungan baru di Yogyakarta. Kepindahan mereka sendiri bukannya tanpa sebab. Di lingkungan lama mereka, keluarga tersebut sering mendapatkan gangguan hingga akhirnya diusir akibat dianggap menganut aliran kepercayaan yang sesat. Karena hal itulah, Faisal seringkali mengingatkan kedua anaknya untuk tidak tampil menonjol dalam keseharian mereka. Nasib berkata lain. Bakat Adinda yang memiliki suara merdu dan mampu melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an membuatnya menjadi idola baru di sekolahnya. Perhatian yang secara perlahan datang pada Adinda mulai dirasakan kedua orangtuanya sebagai ancaman bagi kehidupan mereka di lingkungan baru tersebut.

Dengan tema sensitif yang dibawakan oleh jalan cerita Ayat-Ayat Adinda, jelas adalah sangat wajar untuk melihat para pembuat film ini begitu berhati-hati dalam menggarap seluruh aspek penceritaan film. Sayangnya, kehati-hatian tersebutlah yang justru kemudian memberikan kelemahan tersendiri bagi film ini. Dalam sepanjang penceritaannya, Ayat-Ayat Adinda hanya menjelaskan bahwa para karakter utama dalam film ini berasal dari satu daerah dimana mereka kemudian diusir karena dianggap menganut sebuah ajaran sesat tanpa pernah mampu (atau mau?) menjelaskan dengan sepenuhnya mengapa kepercayaan para karakter tersebut dianggap sesat oleh masyarakat. Jalan cerita film jelas hanya bertumpu pada pengetahuan penonton mengenai konflik yang sama yang terjadi di kehidupan nyata yang kemudian menginspirasi jalan cerita film. Namun tetap saja hal tersebut tidak cukup kuat untuk menjadikan jalan cerita Ayat-Ayat Adinda menjadi lebih lugas dan tegas dalam berkisah.

Permasalahan jalan cerita Ayat-Ayat Adinda tidak hanya datang dari eksplorasi tema besar yang ingin dibawakannya. Konflik-konflik pendukung yang hadir pada beberapa bagian cerita juga seringkali tampil dangkal dalam berkisah. Lihat saja pada konflik yang terjadi antara karakter Adinda dengan dua sahabatnya di sekolah bersama sekelompok pelajar lain yang terus mengganggunya tanpa pernah diberikan pengisahan pasti mengapa sekelompok pelajar tersebut terus mengganggu Adinda dan kedua sahabatnya. Atau konflik persaingan antara Adinda dengan sahabatnya dalam persaingan perlombaan pembacaan Al-Qur’an yang terbentuk, muncul dan menghilang antara keduanya beberapa kali begitu saja. Atau permasalahan dimana karakter Adinda digambarkan harus meminum obat untuk membantunya tenang dalam berkompetisi. Atau kisah perjodohan antara karakter Zulfikar dengan seorang anak ahli agama yang tidak pernah mampu diberikan pendalaman kuat mengenai fungsi plot cerita tersebut dalam jalan cerita keseluruhan film.

Beberapa karakter juga tergambar begitu sempit. Karakter ayah yang diperankan Surya Saputra tampil begitu dingin dalam hubungannya dengan anggota keluarganya sehingga terlalu sulit untuk memberikan simpati pada karakter tersebut atas permasalahan yang ia hadapi. Begitu pula dengan interaksi yang tidak begitu banyak terjalin antara karakter Faisal dan Amira dengan kedua anaknya yang seringkali membuat keduanya lebih cenderung terlihat sebagai orangtua yang buruk daripada orangtua yang sedang dirundung permasalahan dalam kehidupan mereka. Karakter-karakter pendukung lain juga tampil dengan porsi penceritaan yang terbatas. Karakter-karakter tersebut memang sepertinya hanya dijadikan sebagai karakter pelengkap bagi berbagai permasalahan yang digambarkan dalam kehidupan karakter Adinda. Tetap saja, harusnya karakter-karakter pendukung tersebut dapat disajikan dengan penceritaan yang lebih luas dan kuat.

Meskipun tampil cukup lemah dalam penceritaannya, Hestu Saputra sendiri dapat dirasakan cukup mampu mengarahkan Ayat-Ayat Adinda dengan baik. Penceritaan film ini berhasil mengalir dengan ritme yang sederhana. Deretan pengisi departemen akting juga tampil dengan penampilan yang jelas tidak mengecewakan. Tissa Biani Azzahra yang tampil berperan sebagai karakter utama mampu menghadirkan karakternya dengan komitmen penuh yang memuaskan. Begitu pula dengan nama-nama pemeran lain seperti Surya Saputra, Chyntia Lamusu, Muhammad Hasan Ainul serta Deddy Soetomo. Ayat-Ayat Adinda tampil dengan tema penceritaan yang begitu kuat namun tersaji dalam balutan kisah yang terlalu halus yang sayangnya membuat penampilan film ini menjadi jauh dari berkesan – atau mampu menyampaikan apapun pesan sosial yang berusaha dihadirkan para pembuatnya ke para penonton filmnya. [C-]

Ayat-Ayat Adinda (2015)

Directed by Hestu Saputra Produced by Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo Written by Salman Aristo Starring Tissa Biani Azzahra, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo, Yati Pesek, Candra Malik, Badra Andhipani Jagat, Marwoto, Susilo Nugroho, Muhammad Hasan Ainul, Ray Sitoresmi, Alya Shakila Saffana Music by Krisna Purna Cinematography M. Fauzi Bausad Editing by Wawan I. Wibowo Studio Multivision Plus Pictures/Studio Denny JA/Mizan Productions/Dapur Film Production/Argi Film Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: CJR The Movie (2015)

cjr-the-movie-posterJika Coboy Junior the Movie (2013) berkisah mengenai awal terbentuknya kelompok musik Coboy Junior dan bagaimana usaha mereka untuk memperkenalkan diri sekaligus menembus industri musik Indonesia, maka CJR the Movie justru berkisah bagaimana kelompok musik tersebut mencoba bertahan dan bangkit kembali setelah ditinggal oleh salah satu anggotanya, Bastian Simbolon. Diarahkan langsung oleh pendiri Coboy Junior, Patrick Effendy, CJR the Movie sebenarnya memiliki premis penceritaan yang lebih berisi dan dramatis jika dibandingkan dengan film pertama Coboy Junior yang diarahkan oleh Anggy Umbara. Sayangnya, potensi tersebut terasa disia-siakan oleh jalan cerita yang cenderung lemah dan seringkali terasa hanya sebagai variasi lain dari pengulangan jalan cerita yang telah dihadirkan dalam Coboy Junior the Movie.

Salah satu kelemahan utama dari naskah cerita CJR the Movie yang ditulis oleh Hilman Mutasi, Yanto Prawoto dan Arif Rahman adalah jalan cerita film ini seperti menghindar dari masa lalu yang dimiliki Coboy Junior dengan mantan anggotanya. Padahal, selain menjadi pemicu bagi bergeraknya konflik lain dalam jalan cerita film, konflik tersebutlah yang seharusnya menjadi alasan kuat mengapa film kedua ini dibuat. Daripada berdamai dengan masa lalu tersebut, CJR the Movie justru menyajikan permasalahan tersebut secara dangkal: penonton sama sekali tidak pernah diberikan penjelasan dari penyebab keluarnya Bastian Simbolon dari kelompok musik tersebut dan bahkan, pada beberapa bagian, gambar-gambar Bastian Simbolon justru dikaburkan begitu saja.

CJR the Movie kemudian memfokuskan penceritaannya pada kisah bagaimana tiga anggota kelompok musik tersebut yang tersisa berusaha bangkit kembali – dengan alur cerita yang terasa sebagai pengulangan plot dari film pertama mereka. Sayangnya, penceritaan di bagian tersbeut juga hadir dalam kualitas yang tidak terlalu memuaskan. Bagian kisah dimana tiga anggota Coboy Junior digambarkan berlatih keras demi mimpi mereka gagal mendapatkan eksplorasi cerita yang mendalam. Terasa terlalu instan dalam penyajian kisahnya. Deretan karakter pendukung yang awalnya menjadi elemen pendukung yang kuat di film pertama, seperti karakter-karakter keluarga, sama sekali tidak diberikan porsi penceritaan yang luas. Bahkan terasa hanya menjadi tempelan di awal dan akhir penceritaan. Beberapa kelemahan inilah, terlepas dari hadirnya beberapa lagu catchy di beberapa bagian film, yang membuat CJR the Movie terasa hambar dalam pengisahannya.

Hadir dalam kualitas cerita yang cukup medioker, CJR the Movie setidaknya mampu diolah dengan cukup baik oleh sutradara film ini, Patrick Effendy. Menggantikan posisi Anggy Umbara, Patrick harus diakui mampu mengolah jalan penceritaan dengan baik. Arahan yang ia berikan pada alur penceritaan film ini terasa mampu mengakomodasi materi penceritaan dengan layak. Tidak hadir dalam ritme yang terlalu cepat maupun terlalu lamban. Meskipun tidak istimewa, Iqbaal Dhiafakhri, Alvaro Maldini dan Teuku Ryzqi juga terasa semakin nyaman dalam penampilan akting mereka. Abimana Aryasatya juga hadir dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Sama halnya seperti Rio Dewanto – meskipun aksen Austalia yang ia gunakan kadang terasa sedikit berlebihan dan mengganggu. [C-]

CJR the Movie (2015)

Directed by Patrick Effendy Produced by Frederica Written by Hilman Mutasi, Yanto Prawoto, Arif Rahman Starring Teuku Ryzki, Alvaro Maldini, Iqbaal Dhiafakhri, Abimana Aryasatya, Arie Kriting, Rio Dewanto, Ernest Prakasa, Emmanuel Kelly, Surya Saputra, Brittany Rose Scrivner, Fico Fachriza, Astri Nurdin, Irgi Fahrezi, Joehana Sutisna, Ersa Mayori, Hera Helmy, Jono Bule, Adiba Khanza, Salshabilla Elovii Music by Indra Q Cinematography Dicky R. Maland Edited by Cesa David Luckmansyah Production company Falcon Pictures Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Jakarta Hati (2012)

Seperti halnya Jakarta Maghrib (2010) – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Salman Aristo, Jakarta Hati juga merupakan sebuah film yang terdiri dari beberapa potong kisah dengan menjadikan Jakarta sebagai latar belakang lokasi ceritanya. Terdiri dari enam kisah yang tidak saling berkaitan satu sama lain, Jakarta Hati dibuka dengan kisah berjudul Orang Lain yang menceritakan mengenai kisah pertemuan seorang lelaki yang berusia di pertengahan 30-an (Surya Saputra) dengan seorang gadis muda (Asmirandah) di sebuah pub malam. Keduanya telah menjadi korban pengkhianatan cinta dari pasangannya masing-masing. Bersama, keduanya kemudian menyusuri kelamnya malam di kota Jakarta sambil berusaha menjawab pertanyaan mengapa mereka bisa menjadi korban atas rasa cinta mereka terhadap pasangan masing-masing.

Continue reading Review: Jakarta Hati (2012)

Review: Modus Anomali (2012)

Anda harus mengakui, sekalipun Anda bukanlah penggemar karya-karyanya, Joko Anwar merupakan salah satu sutradara dengan resume yang paling mengagumkan di industri film Indonesia saat ini. Bukan karena film-filmnya yang seringkali mampu berbicara banyak di berbagai ajang penghargaan film berskala nasional maupun internasional, namun karena Joko, di setiap filmnya, mampu memberikan sebuah inovasi gaya penceritaan yang baru, segar sekaligus mendobrak pakem penceritaan dan tampilan visual tradisional yang banyak digunakan oleh para sutradara film Indonesia lainnya. Tidak heran, walaupun film-filmnya jarang menyentuh kesuksesan komersial yang besar, Joko dan setiap film yang ia hasilkan kemudian berhasil memperoleh pengagum loyal dalam jumlah yang tidak sedikit.

Continue reading Review: Modus Anomali (2012)

Review: Malaikat Tanpa Sayap (2012)

Sejujurnya, dengan deretan film seperti Perempuan-Perempuan Liar (2011), Penganten Sunat (2010) serta Preman In Love (2009) mengisi daftar filmografinya dalam tiga tahun terakhir, adalah sangat mudah untuk melupakan fakta bahwa Rako Prijanto adalah orang yang sama yang bertanggungjawab untuk keberadaan naskah cerita film drama romansa remaja Indonesia legendaris, Ada Apa Dengan Cinta? (2001) dan juga seorang sutradara yang pernah menghantarkan Ungu Violet (2005) dan Merah Itu Cinta (2007) yang walaupun mengandung banyak kelemahan, namun tetap berhasil tampil membuai dengan deretan dialog-dialog karakternya yang begitu puitis dan romantis. Malaikat Tanpa Sayap, untungnya, merupakan film yang lebih mendekati Ungu Violet dan Merah Itu Cinta daripada Perempuan-Perempuan Liar maupun Preman In Love. Sebuah sajian yang sekali lagi membuktikan kemampuan lebih Rako dalam menggarap sebuah film drama romansa yang mampu menyentuh.

Continue reading Review: Malaikat Tanpa Sayap (2012)

Review: Arisan! 2 (2011)

Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.

Continue reading Review: Arisan! 2 (2011)

Review: Ayah, Mengapa Aku Berbeda? (2011)

Tidak mengherankan memang, ketika Surat Kecil Untuk Tuhan yang dirilis beberapa bulan yang lalu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para penonton film Indonesia – film tersebut hingga saat ini masih tercatat sebagai film dengan raihan jumlah penonton terbesar untuk tahun 2011 – para produser lainnya kemudian mencoba untuk mengeruk keuntungan yang sama dengan cara menghadirkan formula yang sejenis. Kesuksesan Surat Kecil Untuk Tuhan, yang naskah ceritanya disusun berdasarkan novel berjudul sama karya Agnes Danovar, terjadi karena film tersebut berhasil menerapkan formula tearjerker yang tepat untuk para penontonnya.

Continue reading Review: Ayah, Mengapa Aku Berbeda? (2011)