Tag Archives: Stephen Kearin

Review: Home (2015)

home-posterDengan naskah cerita yang ditangani oleh Tom J. Astle dan Matt Ember berdasarkan buku cerita berjudul The True Meaning of Smekday karya Adam Rex, film terbaru buatan DreamWorks Animation, Home, berkisah tentang persahabatan antara seorang gadis bernama Tip (Rihanna) dengan seorang makhluk asing luar angkasa bernama Oh (Jim Parsons). Oh adalah bagian dari sekelompok makhluk asing luar angkasa yang menyebut diri mereka sebagai Boov yang sedang melakukan invasi ke Bumi – meskipun dirinya sendiri sering merasa begitu berbeda dari kawanannya tersebut. Tip sendiri terpisah dari sang ibu, Lucy Tucci (Jennifer Lopez), ketika para Boov mengumpulkan seluruh umat manusia dan merelokasi mereka semua ke Australia sehingga membuat Tip kini hidup sendirian bersama kucingnya, Pig. Meski awalnya tidak begitu menyukai satu sama lain, kesendirian yang mereka hadapi akhirnya menyatukan Tip dan Oh. Oh bahkan kemudian setuju untuk membantu Tip melakukan perjalanan ke Australia untuk bertemu kembali dengan ibunya.

Terlepas dari deretan kesuksesan komersial yang mereka raih, adalah sulit untuk tidak melihat fakta bahwa DreamWorks Animation terasa kesulitan dalam me nghasilkan film-film dengan jalan cerita orisinal – bukan sekuel maupun terhubung dengan film-film rilisan mereka sebelumnya – dalam jangka beberapa tahun terakhir. Bukan kesulitan dalam artian buruk. Namun, jika dibandingkan dengan film-film produksi Pixar Animation Studios atau beberapa studio animasi lainnya, film-film animasi DreamWorks Animation terasa “bermain” terlalu aman dalam jalan penceritaannya, sering mengetengahkan tema yang telah berulangkali dieksekusi film-film Hollywood lainnya meskipun tetap masih mampu memberikan beberapa sentuhan baru dalam penyajiannya.

Home arahan Tim Johnson – yang sebelumnya pernah mengarahkan tiga film DreamWorks Animation lainnya, Antz (1998), Sinbad: Legend of the Seven Seas (2003) dan Over the Hedge (2006), juga menghadapi masalah yang sama. Premis penceritaannya mengenai persahabatan antara dua karakter yang merasa sendirian dalam kehidupan mereka jelas bukanlah sebuah premis yang benar-benar segar. Dan, sayangnya, premis yang telah terlalu familiar tersebut juga gagal untuk diberikan sentuhan penceritaan yang istimewa baik dari naskah cerita yang digarap Astle dan Ember maupun dari pengarahan Johnson sendiri. Dengan jalan cerita yang berfokus pada kisah kekeluargaan dan persahabatan, Home masih mampu memiliki momen-momen hangat dan menghibur dalam penyampaian ceritanya. Sayang, Home tidak pernah mampu tampil lebih dari sekedar beberapa momen hangat dan menghibur tersebut.

Eksekusi Johnson terhadap jalan cerita Home sendiri sebenarnya tidak terlalu buruk. Lihat saja bagaimana tampilan visual film ini yang dipenuhi dengan racikan warna terang yang pastinya akan memikat para penonton muda yang memang menjadi tujuan utama dari film ini. Begitu pula dengan alur penceritaan. Meskipun terasa lamban di bagian awal, Home secara perlahan mulai menghangat dan menampilkan seluruh daya tariknya semenjak pertengahan paruh kedua hingga akhir penceritaan. Home sepertinya benar-benar diperuntukkan bagi para penonton muda dengan sedikit ruang bagi penonton dewasa untuk dapat benar-benar menikmatinya, termasuk dengan sajian guyonan yang dihadirkan di sepanjang penceritaan film.

Dari departemen pengisi suara, Jim Parsons yang mengisisuarakan karakter Oh dan Steve Martin yang mengisisuarakan karakter Captain Smek mampu menjadikan karakter mereka begitu hidup. Rihanna dan Jennifer Lopez sendiri tidak terlalu buruk. Namun chemistry yang tersaji antar karakter mereka, ketika karakter-karakter tersebut digambarkan sebagai pasangan ibu dan anak, terasa sedikit hambar dan kurang hidup. Di sisi lainnya, Rihanna yang juga bertugas memilih rangkaian lagu yang dihadirkan untuk menemani berbagai adegan dalam Home melakukan tugas yang sangat sempurna. Setiap lagu yang hadir dalam film ini – dinyanyikan oleh antara lain Kiesza, Charli XCX serta Rihanna dan Jennifer Lopez sendiri – memberikan nyawa yang lebih kuat (dan segar) bagi penceritaan film. [C]

Home (2015)

Directed by Tim Johnson Produced by Chris Jenkins, Suzanne Buirgy Written by Tom J, Astle, Matt Ember (screenplay), Adam Rex (book, The True Meaning of Smekday) Starring Jim Parsons, Rihanna, Jennifer Lopez, Steve Martin, Matt L. Jones, Brian Stepanek, April Lawrence, Stephen Kearin, Brian Stepanek, Lisa Stewart, April Winchell Music by Lorne Balfe Edited by Jessica Ambinder-Rojas, Alexander Berner Production company DreamWorks Animation Running time 94 minutes Country United States Language English

Review: Madagascar 3: Europe’s Most Wanted (2012)

Setelah kesuksesan Madagascar (2005) yang berhasil meraih pendapatan sebesar US$532 juta dari peredarannya di seluruh dunia dan diikuti dengan Madagascar: Escape 2 Africa (2008) yang bahkan berhasil mengungguli pendapatan film pertamanya dengan raihan pendapatan sebesar US$603 juta, tidak mengherankan jika kemudian DreamWorks Animation melanjutkan kisah petualangan kuartet binatang asal Central Park Zoo, New York, Amerika Serikat tersebut dengan Madagascar 3: Europe’s Most Wanted – serta sebuah opsi untuk pembuatan seri keempat jika bagian ketiga franchise film ini berhasil menemukan kesuksesan yang sama. Franchise Madagascar sendiri semenjak awal memang sepertinya tidak pernah berniat untuk menjadi lebih dari sekedar sebuah hiburan bagi para penontonnya. Formula hiburan itulah yang kembali digunakan dalam Madagascar 3: Europe’s Most Wanted… yang membuat seri ketiga ini begitu terasa menjemukan terlepas dari penampilan visualnya yang mengalami peningkatan kualitas yang cukup berarti.

Continue reading Review: Madagascar 3: Europe’s Most Wanted (2012)