Tag Archives: Stellan Skarsgård

Review: Avengers: Age of Ultron (2015)

avengers-age-of-ultron-posterSetelah kesuksesan luar biasa dari The Avengers (2012) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga mampu menarik perhatian penonton dan menjadikannya sebagai film dengan kesuksesan komersial terbesar ketiga di dunia setelah Avatar (2009) dan Titanic (1997) – kumpulan pahlawan dari Marvel Comics kembali hadir lewat Avengers: Age of Ultron. Masih disutradarai oleh Joss Whedon, Avengers: Age of Ultron memberikan sedikit perubahan radikal dalam warna penceritaannya. Berbeda dengan The Avengers yang menghadirkan banyak sentuhan komedi melalui deretan dialognya, film yang juga menjadi film kesebelas dalam rangkaian film dari Marvel Cinematic Universe ini tampil dengan deretan konflik yang lebih kompleks sekaligus kelam dari pendahulunya – atau bahkan dari seluruh film-film produksi Marvel Studios sebelumnya. Sebuah pilihan yang cukup beresiko dan, sayangnya, gagal untuk dieksekusi secara lebih dinamis oleh Whedon.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bekerjasama dengan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk menghasilkan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang awalnya ditujukan untuk membantu The Avengers dalam melaksanakan setiap tugas mereka. Sial, program yang diberi nama Ultron (James Spader) tersebut justru berbalik arah. Dengan tingkat kecerdasan tinggi yang diberikan kepadanya, Ultron justru merasa bahwa The Avengers adalah ancaman bagi kedamaian dunia dan akhirnya memilih untuk memerangi mereka. Dibantu dengan pasangan kembar Pietro (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kecepatan super dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi jalan pemikiran orang lain, Ultron memberikan sebuah tantangan berat yang tidak hanya mengancam keberadaan The Avengers namun juga keberadaan seluruh umat manusia yang ada di atas pemukaan Bumi.

Pilihan untuk tampil “lebih dewasa” lewat jalan penceritaan lebih kompleks dan kelam yang dituliskan oleh Joss Whedon sendiri sebenarnya bukanlah sebuah pilihan yang buruk untuk Avengers: Age of Ultron. Namun, dengan banyaknya karakter serta beberapa konflik personal lain yang masih tetap ingin diberikan ruang penceritaan khusus oleh Whedon, Avengers: Age of Ultron akhirnya justru terasa dibebani terlalu banyak permasalahan dengan ruang yang lebih sempit bagi konflik-konflik tersebut untuk berkembang dan hadir dengan porsi cerita yang memuaskan. Ketiadaan fokus yang kuat bagi setiap masalah yang dihadirkan inilah yang membuat Avengers: Age of Ultron terasa bertele-tele dalam mengisahkan penceritaannya dan akhirnya turut mempengaruhi pengembangan kisah personal beberapa karakter yang sebelumnya justru menjadi salah satu poin terbaik dari pengisahan The Avengers.

Berbicara mengenai Ultron, karakter antagonis yang satu ini harus diakui gagal tersaji secara lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter antagonis dari seri sebelumnya, Loki. Terlepas dari kecerdasan luar biasa yang ia miliki, Ultron terasa hanyalah sebagai sebuah variasi karakter antagonis standar dalam film-film bertema sejenis yang berniat untuk memberikan ujian fisik dan mental bagi para karakter utama hingga akhirnya dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup mereka: menjadi penguasa dunia. Vokal James Spader sendiri mampu memberikan warna karakteristik dingin yang sangat sesuai bagi Ultron namun hal tersebut tetap saja tidak mampu membuat Ultron tampil lebih menarik lagi.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Avengers: Age of Ultron sendiri masih mampu dengan beberapa sentuhan humanis dalam penceritaannya. Beberapa plot pendukung seperti hubungan romansa yang sepertinya mulai terbangun antara karakter Bruce Banner dan Natasha Romanoff serta latar belakang keluarga yang dimiliki oleh karakter Clint Barton membuat sisi drama dari film ini tampil dengan kualitas yang cukup istimewa. Whedon, sayangnya, gagal memberikan porsi pengisahan yang sesuai untuk dua karakter baru, Pietro dan Wanda Maximoff, sehingga kehadiran keduanya seringkali terasa tidak lebih dari sekedar karakter tambahan tanpa esensi cerita yang cukup kuat untuk tampil lebih menarik.

Layaknya seri pendahulunya, Whedon masih mampu merangkai Avengers: Age of Ultron dengan kualitas departemen produksi yang sangat memikat. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga hadir dengan penampilan akting yang semakin dinamis dengan chemistry yang semakin menguat antara satu dengan yang lain. Seandainya Whedon mau menghilangkan beberapa plot pendukung yang kurang esensial dan memilih untuk mengembangkan konflik utama film dengan lebih tajam, Avengers: Age of Ultron mungkin mampu hadir menyaingi kualitas penceritaan The Avengers – meskipun dengan nada penceritaan yang tetap hadir lebih kelam dan serius. Avengers: Age of Ultron tetap mampu memberikan beberapa momen khas film-film karya Marvel Studios yang akan dapat dinikmati penggemarnya. Namun lebih dari itu, film ini terasa dibebani terlalu banyak konflik yang akhirnya justru membuatnya gagal untuk berkembang dengan penceritaan yang lebih baik. [C]

Avengers: Age of Ultron (2015)

Directed by Joss Whedon Produced by Kevin Feige Written by Joss Whedon (screenplay), Zak Penn, Joss Whedon (story), Stan Lee, Jack Kirby (comics, The AvengersStarring Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, Anthony Mackie, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skarsgård, James Spader, Samuel L. Jackson,  Linda Cardellini, Thomas Kretschmann, Claudia Kim, Andy Serkis, Julie Delpy, Stan Lee Music by Brian Tyler, Danny Elfman Cinematography Ben Davis Editing by Jeffrey Ford, Lisa Lassek Studio Marvel Studios Running time 141 minutes Country United States Language English

Review: Cinderella (2015)

cinderella-2015-posterWe’re all familiar with the original story of Cinderella. Seorang gadis berparas jelita dengan kehidupan yang begitu bahagia bersama kedua orangtuanya lantas menemukan dirinya berada dalam rangkaian ketidakberuntungan ketika sang ibu meninggal dunia dan sang ayah kemudian menikahi seorang wanita dengan perangai buruk yang memiliki dua orang puteri dengan perangai yang tidak jauh buruknya dari ibu mereka. Tidak cukup disitu, dalam jangka waktu yang tidak lama, sang ayah kemudian menyusul kematian sang ibu yang jelas kemudian meninggalkan sang gadis dalam asuhan sang ibu tiri yang sama sekali tidak pernah berlaku layaknya seorang ibu pada sang gadis. Sang gadis berubah menjadi pembantu di rumahnya sendiri… pesta dansa… ibu peri… sepatu kaca… pangeran tampan… jam dua belas di tengah malam… dan hidup bahagia untuk selama-lamanya. Kisah dongeng klasik yang secara turun-temurun telah menjadi begitu familiar bagi seluruh umat manusia yang ada di permukaan Bumi.

Kini, mengikuti jejak kesuksesan Alice in Wonderland (2010) dan Maleficent (2014), Walt Disney Pictures menyajikan kembali kisah klasik Cinderella bagi para penonton modern dalam bentuk live action. Berbeda dengan Alice in Wonderland maupun Maleficent, naskah cerita Cinderella yang digarap oleh Chris Weitz (The Golden Compass, 2007) berdasarkan dongeng asal Perancis popular berjudul Cendrillon yang ditulis Charles Perrault di tahun 1697 sekaligus film animasi klasik Walt Disney berjudul Cinderella (Clyde Geronimi, Hamilton Luske, Wilfred Jackson, 1950) tidak melakukan perubahan yang drastis pada barisan konflik maupun karakter fundamentalnya.

Meskipun begitu, sentuhan Weitz begitu terasa dalam memberikan pendalaman latar belakang kisah pada beberapa karakter utamanya, khususnya bagi karakter sang Ibu Tiri, Lady Tremaine. Penonton kini diberikan kesempatan untuk mengenal Lady Tremaine sebagai sosok yang telah melalui begitu banyak kekecewaan yang kemudian membentuk sikapnya menjadi sosok Ibu Tiri yang melegenda tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada karakter Prince Charming yang kini tidak lagi hanya sekedar sosok pria tampan yang menyelematkan Cinderella namun digambarkan sebagai sosok baik hati dengan jalan pemikiran yang mendalam. Beberapa perubahan inilah yang memberikan pendalaman cerita yang lebih kuat dan modern bagi keseluruhan kisah klasik Cinderella yang terasa begitu tradisional.

Naskah cerita yang digarap Weitz juga mendapatkan eksekusi yang sangat sempurna dari seorang Kenneth Branagh. Dikenal sebagai sosok sutradara yang menghabiskan banyak waktunya untuk mengarahkan film-film hasil adaptasi karya William Shakespeare serta menempatkan film-film beraroma maskulin seperti Thor (2011) dan Jack Ryan: Shadow Recruit (2014) dalam daftar filmografi teranyarnya, Branagh mampu memberikan sentuhan yang begitu tegas namun lembut bagi Cinderella. Menyajikan kisahnya dengan alur penceritaan yang tepat, Branagh sepertinya berusaha untuk menghadirkan Cinderella sebagai kisah yang dapat terasa nyata bagi setiap penontonnya – meskipun tetap tidak melupakan elemen-elemen dongeng yang menjadikan kisah ini dicintai banyak orang selama ratusan tahun. Dan keputusan tersebut bekerja dengan baik untuk film ini. Melalui tampilan visual yang begitu memukau, kualitas desain produksi yang apik, tata musik yang mampu hadir untuk menghipnotis dan membawa penontonnya untuk larut dalam jalan cerita film sekaligus pemilihan serta arahan yang tepat bagi para pengisi departemen akting filmnya, Branagh berhasil secara cemerlang menjadikan Cinderella sebagai film terbaik dalam jajaran kisah dongeng legendaris yang akhir-akhir ini diadaptasi menjadi film live action oleh Walt Disney Pictures.

Berbicara mengenai departemen akting, Cinderella hadir dengan jajaran pemeran yang memiliki kualitas akting yang begitu berkelas. Barisan pemeran pendukung yang diisi nama-nama seperti Richard Madden, Derek Jacobi, Stellan Skarsgård, Hayley Atwell, Holliday Grainger hingga Sophie McShera mampu memberikan kesan yang mendalam bagi karakter yang mereka perankan. Namun adalah penampilan Helena Bonham Carter sebagai The Fairy Godmother, Cate Blanchett sebagai Lady Tremaine dan Lily James sebagai Cinderella yang benar-benar menjadi nyawa utama bagi Cinderella. Peran Bonham Carter sebagai The Fairy Godmother tampil benar-benar dalam kapasitas terbatas. Namun, bahkan dalam kapasitas tersebut, Bonham Carter berhasil tampil begitu menyegarkan sehingga akan ada banyak penonton yang merindukan kehadirannya kembali di dalam jalan cerita. Bonham Carter juga berperan sebagai narator bagi jalan cerita Cinderella. Sebagai seorang pencerita, Bonham Carter jelas tahu banyak tentang bagaimana untuk tetap menarik perhatian penonton kepada jalan cerita yang sedang dibacakannya.

Dua pemeran utama, Lily James dan Cate Blanchett, tampil sebagai dua karakter yang saling berlawanan sikap. Dan keduanya hadir dalam penampilan yang benar-benar memukau. Sebagai karakter antagonis, Blanchett memberikan sentuhan personal yang begitu mendalam bagi karakter Lady Tremaine. Penonton tidak akan melihatnya sebagai seorang karakter dengan kepribadian hitam belaka. Pendalaman yang diberikan Blanchett bagi karakternya akan membuat penonton merasa iba bagi sang Ibu Tiri atas apa yang sebenarnya ia maksudnya melalui sikap kerasnya. James juga tampil menawan sebagai Cinderella. Meskipun tergolong aktris yang masih belum familiar, kharisma James hadir begitu maksimal di sepanjang penampilannya di film ini. Pada beberapa bagian, penampilan James yang begitu energik bahkan akan mengingatkan beberapa penonton pada penampilan Kate Winslet muda dalam Heavenly Creatures (1994). Tidak mengherankan bila Cinderella terasa berjalan stagnan dan sedikit datar ketika baik Blanchett maupun James tidak hadir dalam salah satu adegan ceritanya. [B]

Cinderella (2015)

Directed by Kenneth Branagh Produced by Simon Kinberg, David Barron, Allison Shearmur Written by Chris Weitz (screenplay), Ken Anderson, Perce Pearce, Homer Brightman, Winston Hibler, Bill Peet, Erdman Penner, Harry Reeves, Joe Rinaldi, Ted Sears (1950 animated film, Cinderella), Charles Perrault (book, CendrillonStarring Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett, Helena Bonham Carter, Stellan Skarsgård, Derek Jacobi, Hayley Atwell, Holliday Grainger, Sophie McShera, Nonso Anozie, Ben Chaplin, Eloise Webb Music by Patrick Doyle Cinematography Haris Zambarloukos Edited by Martin Walsh Production company Walt Disney Pictures Running time 112 minutes Country United States Language English

Review: Thor: The Dark World (2013)

thor-the-dark-world-header

Let’s do a little recap. Terlepas dari pengalamannya yang lebih banyak mengarahkan film-film adaptasi dari karya sastra William Shakespeare, Marvel Studios memberikan kekuasaan pada Kenneth Branagh untuk mengarahkan Thor (2011) yang diadaptasi dari komik superhero berjudul sama karya Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby yang diproduksi oleh Marvel Comics. Dengan kelihaiannya dalam merangkai cerita sekaligus mengarahkan para jajaran pemerannya, Branagh berhasil menggarap Thor menjadi sebuah presentasi yang tidak hanya menghibur selayaknya film-film karya Marvel Studios lainnya namun juga tetap memiliki sisi penuturan drama yang kuat a la film-film Shakespeare yang pernah diarahkannya. Tidak mengherankan, Thor kemudian mampu meraih kesuksesan secara komersial, mendapatkan banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus menjadi film produksi Marvel Studios terbaik hingga saat ini.

Continue reading Review: Thor: The Dark World (2013)

Review: The Avengers (2012)

Ketika berhubungan dengan film-film yang dirilis pada masa musim panas, Hollywood tahu bahwa mayoritas para penikmat film dunia menginginkan film-film dengan kualitas penceritaan yang sederhana namun dengan pengemasan yang super megah. Film-film yang murni dibuat dengan tujuan hiburan semata. The Avengers – sebuah film yang menempatkan para pahlawan Marvel Comics seperti Captain America, The Black Widow, Iron Man, Hawkeye, Thor dan Hulk berada pada satu jalan penceritaan yang sama – jelas adalah salah satu film musim panas dengan nilai hiburan yang pastinya tidak dapat diragukan lagi. Namun, di bawah pengarahan Joss Whedon (Serenity, 2005), yang bersama dengan Zak Penn (The Incredible Hulk, 2008) juga menulis naskah cerita film ini, The Avengers berhasil tampil lebih dari sekedar sebuah summer movie. Fantastis dalam penampilan, tetapi tetap mampu tampil membumi dengan kisah yang humanis nan memikat.

Continue reading Review: The Avengers (2012)

Review: Thor (2011)

Walau telah terbit dalam bentuk seri komik yang dirilis oleh Marvel Comics semenjak tahun 1966, tidak hingga tahun 2001 Thor akhirnya mampu menarik perhatian Hollywood untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Pun begitu, semenjak ditinggalkan oleh Sam Raimi – sutradara pertama yang berminat dan telah mengembangkan konsep cerita adaptasi kisah Thor ke layar lebar – Thor menjadi terbengkalai sebelum akhirnya hak adaptasi layar lebar dari seri komik tersebut dibeli oleh Paramount Pictures di tahun 2006. Setelah lagi-lagi ditinggalkan oleh beberapa sutradara, Kenneth Branagh akhirnya terpilih sebagai sutradara Thor di tahun 2008. Terkenal sebagai seorang yang bertangan dingin dalam mengadaptasi karya-karya William Shakespeare, Branagh ternyata memiliki kemampuan yang cukup hangat untuk menangani sebuah adaptasi kisah seri komik dan menjadikan Thor ringan dan menyenangkan untuk disaksikan namun tetap tidak kehilangan esensi ceritanya secara keseluruhan.

Continue reading Review: Thor (2011)

Review: Frankie and Alice (2010)

Frankie and Alice memberikan kesempatan bagi Halle Berry untuk menampilkan permainan terbaiknya setelah perannya dalam Monster’s Ball (2001) yang berhasil memenangkannya sebuah piala Academy Awards tersebut. Disutradarai oleh Geoffrey Sax (White Noise, 2005), kisah Frankie and Alice ditulis oleh sembilan orang penulis naskah berdasarkan sebuah kisah nyata mengenai Frankie Murdoch, seorang penari telanjang berkulit hitam yang memiliki kepribadian ganda. Dan memang, berdasarkan premis tersebut, Frankie and Alice menjadi sebuah film yang terbukti mampu dapat dimanfaatkan Halle Berry dengan baik untuk menunjukkan kapasitas aktingnya yang cukup prima.

Continue reading Review: Frankie and Alice (2010)