Tag Archives: Stefan William

Review: Kok, Putusin Gue? (2015)

kok-putusin-gue-posterDiangkat dari novel yang berjudul sama karya Ninit Yunita – yang dua novelnya, Test Pack: You Are My Baby (2012) dan Kukejar Cinta ke Negeri Cina (2014), juga sempat diadaptasi menjadi film layar lebar sebelumnya, Kok, Putusin Gue? berkisah mengenai Amaya (Dara the Virgin) yang hubungan cintanya diputuskan secara sepihak oleh Hari (Stefan William) di malam perayaan satu tahun hubungan mereka. Bersama dengan sahabatnya, Rini (Mitha The Virgin), Amaya lantas menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Hari. Jelas saja rasa kekecewaan Amaya semakin mendalam setelah mengetahui bahwa Hari ternyata telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Tidak mau berdiam diri, Amaya lantas menyusun rencana untuk membalaskan sakit hatinya pada sang mantan kekasih.

Meskipun hadir dengan tatanan pengisahan yang cukup sederhana dan familiar, Kok, Putusin Gue? harus diakui mampu disajikan dengan eksekusi yang tidak mengecewakan. Naskah cerita yang digarap oleh Delbin Clyte dan Helfi Kardit memang memiliki wilayah penceritaan yang terbatas. Namun, dalam keterbatasan tersebut, kedua penulis naskah berhasil memasukkan elemen-elemen romansa dan komedi yang cukup efektif melalui barisan konflik maupun dialog film. Lebih dari itu, keberhasilan utama dari Kok, Putusin Gue? juga datang dari kemampuan sutradara debutan M. Harmoko yang berhasil mengalirkan alur kisah film dengan ritme yang tepat. Jalan cerita film berjalan tidak terlalu lamban untuk membuatnya terasa draggy namun juga tidak terlalu cepat untuk dapat memberikan ruang yang cukup bagi masing-masing konflik dan karakter untuk berkembang. Plus, keputusan untuk mengemas jalan cerita film dengan lagu-lagu kelompok musik Dewa (atau Dewa 19) dengan aransemen ulang oleh The Virgin sendiri menjadi poin manis tersendiri ketika masing-masing lagu tersebut berhasil ditempatkan dengan baik di berbagai bagian film.

Kok, Putusin Gue? sendiri bukannya hadir tanpa masalah berarti. Melewati paruh kedua penceritaan, dan konflik utama cerita terasa tidak memiliki perkembangan yang cukup mapan, Kok, Putusin Gue? mulai terasa kehilangan keseimbangan arah perjalanannya. Hal ini juga masih ditambah dengan kehadiran karakter-karakter minor yang gagal untuk mendapatkan porsi penceritaan yang tepat. Beberapa konflik yang disajikan untuk mewarnai jalan cerita Kok, Putusin Gue? juga terasa terlalu lemah dan ringan untuk dapat memberikan kesan tersendiri bagi kualitas penceritaan secara keseluruhan. Tidak sampai merusak film namun tetap gagal untuk memberikan kesan yang lebih mendalam.

Keunggulan lain yang dimiliki oleh Kok, Putusin Gue? adalah performa prima dari dua bintangnya, Mitha dan Dara yang merupakan pentolan dari kelompok musik The Virgin. Surprise? Meskipun masih jauh dari kesan istimewa, namun baik Mitha dan Dara terlihat begitu bersenang-senang dengan peran yang mereka miliki serta hadir dengan penampilan yang tidak pernah terasa berlebihan untuk membuat karakter yang mereka perankan terasa mengganggu. Penampilan lain hadir dari Stefan William, Igor Saykoji, Sonita bahkan Zarry Hendrik juga tampil tidak mengecewakan meskipun karakter-karakter yang mereka perankan sangat terasa sebagai tempelan belaka dan tidak pernah tersaji sebagai satu karakter yang digali secara mendalam. [C-]

Kok, Putusin Gue? (2015)

Directed by M. Harmoko Produced by Ravi Pridhnani, Helfi Kardit Written by Delbin Clyte, Helfi Kardit (screenplay), Ninit Yunita (novel, Kok, Putusin Gue?) Starring Dara The Virgin, Mitha the Virgin, Stefan William, Igor Saykoji, Zarry Hendrik, Sonita Music by Rifky Darsyaf Cinematography Ophie Yuphie Edited by Codie Kardit Production company Studio Sembilan Production/0708 Films Running time 102 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)
7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)

Setelah The Legend of Trio Macan (2013), Billy Christian melanjutkan karir penyutradaraan film layar lebarnya dengan sebuah film drama romansa remaja berjudul 7 Misi Rahasia Sophie. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Anggoro Saronto (Sang Kiai, 2013), 7 Misi Rahasia Sophie mencoba untuk menelusuri kisah persahabatan antara dua remaja yang dibalut dengan satir mengenai kegemaran kaum muda modern untuk mendokumentasikan diri dan kegiatan mereka di dunia maya. Sebuah ide cerita yang sebenarnya begitu sederhana namun masih cukup menarik. Sayangnya, kesederhanaan ide cerita tersebut kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan yang kuat. Akhirnya, di sepanjang 98 menit durasi penceritaan filmnya, 7 Misi Rahasia Sophie seringkali terasa datar secara emosional dalam penyajian kisahnya.

Continue reading Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

Review: Air Terjun Pengantin Phuket (2013)

air-terjun-pengantin-phuket-header

Merupakan sekuel dari Air Terjun Pengantin (2009), Air Terjun Pengantin Phuket berkisah mengenai kehidupan Tiara (Tamara Bleszynski) selepas beberapa tahun setelah peristiwa tragis yang menewaskan teman-teman sekaligus kekasihnya seperti yang diceritakan pada seri film sebelumnya. Kini, Tiara mulai menemukan kembali ketenangan dalam hidupnya setelah dirinya pindah dan tinggal di sekitar keindahan Pantai Phuket, Thailand. Bersama dengan sahabatnya, Lea (Laras Monca), Tiara membuka sebuah bar kecil yang mulai ramai dikunjungi para pendatang di daerah tersebut. Tidak melupakan masa lalunya yang kelam begitu saja, Tiara juga memperkuat pertahanan diri dengan mendalami olahraga bela diri Thai Boxing yang dilakukannya sebagai persiapan jika saja ada bahaya yang kembali dapat mengancam kehidupannya di masa yang akan datang.

Continue reading Review: Air Terjun Pengantin Phuket (2013)

Review: Bila (2012)

Terlepas dari poster filmnya yang harus diakui benar-benar mampu menghantarkan kesan romantisme yang kuat kepada para penonton film ini, jalan cerita yang ditawarkan oleh Bila sama sekali tidak mampu untuk memperkuat kesan tersebut. Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara tiga karakter utamanya, dengan memanfaatkan momen tren kisah romansa di balik sebuah kematian yang saat ini sedang begitu dieksploitasi banyak pembuat film Indonesia, Bila adalah rangkaian kisah percintaan remaja yang cheesy, yang mengharapkan para penontonnya untuk dapat merasa tersentuh dengan deretan dialog-dialog yang berkeinginan untuk menjadi romantis – sayangnya gagal – serta karakter-karakter yang sepertinya lebih mudah untuk dibenci daripada disukai akibat dangkalnya karakterisasi yang diberikan pada mereka.

Continue reading Review: Bila (2012)