Tag Archives: Snoop Dogg

Review: Pitch Perfect 2 (2015)

pitch-perfect-2-posterKetika Pitch Perfect dirilis pada tahun 2012 lalu, banyak pendapat sinis yang memandang bahwa film musikal arahan Jason Moore tersebut diproduksi guna memanfaatkan kepopuleran serial televisi musikal Glee yang memang sedang menanjak saat itu. Secara perlahan tapi pasti, Pitch Perfect berhasil meraih kepopulerannya sendiri: film dengan biaya produksi sebesar US$17 juta tersebut kemudian mampu mengumpulkan pendapatan sebesar US$115 juta di sepanjang masa rilisnya, menjual lebih dari satu juta keping album soundtrack-nya di seluruh dunia sekaligus menjadikan salah satu lagu pengisi dalam film tersebut, Cups (“When I’m Gone”) yang dinyanyikan Anna Kendrick, sebagai salah satu lagu terpopuler pada tahun tersebut. Dan, tentu saja, karena Hollywood akan terus berusaha mengeruk keuntungan dari setiap hasil produksi mereka yang berhasil mencuri perhatian penikmat film dunia, sekuel Pitch Perfect lantas segera disetujui pembuatannya.

Beberapa perubahan terjadi dalam Pitch Perfect 2. Elizabeth Banks yang dahulu hanya bertindak sebagai salah satu pemeran dan produser dalam Pitch Perfect kini menggantikan posisi Jason Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan – sekaligus melakukan debut pengarahan film layar lebarnya. Bujet produksi juga mengalami penambahan hingga sebesar US$29 juta dengan jajaran pemeran yang kini juga menyertakan peraih nominasi Oscar, Hailee Steinfeld. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perubahan atau setidaknya pergerakan dalam jalan cerita Pitch Perfect 2 sepertinya akan merasakan kekecewaan yang cukup mendalam. Masih ditangani oleh penulis naskahnya terdahulu, Kay Cannon, Pitch Perfect 2 terkesan hanyalah menawarkan reka ulang dari jalan cerita serialnya terdahulu namun dengan kehangatan penceritaan yang cukup jauh berkurang.

Jalan cerita Pitch Perfect 2 sendiri mengambil latar belakang waktu penceritaan empat tahun semenjak film pertamanya. The Barden Bellas kini telah menjadi kelompok penyanyi akapela wanita yang popular di Amerika Serikat dan bahkan diundang oleh pemerintah negara tersebut untuk tampil dalam perayaan ulang tahun Presiden Barack Obama. Sial, dalam penampilan mereka, Fat Amy (Rebel Wilson) mengalami sebuah insiden yang cukup memalukan sekaligus melukai reputasi kelompok tersebut. Karena kejadian tersebut, The Barden Bellas kemudian dilarang untuk melanjutkan tur keliling Amerika Serikat mereka dan bahkan terancam untuk dibubarkan keberadaannya oleh kampus mereka. Satu-satunya kesempatan mereka untuk memperbaiki kembali reputasi mereka adalah dengan mengikuti turnamen akapela tingkat dunia… yang di sepanjang sejarah pelaksanaannya tidak pernah dimenangkan oleh tim peserta asal Amerika Serikat.

Salah satu faktor yang membuat naskah cerita Pitch Perfect 2 gagal untuk tampil semenarik pendahulunya adalah film ini tidak memiliki karakter sentral untuk memegang perhatian penonton. Jika Pitch Perfect dihadirkan dalam sudut pandang karakter Beca Mitchell yang diperankan oleh Anna Kendrick, maka Pitch Perfect 2 menghadirkan sudut pandang yang netral dengan memberikan setiap karakter kesempatan untuk disajikan kisahnya masing-masing. Sebuah langkah yang cukup menarik sebenarnya namun dengan penggalian yang tidak begitu mendalam, Pitch Perfect 2 terasa hadir sebagai kepingan-kepingan cerita yang tidak begitu mampu untuk saling berpadu antara satu dengan yang lain. Kehadiran karakter baru Emily Junk yang diperankan oleh Hailee Steinfeld juga tidak banyak membantu ketika karakter tersebut hanya ditempatkan sebagai karakter pendukung yang seringkali ditempatkan di bagian belakang penceritaan film. Begitu pula dengan beberapa konflik yang disajikan gagal untuk tampil lebih mengikat akibat pengisahannya yang cukup terbatas.

Cukup sulit untuk menilai kemampuan pengarahan Elizabeth Banks dalam film ini. Di satu sisi, Banks terkesan hanyalah mengikuti pola penceritaan yang telah ditetapkan oleh seri pendahulu Pitch Perfect 2 tanpa pernah mampu menghadirkan sentuhan khas yang setidaknya membuat keberadaannya di kursi penyutradaraan memberikan sesuatu yang berbeda dari pengarahan Jason Moore. Namun, di sisi lainnya, naskah cerita Pitch Perfect 2 juga memang tidak memberikan ruang khusus yang mampu memberikan kesempatan bagi Banks untuk bersinar. Setidaknya Banks berhasil menampilkan bahwa dirinya dapat menyajikan penceritaan filmnya dengan nada penceritaan yang tepat. Pitch Perfect 2 hadir dengan tempo sederhana yang cukup sesuai dengan alur penceritaan yang memang mereka tawarkan pada penonton.

Lemah pada beberapa bagian penceritaannya, Pitch Perfect 2 tetap mampu tampil memikat ketika menghadirkan presentasi musikalnya di dalam jalan cerita film. Meskipun lagu-lagu yang disajikan kini tidak sekuat daftar lagu-lagu dalam seri terdahulu, namun penampilan yang dinamis dari setiap pemeran dalam setiap lagu yang hadir dalam Pitch Perfect 2 menjadikan momen-momen musikal dalam film ini sebagai momen-momen paling bersinar dan memuaskan di sepanjang 115 menit durasi penceritaannya. Dan mungkin memang tampilan musikal dari Pitch Perfect 2 yang seharusnya menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin menikmati film ini. Jika diibaratkan sebagai sebuah lagu, Pitch Perfect 2 adalah sebuah cover version yang diproduksi dengan tampilan lebih megah namun sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi para pendengarnya kecuali momen-momen sentimental yang pernah mereka dapatkan ketika mendengarkan lagu tersebut dahulu untuk pertama kali. [C]

Pitch Perfect 2 (2015)

Directed by Elizabeth Banks Produced by Elizabeth Banks, Paul Brooks, Kay Cannon, Max Handelman, Jeff Levine, Jason Moore Written by Kay Cannon (screenplay), Kay Cannon (characters), Mickey Rapkin (bookPitch Perfect: The Quest for Collegiate A Cappella Glory) Starring Anna Kendrick, Rebel Wilson, Brittany Snow, Ester Dean, Alexis Knapp, Hana Mae Lee, Kelley Jakle, Shelley Regner, Hailee Steinfeld, Chrissie Fit, Skylar Astin, Adam DeVine, Ben Platt, Anna Camp, Flula Borg, Birgitte Hjort Sørensen, Katey Sagal, Keegan-Michael Key, Elizabeth Banks, John Michael Higgins, David Cross, Reggie Watts, John Hodgman, Jason Jones, Joe Lo Truglio, Kether Donahue, C.J. Perry, Robin Roberts, Shawn Carter Peterson, Snoop Dogg, Clay Matthews, David Bakhtiari, Don Barclay, Josh Sitton, T.J. Lang, Jordan Rodgers, Blake Shelton, Christina Aguilera, Pharrell Williams, Adam Levine, Pentatonix, Penn Masala, The Filharmonic Music by Mark Mothersbaugh, The Underdogs Cinematography Jim Denault Editing by Craig Alpert Studio Gold Circle Films Running time 115 minutes Country United States Language English

Review: Scary Movie 5 (2013)

Scary Movie 5 (Dimension Films/DZE/Brad Grey Pictures, 2013)
Scary Movie 5 (Dimension Films/DZE/Brad Grey Pictures, 2013)

Perjalanan franchise Scary Movie dimulai pada tahun 2000 ketika Keenan Ivory Wayans bersama dengan dua saudaranya, Shawn Wayans dan Marlon Wayans, membuat sebuah film komedi yang memparodikan film-film horor yang memang sedang menjadi tren di Hollywood saat itu. Meskipun dari segi kualitas banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film, Scary Movie berhasil menarik perhatian penonton film dunia dan sukses besar secara komersial. Tidak mengherankan bila  kemudian sekuelnya, Scary Movie 2, dirilis setahun kemudian meskipun dengan kualitas yang masih banyak mendapatkan kritikan tajam dan perolehan komersial yang jauh dibawah pendahulunya. Keterlibatan Wayans Brothers terhenti di seri kedua Scary Movie dan posisinya kemudian digantikan oleh David Zucker.

Continue reading Review: Scary Movie 5 (2013)

Review: Turbo (2013)

Turbo-header

Film teranyar rilisan DreamWorks Animation, Turbo, yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi David Soren, berkisah mengenai seekor siput kebun bernama Theo (Ryan Reynolds) – atau yang lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan Turbo, yang bermimpi untuk menjadi pembalap terbaik di dunia, seperti halnya sang idola, Guy Gagne (Bill Hader) – seorang manusia. Masalahnya… well… Turbo adalah seekor siput yang semenjak lama memiliki takdir sebagai salah satu hewan dengan pergerakan tubuh paling lambat di dunia. Obsesinya tersebut kerap membuat Turbo menjadi bahan cemoohan bagi komunitas siput yang berada di sekitarnya, termasuk dari sang kakak, Chet (Paul Giamatti). Hal itulah yang kemudian mendorong Turbo untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya dan memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

Continue reading Review: Turbo (2013)

Review: Justin Bieber: Never Say Never (2011)

Silahkan angkat tangan Anda kalau Anda adalah salah satu orang yang merasa sedikit terganggu ketika mendengar seseorang mengucapkan bahwa mereka adalah penggemar Justin Bieber. Anda tidak sendirian. Berbanding lurus dengan jutaan penggemar setia (baca: maniak) yang selalu memuja dan membicarakannya, Bieber memiliki jutaan orang lainnya yang sangat membenci kehadiran dirinya. Justin Bieber: Never Say Never adalah sebuah film dokumenter yang berisi kumpulan penampilan Bieber di atas panggung serta sekelumit perjalanan karirnya yang terlihat seperti berusaha untuk memenangkan hati sekelompok orang yang selama ini selalu memandang sebelah mata terhadap kehadirannya. Mungkin Anda akan membenci mendengar hal ini, namun Justin Bieber: Never Say Never, dalam suatu cara, akan berhasil melakukan hal tersebut.

Continue reading Review: Justin Bieber: Never Say Never (2011)