Tag Archives: Shandy Aulia

Review: Tarot (2015)

tarot-posterIf it ain’t broke, don’t fix it. Rumah produksi Hitmaker Studios kembali menggunakan formula kesuksesan ketika menggarap Rumah Kentang (2012), 308 (2013) dan Rumah Gurita (2014) untuk memproduksi film horor terbaru mereka, Tarot: kolaborasi antara pengarahan dari sutradara Jose Poernomo, naskah cerita yang digarap oleh Riheam Junianti dan penampilan akting dari Shandy Aulia. Jika dibandingkan dengan kolaborasi mereka terdahulu, Tarot harus diakui mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang tergarap dengan baik dan jelas dapat memberikan beberapa momen menyenangkan bagi para mereka yang memang menyukai film-film sejenis. Namun, tetap saja, naskah cerita film yang masih dipenuhi banyak konflik klise khas film horor Indonesia membuat Tarot terkesan berjalan lamban dan bertele-tele dalam sebagian besar masa pengisahannya.

Kisah Tarot sendiri dimulai ketika pasangan Julie (Shandy Aulia) dan Tristan (Boy William) yang akan segera menikah mendapatkan ramalan tarot dari seorang pembaca kartu tarot, Madam Herlina (Sara Wijayanto), yang tidak sengaja mereka temui di sebuah taman rekreasi. Julie dan Tristan awalnya jelas hanya bertujuan untuk bersenang-senang belaka dalam mengikuti pembacaan ramalan tersebut. Ramalan yang dibacakan Madam Herlina juga dimulai menyenangkan. Ia meramalkan bahwa Julie dan Tristan adalah pasangan yang serasi dan akan menjalani masa pernikahan yang menyenangkan. Namun, ramalan tersebut berubah menjadi suatu hal yang menakutkan ketika Madam Herlina mengingatkan bahwa seseorang dari masa lalu Julie akan datang dengan rasa amarah, membunuh kedua sahabatnya sekaligus berusaha membunuh Julie maupun Tristan. Tanpa disangka, ramalan Madam Herlina telah membuka secara detil semua plot cerita Tarot dan (seharusnya dapat) membebaskan penontonnya dari penderitaan dalam menyaksikan film ini sepanjang 118 menit.

Tarot sendiri sebenarnya dimulai dengan cukup baik dalam memperkenalkan karakter-karakter maupun konflik awal film ini. Meskipun tidak sepenuhnya menarik, Jose Poernomo setidaknya berhasil membangun pijakan awal cerita yang kokoh bagi para penonton untuk bersiap menyimak jalan penceritaan Tarot secara lebih mendalam. Namun, secara perlahan, momen-momen keunggulan Tarot tersebut mulai sirna seiring berjalannya durasi penceritaan film sekaligus pengisahan konflik yang cenderung bertele-tele. Paruh kedua dan ketiga penceritaan dari Tarot tampil begitu lemah akibat usaha memperpanjang konflik dengan deretan drama yang tergolong klise dan gagal untuk tersaji dengan menarik. Membosankan, walaupun Tarot sesekali mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang berhasil dieksekusi dengan baik.

Departemen akting Tarot sendiri hadir dengan kualitas yang mungkin telah diharapkan semua orang ketika mengetahui bahwa departemen akting film ini diperkuat oleh Shandy Aulia dan Boy William. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih dari kesan memuaskan. Chemistry yang dihadirkan keduanya – dalam berperan sebagai dua karakter yang saling mencintai satu sama lain – juga jauh dari meyakinkan. Penampilan Shandy Aulia sebagai dua sosok karakter sayangnya hanya ditandai dengan satu karakter dihadirkan dengan karakteristik pembawaan diri yang tenang sementara karakter lain hadir dengan nada bicara yang bertempo cepat dan cenderung tinggi. Tanpa berusaha membuat kedua karakter tersebut benar-benar hidup dan meyakinkan kehadirannya dalam jalan cerita film. But thenwhat can you expect from Shandy Aulia’s almost non-existent acting talent?

Seperti halnya film-film horor terdahulunya bersama Hitmaker Studios, Jose Poernomo kembali mampu menyajikan Tarot dengan tata teknikal yang terlihat meyakinkan. Tidak benar-benar istimewa namun jelas merupakan keunggulan paling maksimal yang dapat diraih oleh film ini. Jose Poernomo jelas terasa seperti tidak terlalu mempedulikan bagian krusial dari penceritaan dan lebih memilih untuk mencoba menghadirkan kengerian melalui tata atmosfer serta tampilan visual film. Berhasil? Mungkin. Namun, secara keseluruhan, dengan pengisahan yang masih tergolong lemah dan penyampaian cerita yang tergolong draggy, Tarot jelas masih sukar untuk dinikmati dengan baik. [C-]

Tarot (2015)

Directed by Jose Poernomo Produced by Rocky Soraya Written by Riheam Junianti Starring Shandy Aulia, Boy William, Sara Wijayanto, Aurellie Moeremans Music by Anto Hoes Cinematography Jose Poernomo Editing by Ratmini Studio Hitmaker Studios Running time 118 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Moga Bunda Disayang Allah (2013)

moga-bunda-disayang-allah-header

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye – yang dua novel sebelumnya, Hafalan Shalat Delisa (2011) dan Bidadari-Bidadari Surga (2012), berhasil memperoleh kesuksesan ketika juga diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar, Moga Bunda Disayang Allah memulai kisahnya dengan sebuah tragedi kecelakaan kapal laut yang dialami oleh seorang pemuda bernama Karang (Fedi Nuril). Karang sendiri berhasil selamat dalam kecelakaan tersebut. Sayang, Karang gagal untuk turut menyelamatkan rombongan anak-anak yang ia bawa untuk tujuan berdarmawisata dalam perjalanan tersebut. Tragedi tersebut kemudian meninggalkan trauma serta luka yang mendalam pada jiwa Karang dan mengubahnya dari seorang yang begitu antusias dalam menjalani hidup menjadi seorang penyendiri yang memilih untuk menghabiskan kesehariannya dengan meminum minuman keras.

Continue reading Review: Moga Bunda Disayang Allah (2013)

Review: 308 (2013)

308-header

Heeeee’s baaaack! Jose Poernomo kembali hadir dengan membawakan sebuah film horor yang, tentu saja, berkisah tentang berbagai lokasi yang dianggap memiliki aura mistis di berbagai wilayah Indonesia. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Riheam Junianti serta aktris Shandy Aulia setelah sebelumnya sukses dalam Rumah Kentang (2012), lewat 308, Jose mencoba untuk bercerita mengenai keberadaan sebuah kamar hotel misterius dan keterkaitannya dengan salah satu tokoh mistis legendaris yang sebenarnya telah dieksplorasi oleh banyak film horor Indonesia: Nyi Roro Kidul. Sejujurnya, Jose Poernomo pernah hadir dengan kualitas film yang jauh lebih buruk dari 308. Namun tetap saja, dengan dukungan penggalian naskah cerita dan penampilan jajaran pemeran yang begitu minimalis, masih terasa sulit untuk dapat memberikan kredit lebih bagi film ini.

Continue reading Review: 308 (2013)

Review: Rumah Kentang (2012)

Apa yang akan Anda lakukan ketika mengetahui kalau almarhumah Ibu Anda mewariskan sebuah rumah kepada Anda? Dan apa pula yang akan Anda lakukan jika kemudian Anda mengetahui rumah yang diwariskan tersebut seringkali menghadirkan kumpulan kentang serta aroma masakan kentang secara misterius? Well… ketika sebagian orang akan mulai memutar otak mereka dan berusaha menjadi seorang pengusaha dengan memanfaatkan sekumpulan kentang gratis yang selalu tersedia di rumah mereka setiap malamnya, pasangan kakak beradik, Farah (Shandy Aulia) dan Rika (Tasya Kamila), justru mengalami mimpi buruk dengan keberadaan kentang-kentang misterius tersebut di rumah mereka. Yahhh… beberapa orang memang tidak memiliki bakat untuk berwirausaha.

Continue reading Review: Rumah Kentang (2012)