Tag Archives: Sean Bean

Review: Jupiter Ascending (2015)

jupiter-ascending-posterAmbisius mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan setiap film yang dihasilkan oleh duo sutradara Lana dan Andy Wachowski. Bagaimana tidak. Dalam setiap film yang mereka hasilkan, The Wachowskis terlihat berusaha kuat untuk menembus berbagai batasan mengenai hal-hal apa yang dapat mereka lakukan dalam menghasilkan cerita yang dipenuhi kritikan sosial maupun filosofi hidup melalui tampilan efek khusus akan visual yang begitu megah. Tidak terkecuali dalam film terbaru mereka, Jupiter Ascending. Terlihat seperti paduan antara Star Wars (1977 – 2005) dan The Matrix (1999 – 2003), Jupiter Ascending sayangnya gagal untuk didukung dengan naskah cerita yang kuat. Lebih buruk, naskah cerita Jupiter Ascending bahkan terasa seperti hasil olahan kerja yang begitu terburu-buru dan terkesan amatir sehingga meninggalkan banyak kejanggalan serta kelemahan di berbagai bagian ceritanya. Berantakan.

Jupiter Ascending sebenarnya dimulai dengan cukup meyakinkan. Layaknya Cloud Atlas (2012), film yang naskah ceritanya juga dikerjakan oleh The Wachowskis ini juga memiliki paduan kisah yang berlatar belakang di Bumi dan angkasa luar. The Wachowskis mampu memulai kisahnya dengan memperkenalkan masing-masing karakter yang berasal dari Bumi maupun angkasa luar dengan cukup baik. Masalah dimulai ketika kedua dunia tersebut bertabrakan dan masing-masing karakter mulai membentuk jalinan hubungan dan konflik bersama. The Wachowskis seringkali terasa meninggalkan begitu banyak detil pada jalan cerita yang mereka ajukan. Detil-detil yang sebenarnya dapat dianggap kecil namun secara perlahan mulai menggunung dan mengakibatkan banyak bagian penceritaan Jupiter Ascending akhirnya gagal untuk memberikan sajian cerita yang lebih kuat.

Jupiter Ascending juga dihadirkan dengan deretan karakter yang begitu melimpah – yang kemudian juga menjadi salah satu sumber permasalahan dalam jalan cerita film ini. Adalah sangat mengecewakan untuk melihat duo sutradara sekaliber The Wachowskis menyajikan begitu banyak karakter dalam jalan cerita yang mereka hasilkan namun sama sekali tidak pernah mampu untuk mengendalikan fungsi maupun porsi penceritaan karakter-karakter tersebut. Dalam Jupiter Ascending, banyak karakter yang datang dan hilang begitu saja tanpa adanya penceritaan yang proporsional. Hal inilah yang menyebabkan setiap bagian cerita dari masing-masing karakter tidak pernah terasa benar-benar mampu tampil elegan dalam menarik perhatian penonton. Semua kisah berlalu dengan begitu saja. Tanpa kesan apapun.

Sebagai sebuah film yang dihasilkan oleh The Wachowskis, tentu saja, Jupiter Ascending telah diperkuat dengan tampilan efek visual yang benar-benar megah. Mengingat lemahnya jalan penceritaan film ini, The Wachowskis jelas terasa menghabiskan lebih banyak waktu mereka dalam menggarap berbagai detil visual film daripada berusaha menggali lebih dalam berbagai potensial yang terdapat dalam jalan cerita mereka. Tata musik arahan Michael Giacchino juga berhasil menemani berbagai tampilan visual The Wachowskis untuk menjadikannya terasa lebih megah.

Dari departemen akting, beruntung, The Wachowskis mendapatkan barisan pemeran yang cukup handal dalam memerankan karakter mereka – meskipun karakter yang mereka perankan harus tersaji dalam tata kostum yang cukup menggelikan. Nama-nama seperti Mila Kunis, Eddie Redmayne, Douglas Booth hingga Sean Bean dan James D’Arcy tampil meyakinkan dalam porsi penceritaan yang jelas tidak memuaskan. Channing Tatum juga semakin menunjukkan tajinya sebagai aktor. Penampilannya sebagai aktor utama dalam Jupiter Ascending mampu ia eksekusi dengan baik dan seringkali menjadi penampilan yang memberikan kehidupan bagi film yang terasa hadir tanpa sentuhan emosional ini. [C-]

Jupiter Ascending (2015)

Directed by The Wachowskis Produced by Grant Hill, The Wachowskis Written by The Wachowskis Starring Mila Kunis, Channing Tatum, Sean Bean, Eddie Redmayne, Douglas Booth, Tuppence Middleton, Gugu Mbatha-Raw, Terry Gilliam, David Ajala, James D’Arcy, Kick Gurry, Bae Doona, Charlotte Beaumont, Tim Pigott-Smith, Edward Hogg, Nikki Amuka-Bird, Vanessa Kirby, Maria Doyle Kennedy, Christina Cole Music by Michael Giacchino Cinematography John Toll Edited by Alexander Berner Production company Village Roadshow Pictures/Anarchos Productions Running time 127 minutes Country United States Language English

Review: Silent Hill: Revelation (2012)

silent-hill-revelation-header

Layaknya kebanyakan film yang diadaptasi dari permainan video lainnya, Silent Hill memenuhi takdirnya ketika dirilis pada tahun 2006: film tersebut mendapatkan begitu banyak cercaan dari para kritikus film dunia. Pun begitu, seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari permainan video lainnya, Silent Hill mampu mengumpulkan total pendapatan sebesar US$90 juta dari bujet produksi sebesar US$50 juta selama masa edarnya. Seperti biasa, Hollywood lantas merencanakan sebuah sekuel untuk Silent Hill. Direncanakan semenjak akhir 2006, proses pembuatan sekuel tersebut mendapatkan begitu banyak hambatan sebelum akhirnya proses pengambilan gambar akhirnya benar-benar dapat dimulai pada Maret 2011 dengan Michael J. Bassett (Solomon Kane, 2009) menggantikan posisi Christophe Gans sebagai sutradara.

Continue reading Review: Silent Hill: Revelation (2012)

Review: Mirror Mirror (2012)

Kesuksesan mengejutkan yang dialami oleh Walt Disney Pictures ketika merilis Alice in Wonderland tahun 2010 lalu sepertinya telah menyadarkan banyak produser Hollywood bahwa dunia tidak akan pernah merasa lelah untuk mendengarkan kisah-kisah dongeng klasik. Menyusul Alice in Wonderland, banyak rumah produksi di Hollywood yang kini sedang memproduksi versi modern dari berbagai kisah dongeng klasik popular, termasuk kisah klasik Snow White and the Seven Dwarves atau yang lebih dikenal sebagai Puteri Salju bagi masyarakat Indonesia. Tercatat, terdapat tiga proyek pembuatan film berbeda yang kini memanfaatkan inspirasi kisah Snow White and the Seven Dwarves dalam alur kisah film mereka. Mirror Mirror, yang disutradarai oleh Tarsem Singh (Immortals, 2011) dan diproduksi oleh Relativity Media, adalah film pertama tentang sang Puteri Salju yang dirilis ke pasaran.

Continue reading Review: Mirror Mirror (2012)

Review: Age of Heroes (2011)

Didasarkan pada kisah nyata dari kehidupan penulis novel fiksi James Bond, Ian Fleming, selama menjadi tentara Inggris di masa Perang Dunia II, Age of Heroes adalah seri pertama dari trilogi yang mengisahkan mengenai pembentukan dan pergerakan sebuah unit tentara Inggris yang disebut 30 Commando. Dengan penggarapan sekelas deretan film dalam franchise James Bond, Age of Heroes dapat saja menjadi sebuah awal yang menjanjikan dari sebuah trilogi yang memiliki premis cukup menarik. Sayangnya, Age of Heroes yang diproduksi secara independen membuat film ini memiliki keterbatasan yang cukup mendalam dalam menggarap special effect yang dibutuhkan pada beberapa adegan untuk dapat terlihat lebih megah. Ditambah dengan naskah cerita yang terasa terlalu familiar dengan film-film dari genre yang sama, Age of Heroes terlihat bagaikan awal yang buruk untuk hadirnya sebuah franchise.

Continue reading Review: Age of Heroes (2011)

Review: Black Death (2010)

Cukup mengherankan untuk mengetahui bahwa Hollywood hingga saat ini masih belum mau melirik sepenuhnya talenta dari sutradara asal Inggris, Christopher Smith. Padahal, jika dilihat dari setiap film yang ia hasilkan — yang kesemuanya merupakan film yang bergenre horror – sangat terasa bahwa bakat Smith semakin terasah di setiap filmnya. Dimulai dari Creep (2004), Severance (2006) dan yang terakhir Triangle (2009), walaupun kurang mendapatkan sambutan yang positif secara komersial, namun mendapatkan pujian yang sangat tinggi dari banyak kritikus dunia.

Continue reading Review: Black Death (2010)

Review: Percy Jackson and the Lightning Thief (2010)

Percy Jackson and the Lightning Thief adalah sebuah film fantasi petualangan yang diadaptasi dari seri pertama dari novel Percy Jackson and the Olympians yang berjudul The Lightning Thief karya novelis Rick Riordan. Seri Percy Jackson and the Olympians sendiri merupakan sebuah adaptasi bebas dari kisah-kisah mitologi Yunani, yang menceritakan mengenai petualangan Percy Jackson, yang menemukan dirinya adalah seorang demigod (manusia setengah dewa), hasil hubungan dewa lautan dan gempa Bumi, Poseidon, dengan Sally Jackson, seorang wanita Bumi.

Continue reading Review: Percy Jackson and the Lightning Thief (2010)