Tag Archives: Samuel L. Jackson

Review: Avengers: Age of Ultron (2015)

avengers-age-of-ultron-posterSetelah kesuksesan luar biasa dari The Avengers (2012) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga mampu menarik perhatian penonton dan menjadikannya sebagai film dengan kesuksesan komersial terbesar ketiga di dunia setelah Avatar (2009) dan Titanic (1997) – kumpulan pahlawan dari Marvel Comics kembali hadir lewat Avengers: Age of Ultron. Masih disutradarai oleh Joss Whedon, Avengers: Age of Ultron memberikan sedikit perubahan radikal dalam warna penceritaannya. Berbeda dengan The Avengers yang menghadirkan banyak sentuhan komedi melalui deretan dialognya, film yang juga menjadi film kesebelas dalam rangkaian film dari Marvel Cinematic Universe ini tampil dengan deretan konflik yang lebih kompleks sekaligus kelam dari pendahulunya – atau bahkan dari seluruh film-film produksi Marvel Studios sebelumnya. Sebuah pilihan yang cukup beresiko dan, sayangnya, gagal untuk dieksekusi secara lebih dinamis oleh Whedon.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bekerjasama dengan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk menghasilkan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang awalnya ditujukan untuk membantu The Avengers dalam melaksanakan setiap tugas mereka. Sial, program yang diberi nama Ultron (James Spader) tersebut justru berbalik arah. Dengan tingkat kecerdasan tinggi yang diberikan kepadanya, Ultron justru merasa bahwa The Avengers adalah ancaman bagi kedamaian dunia dan akhirnya memilih untuk memerangi mereka. Dibantu dengan pasangan kembar Pietro (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kecepatan super dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi jalan pemikiran orang lain, Ultron memberikan sebuah tantangan berat yang tidak hanya mengancam keberadaan The Avengers namun juga keberadaan seluruh umat manusia yang ada di atas pemukaan Bumi.

Pilihan untuk tampil “lebih dewasa” lewat jalan penceritaan lebih kompleks dan kelam yang dituliskan oleh Joss Whedon sendiri sebenarnya bukanlah sebuah pilihan yang buruk untuk Avengers: Age of Ultron. Namun, dengan banyaknya karakter serta beberapa konflik personal lain yang masih tetap ingin diberikan ruang penceritaan khusus oleh Whedon, Avengers: Age of Ultron akhirnya justru terasa dibebani terlalu banyak permasalahan dengan ruang yang lebih sempit bagi konflik-konflik tersebut untuk berkembang dan hadir dengan porsi cerita yang memuaskan. Ketiadaan fokus yang kuat bagi setiap masalah yang dihadirkan inilah yang membuat Avengers: Age of Ultron terasa bertele-tele dalam mengisahkan penceritaannya dan akhirnya turut mempengaruhi pengembangan kisah personal beberapa karakter yang sebelumnya justru menjadi salah satu poin terbaik dari pengisahan The Avengers.

Berbicara mengenai Ultron, karakter antagonis yang satu ini harus diakui gagal tersaji secara lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter antagonis dari seri sebelumnya, Loki. Terlepas dari kecerdasan luar biasa yang ia miliki, Ultron terasa hanyalah sebagai sebuah variasi karakter antagonis standar dalam film-film bertema sejenis yang berniat untuk memberikan ujian fisik dan mental bagi para karakter utama hingga akhirnya dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup mereka: menjadi penguasa dunia. Vokal James Spader sendiri mampu memberikan warna karakteristik dingin yang sangat sesuai bagi Ultron namun hal tersebut tetap saja tidak mampu membuat Ultron tampil lebih menarik lagi.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Avengers: Age of Ultron sendiri masih mampu dengan beberapa sentuhan humanis dalam penceritaannya. Beberapa plot pendukung seperti hubungan romansa yang sepertinya mulai terbangun antara karakter Bruce Banner dan Natasha Romanoff serta latar belakang keluarga yang dimiliki oleh karakter Clint Barton membuat sisi drama dari film ini tampil dengan kualitas yang cukup istimewa. Whedon, sayangnya, gagal memberikan porsi pengisahan yang sesuai untuk dua karakter baru, Pietro dan Wanda Maximoff, sehingga kehadiran keduanya seringkali terasa tidak lebih dari sekedar karakter tambahan tanpa esensi cerita yang cukup kuat untuk tampil lebih menarik.

Layaknya seri pendahulunya, Whedon masih mampu merangkai Avengers: Age of Ultron dengan kualitas departemen produksi yang sangat memikat. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga hadir dengan penampilan akting yang semakin dinamis dengan chemistry yang semakin menguat antara satu dengan yang lain. Seandainya Whedon mau menghilangkan beberapa plot pendukung yang kurang esensial dan memilih untuk mengembangkan konflik utama film dengan lebih tajam, Avengers: Age of Ultron mungkin mampu hadir menyaingi kualitas penceritaan The Avengers – meskipun dengan nada penceritaan yang tetap hadir lebih kelam dan serius. Avengers: Age of Ultron tetap mampu memberikan beberapa momen khas film-film karya Marvel Studios yang akan dapat dinikmati penggemarnya. Namun lebih dari itu, film ini terasa dibebani terlalu banyak konflik yang akhirnya justru membuatnya gagal untuk berkembang dengan penceritaan yang lebih baik. [C]

Avengers: Age of Ultron (2015)

Directed by Joss Whedon Produced by Kevin Feige Written by Joss Whedon (screenplay), Zak Penn, Joss Whedon (story), Stan Lee, Jack Kirby (comics, The AvengersStarring Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, Anthony Mackie, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skarsgård, James Spader, Samuel L. Jackson,  Linda Cardellini, Thomas Kretschmann, Claudia Kim, Andy Serkis, Julie Delpy, Stan Lee Music by Brian Tyler, Danny Elfman Cinematography Ben Davis Editing by Jeffrey Ford, Lisa Lassek Studio Marvel Studios Running time 141 minutes Country United States Language English

Review: Kingsman: The Secret Service (2015)

kingsman-the-secret-service-posterDo you like spy movies?”

Nowadays they’re all a little serious for my taste.”

Yep. Dialog yang terjadi antara karakter Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan Harry Hart (Colin Firth) dalam salah satu adegan Kingsman: The Secret Service dengan jelas menggambarkan apa yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Matthew Vaughn (X-Men: First Class, 2011) dalam film mata-mata garapannya. Dan benar, lewat satir sekaligus tribut tentang film mata-mata yang disajikannya dengan deretan adegan yang dipenuhi dengan aksi sekaligus darah dalam ritme penceritaan yang cepat, Vaughn berhasil menghadirkan sebuah film mata-mata yang tidak hanya mampu tergarap dengan baik namun juga sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti petualangannya.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Vaughn dan Jane Goldman – yang sebelumnya sempat bekerjasama lewat Stardust (2007) – dari seri buku komik berjudul The Secret Service karya Mark Millar dan Dave Gibbons, Kingsman: The Secret Service memiliki seluruh elemen yang selalu hadir dalam seri film James Bond: seorang agen rahasia yang berpenampilan stylish, tempat persembunyian yang berada di lokasi yang sama sekali tidak terduga, perangkat senjata yang canggih dan sangat mematikan hingga karakter antagonis maniak yang berniat untuk menguasai dunia. Namun, tidak seperti halnya seri James Bond, Vaughn menghadirkannya dalam nada penceritaan layaknya Kick-Ass (2010) yang muda, penuh gairah, humor kelam yang menghibur, ritme penceritaan yang berjalan dengan cepat plus dipenuhi dengan genangan darah dan potongan tubuh manusia.

Juga berbeda dengan kebanyakan film yang berkisah tentang para mata-mata, Vaughn dan Goldman mampu mengemas setiap karakter dalam Kingsman: The Secret Service dengan begitu baik. Setiap karakter, termasuk karakter-karakter pendukung, dihadirkan secara humanis, memiliki perasaan dan motivasi yang akan membuat para penonton dengan mudah terhubung dengan mereka. Di sisi lain, fokus yang diberikan pada beberapa karakter pendukung dengan latar penceritaan yang kurang menarik justru menghambat ritme penceritaan film di beberapa bagian. Walau sama sekali tidak mengurangi kesolidan kualitas penceritaan secara keseluruhan, namun harus diakui bahwa banyaknya karakter pendukung dalam jalan cerita membuang cukup banyak durasi penceritaan. Dari sisi teknikal, Vaughn menghadirkan Kingsman: The Secret Service dalam kualitas yang berkelas. Setiap adegan aksi dalam film mampu tergarap dengan tata koreografi aksi yang kuat dan akan mampu menarik penuh perhatian para penonton.

Tentu saja, dengan deretan karakter yang telah tergambarkan dengan baik, Vaughn juga berhasil menghadirkan deretan pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan meyakinkan. Berada di barisan terdepan adalah duo Colin Firth dan aktor muda Taron Egerton. Berperan sebagai seorang agen rahasia senior yang mampu melakukan apa saja demi menyelesaikan misi yang telah ditugaskan padanya – termasuk deretan adegan aksi yang jelas jauh dari imej Firth sebagai seorang aktor selama ini – Firth tampak begitu nyaman dalam perannya. Pesona Firth sebagai seorang aktor memang tampil memukau dan Vaughn mampu memanfaatkan pesona tersebut untuk menjadikan karakter Harry Hart yang diperankan Firth menjadi karakter yang begitu mudah disukai (sekaligus sangat mematikan).

Meskipun tergolong wajah baru, Taron Egerton mampu hadir dengan kapabilitas akting yang dapat hadir setimpal dengan penampilan Firth. Adalah dapat diprediksi dengan mudah, dengan penampilan fisiknya yang tampan serta kemampuan aktingnya yang cukup berkualitas, Egerton adalah wajah baru yang akan segera diincar oleh banyak produser film Hollywood. Samuel L. Jackson tampil kuat sebagai karakter antagonis utama namun pemeran karakter asistennya-lah, Sofia Boutella, yang berhasil mencuri perhatian sebagai sosok wanita yang sangat mematikan. Penampilan lain dalam departemen akting Kingsman: The Secret Service juga hadir dari paduan nama-nama populer dan segar di dunia perfilman seperti Mark Strong, Michael Caine, Mark Hamill, Sophie Cookson hingga Jack Davenport. [B-]

Kingsman: The Secret Service (2015)

Directed by Matthew Vaughn Produced by Adam Bohling, David Reid, Matthew Vaughn Written by Mathew Vaughn, Jane Goldman (screenplay), Mark Millar, Dave Gibbons (comic book, The Secret Service) Starring Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sophie Cookson, Sofia Boutella, Mark Hamill, Jack Davenport, Samantha Womack, Geoff Bell, Edward Holcroft, Nicholas Banks, Jack Cutmore-Scott, Tom Prior, Fiona Hampton, Hanna Alström, Bjørn Floberg, Richard Brake, Alex Nikolov Music by Henry Jackman, Matthew Margeson Cinematography George Richmond Edited by Eddie Hamilton, Jon Harris, Conrad Buff IV Production company Marv Films Running time 129 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)
Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)

So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers. Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru.

Continue reading Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Review: RoboCop (2014)

RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)
RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)

Ketika dirilis pada tahun 1987, RoboCop yang disutradarai oleh Paul Verhoeven tidak hanya mampu mencuri perhatian para penikmat film dunia karena keberhasilan Verhoeven mewujudkan imajinasinya mengenai kehidupan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, sama seperti film-film arahan Verhoeven lainnya, RoboCop hadir dengan deretan adegan bernuansa kekerasan yang kental namun mampu diselimuti dengan naskah cerita yang begitu cerdas dalam memberikan satir tajam mengenai kehidupan sosial masyarakat dunia di saat tersebut. Keunikan itulah yang kemudian berhasil membawa RoboCop meraih kesuksesan baik secara kritikal – dimana RoboCop berhasil meraih dua nominasi di kategori Best Film Editing dan Best Sound Mixing serta memenangkan penghargaan khusus di kategori Best Sound Effects Editing pada ajang The 60th Annual Academy Awards – maupun komersial serta dilanjutkan dengan dua seri film lanjutan (1990, 1993), serial televisi, dua serial televisi animasi, miniseri televisi, permainan video dan sejumlah adaptasi komik.

Continue reading Review: RoboCop (2014)

Review: Turbo (2013)

Turbo-header

Film teranyar rilisan DreamWorks Animation, Turbo, yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi David Soren, berkisah mengenai seekor siput kebun bernama Theo (Ryan Reynolds) – atau yang lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan Turbo, yang bermimpi untuk menjadi pembalap terbaik di dunia, seperti halnya sang idola, Guy Gagne (Bill Hader) – seorang manusia. Masalahnya… well… Turbo adalah seekor siput yang semenjak lama memiliki takdir sebagai salah satu hewan dengan pergerakan tubuh paling lambat di dunia. Obsesinya tersebut kerap membuat Turbo menjadi bahan cemoohan bagi komunitas siput yang berada di sekitarnya, termasuk dari sang kakak, Chet (Paul Giamatti). Hal itulah yang kemudian mendorong Turbo untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya dan memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

Continue reading Review: Turbo (2013)

Review: Django Unchained (2012)

django-unchained-header

Berlatar belakang waktu penceritaan pada tahun 1858, Django Unchained dibuka dengan perkenalan antara dua karakter utamanya, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Dr. Schultz adalah seorang dokter gigi yang semenjak beberapa tahun terakhir telah tidak beroperasi dan memilih untuk menjadi seorang pemburu bayaran. Sementara Django… well… Django adalah pria kulit hitam yang kini sedang menjadi seorang budak. Perkenalan keduanya terjadi setelah Dr. Schultz meminta bantuan Django untuk mengenali beberapa penjahat yang telah menjadi target perburuannya. Hubungan keduanya kemudian berjalan dengan baik. Dr. Schultz bahkan kini menjadikan Django sebagai rekannya dalam memburu setiap targetnya.

Continue reading Review: Django Unchained (2012)

Review: The Avengers (2012)

Ketika berhubungan dengan film-film yang dirilis pada masa musim panas, Hollywood tahu bahwa mayoritas para penikmat film dunia menginginkan film-film dengan kualitas penceritaan yang sederhana namun dengan pengemasan yang super megah. Film-film yang murni dibuat dengan tujuan hiburan semata. The Avengers – sebuah film yang menempatkan para pahlawan Marvel Comics seperti Captain America, The Black Widow, Iron Man, Hawkeye, Thor dan Hulk berada pada satu jalan penceritaan yang sama – jelas adalah salah satu film musim panas dengan nilai hiburan yang pastinya tidak dapat diragukan lagi. Namun, di bawah pengarahan Joss Whedon (Serenity, 2005), yang bersama dengan Zak Penn (The Incredible Hulk, 2008) juga menulis naskah cerita film ini, The Avengers berhasil tampil lebih dari sekedar sebuah summer movie. Fantastis dalam penampilan, tetapi tetap mampu tampil membumi dengan kisah yang humanis nan memikat.

Continue reading Review: The Avengers (2012)