Tag Archives: Rodrigo Santoro

Review: Focus (2015)

focus-posterDengan kemampuan akting dan daya tariknya yang demikian memikat, Will Smith pernah menjadi bintang terbesar di Hollywood. Film-film yang ia bintangi seperti Independence Day (1996), Men in Black (1997), Hitch (2007) dan Hancock (2008) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dan meraup pendapatan lebih dari US$500 juta selama masa edarnya di seluruh dunia. Tidak hanya itu, Smith juga mampu mengimbangi kesuksesan komersialnya dengan kesuksesan artistik ketika ia berhasil meraih nominasi Best Actor in a Leading Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film Ali (2001) dan The Pursuit of Happyness (2006). Namun, layaknya sebuah roda yang berputar, peruntungan Smith mulai menemui masa terjal. Dimulai dengan Seven Pounds (2008) yang gagal baik secara komersial maupun kritikal, film-film lain yang dibintangi Smith seperti Men in Black 3 (2012), After Earth (2013) dan Winter’s Tale (2014) turut menemui nasib yang tidak lebih baik daripada Seven Pounds. Ketidakberuntungan secara beruntun itulah yang kemudian menyebabkan banyak pihak kini memandang Smith sebagai aktor yang tidak lagi relevan di Hollywood.

Namun Hollywood selalu dipenuhi oleh kisah para petarung yang tidak akan pernah berhenti berjuang demi harga dirinya. Dan jika ada satu film yang akan mampu meremajakan kembali karir Smith yang telah melesu maka film itu adalah Focus. Film arahan duo Glenn Ficarra dan John Requa (Crazy, Stupid, Love., 2011) ini adalah sebuah film drama komedi romansa yang mampu mendayagunakan daya tarik dan kemampuan komikal Smith sebagai seorang aktor secara maksimal. Tidak seperti empat film terakhirnya dimana Smith terlihat setengah hati dalam menghidupkan karakter yang ia perankan, Smith yang hadir dalam Focus terlihat sebagai seorang aktor yang mencoba membuktikan kembali kemampuan dirinya… dan berhasil. Perannya sebagai seorang pencopet dan penipu lihai bernama Nicky Spurgeon mampu disajikan dengan begitu matang, dan benar-benar hidup.

Oh. Hal lain yang jelas mendukung kesuksesan penceritaan Focus jelas adalah kualitas penulisan naskah cerita Ficarra dan Requa yang benar-benar cerdik. Berkisah mengenai kehidupan komplotan para penipu yang mencari penghidupan mereka dengan mencopet di jalanan – plus dengan beberapa plot romansa di beberapa bagiannya, Ficarra dan Requa mampu memberikan apa yang diinginkan penonton dari film-film sejenis. Dalam penceritaannya, Focus membawa para penontonnya untuk mengenal berbagai trik penipuan yang dapat berlangsung di jalanan. Dikemas secara komikal, kejutan demi kejutan yang dikemas dengan baik oleh kedua sutradara film ini akan berhasil memberikan hiburan tersendiri bagi para penontonnya.

Focus sendiri tidak lepas dari beberapa kelemahan. Sebagai sebuah film yang berjudul Focus, Ficarra dan Requa seringkali terasa kehilangan fokus mereka dalam bercerita akibat terlalu… errr… berfokus dalam penyajian kejutan dalam cerita. Kejutan yang awalnya terasa segar di setengah bagian awal penceritaan secara perlahan mulai terasa menjemukan pada beberapa bagian akhir. Beberapa plot penceritaan juga kurang mampu terasah dengan baik, khususnya di bagian pengisahan mengenai karakter Nicky Spurgeon dan Jess Barrett (Margot Robbie) dalam menjalani kehidupan baru mereka di paruh kedua penceritaan. Belum lagi dalam hal pengaturan ritme penceritaan yang kadang terasa berbenturan antara berusaha menjadi sebuah film romansa atau film tentang kehidupan para penipu jalanan. Pengarahan cerita Ficarra dan Requa benar-benar melemah meskipun akhirnya mampu dibangkitkan kembali di penghujung bagian ketiga penceritaan.

Berbicara mengenai Margot Robbie, Focus juga mampu tampil demikian memikat berkat chemistry yang demikian erat antara Smith dan Robbie. Jalinan love and hate relationship yang terjalin antara dua karakter yang mereka perankan benar-benar mampu diterjemahkan dengan sangat baik. Robbie sendiri – selepas penampilannya yang spektakuler dalam The Wolf of Wall Street (2013) – juga mampu membuktikan bahwa dirinya adalah lebih dari sekedar aktris yang hanya bermodalkan tampang saja. Penampilan dan kharisma Robbie mampu mengimbangi Smith dengan baik untuk menjadikan penonton lupa akan beberapa kelemahan yang hadir dalam penyajian cerita film ini.

Selain Smith dan Robbie, Focus juga didukung oleh penampilan solid para pengisi departemen akting lainnya – meskipun penulisan karakter yang terasa benar-benar minimalis jelas membuat kehadiran mereka terasa kurang berarti. Dari sisi teknikal film ini juga mampu dihadirkan dalam tata produksi yang kuat. Tata sinematografi yang tampil glossy serta pemilihan musik yang benar-benar menghidupkan atmosfer playful dalam jalan cerita film menjadi dua elemen teknikal paling kuat dalam film yang akan sanggup membuat penontonnya kembali menghargai kehadiran Will Smith. Welcome back, Mr. Smith! [B-]

Focus (2015)

Directed by Glenn Ficarra, John Requa Produced by Denise Di Novi Written by Glenn Ficarra, John Requa  Starring Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Gerald McRaney, B. D. Wong, Robert Taylor, Dominic Fumusa, Brennan Brown, Griff Furst, Adrian Martinez, Alfred Tumbley Music by Nick Urata Cinematography Xavier Pérez Grobet Edited by Jan Kovac Production company Zaftig Films/Di Novi Pictures/Kramer & Sigman Films/Overbrook Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: 300: Rise of an Empire (2014)

300: Rise of an Empire (Warner Bros. Pictures/Legendary Pictures/Cruel & Unusual Films/Atmosphere Entertainment MM/Hollywood Gang Productions/Nimar Studios, 2014)
300: Rise of an Empire (Warner Bros. Pictures/Legendary Pictures/Cruel & Unusual Films/Atmosphere Entertainment MM/Hollywood Gang Productions/Nimar Studios, 2014)

Diadaptasi dari novel grafis yang belum dipublikasikan karya Frank Miller yang berjudul Xerxes, 300: Rise of an Empire adalah sebuah prekuel sekaligus sekuel bagi film arahan Zack Snyder berjudul 300 yang berhasil meraih sukses secara komersial ketika dirilis pada tahun 2007 silam. Meskipun Snyder masih bertanggungjawab sebagai penulis naskah bersama dengan Kurt Johnstad, kursi penyutradaraan untuk 300: Rise of an Empire sendiri kini diduduki oleh Noam Murro yang sebelumnya hanya pernah mengarahkan film drama komedi Smart People di tahun 2008. Tidak banyak hal yang berubah dalam kualitas penceritaan maupun tampilan visual 300: Rise of an Empire jika dibandingkan dengan seri pendahulunya. Murro jelas terasa masih begitu mengandalkan berbagai trik yang pernah digunakan Snyder untuk memaksimalkan tampilan film yang ia arahkan. Bukan sebuah hal yang buruk. Mereka yang menggemari 300 jelas masih akan sangat mengapresiasi kualitas produk akhir yang dihasilkan Murro – meskipun repetisi dalam departemen penulisan cerita kemungkinan besar juga akan memberikan kejenuhan pada sebagian penonton lainnya.

Continue reading Review: 300: Rise of an Empire (2014)

Review: The Last Stand (2013)

the-last-stand-header

Hal yang paling menarik dalam The Last Stand sendiri bukanlah untuk melihat bagaimana seorang Arnold Schwarzenegger yang telah berusia 65 tahun harus beraksi melawan siapapun yang harus dilawannya dalam jalan cerita film ini. Film ini lebih layak disaksikan untuk melihat bagaimana sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), menangani film Hollywood perdananya. Sejujurnya, atmosfer penyutradaraan Kim masih dapat dirasakan di banyak adegan di film ini. Namun sayangnya, tidak seperti kebanyakan film yang ia arahkan terdahulu, kali ini Kim tidak mendapatkan dukungan sebuah naskah cerita yang kuat. Hasilnya, kekuatan pengarahan cerita Kim jelas terasa seperti terjebak di tengah-tengah deretan adegan dan karakter klise yang terbiasa hadir dalam sebuah film aksi. Welcome to Hollywood, Kim!

Continue reading Review: The Last Stand (2013)

Review: What to Expect When You’re Expecting (2012)

Dianggap sebagai sebuah kitab suci bagi para wanita hamil di Amerika Serikat – dimana diperkirakan 93% wanita hamil di negara tersebut menjadikan buku ini sebagai bacaan wajibnya, What to Expect When You’re Expecting adalah sebuah buku yang berformat deretan pertanyaan dan jawaban mengenai kehamilan yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel serta diterbitkan pertama kali pada tahun 1984. Walau sama sekali tidak mengandung garis cerita di dalamnya, Hollywood mengambil inspirasi mengenai berbagai peristiwa dan proses yang terjadi dalam kehamilan dari buku tersebut dan menjadikannya sebuah naskah film drama komedi romantis dengan bantuan duo penulis naskah, Shauna Cross (Whip It, 2009) dan Heather Hach (Freaky Friday, 2003).

Continue reading Review: What to Expect When You’re Expecting (2012)

Review: Rio (2011)

Sukses dengan franchise Ice Age (2002 – 2009) yang berhasil meraih pendapatan lebih dari US$1, 8 milyar dari perilisan tiga serinya, sutradara Carlos Saldanha kembali berkolaborasi bersama Blue Sky Studios untuk memproduksi Rio. Dalam film ini, penonton akan dikenalkan kepada Blu (Jesse Eisenberg), seekor burung makaw biru yang dulunya diselundupkan dari Rio de Janeiro, Brazil, sebelum akhirnya ditemukan dan kemudian dirawat oleh Linda Gunderson (Leslie Mann). Walaupun cerdas, Blu yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan sesama burung lainnya, akhirnya memiliki kepribadian yang tertutup pada orang lain, cenderung ceroboh dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk terbang.

Continue reading Review: Rio (2011)