Tag Archives: Rizky Hanggono

Review: Doea Tanda Cinta (2015)

doea-tanda-cinta-posterDengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto (Haji Backpacker, 2014), Doea Tanda Cinta berkisah mengenai dua orang pemuda, Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett), yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda namun kemudian dipertemukan ketika mereka sedang menuntut ilmu di Akademi Militer milik Tentara Nasional Indonesia. Awalnya, Bagus dan Mahesa tidak begitu saling menyukai satu sama lain. Namun, kehidupan militer yang menempa mereka kemudian membuat keduanya melupakan perbedaan latar belakang mereka dan akhirnya tumbuh menjadi dua orang sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Rasa persahabatan itu pula yang kemudian membuat Bagus memilih memendam rasa sukanya pada Laras (Tika Bravani) ketika ia mengetahui bahwa Mahesa juga menyukai gadis tersebut.

Film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi bagi Rick Soerafani ini sebenarnya dimulai dengan cukup baik. Doea Tanda Cinta berfokus pada mengenalkan dua karakter utamanya, awal mereka masuk ke Akademi Militer milik Tentara Nasional Indonesia serta perkembangan hubungan persahabatan mereka selama menjalani pendidikan disana. Jalan cerita yang didominasi oleh kisah persahabatan yang dibumbui dengan beberapa unsur komedi tersebut berhasil dieksekusi dengan baik oleh Rick Soerafani yang menghadirkannya dengan alur sederhana namun berhasil memberikan kesan yang cukup mendalam kepada para penontonnya. Sayangnya, ketika jalan cerita mulai memalingkan fokusnya pada sisi romansa, Doea Tanda Cinta mulai menemui beberapa hambatan yang membuatnya gagal untuk bercerita selancar cara penceritaan paruh pertamanya.

Masalah utama yang dihadapi oleh sisi romansa dari film ini adalah Jujur Prananto gagal menyajikannya menjadi bagian yang terasa cukup esensial untuk disajikan dalam rangkaian kisah Doea Tanda Cinta. Baiklah. Sisi romansa memang harusnya menjadi sajian utama bagi sebuah film yang menggunakan kata “cinta” pada judulnya. Namun sisi romansa dalam jalan cerita film ini terasa begitu dangkal dan hadir begitu datar sehingga bukannya menjadi menjadi bagian yang mampu tampil romantis ataupun menyentuh melainkan justru menjadi distraksi tersendiri bagi perjalanan kisah persahabatan antara karakter Bagus dan Mahesa yang telah terbangun dengan cukup solid pada paruh pertama film. Hasilnya, Doea Tanda Cinta terkesan menjadi sebuah presentasi yang terkesan setengah hati dalam bercerita. Tidak mampu untuk menyajikan sebuah kisah romansa yang mengikat yang kemudian mengganggu keutuhan kisah persahabatan dalam dunia militer yang sedari awal telah menjadi daya pikat utama dari film ini.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Doea Tanda Cinta mampu menunjukkan bahwa Rick Soerafani adalah seorang pengarah cerita yang cukup handal. Bukan hanya berhasil mengeksekusi sisi drama dari film ini. Sisi aksi yang mengisi paruh ketiga penceritaan Doea Tanda Cinta juga berhasil disajikan dengan baik. Dengan penataan intensitas cerita di medan perang yang terbangun dengan baik serta paduan tatanan gambar karya sinematografer Yunus Pasolang, arahan musik Aghi Narottama dan Bemby Gusti serta desain produksi yang benar-benar berkelas, Rick Soerafani berhasil menggarap salah satu adegan konflik perang terbaik yang disajikan dalam sebuah film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Jelas adalah sebuah debut pengarahan yang sangat, sangat menjanjikan.

Departemen akting Doea Tanda Cinta sendiri diisi dengan deretan pemeran yang tampil dengan kapabilitas yang tidak mengecewakan. Tiga pemeran utamanya, Fedi Nuril, Rendy Kjaernett dan Tika Bravani mampu tampil baik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan sekaligus membangun chemistry yang cukup meyakinkan satu sama lain – lagi-lagi terlepas dari lemahnya penataan sisi romansa dari jalan cerita film ini. Dukungan dari para pemeran pendukung seperti Rizky Hanggono, Ingrid Widjanarko, Ernest Samudera hingga Albert Fakdawer juga memberikan kontribusi yang cukup berarti pada kesolidan kualitas departemen akting dari film yang terkemas dengan cukup baik meskipun hadir dengan beberapa kelemahan dalam jalan penceritaannya ini. [C]

Doea Tanda Cinta (2015)

Directed by Rick Soerafani Produced by Alfani Wiryawan Written by Jujur Prananto (screenplay), Hotnida Harahap, Hendra Yus, Satria Pringgodani (story) Starring Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani, Rizky Hanggono, Dimas Shimada, Tio Pakusadewo, Ingrid Widjanarko, Donny Kesuma, Ernest Samudera, Trisa Triandesa, Albert Fakdawer, Aaliyah Massaid, Agatha Valerie, Kukuh Riyadi Music by Naghi Arottama, Bemby Gusti Cinematography Yunus Pasolang Editing by Yoga Krispratama Studio Cinema Delapan/Inkopad/Benoa Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Tiga Sekawan (2013)

tiga-sekawan-header

Jo (Dandy Rainaldy), Flo (Stefhani Zamora Husen) dan Zee (Rizky Black) adalah tiga orang pelajar sebuah sekolah dasar negeri yang walaupun memiliki karakter, tabiat serta berasal dari latar belakang sosial yang berbeda namun saling bersahabat. Satu hal yang paling menarik perhatian mereka saat ini adalah mengenai keberadaan makhluk supernatural… alias hantu. Jo begitu terobsesi dengan hantu sehingga mengoleksi banyak film-film horor. Flo tidak terlalu menanggapi hal tersebut secara serius, tetapi selalu berusaha untuk mencari tahu tentang jenis dan ciri-ciri setiap hantu. Sedangkan Zee… dirinya telah tenggelam dengan banyak mitos mengenai keberadaan makhluk supernatural tersebut sehingga akhirnya selalu dirundung ketakutan setiap kali orang lain membicarakan mengenai topik tersebut.

Continue reading Review: Tiga Sekawan (2013)

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

Review: Anakluh (2011)

Para generasi baru penikmat film mungkin sangatlah jarang untuk mendengar nama besar seorang Eduart Pesta Sirait. Padahal, pria kelahiran Tapanuli yang telah berusia 68 tahun ini memiliki catatan perjalanan yang cukup panjang dalam dunia pefilman Indonesia. Memulai karirnya sebagai seorang sutradara di tahun 1976, Eduart kemudian berhasil mencatatkan kesuksesan, baik secara kritikal maupun komersial, lewat film-filmnya. Lihat saja bagaimana film-film semacam Chicha (1976), Gadis Penakluk (1980), Sang Guru (1981) atau Blok M (1990) mampu bertahan melewati ujian waktu dan tetap tidak terasa membosankan ketika dinikmati saat ini.

Continue reading Review: Anakluh (2011)

Review: Aku atau Dia? (2010)

Walau tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kesuksesan besar jika dilihat dari sisi komersial, film drama komedi yang menjadi debut penyutradaraan Affandi Abdul Rachman, Heart-Break.Com (2009), dapat dikatakan berhasil menarik perhatian banyak penikmat film Indonesia. Walau memiliki jalan cerita yang sederhana, sang sutradara dinilai mampu menjadikan Heart-Break.Com menjadi sebuah film drama segar yang juga diselingi dengan banyak kandungan komedi pintar yang sepertinya masih sangat jarang disentuh di industri film Indonesia.

Continue reading Review: Aku atau Dia? (2010)