Tag Archives: Rihanna

Review: Home (2015)

home-posterDengan naskah cerita yang ditangani oleh Tom J. Astle dan Matt Ember berdasarkan buku cerita berjudul The True Meaning of Smekday karya Adam Rex, film terbaru buatan DreamWorks Animation, Home, berkisah tentang persahabatan antara seorang gadis bernama Tip (Rihanna) dengan seorang makhluk asing luar angkasa bernama Oh (Jim Parsons). Oh adalah bagian dari sekelompok makhluk asing luar angkasa yang menyebut diri mereka sebagai Boov yang sedang melakukan invasi ke Bumi – meskipun dirinya sendiri sering merasa begitu berbeda dari kawanannya tersebut. Tip sendiri terpisah dari sang ibu, Lucy Tucci (Jennifer Lopez), ketika para Boov mengumpulkan seluruh umat manusia dan merelokasi mereka semua ke Australia sehingga membuat Tip kini hidup sendirian bersama kucingnya, Pig. Meski awalnya tidak begitu menyukai satu sama lain, kesendirian yang mereka hadapi akhirnya menyatukan Tip dan Oh. Oh bahkan kemudian setuju untuk membantu Tip melakukan perjalanan ke Australia untuk bertemu kembali dengan ibunya.

Terlepas dari deretan kesuksesan komersial yang mereka raih, adalah sulit untuk tidak melihat fakta bahwa DreamWorks Animation terasa kesulitan dalam me nghasilkan film-film dengan jalan cerita orisinal – bukan sekuel maupun terhubung dengan film-film rilisan mereka sebelumnya – dalam jangka beberapa tahun terakhir. Bukan kesulitan dalam artian buruk. Namun, jika dibandingkan dengan film-film produksi Pixar Animation Studios atau beberapa studio animasi lainnya, film-film animasi DreamWorks Animation terasa “bermain” terlalu aman dalam jalan penceritaannya, sering mengetengahkan tema yang telah berulangkali dieksekusi film-film Hollywood lainnya meskipun tetap masih mampu memberikan beberapa sentuhan baru dalam penyajiannya.

Home arahan Tim Johnson – yang sebelumnya pernah mengarahkan tiga film DreamWorks Animation lainnya, Antz (1998), Sinbad: Legend of the Seven Seas (2003) dan Over the Hedge (2006), juga menghadapi masalah yang sama. Premis penceritaannya mengenai persahabatan antara dua karakter yang merasa sendirian dalam kehidupan mereka jelas bukanlah sebuah premis yang benar-benar segar. Dan, sayangnya, premis yang telah terlalu familiar tersebut juga gagal untuk diberikan sentuhan penceritaan yang istimewa baik dari naskah cerita yang digarap Astle dan Ember maupun dari pengarahan Johnson sendiri. Dengan jalan cerita yang berfokus pada kisah kekeluargaan dan persahabatan, Home masih mampu memiliki momen-momen hangat dan menghibur dalam penyampaian ceritanya. Sayang, Home tidak pernah mampu tampil lebih dari sekedar beberapa momen hangat dan menghibur tersebut.

Eksekusi Johnson terhadap jalan cerita Home sendiri sebenarnya tidak terlalu buruk. Lihat saja bagaimana tampilan visual film ini yang dipenuhi dengan racikan warna terang yang pastinya akan memikat para penonton muda yang memang menjadi tujuan utama dari film ini. Begitu pula dengan alur penceritaan. Meskipun terasa lamban di bagian awal, Home secara perlahan mulai menghangat dan menampilkan seluruh daya tariknya semenjak pertengahan paruh kedua hingga akhir penceritaan. Home sepertinya benar-benar diperuntukkan bagi para penonton muda dengan sedikit ruang bagi penonton dewasa untuk dapat benar-benar menikmatinya, termasuk dengan sajian guyonan yang dihadirkan di sepanjang penceritaan film.

Dari departemen pengisi suara, Jim Parsons yang mengisisuarakan karakter Oh dan Steve Martin yang mengisisuarakan karakter Captain Smek mampu menjadikan karakter mereka begitu hidup. Rihanna dan Jennifer Lopez sendiri tidak terlalu buruk. Namun chemistry yang tersaji antar karakter mereka, ketika karakter-karakter tersebut digambarkan sebagai pasangan ibu dan anak, terasa sedikit hambar dan kurang hidup. Di sisi lainnya, Rihanna yang juga bertugas memilih rangkaian lagu yang dihadirkan untuk menemani berbagai adegan dalam Home melakukan tugas yang sangat sempurna. Setiap lagu yang hadir dalam film ini – dinyanyikan oleh antara lain Kiesza, Charli XCX serta Rihanna dan Jennifer Lopez sendiri – memberikan nyawa yang lebih kuat (dan segar) bagi penceritaan film. [C]

Home (2015)

Directed by Tim Johnson Produced by Chris Jenkins, Suzanne Buirgy Written by Tom J, Astle, Matt Ember (screenplay), Adam Rex (book, The True Meaning of Smekday) Starring Jim Parsons, Rihanna, Jennifer Lopez, Steve Martin, Matt L. Jones, Brian Stepanek, April Lawrence, Stephen Kearin, Brian Stepanek, Lisa Stewart, April Winchell Music by Lorne Balfe Edited by Jessica Ambinder-Rojas, Alexander Berner Production company DreamWorks Animation Running time 94 minutes Country United States Language English

Review: Annie (2014)

annie-2014-posterSemua orang mungkin telah familiar dengan Annie. Entah itu dari komik berjudul Little Orphan Annie karya Harold Gray yang pertama kali dirilis pada tahun 1924 atau melalui adaptasi drama panggung musikal berjudul Annie yang pertama kali dipentaskan di panggung Broadway pada tahun 1977 yang kemudian mengenalkan deretan lagu-lagu legendaris seperti It’s the Hard Knock Life atau Tomorrow atau melalui adaptasi film layar lebar musikal berjudul sama arahan John Huston pada tahun 1982 atau melalui adaptasi film televisi arahan Rob Marshall yang dirilis pada tahun 1999. Everyone knows the famous Annie! Lalu apa yang ditawarkan oleh versi terbaru dari Annie yang diproduseri oleh Will Smith dan rapper Jay Z ini?

Terlepas dari beberapa perubahan yang dibawakan duo penulis naskah Will Gluck dan Aline Brosh McKenna – seperti perubahan latar belakang waktu berjalannya cerita, perubahan nama atau latar belakang beberapa karakter maupun dengan melakukan penambahan beberapa lagu baru – harus diakui tidaklah banyak hal yang dapat merubah kualitas penceritaan Annie. Versi terbaru yang juga diarahkan oleh Gluck (Friends with Benefits, 2011) ini sendiri merupakan adaptasi dari kisah Annie yang dipentaskan di drama panggung Broadway. Jalan ceritanya masih predictable dan menjual (begitu banyak) mimpi yang kemudian gagal diarahkan dengan seksama oleh Gluck.

Yep. Dengan jalan cerita yang telah begitu familiar dan tergolong tradisional, beban berat jelas sangat bergantung pada kemampuan Gluck untuk mengolah Annie menjadi sebuah sajian yang setidaknya masih cukup nyaman untuk dinikmati. Gluck sendiri terasa tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada materi cerita Annie. Ritme penceritaan film ini terasa begitu berantakan dengan banyak bagian musikal film memiliki jarak yang saling berjauhan satu sama lain – yang otomatis akan setidaknya membuat sisi musikal film ini terasa tidak lebih hanya sekedar sebuah tempelan dan pengisi jeda waktu sebelum jalan cerita film kembali berjalan. Pengaturan elemen musikal yang tidak tepat itu pula yang secara perlahan mulai mempengaruhi mood film sekaligus menghambat penonton untuk benar-benar dapat terhubung dengan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita.

Berbicara mengenai karakter, meskipun diisi dengan nama-nama seperti Quvenzhané Wallis, Jamie Foxx, Rose Byrne, Bobby Cannavale dan Cameron Diaz, masing-masing karakter tidak pernah benar-benar tampil hidup di sepanjang penceritaan film. Sebagian besar hal tersebut disebabkan oleh minimnya pengembangan dari setiap karakter yang hadir dan sebagian lagi justru disebabkan oleh masing-masing pemeran sendiri yang terasa berakting dalam kualitas penampilan yang setengah hati. Quvenzhané Wallis jelas terlihat nyaman dalam perannya namun terasa belum memiliki kekuatan yang cukup untuk berada di jajaran terdepan departemen akting sebuah film. Jamie Foxx tampil sebagai dirinya sendiri di sepanjang film. Yang terburuk, Cameron Diaz menterjemahkan karakter Miss Colleen Hannigan yang ia perankan secara begitu berlebihan – yang akan membuat penonton berharap karakter tersebut segera menghilang dari penceritaan Annie. Mungkin hanya Rose Byrne dan Bobby Cannavale-lah yang mampu tampil dengan penampilan yang begitu mencuri perhatian di setiap kali karakter mereka muncul dalam film ini.

Meskipun terasa dianaktirikan, elemen terkuat Annie justru berasal dari menit-menit dimana tampilam musikalnya hadir dalam jalan cerita. Walau baik Wallis, Byrne dan Diaz bukanlah sosok penyanyi yang cukup baik, namun versi terbaru lagu-lagu yang mereka nyanyikan seperti It’s the Hard Knock Life, Tomorrow dan Little Girls cukup mampu menghibur pada pendengarnya. Versi terbaru You’re Never Fully Dressed Without a Smile yang dinyanyikan oleh penyanyi asal Australia, Sia, dan hadir di salah satu adegan film juga berhasil diaransemen dengan begitu modern dan catchy. Beberapa lagu yang ditulis khusus untuk versi terbaru dari Annie seperti Opportunity, Who Am I? dan The City’s Yours juga mampu bersanding dengan baik bersama lagu-lagu klasik lainnya untuk menyajikan elemen kesenangan yang seringkali hilang dalam jalan penceritaan film. [C]

Annie (2014)

Directed by Will Gluck Produced by Will Smith, Jada Pinkett Smith, Shawn “Jay-Z” Carter, Caleeb Pinkett, James Lassiter, Lawrence “Jay” Brown, Tyran “Ty Ty” Smith Written by Will Gluck, Aline Brosh McKenna (screenplay), Thomas Meehan (musical, Annie), Harold Gray (comic, Little Orphan Annie) Starring Quvenzhané Wallis, Jamie Foxx, Rose Byrne, Bobby Cannavale, Cameron Diaz, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Tracie Thoms, Dorian Missick, David Zayas, Nicolette Pierini, Amanda Troya, Eden Duncan-Smith, Zoe Margaret Colletti, Patricia Clarkson, Ashton Kutcher, Rihanna, Michael J. Fox, Mila Kunis, Bobby Moynihan, Sia Furler, Phil Lord, Christopher Miller Music by Charles Strouse Cinematography Michael Grady Edited by Tia Nolan Production company Village Roadshow Pictures/Overbrook Entertainment Running time 118 minutes Country United States Language English

The 33rd Annual Razzie Awards Winners List

the-twilight-saga-breaking-dawn-part-2-headerWellthis is hardly surprising. Seri terakhir dari The Twilight Saga, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012), akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memenangkan kategori utama, Worst Picture, di ajang Razzie Awards setelah beberapa kali dinominasikan pada seri-seri sebelumnya. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 berhasil memenangkan tujuh kategori dari sepuluh nominasi yang diraihnya pada The 33rd Annual Razzie Awards, termasuk untuk Worst Actress (Kristen Stewart – juga untuk penampilannya dalam Snow White and the Huntsman, 2012), Worst Supporting Actor (Taylor Lautner), Worst Director (Bill Condon) serta Worst Screen Ensemble.

Continue reading The 33rd Annual Razzie Awards Winners List

The 33rd Annual Razzie Awards Nominations List

27th Annual Razzie Awards - Worst Picture - "Basically, It Stinks, Too"Mengikuti prestasi seri-seri sebelumnya, seri terakhir The Twilight Saga, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2, berhasil mendapatkan nominasi terbanyak di ajang The 33rd Annual Golden Raspberry Awards – atau yang lebih dikenal dengan nama Razzie Awards. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 bahkan mendapatkan nominasi di setiap kategori, termasuk Worst Picture, Worst Actress untuk Kristen Stewart (juga untuk perannya di Snow White and the Huntsman), Worst Actor untuk Robert Pattinson dan Worst Screenplay. Jangan khawatir, Team Jacob! Taylor Lautner juga berhasil meraih nominasi di kategori Worst Supporting Actor.

Continue reading The 33rd Annual Razzie Awards Nominations List

Review: Katy Perry: Part of Me (2012)

Di dunia musik, tahun 2011 dapat dengan mudah diingat sebagai tahun dimana penyanyi Adele membuktikan bahwa kemampuan vokal seorang penyanyi tetap merupakan hal yang terpenting dalam mempopulerkan sebuah lagu maupun album musik ketika album yang ia rilis, 21, berhasil terjual lebih dari 10 juta keping di seluruh dunia. Namun, 2011 bukanlah milik Adele seorang. Lewat album Teenage Dream yang dirilis pada pertengahan tahun 2010, Katy Perry berhasil mengukir prestasi yang sama sekali belum pernah diraih The Beatles, Elvis Presley atau Madonna. Lima lagu yang ia rilis dari album tersebut berhasil meraih posisi pertama di tangga lagu paling prestisius di Amerika Serikat, Billboard Hot 100 Singles, sebuah prestasi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh Michael Jackson di tahun 1987 lewat lima lagunya dari album Bad.

Continue reading Review: Katy Perry: Part of Me (2012)

Review: Battleship (2012)

Disutradarai oleh Peter Berg, yang terakhir kali mengarahkan Will Smith dan Charlize Theron dalam Hancock (2008), diproduseri oleh Brian Goldner dan Bennett Schneir yang juga memproduseri franchise Transformers (2007 – 2011) dan dibintangi oleh Taylor Kitsch yang baru saja membintangi John Carter (2012) dengan jalan cerita yang terinspirasi dari sebuah video game yang populer, Battleship sepertinya memiliki seluruh elemen yang tepat untuk menjadi sebuah film science fiction aksi yang dapat menyenangkan para penontonnya. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada film ini. Dihantui oleh penulisan naskah dan dialog yang minimalis serta tampilan visual yang tidak mampu menghadirkan sesuatu yang baru, Battleship cenderung tampil membosankan di sepanjang 131 menit durasi film ini berjalan.

Continue reading Review: Battleship (2012)