Tag Archives: Review

Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Pertama kali dirilis di tahun 2002, xXx sepertinya dimaksudkan untuk memberikan penikmat film dunia seorang karakter agen rahasia alternatif yang memiliki karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakter agen rahasia James Bond buatan Ian Fleming yang telah lebih dahulu popular dan melegenda. Berbeda dengan James Bond yang digambarkan sebagai sosok pria berkelas, xXx adalah sosok agen rahasia dengan latar belakang seorang pemberontak yang cenderung lebih keras. Dengan menempatkan kolaborasi sutradara Rob Cohen dan aktor Vin Diesel yang baru saja meraih kesuksesan besar lewat The Fast and the Furious (2001), xXx kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar US$277 juta dari biaya produksinya yang “hanya” sebesar US$70 juta. Continue reading Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Review: Patriots Day (2016)

Merupakan kali ketiga sutradara Peter Berg bekerjasama dengan aktor Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013) dan Deepwater Horizon (2016), Patriots Day berkisah mengenai tragedi pengeboman bermotif terorisme yang dilakukan Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev pada Boston Marathon yang berlangsung di kota Boston, Amerika Serikat di tahun 2013 lalu. Dengan mendasarkan kisahnya pada buku berjudul Boston Strong yang ditulis oleh Casey Sherman dan Dave Wedge, Patriots Day juga memfokuskan kisahnya pada proses pengejaran yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkap Tsarnaev bersaudara yang berlangsung dramatis sekaligus kisah-kisah para korban dari tragedi tersebut dalam usaha mereka untuk melanjutkan hidup. Secara mengejutkan, Berg mampu menggarap Patriots Day dengan penuh kelembutan – berbeda dengan kebanyakan filmnya yang seringkali tampil dengan aura kemaskulinan yang kuat. Sebuah sentuhan yang membuat film ini terasa hangat sekaligus sensitif dalam membawakan pesan-pesannya tentang perdamaian yang seringkali terasa menghilang dari banyak elemen kehidupan manusia akhir-akhir ini. Continue reading Review: Patriots Day (2016)

Review: The Bye Bye Man (2017)

2016 is a great year for horror movies. Yes it was. No doubt. So what’s in store for horror fans this year? Wellhere’s the first official peek, The Bye Bye Man. Diarahkan oleh Stacy Title, The Bye Bye Man berkisah tentang Elliott (Douglas Smith) yang bersama dengan kekasih, Sasha (Cressida Bonas), dan sahabatnya, John (Lucien Laviscount), memutuskan untuk keluar dari asrama kampus mereka dan tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka sewa. Seperti yang dapat diduga, tidak lama semenjak kepindahan mereka, ketiga mahasiswa tersebut mulai mengalami berbagai kejadian aneh yang mengikuti keseharian mereka. Panik, Sasha lantas mencoba untuk meminta bantuan teman sekelasnya, Kim (Jenna Kanell), yang memiliki kemampuan supranatural untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut. Usaha tersebut, sayangnya, tidak memberikan pengaruh apapun. Gangguan yang dialami Elliott, Sasha dan John malah semakin sering terjadi dan justru mulai mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: The Bye Bye Man (2017)

Review: A Gift (2016)

Seperti halnya mantan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, mantan pemimpin negara Thailand yang baru saja meninggal akhir tahun lalu, Raja Bhumibol Adulyadej, memiliki ketertarikan yang luar biasa kepada musik. Sang raja, yang merupakan komposer sekaligus peniup saksofon jazz yang handal dan telah menulis puluhan komposisi lagu, bahkan menjadi orang Asia pertama yang mendapatkan anugerah penghargaan Sanford Medal dari Yale School of Music di tahun 2000 atas kontribusinya untuk dunia musik. Sebuah dokumenter yang berkisah tentang sang raja dan kecintaannya pada dunia musik berjudul Gitarajan juga pernah dirilis oleh pemerintah Thailand pada tahun 1996. Kini, sebagai bagian dari penghormatan kepada sang raja, rumah produksi Thailand, GDH 559, merilis A Gift yang merupakan omnibus berisi tiga film pendek yang alur kisahnya terinspirasi dari tiga lagu yang pernah ditulis oleh Raja Bhumibol Adulyadej. Continue reading Review: A Gift (2016)

Review: Live by Night (2016)

Menjadi film pertama arahan Ben Affleck setelah filmnya, Argo (2012), memenangkan Best Picture di ajang The 85th Annual Academy Awards sekaligus menjadi film kedua Affleck yang merupakan adaptasi dari novel milik Dennis Lehane setelah Gone Baby Gone (2007), Live by Night mengisahkan perjalanan hidup dari seorang pria bernama Joe Coughlin (Affleck) yang merupakan putra dari seorang kapten di Kepolisian Boston, Thomas Coughlin (Brendan Gleeson). Namun, berbeda dari sang ayah, Joe menjalani sebuah kehidupan yang jauh berbeda. Setelah kekasihnya, Emma (Sienna Miller), diculik dan dibunuh oleh seorang gangster bernama Albert White (Robert Glenister), Joe kemudian berusaha membalaskan dendamnya dengan bergabung bersama kelompok mafia Italia pimpinan Maso Pescatore (Remo Girone) yang menjadi rival Albert White. Bersama dengan kelompok tersebut, karir Joe sebagai sosok penjahat yang disegani mulai meningkat dan bahkan mulai mampu menyaingi berbagai usaha yang dimiliki Albert White. Namun, ketika Joe dan rekan bisnisnya, Dion Bartolo (Chris Messina), gagal untuk menjalankan sebuah tugas dari Maso Pescatore, usaha sekaligus kehidupan keduanya mulai mendapatkan ancaman. Continue reading Review: Live by Night (2016)

Review: Arrival (2016)

Seperti halnya film animasi rilisan Walt Disney Pictures, Zootopia (Byron Howard, Rich Moore, 2015), sulit untuk tidak merasa terhubung dengan pengisahan yang dibawakan oleh film terbaru arahan Denis Villeneuve (Sicario, 2015), Arrival. Jika Zootopia berbicara mengenai rasisme dan praduga ras, maka Arrival memaparkan bagaimana ego manusia seringkali menghalangi mereka untuk berusaha berkomunikasi dan mencoba mengerti posisi satu sama lain – beberapa permasalahan sosial yang sepertinya justru terasa semakin pelik seiring dengan berjalannya waktu. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul Story of Your Life (1998) karya Ted Chiang oleh Eric Heisserer (Lights Out, 2016), Arrival tampil begitu humanis sekaligus tajam dalam menelanjangi jalinan hubungan manusia di era modern terlepas dari kemasan apiknya yang berwujud sebagai sebuah film fiksi ilmiah tentang kunjungan makhluk angkasa luar ke Bumi. Continue reading Review: Arrival (2016)

Review: The Great Wall (2016)

Setelah tampil intim dan personal dalam film terakhirnya, Coming Home (2014), sutradara Zhang Yimou kembali menyajikan sebuah drama aksi epik bernuansa sejarah lewat The Great Wall. Dengan biaya produksi yang mencapai US$150 juta – yang sekaligus menempatkan film ini menjadi film dengan biaya produksi termahal di sepanjang sejarah industri perfilman China – Zhang jelas dapat dengan cukup mudah meracik barisan visual bernuansa megah nan memukau yang seringkali menjadi ciri khas film-film buatannya. Dan benar saja. The Great Wall hadir dengan tampilan visual yang begitu memikat – mulai dari desain kostum yang digunakan oleh para karakternya, tata artistik yang meyakinkan sekaligus adegan peperangan yang mampu dikemas apik dan sekilas dapat mengingatkan penontonnya pada adegan peperangan yang dihadirkan Peter Jackson dalam trilogi The Lord of the Rings (2001 – 2003). Namun bagaimana dengan cerita yang ditawarkan? Continue reading Review: The Great Wall (2016)

Review: The Girl on the Train (2016)

Setelah meraih sukses besar dengan The Help (2011) serta sempat merilis Get on Up (2014) – sebuah biopik yang berkisah tentang kehidupan penyanyi legendaris James Brown yang berhasil mendapatkan banyak pujian dari kritikus film dunia namun kurang begitu mampu dalam menarik perhatian penonton, Tate Taylor kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk The Girl on the Train. Film yang diadaptasi dari novel popular berjudul sama karya Paula Hawkins ini berkisah mengenai seorang wanita alkoholik yang terlibat dalam kasus hilangnya seorang wanita yang sama sekali belum pernah ia temui – sebuah premis yang mungkin akan mengingatkan penontonnya pada Gone Girl (2014) arahan David Fincher. Continue reading Review: The Girl on the Train (2016)

Review: Hidden Figures (2016)

hidden-figures-movie-posterBerdasarkan naskah cerita yang digarap oleh Theodore Melfi dan Allison Schroeder yang mengadaptasi buku berjudul sama karya Margot Lee Shetterly, Hidden Figures berlatarbelakang di Amerika Serikat pada tahun 1960an. Pada saat tersebut, warga berkulit berwarna masih dipandang sebagai warga negara kelas dua dengan hak-hak sipil mereka masih seringkali terabaikan oleh negara. Dalam kondisi tersebut, tiga orang wanita berkulit berwarna dengan kemampuan Matematika yang handal, Katherine Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monáe), mulai meniti karir mereka di National Aeronautics and Space Administration. Jelas bukan persoalan mudah. Dengan warna kulit yang mereka miliki, ketiganya sering dipandang sebagai sosok yang tidak memiliki kemampuan apapun. Meskipun begitu, ketiganya tidak menyerah begitu saja. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang mereka miliki, ketiganya kini tercatat sebagai tiga tokoh penting yang membantu NASA untuk mengorbitkan astronot pertama mereka, John Glenn (Glen Powell), ke angkasa luar. Continue reading Review: Hidden Figures (2016)

Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Ernest Prakasa memang bukanlah komika pertama yang mencoba peruntungannya dalam menggali dan mengembangkan bakat mereka dalam mengarahkan sebuah film layar lebar ketika ia merilis Ngenest di tahun 2015 lalu. Namun, berbeda dengan film-film yang diarahkan rekan-rekan sepantarannya yang memiliki warna penceritaan yang lebih menyasar pada penonton muda dan remaja, Prakasa menggarap Ngenest sebagai sebuah drama komedi yang bertutur secara lebih dewasa. Film yang jalan ceritanya diadaptasi dari tiga buku yang juga ditulis oleh Prakasa tersebut kemudian berhasil meraih kesuksesan, baik mendapatkan tanggapan positif dari banyak kritikus sekaligus mampu menarik sejumlah besar penonton film Indonesia. Tak pelak lagi, kesuksesan Ngenest berhasil mendorong nama Prakasa menjadi salah satu sutradara muda baru dengan karya mendatangnya yang layak untuk dinantikan. Continue reading Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Review: Passengers (2016)

Diarahkan oleh Morten Tyldum (The Imitation Game, 2014) berdasarkan naskah cerita garapan Jon Spaihts (Prometheus, 2012), Passengers berkisah mengenai sebuah pesawat luar angkasa bernama Avalon yang sedang berada dalam perjalanan dari Bumi dengan membawa 5000 penumpang menuju planet Homestead II. Perjalanan tersebut akan  ditempuh dalam waktu 120 tahun dengan seluruh penumpang berada dalam kondisi tidur di sepanjang perjalanan dan baru akan dibangunkan ketika Avalon telah tiba di planet yang menjadi tujuannya. Sial, akibat sebuah malfungsi pada mesin tidur mereka, dua penumpang, seorang teknisi bernama Jim Preston (Chris Pratt) dan seorang penulis bernama Aurora Lane (Jennifer Lawrence), kemudian terbangun 90 tahun lebih cepat. Jelas hal tersebut membuat keduanya merasa kebingungan. Keduanya lantas berusaha untuk memperbaiki kerusakan mesin sehingga mereka dapat kembali berhibernasi. Seiring dengan berjalannya waktu, Jim dan Aurora mulai merasakan bahwa mereka saling jatuh hati antara satu dengan yang lain. Continue reading Review: Passengers (2016)

Review: Dangal (2016)

Setiap penggemar film-film Bollywood tahu bahwa musim liburan Natal berarti sebuah film yang dibintangi Aamir Khan akan dirilis untuk menyapa mereka. Untuk tahun ini – mengikuti Taare Zameen Par (Khan, 2007), Ghajini (A.R. Murugadoss, 2008), 3 Idiots (Rajkumar Hirani, 2009), Dhoom 3 (Vijay Krishna Acharya, 2013) dan PK (Hirani, 2014) – Khan membintangi sekaligus menjadi produser bagi Dangal, sebuah film bertema olahraga yang mendasarkan kisahnya pada kehidupan nyata mengenai mantan atlet gulat India, Mahavir Singh Phogat, yang kemudian mendorong keras kedua puterinya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang atlet gulat. Didukung oleh penulisan cerita yang kuat sekaligus pengarahan Nitesh Tiwari yang begitu handal serta penampilan para pengisi departemen aktingnya yang tampil begitu memikat, Dangal tidak hanya sukses menjadi sebuah film olahraga yang penuh dengan momen menegangkan namun juga sebuah sajian film keluarga yang terasa hangat dan begitu emosional. Continue reading Review: Dangal (2016)

Review: Hangout (2016)

Film garapan terbaru Raditya Dika, Hangout, dibintangi oleh Dika bersama dengan Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Bayu Skak, Surya Saputra, Dinda Kanya Dewi, Titi Kamal dan Mathias Muchus – yang masing-masing berperan sebagai “versi alternatif” dari diri mereka sendiri. Kesembilan tokoh publik tersebut secara tidak sengaja bertemu di sebuah pulau setelah masing-masing mendapatkan sebuah undangan dari sosok yang sebelumnya belum familiar bagi mereka namun diduga sebagai seorang produser yang berencana akan melakukan proses casting untuk film terbarunya. Dalam suasana santai, kesembilannya menikmati saja semua fasilitas liburan yang telah diberikan pada mereka. Horor kemudian dimulai ketika Mathias Muchus tewas akibat racun yang secara tidak sadar ia konsumsi ketika makan malam. Panik jelas melanda kedelapan orang yang tersisa. Ancaman kematian yang menjebak mereka di pulau tersebut siap menjemput nyawa mereka satu persatu. Continue reading Review: Hangout (2016)