Tag Archives: Review

Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Ketika dunia pertama kali berkenalan dengan Peter Quill (Chris Pratt) pada Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014), pria yang juga menjuluki dirinya sebagai Star-Lord tersebut masih dikenal sebagai bagian dari sekelompok pencuri dan penyelundup barang-barang antik antar galaksi yang dikenal dengan sebutan The Ravagers pimpinan Yondu Udonta (Michael Rooker). Diiringi dengan lagu-lagu bernuansa rock klasik dari era ‘70an, Peter Quill bersama dengan rekan-rekan yang juga memiliki reputasi sama buruk dengan dirinya, Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel), kemudian mendadak dikenal sebagai sosok pahlawan ketika mereka berhasil menyelamatkan seluruh isi galaksi dari serangan Ronan the Accuser (Lee Pace). Daya tarik komikal dari Guardians of the Galaxy yang mampu berpadu dengan pengarahan Gun yang begitu dinamis – dan citarasa musiknya yang eklektis – berhasil mengenalkan karakter-karakter Guardians of the Galaxy yang awalnya kurang begitu populer menjadi dikenal khalayak penikmat film dalam skala yang lebih luas, melambungkan nama Pratt ke jajaran aktor papan atas Hollywood, membuat semua orang jatuh cinta dengan lagu-lagu rock klasik lewat album Guardians of the Galaxy: Awesome Mix Vol. 1 yang berhasil terjual sebanyak lebih dari dua juta keping, dan, dengan pendapatan sebesar US$773.3 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia, menjadikan Guardians of the Galaxy sebagai awal dari sebuah seri film baru yang cukup penting dalam barisan panjang film-film produksi Marvel Studios. Continue reading Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Review: Stip & Pensil (2017)

Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi. Continue reading Review: Stip & Pensil (2017)

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: Fast and Furious 8 (2017)

Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis. Continue reading Review: Fast and Furious 8 (2017)

Review: The Guys (2017)

Lewat Hangout (2016), Raditya Dika memberikan kejutan pada banyak penikmat film Indonesia. Thriller comedy yang kemudian berhasil mengundang hampir tiga juta penonton selama masa penayangannya tersebut membuktikan bahwa pengarahan Dika mampu tumbuh dewasa dengan baik sekaligus memberikan warna baru bagi penceritaan komedi yang memang telah begitu melekat pada dirinya. Film terbaru arahan Dika, The Guys, juga hadir dengan nada pengisahan yang sama dewasanya dengan Hangout meskipun Dika kembali menghadirkan sajian komedi romansa dalam naskah cerita yang ia garap bersama Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro – dua penulis naskah yang sebelumnya telah bekerjasama dengan dirinya lewat Single (2015). Sayangnya, naskah yang sepertinya berusaha untuk menyentuh begitu banyak problema dari karakter-karakternya membuat pengarahan Dika terasa kehilangan banyak fokus yang berujung pada kegagalan The Guys untuk tampil dengan pengisahan yang lebih tajam. Continue reading Review: The Guys (2017)

Review: Night Bus (2017)

Film terbaru arahan Emil Heradi (Sagarmatha, 2013) adalah sebuah spesies langka pada industri perfilman Indonesia. Seperti halnya Get Out – debut pengarahan Jordan Peele yang dirilis di minggu yang sama di Indonesia – Night Bus adalah sebuah thriller yang naskah ceritanya digarap kental dengan sentuhan isu sosial dan politik yang jelas terinspirasi dari berbagai situasi yang pernah maupun tengah dihadapi oleh banyak lapisan masyarakat Indonesia. Tenang, tidak seperti kebanyakan film Indonesia bermuatan “pesan moral” yang sama dan lantas sering terasa sebagai presentasi yang menjemukan, Heradi mampu menggarap Night Bus menjadi sajian cerita penuh ketegangan yang sama sekali tidak pernah kehilangan pegangannya pada bangunan konflik yang menjadi perhatian utama bagi film ini. Sebuah eksekusi yang jelas terasa begitu menyegarkan. Continue reading Review: Night Bus (2017)

Review: Get Out (2017)

Dikenal sebagai separuh nyawa dari duo komedian Key & Peele yang, bersama dengan Keegan-Michael Key, memiliki serial televisi berjudul sama yang pernah memenangkan Emmy Awards, Jordan Peele melakukan debut pengarahan film layar lebarnya lewat Get Out. Namun, berbeda dengan Key & Peele atau imej komedian yang selama ini melekat pada dirinya, Get Out adalah sebuah thriller mencekam yang menjanjikan momen-momen menegangkan bagi para penontonnya. Jika ingin dilirik dari susunan materi yang ingin disampaikan, Get Out sebenarnya tidak menawarkan sebuah formula yang benar-benar baru dalam pengisahannya. Meskipun begitu, Peele secara berani menyelipkan isu sosial mengenai pandangan ras masyarakat Amerika Serikat ke dalam naskah cerita yang ia susun. Ditambah dengan kecerdasannya dalam mengarahkan sekaligus menjaga intensitas cerita, Peele berhasil menyajikan sebuah thriller yang efektif sekaligus akan cukup sanggup menjadi refleksi sosial bagi mereka yang menyaksikan. Continue reading Review: Get Out (2017)

Review: The Boss Baby (2017)

Pada awal kemunculannya, DreamWorks Animation sering dipandang sebagai pesaing utama bagi kedigdayaan Pixar Animation Studios dalam menghasilkan film-film animasi. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak merilis film animasi layar lebar perdana mereka, Antz (Eric Darnell, Tim Johnson, 1998), DreamWorks Animation terasa telah memilih untuk mengambil arah perjalanan yang berbeda dari pesaingnya tersebut. Ketika rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut masih berusaha untuk tampil dengan ide-ide cerita segar dan terobosan animasi yang menempatkan film-film mereka seperti WALL·E (Andrew Stanton, 2008), Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010) atau Inside Out (Pete Docter, 2015) yang berada di kelas kualitas berbeda dengan kebanyakan film-film animasi milik rumah produksi lainnya, maka DreamWorks Animation justru terlihat semakin nyaman untuk memproduksi film-film yang murni tampil hanya untuk menghibur para penontonnya seperti Turbo (David Soren, 2013), Penguins of Madagascar (Eric Darnell, Simon J. Smith, 2014) atau Trolls (Mike Mitchell, 2016). Bukan keputusan yang buruk, tentu saja, khususnya ketika mengingat peta persaingan yang semakin ketat dengan kemunculan banyak rumah produksi animasi lain dalam beberapa tahun belakangan. Continue reading Review: The Boss Baby (2017)

Review: Danur (2017)

Diangkat dari buku berjudul Gerbang Dialog Danur yang ditulis oleh Risa Saraswati, Danur memulai pengisahannya ketika seorang anak perempuan bernama Risa (Asha Kenyeri Bermudez) membuat sebuah permohonan agar ia mendapatkan teman di hari ulang tahunnya. Permohonan tersebut terkabul ketika ia kemudian berkenalan dengan tiga orang anak-anak yang tiba-tiba hadir secara misterius, William (Wesley Andrew), Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh) dan Peter (Gamaharitz). Kehadiran ketiga sahabat baru Risa ternyata disambut dingin oleh ibunya, Elly (Kinaryosih). Tidak mau anaknya terganggu oleh ketiga anak-anak asing tersebut, Elly lantas membawa pergi Risa dari rumah yang dimiliki oleh nenek mereka (Ingrid Widjanarko) itu. Sembilan tahun kemudian, Risa yang kini telah beranjak dewasa (Prilly Latuconsina) kembali ke rumah tersebut bersama dengan adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Seperti yang dapat diduga, kehadiran keduanya kemudian mengundang berbagai kejadian aneh. Kehadiran seorang perawat bernama Asih (Shareefa Daanish) bahkan menambah kepelikan masalah yang harus dihadapi Risa dan Riri. Continue reading Review: Danur (2017)

Review: Ghost in the Shell (2017)

Tidak dapat disangkal, The Ghost in the Shell merupakan salah satu manga ikonik sekaligus paling berpengaruh yang pernah dirilis hingga saat ini. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1989, The Ghost in the Shell kemudian diadaptasi ke berbagai media termasuk permainan video, serial televisi hingga beberapa film animasi layar lebar dengan Ghost in the Shell (Mamoru Oshii, 1995) menjadi produk adaptasi paling populernya. Jelas tidak mengherankan bila kemudian Hollywood turut serta melirik kesempatan untuk memproduksi dan merilis hasil adaptasi mereka sendiri. Dimulai pada tahun 2008, rumah produksi DreamWorks Pictures membeli hak adaptasi The Ghost in the Shell yang sekaligus mengawali proses pembuatan versi live-action Hollywood dari manga yang ditulis oleh Masamune Shirow tersebut. Setelah sempat mengalami beberapa pergantian pemeran dan kru produksi, DreamWorks Pictures kemudian mengumumkan di tahun 2014 bahwa Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman, 2012) akan duduk di kursi sutradara serta aktris Scarlett Johansson akan menjadi pemeran utama bagi Ghost in the Shell – sebuah keputusan yang kemudian memicu kontroversi karena karakter utama dalam manga tersebut adalah sesosok wanita yang memiliki latar belakang ras Asia. Continue reading Review: Ghost in the Shell (2017)

Review: Smurfs: The Lost Village (2017)

They’re back! Meski tidak seorangpun sepertinya begitu antusias terhadap kembalinya kumpulan makhluk berwarna biru ini – khususnya dengan raihan kualitas dan komersial The Smurfs 2 (Raja Gosnell, 2013) yang semakin menurun jika dibandingkan dengan film pendahulunya – namun Sony Pictures Animation sepertinya masih berusaha (baca: memaksa) semua orang untuk menyukai produk adaptasi layar lebar dari komik berjudul sama buatan Peyo tersebut. Smurfs: The Lost Village sendiri tidak memiliki jalinan hubungan cerita dengan dua seri film The Smurfs sebelumnya dan memulai sebuah garis pengisahan yang baru. Yeap. Hanya dalam jangka waktu enam tahun semenjak perilisan film pertama, Sony Pictures Animation memutuskan untuk melakukan reboot terhadap seri film The Smurfs dengan melakukan perombakan total pada barisan pemeran dan kru produksinya serta mengubahnya menjadi sebuah film animasi secara keseluruhan daripada sebuah paduan animasi dan live-action seperti pada dua film The Smurfs terdahulu. Dengan kursi penyutradaraan yang kini ditempati oleh Kelly Asbury (Gnomeo & Juliet, 2011), apakah seluruh perubahan tersebut mampu memberikan sebuah daya tarik yang baru bagi seri film The Smurfs? Continue reading Review: Smurfs: The Lost Village (2017)

Review: Life (2017)

First of allAfter movies like Gravity (Alfonso Cuarón, 2013), Interstellar (Christopher Nolan, 2014) and The Martian (Ridley Scott, 2015), why would anyone on their right minds named their space-themed movie with a boring, bland title like Life? Come on. Really? Seriously? Untungnya, terlepas dari judul berkualitas pasaran yang akan membuat semua orang kebingungan dalam beberapa tahun mendatang – jika mereka masih mampu mengingat keberadaan film ini, Life adalah sebuah film bertema angkasa luar yang mampu tergarap dengan cukup baik. Baiklah, garis pengisahan garapan duo penulis naskah Rhett Reese dan Paul Wernick (Deadpool, 2016) mungkin tidaklah menawarkan sesuatu hal yang baru bagi mereka penikmat film-film fiksi ilmiah sejenis. Namun, tidak dapat disangkal, arahan sutradara Daniel Espinosa (Safe House, 2012) berhasil meningkatkan kualitas penyajian film dengan menjaga penuh ritme pengisahannya sehingga dapat menghadirkan deretan ketegangan yang akan membuat setiap penonton film ini menahan nafas sekaligus berpegangan erat pada kursi mereka. Continue reading Review: Life (2017)

Review: Power Rangers (2017)

Berawal dari sebuah seri televisi berjudul Mighty Morphin Power Rangers yang tayang perdana di saluran Fox Kids pada tahun 1993, kesuksesan mendunia dari serial tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah film layar lebar berjudul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (Bryan Spicer, 1995) yang diproduksi 20th Fox Century juga dibintangi para bintang serial televisinya. Meskipun mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia, Mighty Morphin Power Rangers: The Movie berhasil mendapatkan raihan pendapatan komersial yang tidak mengecewakan. Dua tahun setelah perilisan film pertama, 20th Fox Century merilis Turbo: A Power Rangers Movie yang diarahkan oleh Shuki Levy dan David Winning dengan jalinan cerita yang menjembatani musim keempat dan musim kelima serial televisi Mighty Morphin Power Rangers sekaligus memperkenalkan deretan pemeran yang baru. Sayang, seiring dengan berkurangnya penggemar serial televisi tersebut, Turbo: A Power Rangers Movie juga gagal untuk menyamai kesuksesan film pendahulunya sekaligus menjadi kali terakhir Mighty Morphin Power Rangers diadaptasi ke layar lebar. Continue reading Review: Power Rangers (2017)