Tag Archives: Review

Review: Split (2017)

Sutradara M. Night Shyamalan (After Earth, 2013) dan produser Jason Blum (Insidious: Chaper 3, 2015) pertama kali saling bekerjasama untuk The Visit pada tahun 2015 lalu. Film thriller yang dibuat dengan bujet minimalis sebesar US$5 juta itu ternyata mampu mengundang reaksi positif, baik dari kalangan kritikus yang menilai Shyamalan mulai bangkit dari keterpurukannya setelah mengarahkan The Last Airbender (2010) dan After Earth yang gagal total maupun dari kalangan penikmat film dunia yang membuat The Visit kemudian sukses meraih pendapatan sebesar US$98.5 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Kesuksesan kerjasama Shyamalan dan Blum tersebut kini berlanjut dalam Split – sebuah psychological horror yang naskah ceritanya juga ditulis sendiri oleh Shyamalan. Dibantu dengan penampilan fenomenal James McAvoy, Split sekali lagi menunjukkan bahwa Shyamalan yang dahulu pernah dikagumi karena kemampuannya yang handal dalam mengontrol ritme pengisahan film-film dari genre horor dan thriller kini telah kembali dengan kemampuan pengarahannya yang bahkan semakin matang. Continue reading Review: Split (2017)

Review: John Wick: Chapter 2 (2017)

Langsung melanjutkan kisah yang berakhir di John Wick, seusai membalaskan dendam atas kematian anjingnya sekaligus mencari tahu siapa yang mencuri mobil kesayangannya, John Wick (Keanu Reeves) didatangi oleh Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio). Mafia kejahatan asal Italia tersebut datang untuk meminta John Wick untuk membunuh adiknya sendiri, Giana (Claudia Gerini), agar dirinya dapat menggantikan posisi Giana sebagai pimpinan para kriminal. Walau awalnya menolak permintaan tersebut karena dirinya telah mengundurkan diri dari profesinya terdahulu sebagai seorang pembunuh bayaran, John Wick tidak mampu berbuat apa-apa ketika Santino D’Antonio mengingatkan bahwa dirinya masih terikat ikatan di masa lampau dengan kelompok kriminal yang dipimpin Santino D’Antonio. John Wick akhirnya melaksanakan tugas tesebut. Sial, pilihan John Wick untuk membunuh Giana D’Antonio lantas menjadikannya sebagai manusia buruan baru bagi kelompok kriminal pimpinan mafia kejahatan wanita tersebut. Sekali lagi, John Wick harus bertarung melawan puluhan orang untuk mempertahankan kehidupannya. Continue reading Review: John Wick: Chapter 2 (2017)

Review: Boven Digoel (2017)

Boven Digoel adalah nama sebuah kabupaten yang lokasinya terletak di Provinsi Papua, Republik Indonesia. Namun, bagi masyarakat Indonesia, nama Boven Digoel jelas akan selamanya diingat sebagai lokasi bersejarah tempat tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan Sayuti Melik diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan dahulu. Lokasinya yang jauh dan terpelosok jelas menjadi faktor utama mengapa pemerintah Belanda memilih tempat tersebut untuk mencegah para tokoh-tokoh tersebut dalam memberikan pengaruh lebih besar kepada rakyat Indonesia untuk terus berjuang dalam meraih kemerdekaan negara mereka. Di saat yang bersamaan, letak Boven Digoel yang terpencil itu pula yang membuat daerah tersebut mengalami ketertinggalan pembangunan yang cukup jauh dibandingkan dengan banyak wilayah lain bahkan bertahun-tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya. Continue reading Review: Boven Digoel (2017)

Review: Pertaruhan (2017)

Setelah sebelumnya menjadi produser bagi film-film Indonesia seperti Coklat Stroberi (2007) dan Tarzan ke Kota (2008), Krishto Damar Alam melakukan debut pengarahannya melalui Pertaruhan yang naskah ceritanya ditulis oleh Upi – yang baru saja meraih sukses besar lewat My Stupid Boss (2016), Sebagai sebuah debutan, Alam harus diakui mampu menampilkan filmnya dengan ritme pengisahan yang tepat, kualitas produksi yang meyakinkan sekaligus berhasil menghadirkan penampilan prima dari jajaran pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Tio Pakusadewo, Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan. Film ini, sayangnya, kemudian harus takluk terhadap lemahnya penulisan naskah cerita yang akhirnya membuat Pertaruhan gagal untuk tampil untuk menjadi sebuah drama yang lebih mengesankan. Continue reading Review: Pertaruhan (2017)

Review: Raees (2017)

Bersinggungan dengan tema agama dan politik dalam jalan cerita filmnya bukanlah hal yang baru bagi sutradara Rahul Dholakia. Dua film yang ia arahkan sebelumnya membuktikan akan hal tersebut: Parzania (2007) yang mengangkat tentang kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Gujarat, India pada tahun 2002 dan Lamhaa (2010) yang berkisah tentang konflik perebutan wilayah Kashmir antara India dengan Pakistan. Dholakia bahkan berhasil memenangkan penghargaan Best Director untuk arahannya bagi Parzania dari ajang penghargaan film tertinggi di India, National Film Awards, pada tahun 2007. Untuk film terbarunya, Raees, Dholakia berkisah mengenai kehidupan seorang kriminal yang memiliki pengaruh yang begitu kuat sehingga banyak polisi dan politisi yang takluk pada perintahnya – sebuah alur kisah yang dikabarkan terinspirasi dari sosok kriminal asal Gujarat, India bernama Abdul Latif meskipun pernyataan tersebut kemudian dibantah oleh Dholakia. Continue reading Review: Raees (2017)

Review: Bleed for This (2016)

Bleed for This adalah film perdana arahan Ben Younger setelah sebelumnya mengarahkan Meryl Streep dan Uma Thurman dalam Prime di tahun 2005 lalu. Naskah ceritanya sendiri bercerita mengenai perjuangan seorang petinju untuk meraih kembali karirnya yang sempat terancam akibat kecelakaan fatal yang ia alami. Sounds familiar eh? Lalu apa yang membedakan Bleed for This dengan film-film sepantarannya? Well… film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Younger ini sendiri mendasarkan penceritaannya pada kisah nyata tentang sekelumit bagian dari kehidupan petinju Vinny Pazienza, seorang petinju asal Amerika Serikat yang sempat memegang gelar juara dunia beberapa kali. Didukung oleh performa meyakinkan Miles Teller dan Aaron Eckhart, Bleed for This tampil tidak mengecewakan sebagai sebuah drama olahraga. Walaupun, dengan material yang ditawarkan, film ini sebenarnya memiliki potensi untuk tampil jauh lebih mengesankan jika dihadirkan dengan pengarahan cerita yang lebih kuat. Continue reading Review: Bleed for This (2016)

Review: Kaabil (2017)

Dalam tradisi Zinda (2006) yang alur ceritanya terinspirasi dari Oldboy (Park Chan-wook, 2003), Musafir (2004) yang membasiskan pengisahannya pada U Turn (Oliver Stone, 1997) serta Kaante (2002) yang naskah ceritanya ditulis berdasarkan Reservoir Dogs (Quentin Tarantino, 1992), sutradara spesialis crime thriller, Sanjay Gupta, kali ini menghadirkan film terbarunya, Kaabil. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Vijay Kumar Mishra dan Sanjay Masoom serta plot penceritaan yang terinspirasi dari Blind Fury (Phillip Noyce, 1989) dan Broken (Lee Jeong-ho, 2014), Kaabil berkisah tentang usaha seorang suami untuk mencari tahu dan membalaskan dendam kematian istrinya. Dipadukan dengan sentuhan drama romansa, Kaabil sebenarnya memiliki potensi yang kuat untuk tampil sebagai sebuah pengisahan yang memikat. Sayangnya, pengarahan Gupta atas ritme penceritaan Kaabil yang seringkali terasa goyah membuat film ini gagal untuk meninggalkan kesan emosional yang lebih kuat. Continue reading Review: Kaabil (2017)

Review: Resident Evil: The Final Chapter (2017)

Meskipun terus mendapatkan penilaian negatif dari banyak kritikus, seri film Resident Evil secara konsisten juga terus berhasil mendapatkan kesuksesan komersial dari para penontonnya. Bahkan, dengan lima film yang telah dirilis semenjak tahun 2002 dan berhasil meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$900 juta dari perilisannya di seluruh dunia, Resident Evil kini tercatat sebagai seri film hasil adaptasi permainan video tersukses sepanjang masa. Lima tahun semenjak perilisan Resident Evil: Retribution, Paul W.S. Anderson kembali menghadirkan lanjutan kisah petualangan Alice dalam melawan Umbrella Corporation dalam seri keenam Resident Evil, Resident Evil: The Final Chapter, yang – sesuai dengan judulnya – dicanangkan akan menjadi penutup bagi seri film ini. Lalu apa yang akan ditawarkan Anderson kali ini? Continue reading Review: Resident Evil: The Final Chapter (2017)

Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Pertama kali dirilis di tahun 2002, xXx sepertinya dimaksudkan untuk memberikan penikmat film dunia seorang karakter agen rahasia alternatif yang memiliki karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakter agen rahasia James Bond buatan Ian Fleming yang telah lebih dahulu popular dan melegenda. Berbeda dengan James Bond yang digambarkan sebagai sosok pria berkelas, xXx adalah sosok agen rahasia dengan latar belakang seorang pemberontak yang cenderung lebih keras. Dengan menempatkan kolaborasi sutradara Rob Cohen dan aktor Vin Diesel yang baru saja meraih kesuksesan besar lewat The Fast and the Furious (2001), xXx kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar US$277 juta dari biaya produksinya yang “hanya” sebesar US$70 juta. Continue reading Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Review: Patriots Day (2016)

Merupakan kali ketiga sutradara Peter Berg bekerjasama dengan aktor Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013) dan Deepwater Horizon (2016), Patriots Day berkisah mengenai tragedi pengeboman bermotif terorisme yang dilakukan Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev pada Boston Marathon yang berlangsung di kota Boston, Amerika Serikat di tahun 2013 lalu. Dengan mendasarkan kisahnya pada buku berjudul Boston Strong yang ditulis oleh Casey Sherman dan Dave Wedge, Patriots Day juga memfokuskan kisahnya pada proses pengejaran yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkap Tsarnaev bersaudara yang berlangsung dramatis sekaligus kisah-kisah para korban dari tragedi tersebut dalam usaha mereka untuk melanjutkan hidup. Secara mengejutkan, Berg mampu menggarap Patriots Day dengan penuh kelembutan – berbeda dengan kebanyakan filmnya yang seringkali tampil dengan aura kemaskulinan yang kuat. Sebuah sentuhan yang membuat film ini terasa hangat sekaligus sensitif dalam membawakan pesan-pesannya tentang perdamaian yang seringkali terasa menghilang dari banyak elemen kehidupan manusia akhir-akhir ini. Continue reading Review: Patriots Day (2016)

Review: The Bye Bye Man (2017)

2016 is a great year for horror movies. Yes it was. No doubt. So what’s in store for horror fans this year? Wellhere’s the first official peek, The Bye Bye Man. Diarahkan oleh Stacy Title, The Bye Bye Man berkisah tentang Elliott (Douglas Smith) yang bersama dengan kekasih, Sasha (Cressida Bonas), dan sahabatnya, John (Lucien Laviscount), memutuskan untuk keluar dari asrama kampus mereka dan tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka sewa. Seperti yang dapat diduga, tidak lama semenjak kepindahan mereka, ketiga mahasiswa tersebut mulai mengalami berbagai kejadian aneh yang mengikuti keseharian mereka. Panik, Sasha lantas mencoba untuk meminta bantuan teman sekelasnya, Kim (Jenna Kanell), yang memiliki kemampuan supranatural untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut. Usaha tersebut, sayangnya, tidak memberikan pengaruh apapun. Gangguan yang dialami Elliott, Sasha dan John malah semakin sering terjadi dan justru mulai mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: The Bye Bye Man (2017)

Review: A Gift (2016)

Seperti halnya mantan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, mantan pemimpin negara Thailand yang baru saja meninggal akhir tahun lalu, Raja Bhumibol Adulyadej, memiliki ketertarikan yang luar biasa kepada musik. Sang raja, yang merupakan komposer sekaligus peniup saksofon jazz yang handal dan telah menulis puluhan komposisi lagu, bahkan menjadi orang Asia pertama yang mendapatkan anugerah penghargaan Sanford Medal dari Yale School of Music di tahun 2000 atas kontribusinya untuk dunia musik. Sebuah dokumenter yang berkisah tentang sang raja dan kecintaannya pada dunia musik berjudul Gitarajan juga pernah dirilis oleh pemerintah Thailand pada tahun 1996. Kini, sebagai bagian dari penghormatan kepada sang raja, rumah produksi Thailand, GDH 559, merilis A Gift yang merupakan omnibus berisi tiga film pendek yang alur kisahnya terinspirasi dari tiga lagu yang pernah ditulis oleh Raja Bhumibol Adulyadej. Continue reading Review: A Gift (2016)

Review: Live by Night (2016)

Menjadi film pertama arahan Ben Affleck setelah filmnya, Argo (2012), memenangkan Best Picture di ajang The 85th Annual Academy Awards sekaligus menjadi film kedua Affleck yang merupakan adaptasi dari novel milik Dennis Lehane setelah Gone Baby Gone (2007), Live by Night mengisahkan perjalanan hidup dari seorang pria bernama Joe Coughlin (Affleck) yang merupakan putra dari seorang kapten di Kepolisian Boston, Thomas Coughlin (Brendan Gleeson). Namun, berbeda dari sang ayah, Joe menjalani sebuah kehidupan yang jauh berbeda. Setelah kekasihnya, Emma (Sienna Miller), diculik dan dibunuh oleh seorang gangster bernama Albert White (Robert Glenister), Joe kemudian berusaha membalaskan dendamnya dengan bergabung bersama kelompok mafia Italia pimpinan Maso Pescatore (Remo Girone) yang menjadi rival Albert White. Bersama dengan kelompok tersebut, karir Joe sebagai sosok penjahat yang disegani mulai meningkat dan bahkan mulai mampu menyaingi berbagai usaha yang dimiliki Albert White. Namun, ketika Joe dan rekan bisnisnya, Dion Bartolo (Chris Messina), gagal untuk menjalankan sebuah tugas dari Maso Pescatore, usaha sekaligus kehidupan keduanya mulai mendapatkan ancaman. Continue reading Review: Live by Night (2016)