Tag Archives: Ray Wise

Review: The Lazarus Effect (2015)

the-lazarus-effect-posterThe Lazarus Effect adalah sejenis film yang mungkin tidak pernah dibayangkan seorangpun datang dari orang-orang yang akhirnya bekerjasama untuk memproduksi film ini. Tentu, film horor ini diproduksi oleh Blumhouse Production yang menghasilkan film-film semacam Paranormal Activity (2009), Insidious (2011), Sinister (2012) hingga Jessabelle (2014) dan The Boy Next Door (2015). Dengan kata lain adalah mudah untuk memprediksi bahwa naskah cerita The Lazarus Effect hanya akan menawarkan sebuah sentuhan (yang tidak terlalu) baru bagi premis cerita yang telah terdengar usang. Namun, di sisi lain, film ini didukung oleh deretan talenta dengan kualitas yang begitu berkelas, mulai dari pemerannya yang diisi nama-nama seperti Mark Duplass, Olivia Wilde dan Donald Glover yang biasanya membintangi film-film berbujet kecil namun selalu menjadi perhatian banyak festival film hingga sutradara David Gelb yang sebelumnya mengarahkan film dokumenter Jiro Dreams of Sushi (2011) yang banyak mendapatkan pujian luas dari kritikus film dunia. Mungkin The Lazarus Effect menyimpan beberapa kejutan yang mampu menarik perhatian nama-nama tersebut untuk akhirnya terlibat dalam film ini?

Sayangnya tidak. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Luke Dawson dan Jeremy Slater ini sekali lagi hanya merangkum berbagai formula horor yang telah diproduksi oleh Hollywood berulang kali – mulai dari atmosfer kelam yang diciptakan oleh minimalisnya kehadiran cahaya di sepanjang presentasi film ini, kehadiran sosok anak misterius yang cukup menakutkan hingga momen-momen kejutan lengkap dengan tata suara yang menggelegar. Tahapan perjalanan sebuah film horor yang bahkan akan cukup mudah dikenali oleh mereka yang bukan penggemar film-film sejenis The Lazarus Effect. Untungnya segala hal-hal standar film horor yang disajikan dalam film ini cukup mampu dikemas dan dieksekusi dengan baik. Bukan sebuah karya yang istimewa atau bahkan akan diingat banyak penontonnya lama seusai menyaksikannya namun The Lazarus Effect tetap mampu memberikan beberapa momen horor solid yang cukup menyenangkan untuk disimak.

Perjalanan cerita The Lazarus Effect sendiri berfokus pada empat peneliti medis, Frank Walton (Duplass) dan tunangannya, Zoe McConnell (Wilde), serta dua orang temannya, Niko (Glover) dan Clay (Evan Peters), yang sedang melakukan eksperimen guna menghasilkan serum yang diniatkan untuk menjaga stabilitas jiwa para pasien yang sedang menghadapi koma namun kemudian berkembang menjadi sebuah formula yang dapat membangkitkan sesuatu maupun seseorang dari kematian. Ketika sebuah kecelakaan terjadi di laboratorium tempat mereka melakukan penelitian dan merenggut nyawa Zoe, Frank lantas nekat menyuntikkan serum tersebut ke tubuh Zoe. Berhasil! Zoe berhasil dibawa kembali dari kematiannya. Namun, secara perlahan, berbagai hal aneh mulai dialami Zoe dan rekan-rekannya. Berbagai hal aneh yang dapat saja mengambil nyawa siapa saja yang sedang menghadapinya.

Terdengar sederhana – dan jelas telah berulangkali disajikan Hollywood dalam berbagai versi penceritaan, namun premis mengenai berbagai hal buruk yang dapat terjadi ketika Anda mencoba menjadi Tuhan yang dibawakan oleh The Lazarus Effect baru dapat terasa benar-benar bekerja dengan baik pada paruh kedua penceritaannya. David Gelb mampu menyajikan film ini dengan ritme penceritaan yang cukup tepat, mengalir pelan dalam menghantarkan setiap perkenalan konflik lalu mengisinya dengan eksekusi horor yang cukup efektif meskipun akhirnya terjebak dalam pilihan akhir cerita yang terasa cukup klise dan jauh dari kesan memuaskan. Naskah cerita garapan Luke Dawson dan Jeremy Slater sendiri mencoba membawakan tema-tema agama, moral serta etika dunia medis dalam pengisahan film ini namun tidak pernah mampu menyajikannya secara lebih mendalam.

Satu masalah dalam naskah penceritaan The Lazarus Effect yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk tampil lebih mengesankan adalah tidak adanya kejelasan karakter protagonis maupun antagonis dalam film ini. Awalnya, The Lazarus Effect memberikan perhatian penuh pada karakter Zoe. Namun, seusai karakternya dikisahkan dihidupkan kembali dan mengalami beberapa perubahan sikap, fokus kemudian beralih pada karakter Frank – dalam waktu yang cukup singkat – sebelum akhirnya berpindah ke karakter Eva (Sarah Bolger). Ketiadaan fokus ini membuat perhatian penonton pada setiap karakter tidak pernah benar-benar tertanam dengan kuat maupun penuh.

Selain berhasil disajikan dengan tata teknis yang cukup mengesankan untuk sebuah film horor dengan naskah cerita yang generik, bagian terbaik dari film ini adalah penampilan serta chemistry yang diciptakan oleh para pengisi departemen akting film ini. Duplass, Wilde, Glover maupun Peters mungkin tidak terlalu meyakinkan sebagai sosok peneliti medis yang bekerja di sebuah laboratorium. Sama halnya dengan Bolger yang sosoknya masih terlihat meragukan untuk dapat ditempatkan sebagai pemeran pembuat sebuah film dokumenter. Meskipun begitu, kelimanya hadir dengan penampilan yang begitu mengikat sehingga penonton akan dapat dengan mudah menyukai karakter-karakter yang mereka perankan sekaligus turut merasakan berbagai konflik yang sedang mereka hadapi. Sebuah pencapaian prima yang jelas cukup sukar didapatkan dari film-film sejenis saat ini. Secara keseluruhan, The Lazarus Effect bukanlah sebuah film horor yang benar-benar buruk. Namun melihat berbagai potensi dari talenta yang dilibatkan dari film ini jelas terasa cukup mengecewakan untuk merasakan hasil akhir film yang hanya mampu tampil sebagai sebuah karya yang medioker. [C]

The Lazarus Effect (2015)

Directed by David Gelb Produced by Jason Blum, Luke Dawson, Matt Kaplan, Jimmy Miller, Cody Zwieg Written by Luke Dawson, Jeremy Slater Starring Mark Duplass, Olivia Wilde, Sarah Bolger, Evan Peters, Donald Glover, Ray Wise, Amy Aquino Music by Sarah Schachner Cinematography Michael Fimognari Editing by Michael N. Knue Studio Belumhouse Productions Running time 83 minutes Country United States Language English

Review: X-Men: First Class (2011)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

Continue reading Review: X-Men: First Class (2011)

Review: Infestation (2009)

Mereka yang menikmati Arachnid (2001) dan Eight-Legged Freaks (2002) kemungkinan besar akan dapat terhibur dengan film komedi horor yang diproduksi oleh rumah produksi milik Mel Gibson, Icon Productions, ini. Dengan dana pembuatan yang hanya mencapai US$5 juta, wajar jika kemudian penonton menemukan beberapa ‘kesederhanaan’ yang disajikan film ini dalam menampilkan special effect di dalam jalan ceritanya. Walau begitu, dengan naskah cerita yang bergerak demikian cepat, aliran humor yang senantiasa hadir di deretan dialog para karakternya serta para pemeran yang mampu menghidupkan tiap karakter mereka perankan, Infestation sebenarnya dapat tampil cukup menyenangkan.

Continue reading Review: Infestation (2009)