Tag Archives: Ray Winstone

Review: The Gunman (2015)

the-gunman-posterDalam The Gunman, Sean Penn mencoba peruntungannya untuk menambah panjang daftar deretan aktor senior yang mencoba menyegarkan kembali karir mereka dengan bermain dalam sebuah film aksi – daftar yang telah diisi oleh nama-nama seperti Liam Neeson, Colin Firth, Tom Cruise, Harrison Ford bahkan Helen Mirren. Dan jelas tidak mengejutkan jika kemudian film aksi Penn tersebut diarahkan oleh Pierre Morel – sutradara yang sebelumnya pernah mengarahkan Neeson dalam film aksi perdananya, Taken (2009). Kabar buruk: Penn tidak akan mengalami nasib sebaik Neeson. Kharismanya sebagai seorang aktor laga masih (sangat) jauh jika dibandingkan dengan aktor asal Irlandia tersebut. Oh. Dan The Gunman juga adalah sebuah film yang akan menemui kesulitan besar dalam mengesankan para penontonnya.

Diadaptasi oleh Penn bersama dengan Don Macpherson dan Pete Travis dari novel berjudul The Prone Gunman karya Jean-Patrick Manchette, The Gunman berkisah mengenai Jim Terrier (Penn) yang bekerja sebagai anggota pasukan keamanan khusus di Kongo yang bersama dengan teman-temannya kemudian direkrut untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Usai melaksanakan tugasnya, Jim terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, Annie (Jasmine Trinca), di negara tersebut untuk menghilangkan segala jejak perbuatannya. Sayang, delapan tahun kemudian, masa lalu Jim yang kelam kembali hadir menghantuinya dan bahkan hampir saja merenggut nyawanya. Tidak tinggal diam, Jim akhirnya memulai pencariannya akan siapa orang yang bertanggungjawab atas hadirnya kembali masa lalu yang sebenarnya telah ia tinggalkan tersebut.

Sebagai aktor yang pernah memenangkan dua Academy Awards, penampilan akting Penn memang tidak perlu diragukan lagi – termasuk dalam menyajikan adegan laga dalam banyak adegan. Namun, untuk perannya dalam film ini, penampilan Penn terasa begitu datar. Bukan salah Penn sepenuhnya memang. Naskah cerita film ini menyajikan terlalu banyak intrik dalam penceritaan yang seringkali membuat karakter-karakternya menjadi tenggelam. Berbeda dengan film-film aksi yang dibintangi oleh Neeson, The Gunman harus diakui memiliki sentuhan sosial, hukum dan politik dalam penyajian kisahnya. Karakter Jim Terrier yang diperankan Penn juga dihadirkan dengan sebuah penyakit parah yang dikisahkan dapat kapan saja mengambil nyawanya. Sayangnya, dengan penataan kedalaman cerita yang kurang memadai, sentuhan-sentuhan tersebut justru menjadi terasa kompleks tanpa pernah mampu menjadi bagian esensial film. Rumit sehingga sulit untuk dinikmati dan mudah terlupakan begitu saja.

Plot cerita yang berisi lebih banyak dialog dan konflik yang sedikit lebih rumit sepertinya menjadi penghalang tersendiri bagi Morel untuk dapat bercerita secara lancar. The Gunman seringkali terasa terbata-bata dalam pengisahannya. Terbentur antara penyajian adegan laga dengan beberapa dialog panjang mengenai permasalahan yang dihadirkan dalam film. Untungnya, Morel cukup berhasil dalam merangkai film ini dengan sajian tatanan teknis yang unggul sehingga The Gunman masih terlihat sangat layak untuk disaksikan dalam sepanjang 115 menit durasinya.

Hadir dengan departemen akting yang diisi nama-nama seperti Javier Bardem, Idris Elba, Ray Winstone hingga Mark Rylance juga tidak banyak membantu pesona film ini. Karakter-karakter yang mereka perankan tidak pernah terusung secara sempurna. Meskipun begitu, kualitas akting yang ditampilkan para aktor tersebut memang hadir dalam skala yang memuaskan. Karakter antagonis yang diperankan Bardem hadir meyakinkan. Begitu pula chemistry antara Penn dengan Trinca yang terasa hangat dalam setiap kehadirannya pada adegan cerita. Meskipun sangat singkat – dan karakter yang benar-benar dangkal penulisan kisahnya, Elba tetap mampu tampil mencuri perhatian. [C-]

The Gunman (2015)

Directed by Pierre Morel Produced by Adrián Guerra, Sean Penn, Peter McAleese, Andrew Rona, Joel Silver Written by Don Macpherson, Pete Travis, Sean Penn (screenplay), Jean-Patrick Manchette (novel, The Prone Gunman) Starring Sean Penn, Jasmine Trinca, Javier Bardem, Ray Winstone, Mark Rylance, Idris Elba, Peter Franzén, Billy Billingham, Daniel Adegboyega, Ade Oyefeso Music by Marco Beltrami Cinematography Flavio Martinez Labiano Edited by Frédéric Thoraval Production company Anton Capital Entertainment/Canal+/Nostromo Pictures/Silver Pictures/TF1 Films Production Running time 115 minutes Country United States, France, Spain Language English

Review: Snow White and the Huntsman (2012)

Semodern apapun perkembangan peradaban manusia, sepertinya akan selalu ada tempat untuk kisah-kisah dongeng klasik untuk kembali dinikmati. Tahun ini, kisah Snow White – atau yang bagi masyarakat Indonesia populer dengan sebutan Puteri Salju – menjadi favorit Hollywood untuk diceritakan kembali. Setelah Mirror Mirror karya Tarsem Singh yang tayang terlebih dahulu beberapa bulan lalu – yang ternyata lebih ditujukan pada pangsa penggemar film-film berorientasi komedi keluarga, kini giliran Rupert Sanders yang menghadirkan versi Snow White-nya lewat Snow White and the Huntsman. Dibintangi oleh Kristen Stewart, Chris Hemsworth dan Charlize Theron, Sanders jelas memilih untuk menjauhi pakem keluarga yang diterapkan Mirror Mirror pada Snow White and the Huntsman. Lewat naskah yang ditulis Evan Daugherty, John Lee Hancock dan Hossein Amini, kisah Snow White yang popular tersebut diubah menjadi sebuah kisah percintaan yang epik, kelam sekaligus mencekam.

Continue reading Review: Snow White and the Huntsman (2012)

Review: Hugo (2011)

Berbeda dengan Raging Bull (1980), Goodfellas (1990) atau The Departed (2006) yang berhasil menghantarkannya untuk memenangkan Academy Awards, Hugo sama sekali tidak menghadirkan tema kejahatan dan kekerasan yang biasa dihadirkan Martin Scorsese dalam film-film yang berhasil membawa namanya ke jajaran sutradara legendaris dan paling dihormati di dunia. Diangkat dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick, Hugo merupakan sebuah bentuk dedikasi Scorsese pada dunia film yang ia geluti dan begitu ia cintai selama ini. Dengan penggarapan cerita yang begitu hangat dan dirangkum dengan tampilan visual berteknologi 3D yang mempesona, penonton juga akan dapat dengan mudah merasakan bagaimana kecintaan dan hasrat Scorsese yang besar kepada dunia perfilman.

Continue reading Review: Hugo (2011)

Review: 13 (2010)

Wajar rasanya jika melihat nama-nama besar seperti Jason Statham, Mickey Rourke, Ray Winstone dan Michael Shannon bersedia untuk membintangi 13 — sebuah remake dari film thriller sukses berjudul 13 Tzameti (2006). Ketika dirilis beberapa tahun lalu, 13 Tzameti mendapatkan banyak pujian dari kritikus film dunia ketika naskah yang ditulis oleh sutradara film tersebut, Géla Babluani, dinilai sukses dalam memberikan teror psikologis sekaligus sentuhan drama moralitas yang kuat bagi para penontonnya. Untuk versi Hollywood ini sendiri, Babluani memberikan beberapa perubahan di berbagai bagian naskah ceritanya… yang sayangnya justru membuat 13 kehilangan gregetnya dan menjadikan film ini terkesan terlalu datar untuk dapat dinikmati.

Continue reading Review: 13 (2010)

Review: London Boulevard (2010)

William Monahan dikenal di industri film Hollywood sebagai salah satu penulis naskah dengan reputasi yang cukup meyakinkan. Naskah-naskah cerita yang ia kerjakan telah menarik perhatian begitu banyak sutradara besar seperti Ridley Scott (Kingdom of Heaven (2005) dan Body of Lies (2008)), Martin Scorsese (The Departed, 2006 – yang memberikannya sebuah Academy Awards untuk Best Adapted Screenplay), serta Martin Campbell (Edge of Darkness, 2010). Kesuksesannya sebagai seorang penulis naskah mungkin membuat Monahan merasa sedikit tertantang untuk mengarahkan sebuah film. Namun, seperti yang dibuktikan oleh London Boulevard dan sebagian film debut penyutradaraan para penulis naskah lainnya, beberapa penulis naskah seharusnya lebih memilih untuk menyerahkan hasil karya mereka untuk diterjemahkan secara audio visual oleh seorang sutradara profesional.

Continue reading Review: London Boulevard (2010)

Review: Percy Jackson and the Lightning Thief (2010)

Percy Jackson and the Lightning Thief adalah sebuah film fantasi petualangan yang diadaptasi dari seri pertama dari novel Percy Jackson and the Olympians yang berjudul The Lightning Thief karya novelis Rick Riordan. Seri Percy Jackson and the Olympians sendiri merupakan sebuah adaptasi bebas dari kisah-kisah mitologi Yunani, yang menceritakan mengenai petualangan Percy Jackson, yang menemukan dirinya adalah seorang demigod (manusia setengah dewa), hasil hubungan dewa lautan dan gempa Bumi, Poseidon, dengan Sally Jackson, seorang wanita Bumi.

Continue reading Review: Percy Jackson and the Lightning Thief (2010)

Review: Edge of Darkness (2010)

Sebagai seorang aktor, nama Mel Gibson tentu saja telah banyak dikenal oleh seluruh pecinta film di seluruh dunia. Walaupun aktingnya belum pernah mendapat pengakuan dari Academy Awards, bahkan ia belum pernah dinominasikan, Gibson dikenal sebagai aktor dengan penampilan yang sangat meyakinkan, khususnya ketika ia membintangi film-film bertema keras dan penuh adegan aksi.

Continue reading Review: Edge of Darkness (2010)