Tag Archives: Paul Giamatti

Review: San Andreas (2015)

san-andreas-posterIt looks like Dwayne Johnson is going to have quite a marvelous year. Setelah membintangi Fast and Furious 7 arahan James Wan yang dirilis pada April lalu – dan kini sedang mendekati The Avengers (Joss Whedon, 2012) sebagai film dengan raihan pendapatan komersial terbesar ketiga di seluruh dunia, Johnson hadir lagi dalam sebuah film musim panas dengan formula yang sepertinya akan menarik minat banyak perhatian penikmat film dunia: sebuah film tentang bencana alam yang membahayakan keberadaan manusia di atas pemukaan Bumi. Yum. Diarahkan oleh Brad Peyton yang sebelumnya pernah mengarahkan Johnson dalam Journey 2: The Mysterious Island (2012), San Andreas tampil dengan segala kejayaan yang dapat dihadirkan oleh kekuatan efek visual yang canggih. Namun, lebih dari itu, San Andreas sayangnya terasa kosong akibat jalan cerita yang dikembangkan secara dangkal dengan berbagai konflik klise yang biasa hadir dalam film-film sejenis buatan Hollywood.

Tidak banyak hal yang dapat diceritakan dari jalan cerita San Andreas. Hanyalah sebuah variasi dari berbagai sajian drama yang hadir dalam sebuah film tentang bencana alam sebelum film tersebut menghadirkan pameran efek visual di layar lebar bagi para penontonnya. Raymond Gaines (Johnson) adalah seorang pilot helikopter penyelamat dari Los Angeles Fire Department yang kini sedang berada dalam proses perceraian dari istrinya, Emma (Carla Gugino). Ray seharusnya berangkat bersama puteri tunggalnya, Blake (Alexandra Daddario), ke San Fransisco sebelum akhirnya sebuah gempa yang terjadi di kawasan Arizona memaksanya untuk kembali bertugas. Tidak disangka, gempa tersebut ternyata hanyalah awal dari sebuah gempa besar yang siap mengancam nyawa orang-orang di berbagai kawasan Amerika Serikat, termasuk nyawa istri dan anak Ray yang sedang berada di sekitar pusat gempa tersebut.

San Andreas sepertinya memang hanya ditujukan sebagai ajang pameran kecanggihan efek visual dalam menghadirkan deretan gambar tentang bencana alam untuk dapat memanjakan mata para penontonnya. Dari sisi cerita? Penulis naskah cerita Carlton Cuse hanyalah mengikuti sederetan formula konflik dan karakter yang hadir dalam film-film sejenis bahkan tanpa pernah terasa untuk berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda di dalamnya. Seorang ilmuwan yang memperingatkan tentang keberadaan bencana alam lalu tidak dipedulikan oleh orang lain? Check. Seorang pria protagonis utama dengan masalah keluarga yang dihadapinya? Check. Seorang karakter antagonis yang hanya memikirkan diri sendiri? Check. Kisah cinta antara dua sosok karakter yang bertemu ketika lingkungan sekitarnya sedang menghadapi bencana? Check. Masalah keluarga yang lantas mulai dapat diselesaikan setelah menghadapi masalah bersama? Check. Bencana alam mulai dari gempa besar hingga kehadiran tsunami setinggi gedung pencakar langit? Check. Sama sekali tidak ada yang baru dalam barisan konflik dan penceritaan San Andreas. Anda dapat menutup mata dan mendengarkan dialog yang ada di film ini dan Anda dapat dengan mudah masih mengikuti jalan penceritaan film ketika Anda kemudian membuka mata.

Kemalasan sang penulis naskah dalam menggarap jalan ceritanya juga dapat dirasakan pada penggambaran karakter-karakter yang hadir di sepanjang jalan penceritaan San Andreas. Beruntung, film ini masih diberkahi dengan barisan pengisi departemen akting yang dapat diandalkan. Dwayne Johnson hadir dengan kharisma pahlawan super yang biasa ia hadirkan dengan sangat meyakinkan dalam film ini. Chemistry yang ia bangun bersama Carla Gugino dan Alaxandra Daddario sebagai sebuah bagian keluarga juga terasa kuat. Begitu pula dengan beberapa pemeran pendukung lainnya seperti paul Giamatti, Archie Panjabi hingga Ioan Gruffudd yang masih tetap berusaha profesional dalam kemampuan akting mereka meskipun dengan karakter yang benar-benar terbatas fungsi penceritaannya.

Sebagai sebuah film yang bertumpu pada kekuatan penataan efek visualnya, San Andreas harus diakui mampu menghadirkan momen-momen kuat dalam setiap gambarnya. Bukanlah sebuah sajian yang sangat istimewa namun jelas masih akan mampu memberikan sentuhan emosional tersendiri – suatu hal yang tidak akan pernah dapat dicapai oleh kualitas penulisan naskah film ini. Brad Peyton sebagai sutradara film juga cukup mampu merangkai filmnya dengan ritme penceritaan yang cepat. Di menit ketika San Andreas mulai menyajikan rangkaian bencana yang memang menjadi menu utama filmnya, Peyton langsung menaikkan tempo penceritaan tanpa pernah mau melambatkannya lagi. Presentasi yang buruk? Tidak juga. Malas? Pastinya. [C-]

San Andreas (2015)

Directed by Brad Peyton Produced by Beau Flynn, Hiram Garcia, Tripp Vinson Written by Carlton Cuse (screenplay), Andre Fabrizio, Jeremy Passmore (story) Starring Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Ioan Gruffudd, Archie Panjabi, Paul Giamatti, Hugo Johnstone-Burt, Art Parkinson, Will Yun Lee, Kylie Minogue, Colton Haynes, Todd Williams, Matt Gerald Music by Andrew Lockington Cinematography Steve Yedlin Editing by Bob Ducsay Studio New Line Cinema/Flynn Picture Company/Village Roadshow Pictures/RatPac-Dune Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Review: 12 Years a Slave (2013)

12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)
12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)

Dengan naskah yang ditulis oleh John Ridley (Red Tails, 2012) berdasarkan memoir berjudul Twelve Years a Slave: Narrative of Solomon Northup, a Citizen of New-York, Kidnapped in Washington City in 1841, and Rescued in 1853 yang ditulis oleh Solomon Northup, 12 Years a Slave mencoba untuk berkisah mengenai seorang pria Afro-Amerika merdeka yang terjebak dalam tindak perbudakan di masa-masa ketika warga kulit hitam di Amerika Serikat masih dipandang sebagai warga kelas bawah. Kisahnya sendiri diawali dengan memperkenalkan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor), seorang Afro-Amerika yang bekerja sebagai seorang tukang kayu dan pemain bola serta tinggal bersama istri, Anne (Kelsey Scott), dan kedua anak mereka, Margaret (Quvenzhané Wallis) dan Alonzo (Cameron Zeigler), di Saratoga Springs, New York, Amerika Serikat. Suatu hari, Solomon mendapatkan tawaran bekerja sebagai seorang musisi selama dua minggu di Washington DC oleh dua orang pria, Brown (Scoot McNairy) dan Hamilton (Taran Killam). Karena tertarik dengan sejumlah uang yang ditawarkan oleh kedua pria tersebut, Solomon akhirnya menerima tawaran mereka. Sial, begitu tiba di Washington DC, Solomon justru dijebak dan dijual sebagai seorang budak.

Continue reading Review: 12 Years a Slave (2013)

Review: Turbo (2013)

Turbo-header

Film teranyar rilisan DreamWorks Animation, Turbo, yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi David Soren, berkisah mengenai seekor siput kebun bernama Theo (Ryan Reynolds) – atau yang lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan Turbo, yang bermimpi untuk menjadi pembalap terbaik di dunia, seperti halnya sang idola, Guy Gagne (Bill Hader) – seorang manusia. Masalahnya… well… Turbo adalah seekor siput yang semenjak lama memiliki takdir sebagai salah satu hewan dengan pergerakan tubuh paling lambat di dunia. Obsesinya tersebut kerap membuat Turbo menjadi bahan cemoohan bagi komunitas siput yang berada di sekitarnya, termasuk dari sang kakak, Chet (Paul Giamatti). Hal itulah yang kemudian mendorong Turbo untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya dan memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

Continue reading Review: Turbo (2013)

Review: Cosmopolis (2012)

Setelah Bel Ami, Robert Pattinson membintangi sebuah film lain yang sama-sama diadaptasi dari sebuah novel dan sama-sama memfokuskan jalan ceritanya pada tema seks, uang dan politik – walaupun kali ini, uang dan politik akan menjadi unsur cerita yang lebih dominan sekaligus memperumit alur pengisahan film. Cosmopolis, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Don DeLillo, juga menandai kali pertama sutradara David Cronenberg menyutradarai film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh dirinya sendiri semenjak eXistenZ di tahun 1999 yang lalu – hal yang mungkin menjelaskan mengapa Cosmopolis dapat tampil begitu rumit, kompleks serta memusingkan namun secara perlahan juga mampu untuk tampil memikat dan penuh dengan refleksi terhadap kehidupan manusia modern di saat ini.

Continue reading Review: Cosmopolis (2012)

Review: The Ides of March (2011)

Dalam drama Julius Caesar yang ditulis oleh William Shakespeare, seorang peramal mengingatkan akan datangnya sebuah bahaya terhadap kekuasaan dan keselamatan Julius Caesar dengan mengucapkan kalimat, “Beware of the ides of March.” Istilah the ides of March, yang arti awalnya merupakan sebuah sebutan bagi masa ketika penanggalan bulan Maret telah mencapai masa pertengahannya, kemudian memiliki pergeseran arti ketika Julius Caesar akhirnya menemui the ides of March tersebut: ia dikhianati dan dibunuh oleh sekelompok anggota senat yang dipimpin oleh Marcus Junius Brutus. The Ides of March, yang menandai kali keempat aktor pemenang Academy Awards, George Clooney, menyutradarai sebuah film layar lebar, bukanlah sebuah film yang mengadaptasi Julius Caesar. Namun, The Ides of March berbagi tema yang serupa dengan karya klasik Shakespeare tersebut: sebuah cerita yang berisi intrik politik hitam dimana deretan karakternya saling berkonspirasi, melakukan pengkhianatan dan berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain.

Continue reading Review: The Ides of March (2011)

Review: The Hangover Part II (2011)

Ketika merilis The Hangover di tahun 2009, Todd Phillips tentu tidak akan menyangka bahwa film komedi dewasa yang ia arahkan akan berbuah kesuksesan besar selama masa perilisannya. Tidak hanya film tersebut berhasil memperoleh pendapatan lebih dari sepuluh kali lipat biaya pembuatannya, The Hangover juga berhasil memperbaiki karir penyutradaraan Phillips, menggiring nama Bradley Cooper, Ed Helms dan Zach Galifianakis ke jajaran aktor papan atas Hollywood sekaligus memenangkan Best Motion Picture – Musical or Comedy di ajang The 67th Annual Golden Globe Awards. Seperti halnya tradisi kesuksesan komersial Hollywood lainnya, hanyalah masalah waktu hingga akhirnya Warner Bros., Phillips dan jajaran pemerannya kembali bekerja sama untuk memproduksi sebuah film sekuel.

Continue reading Review: The Hangover Part II (2011)

Review: Ironclad (2011)

Sama seperti Centurion (2010) dan Black Death (2010) yang berhasil memadukan rangkaian kisah sejarah dengan deretan adegan peperangan yang dipenuhi dengan darah, Jonathan English (Minotaur, 2006) juga mencoba melakukan hal yang sama terhadap Ironclad. Berkisah mengenai sejarah perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok kecil pasukan pemberontak terhadap ratusan pasukan King John II sebagai wujud rasa ketidaksenangan mereka atas kepemimpinan sang raja yang brutal di Inggris pada abad ke-13, English memberikan sebuah dedikasi penuh pada Ironclad dengan menghadirkan deretan pemeran serta tata produksi terbaik yang akan membawa setiap penontonnya kembali ke masa tersebut… walaupun sesekali harus menahan sedikit rasa bosan akibat beberapa detil yang tidak begitu berguna yang ia hadirkan dalam naskah cerita film ini.

Continue reading Review: Ironclad (2011)