Tag Archives: Oka Antara

Review: Mencari Hilal (2015)

mencari-hilal-posterMerupakan film kedua setelah Ayat-Ayat Adinda (Hestu Saputra, 2015) dari lima film yang direncanakan akan diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Mencari Hilal arahan Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, 2015) mengisahkan tentang perjalanan Heli (Oka Antara) dalam menemani sang ayah, Mahmud (Deddy Sutomo), untuk mengulang kembali tradisi yang pernah ia lakukan dahulu semasa masih menuntut ilmu di pesantren dalam mencari hilal – sebuah fenomena alam akan penampakan bulan sabit baru yang juga menunjukkan masuknya bulan baru dalam sistem kalender Hijriah. Hubungan antara Heli dan Mahmud sendiri telah lama merenggang akibat banyaknya pertentangan antara keduanya, terlebih semenjak Heli memutuskan untuk meninggalkan rumah orangtuanya untuk menjadi seorang aktivis lingkungan. Jelas, perjalanan setengah hati yang dilakukan Heli untuk menemani sang ayah akhirnya diisi dengan begitu banyak konfrontasi. Namun, dalam konfrontasi yang terjadi dalam perjalanan itulah, Heli dan Mahmud secara perlahan mulai mempelajari lebih banyak tentang satu sama lain dan mulai memahami sekaligus membuka diri tentang berbagai perbedaan pola pemikiran antara keduanya.

Sebagai sebuah road movie yang mendalami tentang hubungan antara sosok ayah dan anak – dan mungkin akan mengingatkan beberapa orang pada film asal Perancis arahan Ismaël Ferroukhi, Le Grand Voyage (2004) – Mencari Hilal jelas membutuhkan deretan dialog dan konflik yang kuat untuk dapat membuat penonton turut merasa terikat akan naik turunnya hubungan dua karakter yang bagian kisah hidupnya sedang mereka ikuti. Beruntung, naskah cerita garapan Salman Aristo, Bagus Bramanti dan Ismail Basbeth mampu menata pengisahan tersebut dengan sangat baik. Perjalanan yang dilakukan oleh karakter Heli dan Mahmud diisi dengan dialog-dialog yang dapat membuka kepribadian kedua karakter tersebut kepada para penonton sekaligus menjabarkan kondisi hubungan mereka. Naskah cerita film juga secara cerdas menyelipkan banyak isu-isu sosial yang berkenaan dengan “toleransi” dan “diskriminasi” – yang sepertinya memang akan kerap disajikan pada setiap film-film yang diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi – guna menjadikan jalan cerita Mencari Hilal semakin kuat dan seringkali terasa emosional.

Tidak sepenuhnya berjalan mulus. Mencari Hilal seringkali terasa menginvestasikan terlalu banyak porsi penceritaannya pada konflik eksternal yang dihadapi kedua karakter dalam perjalanan mereka. Bukan berarti buruk, namun hubungan ayah dan anak antara karakter Mahmud dan Heli jelas akan terasa lebih mengikat secara emosional jika keduanya diberikan lebih banyak kesempatan untuk berhadapan dengan konflik internal mereka. Latar belakang kisah yang dihadirkan untuk kedua karakter juga masih terasa minim untuk penonton dapat memberikan perhatian lebih besar pada keduanya. Namun, kelemahan-kelemahan tersebut untungnya mampu ditutupi dengan pengarahan Ismail Basbeth yang terasa begitu intim. Fokus personal yang diberikan Ismail Basbeth pada jalan ceritanya membuat Mencari Hilal seringkali mampu berbicara lebih besar dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh naskah cerita filmnya. Pilihannya untuk menghadirkan jalan cerita film dengan nada penceritaan yang sederhana juga berhasil memberikan ruang yang luas bagi penonton untuk dapat meresapi berbagai konflik yang berjalan di sepanjang durasi film.

Ismail Basbeth juga mendapatkan dukungan yang berkelas dari departemen produksi serta departemen akting filmnya. Gambar-gambar yang disajikan oleh Satria Kurnianto tampil begitu indah. Seperti jalan ceritanya, deretan gambar yang menghiasi Mencari Hilal seringkali tampil indah dalam artian puitis daripada bermaksud untuk sekedar menjadi ajang pameran keindahan tata sinematografi. Kualitas yang sama juga dapat dirasakan dari tampilan musik, artistik hingga penataan gambar yang mendukung kualitas film secara keseluruhan. Dari departemen akting, Deddy Sutomo dan Oka Antara berhasil menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Meskipun penampilan Oka Antara kadang masih terasa berjalan dalam satu nada emosi yang sama di sepanjang film, namun chemistry yang ia bentuk bersama aktor senior Deddy Sutomo – yang tampil begitu brilian – mampu menjadi kunci bagi penampilan keduanya sebagai pasangan ayah dan anak untuk terlihat meyakinkan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Mencari Hilal mampu muncul sebagai sebuah sajian yang berhasil berbicara secara personal kepada setiap penikmatnya tanpa pernah terasa menggurui atau menceramahi meskipun dengan tema penceritaan yang dibawakannya. Salah satu film yang jelas akan meninggalkan kesan begitu mendalam pada setiap penontonnya jauh seusai mereka menyaksikan film ini. [B]

Mencari Hilal (2015)

Directed by Ismail Basbeth Produced by Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo Written by Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth Starring Deddy Sutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Music by Charlie Meliala Cinematography Satria Kurnianto Editing by Wawan I. Wibowo Studio Multivision Plus Pictures/Studio Denny JA/Mizan Productions/Dapur Film Production/Argi Film Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: The Raid 2: Berandal (2014)

The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)
The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)

Terlepas dari kesuksesan megah yang berhasil diraih oleh The Raid (2012) – baik sebagai sebuah film Indonesia yang mampu mencuri perhatian dunia maupun sebagai sebuah film yang bahkan diklaim banyak kritikus film dunia sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah diproduksi dalam beberapa tahun terakhir – tidak ada yang dapat menyangkal bahwa film garapan sutradara Gareth Huw Evans tersebut memiliki kelemahan yang cukup besar dalam penataan ceritanya. Untuk seri kedua dari tiga seri yang telah direncanakan untuk The Raid, Evans sepertinya benar-benar mendengarkan berbagai kritikan yang telah ia terima mengenai kualitas penulisan naskahnya. Menggunakan referensi berbagai film aksi klasik seperti The Godfather (1972) dan Infernal Affairs (2002), Evans kemudian memberikan penggalian yang lebih mendalam terhadap deretan karakter maupun konflik penceritaan sekaligus menciptakan jalinan kisah berlapis yang tentu semakin menambah kompleks presentasi kisah The Raid 2: Berandal. Lalu bagaimana Evans mengemas pengisahan yang semakin rumit tersebut dengan sajian kekerasan nan brutal yang telah menjadi ciri khas dari The Raid?

Continue reading Review: The Raid 2: Berandal (2014)

Review: Killers (2014)

Killers (Nikkatsu/Guerilla Merah Films/Damn Inc./Media Prima Production/PT Merantau Films/Million Pictures/Holy Bastard, 2014)
Killers (Nikkatsu/Guerilla Merah Films/Damn Inc./Media Prima Production/PT Merantau Films/Million Pictures/Holy Bastard, 2014)

Dalam Killers, sebuah film thriller terbaru arahan duo Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel – atau yang lebih familiar dengan sebutan The Mo Brothers (Rumah Dara, 2010), garis kehidupan dua orang pria yang berasal dari dua negara dan latar kehidupan berbeda namun sama-sama menyimpan sebuah sisi gelap yang mengerikan di dalam diri mereka akan segera bertemu satu sama lain. Pria pertama bernama Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), seorang eksekutif muda asal Tokyo, Jepang yang meskipun memiliki wajah tampan dan mudah disukai banyak orang namun memiliki kegemaran untuk membunuh dan mendokumentasikan kegemarannya tersebut dalam bentuk video. Tidak berhenti disana, Nomura dengan giat mengunggah rekaman-rekaman video pembunuhannya ke internet demi mendapatkan kepuasan setelah mengetahui bahwa “mahakarya” yang ia hasilkan telah dilihat jutaan pasang mata.

Continue reading Review: Killers (2014)

Review: Sang Penari (2011)

Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh ParukRonggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.

Continue reading Review: Sang Penari (2011)

Festival Film Indonesia 2011 Nominations List

Well… dengan dirilisnya pengumuman nominasi Festival Film Indonesia 2011, Minggu (27/11), membuktikan kalau Festival Film Indonesia memiliki selera penilaian yang berbeda dari mereka yang memilih untuk mengirimkan Di Bawah Lindungan Ka’bah sebagai perwakilan Indonesia ke seleksi kategori Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards mendatang. Di Bawah Lindungan Ka’bah sama sekali tidak mendapatkan nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2011! Pun begitu, ketiadaan judul Di Bawah Lindungan Ka’bah dalam daftar nominasi Festival Film Indonesia 2011 tidak lantas membuat ajang penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia tersebut menjadi lebih prestisius dibandingkan dengan Academy Awards. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Film Indonesia 2011 masih meninggalkan beberapa film dan penampilan yang seharusnya mendapatkan rekognisi yang tepat. Dan seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya pula, Festival Film Indonesia 2011 masih menominasikan film dan penampilan yang sebenarnya banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film nasional.

Continue reading Festival Film Indonesia 2011 Nominations List

Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Inception, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Sang Pencerah memimpin daftar perolehan nominasi Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011. Untuk di kategori film berbahasa asing, Inception berhasil meraih sebanyak 14 nominasi dari 18 kategori yang tersedia. Jumlah tersebut unggul satu kategori dari film karya David Fincher, The Social Network, yang membuntuti dengan perolehan sebanyak 13 nominasi. Inception dan The Social Network sendiri akan berhadapan di banyak kategori termasuk di kategori Film Jawara, Sutradara Jawara serta Naskah Jawara. Kedua film tersebut akan bersaing dengan The Ghost Writer, Toy Story 3 dan Uncle Boonme who can Recall His Past Lives untuk memperebutkan gelar sebagai Film Jawara.

Continue reading Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Festival Film Indonesia 2010 Nominations List

Sebenarnya, di tengah persaingan antara banyak film-film berkualitas, adalah sangat wajar bila sebuah film yang dianggap sangat berpotensial untuk memenangkan banyak penghargaan ternyata tidak mendapatkan perhatian sedikitpun. Namun, tentu hal tersebut akan terdengar cukup mengherankan bila hal tersebut datang dari sebuah industri film yang kebanyakan film yang dihasilkannya adalah film-film berkualitas ‘buruk.’ Dan akan lebih sangat mengherankan lagi bila salah satu dari hanya beberapa film terbaik yang dihasilkan pada satu tahun di industri film tersebut malah sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari sebuah penghargaan film terbesar di industri film tersebut.

Continue reading Festival Film Indonesia 2010 Nominations List