Tag Archives: Nirina Zubir

Review: Silent Hero(es) (2015)

silent-heroes-posterMerupakan film Indonesia pertama yang menggunakan Bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar utama dalam sebuah film Indonesia, Silent Hero(es) berkisah mengenai seorang gadis bernama Yunia alias Yong Yong (Fina Phillipe) yang begitu menyukai seni budaya Barongsai. Sayangnya, minatnya untuk terus bermain dan mengembangkan budaya Barongsai di Indonesia terhalang oleh kedua orangtuanya yang memandang bahwa kegiatan tersebut sama sekali tidak memiliki manfaat. Guna mengalihkan pemikirannya dari Barongsai, kedua orangtuanya lantas mengirimkan Yong Yong ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Beruntung, Yong Yong justru bertemu dengan Ernest alias Ah Cheng (Ivanaldy Kabul) yang memiliki minat yang sama dengannya dalam bermain Barongsai dan kemudian mengajak Yong Yong untuk bergabung ke sanggar Barongsai milik Suhu Fang (Firman Liem).

Terlepas dari penggunaan Bahasa Mandarin berdialek Hakka dalam film ini, Silent Hero(es) sebenarnya memiliki tema penceritaan yang telah cukup familiar. Merupakan film layar lebar perdana yang diproduseri, sutradarai sekaligus ditulis naskah ceritanya oleh Ducko Chan, Silent Hero(es) dibentuk sebagai sebuah rangkaian kisah yang ingin menunjukkan mengenai mengenai usaha sekelompok karakter untuk terus mendukung eksistensi budaya Barongsai di Indonesia. Namun, sejujurnya, naskah karya Ducko Chan tidak mampu berbicara sekuat itu. Pada kebanyakan bagian, Silent Hero(es) seringkali hanya memanfaatkan kehadiran seni Barongsai sebagai pemicu konflik antar karakter dalam jalan cerita film ini dan tidak pernah benar-benar mampu menempatkannya sebagai perhatian utama dari jalan cerita Silent Hero(es). Hal ini yang membuat film ini kurang berhasil untuk mengembangkan ide cerita yang semenjak awal telah ditanamkan pada penontonnya maupun pemaknaan dari “pahlawan” yang digunakan sebagai judul film.

Meskipun begitu, naskah cerita Silent Hero(es) tergarap dengan cukup baik pada dua pertiga penceritaannya. Meskipun pada beberapa bagian masih terasa lemah, Ducko Chan mampu menggarap konflik-konflik yang menarik untuk masing-masing karakter sekaligus memberikan setiap karakter dalam jalan cerita film ruang yang cukup untuk mengembangkan masing-masing penceritaannya. Di bagian ketiga film-lah Silent Hero(es) terasa benar-benar berantakan. Entah mengapa, setelah menyusun jalan cerita dengan semikian rupa – rapi meskipun tidak istimewa – Ducko Chan lantas menghadirkan deretan adegan dengan ritme penceritaan kilas balik. Ducko Chan mungkin bermaksud untuk menjelaskan sekaligus menyelesaikan beberapa konflik yang hadir dalam beberapa adegan sebelumnya. Namun penempatan adegan-adegan kilas balik yang digabungkan menjadi satu di akhir film Silent Hero(es) jelas terasa seperti film ini telah kehilangan arah penceritaannya.

Ducko Chan sendiri cukup mampu memberikan pengarahan yang baik pada jajaran pengisi departemen akting film ini. Nama-nama pemeran seperti Fina Phillipe, Firman Liem dan Ivanaldy Kabul yang masih belum terdengar familiar mampu memberikan penampilan akting mereka yang meyakinkan. Silent Hero(es) juga mendapatkan penampilan yang sangat mengagumkan dari seorang Nirina Zubir. Penampilan Nirina sebagai Karina dalam film ini jelas merupakan salah satu penampilan terbaik yang pernah ia berikan dalam sebuah film Indonesia – tidak terlalu showy namun terus menerus meminta perhatian penonton pada karakter yang ia perankan. Secara keseluruhan, Silent Hero(es) adalah debut penyutradaraan yang jauh dari kesan sempurna namun jelas hadir dengan pengemasan yang tidak mengecewakan. [C-]

Silent Hero(es) (2015)

Directed by Ducko Chan Produced by Ducko Chan Written by Ducko Chan  Starring Fina Phillipe, Ivanaldy Kabul, Nirina Zubir, Alena Wu, Joyln Hendrawan, Firman Liem, Freddy Su, Zemary Sahat, Hasan Karman, Rosiana Susanta, Ie Ing, Nikki Munthe, Rebecca Filadelfia, Christiyani Kabul, Lusi Angelyn, Hendry Frans Wong, Robin Bastian Wong, Teti Christanti, Budiman Oetama, Yesslin Ongly, Alex Tan, Kevin Starr, Maria Deasy, Anthony Liu, Cindy Guinata, Suhud Budi, Bong Khin Djung Music by Aksan Sjuman Cinematography Yovial Tripurnomo Virgi Edited by Ducko Chan, Halim Gani Safia Production company Duckochan Pictures Running time 90 minutes Country Indonesia Language Hakka, Mandarin, Chinese, Indonesian

Review: Comic 8 (2014)

Comic 8 9Falcon Pictures, 2014)
Comic 8 (Falcon Pictures, 2014)

Bahkan hanya dengan dua film layar lebar yang baru diarahkannya, Mama Cake (2012) dan Coboy Junior the Movie (2013), Anggy Umbara telah mampu mencuri perhatian para penikmat film Indonesia – kebanyakan karena kegemarannya untuk menampilkan visualisasi dari cerita filmnya dengan warna-warna benderang maupun tampilan a la komik yang begitu terkesan eksentrik. Kegemarannya tersebut kembali ia hadirkan dalam Comic 8, sebuah film aksi komedi yang menampilkan penampilan akting dari delapan pelaku stand up comedy – atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan komik – yang saat ini tengah meraih popularitas yang cukup tinggi di Indonesia. Momen-momen komedi memang mampu mengalir lancar dalam pilihan ritme penceritaan cepat yang dipilihkan Anggy untuk film ini. Namun, naskah yang terasa lemah dalam eksplorasi ceritanya seringkali membuat Comic 8 banyak menghabiskan durasi filmnya dalam atmosfer penceritaan yang cenderung datar daripada tampil benar-benar menghibur penontonnya.

Continue reading Review: Comic 8 (2014)

Review: Get M4rried (2013)

get-m4rried-header

Meski tak satupun diantara seri lanjutan Get Married (2007) yang mampu menghadirkan kualitas presentasi cerita maupun guyonan sekuat seri pemulanya, namun harus diakui bahwa seri film tersebut telah mendapatkan sejumlah penggemar loyal dari kalangan penonton film Indonesia. Seri terakhirnya, Get Married 3 (2011) – yang hadir dengan kualitas paling buruk jika dibandingkan dengan dua seri Get Married sebelumnya, bahkan masih mampu meraih kesuksesan dengan perolehan jumlah penonton berada di atas angka 500 ribu. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian Starvision Plus kembali mengumpulkan para jajaran pemeran serta kru produksi seri film ini untuk membuat seri keempat yang diberi judul Get M4rried dan berusaha untuk mengulang kesuksesan tersebut.

Continue reading Review: Get M4rried (2013)

Review: Coboy Junior the Movie (2013)

coboy-junior-the-movie-header

Merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Anggy Umbara, Coboy Junior the Movie mencoba untuk memaparkan mengenai bagaimana proses terbentuknya kelompok musik Coboy Junior serta berbagai tantangan yang harus mereka hadapi, baik secara personal maupun kelompok, ketika mereka mencoba untuk menaklukkan industri musik Indonesia. Coboy Junior the Movie jelas memiliki segala hal yang akan membuat para penggemar kelompok ini merasa terpuaskan: deretan lagu yang easy listening, koreografi yang ditampilkan dalam porsi yang megah serta, tentu saja, kesempatan untuk mengenal lebih jauh mengenai kehidupan pribadi masing-masing personel Coboy Junior. Namun, apakah Coboy Junior the Movie juga mampu tampil sama menariknya bagi mereka yang sama sekali tidak familiar dengan kelompok musik tersebut?

Continue reading Review: Coboy Junior the Movie (2013)

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

Review: Hafalan Shalat Delisa (2011)

Bertepatan dengan peringatan tujuh tahun terjadinya bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu, sebuah film drama keluarga berlatar belakang salah satu tragedi alam terbesar yang pernah dialami umat manusia tersebut dirilis di banyak layar bioskop Indonesia. Berjudul Hafalan Shalat Delisa, yang diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya Tere Liye, film ini sekaligus menandai kali kedua Sony Gaokasak untuk duduk di kursi penyutradaraan sebuah film layar lebar setelah sebelumnya mengarahkan Tentang Cinta (2007). Berkisah mengenai usaha seorang anak yang selamat dari hantaman tsunami untuk terus melanjutkan kehidupannya, Hafalan Shalat Delisa harus diakui memiliki beberapa momen yang dapat membuat penontonnya terhenyak dan bersimpati atas segala cobaan yang dilalui karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini. Pun begitu, seringnya naskah cerita Hafalan Shalat Delisa berusaha terlalu keras untuk menjadikan film ini sebagai sebuah tearjerker yang inspiratif membuat banyak adegan di film ini terasa berjalan tidak alami dan kurang mengesankan.

Continue reading Review: Hafalan Shalat Delisa (2011)

Review: Get Married 3 (2011)

Sebenarnya, sangat tidak mengherankan untuk mendengar bahwa Starvision merilis seri ketiga dari franchise Get Married, Get Married 3, pada liburan Lebaran tahun ini. Walaupun seri kedua dalam franchise ini, Get Married 2 (2009), secara jelas menunjukkan adanya sebuah penurunan kualitas yang cukup signifikan, namun Get Married 2 masih mampu tampil sebagai salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbanyak pada tahun rilisnya. Jelas merupakan sebuah pertanda bahwa franchise ini masih mampu tampil menarik bagi banyak orang sekaligus memiliki potensi besar untuk kembali menghasilkan keuntungan jika kisahnya dilanjutkan. Dan Get Married 3 pun akhirnya menemui masa rilisnya.

Continue reading Review: Get Married 3 (2011)