Tag Archives: Nicholas Braun

Review: Poltergeist (2015)

poltergeist-posterPada tahun 1982, sutradara Tobe Hooper (The Texas Chainsaw Massacre, 1974) bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Steven Spielberg untuk memproduksi sebuah film horor sederhana berjudul Poltergeist. Dengan dana produksi yang hanya mencapai US$10.7 juta namun didukung dengan kualitas penceritaan, produksi serta penampilan akting yang apik – dan rumor bahwa proses pembuatan film horor tersebut mendapatkan kutukan, Poltergeist berhasil menarik minat banyak penikmat film horor dunia dan memberikan film tersebut kesuksesan kritikal – termasuk tiga nominasi Academy Awards – dan, tentu saja, komersial – dengan raihan pendapatan yang mencapai sepuluh kali biaya produksinya. Kini, setelah dua sekuelnya yang sama sekali tidak melibatkan Hooper maupun Spielberg dan menemui kegagalan ketika dirilis di pasaran pada tahun 1986 dan 1988, Hollywood mencoba membawa kembali kengerian Poltergeist yang kali ini berada dalam arahan sutradara Gil Kenan (Monster House, 2006) serta duo produser Sam Raimi dan Robert G. Tapert yang sebelumnya pernah menghasilkan trilogi film The Evil Dead (1981 – 1993) yang melegenda itu.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh David Lindsay-Abaire (Rabbit Hole, 2010), versi teranyar dari Poltergeist mengisahkan tentang pasangan Eric (Sam Rockwell) dan Amy Bowen (Rosemarie DeWitt) dan ketiga anak mereka, Kendra (Saxon Sharbino), Griffin (Kyle Catlett) dan Madison (Kennedi Clements) yang baru saja pindah rumah ke sebuah wilayah pinggiran kota setelah Eric diberhentikan dari pekerjaannya. Keberadaan mereka di rumah itu awalnya berjalan dengan tenang. Namun, setelah beberapa gangguan misterius yang dialami oleh Griffin serta perubahan sikap yang terjadi pada Madison, secara perlahan ketenangan keluarga tersebut mulai terusik. Kondisi tersebut semakin memburuk ketika Madison secara tiba-tiba menghilang begitu saja dari rumah tersebut. Sadar kalau yang mereka hadapi adalah gangguan supranatural yang di luar jangkauan kemampuan mereka, Eric dan Amy akhirnya menghubungi ahli paranormal, Dr. Brooke Powell (Jane Adams), dan spesialis masalah supranatural, Carrigan Burke (Jared Harris), untuk membantu mereka.

Sebagai sebuah film yang mencoba untuk mengulang kesuksesan sebuah film seikonik Poltergeist buatan Hooper dan Spielberg, versi terbaru Poltergeist yang melengkapi para ahli supranaturalnya dengan berbagai perlengkapan komputer super canggih ini harus diakui tidak tampil begitu buruk – dan bahkan mampu memberikan beberapa momen menegangkan yang akan cukup mampu menyenangkan para penikmat film-film sejenis. Keberhasil tersebut jelas dapat diraih karena baik pengarahan Kenan maupun naskah cerita garapan Lindsay-Abaire mencoba mengikuti setiap formula yang telah diterapkan film Poltergeist pendahulunya. Tetap saja, kemampuan untuk mengikuti formula yang telah ada tersebut akan membuat versi modern dari Poltergeist seringkali menjadi terasa kurang mengejutkan. Jika Poltergeist sebelumnya mampu menciptakan standar baru bagi film-film dengan tema rumah berhantu, maka versi modern-nya hanya terasa sebagai sebuah film rumah berhantu lain yang mengikuti formula horor Hollywood yang telah berulangkali dieksplorasi.

Versi terbaru dari Poltergeist juga terasa ringan secara emosional jika dibandingkan dengan pendahulunya. Seperti halnya trilogi The Evil Dead, Raimi dan Tapert sepertinya memilih untuk menginjeksikan beberapa sentuhan komedi lewat dialog maupun karakter yang dihadirkan mereka lewat film ini. Sayang, beberapa elemen emosional yang justru menjadi elemen terkuat dalam film orisinalnya justru menguap begitu saja. Lihat saja bagaimana hubungan emosional antara anggota keluarga Bowen yang terasa mengalir begitu saja tanpa pernah berusaha digambarkan hadir dengan ikatan emosional yang begitu mengikat satu sama lain. Versi modern Poltergeist juga tidak begitu memberikan ruang yang luas bagi pengembangan karakter-karakternya sehingga akan cukup sulit bagi penonton untuk merasakan kepedulian yang lebih mendalam bagi karakter-karakter tersebut.

Beruntung, Poltergeist berhasil mendapatkan dukungan penampilan akting yang sangat solid dari jajaran pemerannya. Berbeda dengan penampilan departemen akting versi orisinal Poltergeist yang bernada jauh lebih serius, penampilan Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt dan jajaran pemeran lain dalam Poltergeist versi terbaru terasa lebih lugas dan rileks dalam menghidupkan setiap karakter mereka. Poltergeist juga mampu dihadirkan dengan kualitas produksi yang sangat berkelas. Kenan mampu mendapatkan dukungan terbaik dari tim produksinya untuk mampu menghasilkan gambar-gambar yang kelam sehingga berhasil menciptakan atmosfer horor yang cukup dalam pada beberapa bagian penceritaannya. Sebagai sebuah remake horor, Poltergeist jelas bukanlah sebuah karya yang buruk. Mungkin film ini akan mampu mendapatkan apresiasi yang lebih jika saja memilih untuk tidak menggunakan judul Poltergeist yang telah terlalu ikonik itu dalam masa perilisannya. [C]

Poltergeist (2015)

Directed by Gil Kenan Produced by Roy Lee, Sam Raimi, Robert G. Tapert Written by David Lindsay-Abaire (screenplay), Steven Spielberg (story) Starring Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt, Jared Harris, Jane Adams, Saxon Sharbino, Kyle Catlett, Kennedi Clements, Nicholas Braun, Susan Heyward, Soma Bhatia Music by Marc Streitenfeld Cinematography Javier Aguirresarobe Edited by Jeff Betancourt, Bob Murawski Studio Metro-Goldwyn-Mayer/Ghost House Pictures/Vertigo Entertainment Running time 93 minutes Country United States Language English

Review: The Perks of Being a Wallflower (2012)

Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar istilah film yang berkisah mengenai kehidupan remaja? Sekelompok anak muda yang gemar berpesta? Usaha mereka untuk melepas keperawanan atau keperjakaan mereka? Keterlibatan mereka terhadap obat-obatan terlarang? Cinta pertama? Mencari jati diri yang sebenarnya? Benar. Dalam kehidupan nyata, masa remaja – sebuah masa transisi sebelum seorang manusia mencapai usia kedewasaannya – mungkin dilewati oleh banyak orang dengan melakukan hal-hal tersebut. Namun dalam gambaran sebuah film? Kapan terakhir kali Anda pernah merasa bahwa sebuah film yang berorientasi kehidupan remaja benar-benar mampu berkisah layaknya seorang remaja dalam menceritakan kehidupan kesehariannya? Tidak terasa terlalu kekanak-kanakan atau justru terlalu dewasa dan terdengar bijaksana? WellThe Perks of Being a Wallflower yang disutradarai oleh Stephen Chbosky akan menjadi satu contoh kuat dimana sebuah film remaja benar-benar dapat menjadi sebuah film remaja.

Continue reading Review: The Perks of Being a Wallflower (2012)

Review: The Watch (2012)

Berusaha menggabungkan elemen science fiction dengan komedi, The Watch yang disutradarai oleh Akiva Schaffer (Hot Rod, 2007) berkisah mengenai persahabatan yang terbentuk secara tidak sengaja antara empat orang pria warga Glenview, Ohio, Amerika Serikat yakni Evan Trautwig (Ben Stiller), Bob Finnerty (Vince Vaughn), Franklin (Jonah Hill) dan Jamarcus (Richard Ayoade) karena sebuah pembunuhan yang terjadi di kota tempat mereka tinggal. Tidak menginginkan agar tragedi yang sama terulang lagi, plus karena keinginan mereka untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, keempatnya lalu membentuk kelompok pengamanan kota yang disebut Neighborhood Watch atas ide yang diusulkan oleh Evan.

Continue reading Review: The Watch (2012)

Review: Red State (2011)

Sebelum merilis Jersey Girl di tahun 2004 – sebuah film yang cukup menyenangkan, sebenarnya – Kevin Smith memiliki karir penyutradaraan yang cukup terpandang. Film-film drama komedi yang ia arahkan – mulai dari Clerks (1994), Mallrats (1995), Chasing Amy (1997), Dogma (1999) hingga Jay and Silent Bob Strike Back (2001) – dikenal sebagai film-film komedi dengan tingkat kecerdasan dialog yang sangat tajam… dan tetap mampu menghibur penontonnya. Namun Smith kemudian menambah panjang daftar filmografinya dengan film-film komedi mediocre yang terasa begitu melelahkan. Smith bahkan menghasilkan Cop Out (2010) – sebuah film yang menempatkan pasangan Bruce Willis dan Tracy Morgan sebagai pasangan polisi dengan deretan dialog dan adegan tidak lucu dan sangat mengesalkan (Morgan, khususnya!).

Continue reading Review: Red State (2011)