Tag Archives: Nadine Chandrawinata

Review: Erau Kota Raja (2015)

erau-kota-raja-posterCukup sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Bambang Drias dalam debut penyutradaraannya, Erau Kota Raja. Awalnya, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Endik Koeswoyo dan Rita Widyasari ini terlihat sebagai sebuah film drama yang mencoba untuk menggali keindahan alam dan budaya dari wilayah Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hal ini banyak disampaikan melalui deretan dialog antara para karakternya hingga sajian gambar-gambar mengenai alam sekitar maupun kegiatan seni budaya di daerah tersebut – meskipun, sayangnya, tidak pernah dihadirkan dengan tata sinematografi yang lebih mampu untuk menangkap deretan momen tersebut.

Namun, secara perlahan, Erau Kota Raja kemudian memindahkan perhatiannya pada kisah cinta segi lima yang terbentuk antara kelima karakternya, Kirana (Nadine Chandrawinata), Reza (Denny Sumargo), Ridho (Herrichan), Donnie (Donnie Sibaranie) dan Alya (Sally Dewantara). Membingungkan? Sangat! Terlebih ketika naskah cerita Erau Kota Raja tidak pernah benar-benar mampu menggali bagaimana perasaan antara karakter Kirana dan Reza atau mengapa Alya begitu terobesesi untuk memiliki Reza atau mengapa Ridho mampu mengkhianati persahabatannya dengan Reza untuk mencuri perhatian Kirana (juga Alya?) atau bagaimana sebenarnya status hubungan asmara antara Kirana dengan Donnie. Deretan alur kisah tersebut saling tumpang tindih dihadirkan dalam jalan penceritaan Erau Kota Raja sehingga membuatnya gagal untuk berkembang menjadi jalinan cerita yang utuh sekaligus cukup melelahkan (dan mengganggu) untuk disimak.

Cukup? Belum. Erau Kota Raja juga turut membahas kisah hubungan antara orangtua dan anak yang tergambar dalam hubungan antara karakter Reza dan ibunya (Jajang C. Noer): bagaimana sang ibu bergitu berharap agar Reza menerima cinta Alya serta naik turun hubungan keduanya akibat sang ibu yang tidak menyetujui pilihan pekerjaan Reza. Konflik-konflik ini masih lagi dipersulit dengan kehadiran konflik minor lain yang berada di paruh ketiga penceritaan – ketika karakter Kirana dituduh mencoba untuk menjual adat kebudayaan Tenggarong kepada pihak asing. Sebuah konflik minor yang hadir tanpa dasar cerita yang kuat untuk kemudian menghilang begitu saja beberapa saat kemudian.

Apa yang ingin dihadirkan Erau Kota Raja sebenarnya bukanlah sebuah jalan cerita yang terlalu kompleks untuk dimengerti. Namun, perlakuan sang sutradara dan penulis naskahlah yang membuat film ini jauh dari kesan mudah untuk dinikmati dan bahkan, pada beberapa bagian, terasa membodoh-bodohi penontonnya. Plot demi plot cerita yang dihadirkan bertabrakan satu sama lain. Karakter-karakter yang memicu jalannya deretan plot cerita tersebut juga sama dangkal kualitasnya. Tak satupun dari karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini terlihat menarik untuk diikuti kisahnya. Dangkal. Sangat disayangkan, khususnya ketika melihat penampilan Jajang C. Noer dan Ray Sahetapy yang begitu sia-sia dalam film ini. Penampilan akting lainnya juga tidak memberikan kontribusi kualitas berarti: Nadine Chandrawinata dan Denny Sumargo hadir dengan chemistry yang begitu minimalis, Herrichan tampil dengan kualitas seadanya sementara Sally Dewantara dan Donnie Sibarani seringkali terlihat kaku dalam melafalkan dialog serta usaha mereka dalam menghidupkan kedua karakter yang mereka perankan. Terlalu banyak yang ingin disampaikan namun dengan kualitas penceritaan yang terlalu lemah. [D]

Erau Kota Raja (2015)

Directed by Bambang Drias Produced by Bambang Drias Written by Endik Koeswoyo, Rita Widyasari Starring Nadine Chandrawinata, Denny Sumargo, Ray Sahetapy, Jajang C. Noer, Herrichan, Donnie Sibarani, Sally Dewantara Music by Yovial Tri Purnomo Virgi Cinematography Budi Utomo Edited by Aziz Natandra Studio East Cinema Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (2013)

Azrax-header

Sinema Indonesia kembali mempersembahkan salah satu hasil produksi terburuknya lewat Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita yang diarahkan oleh Dedi Setiadi – seorang sutradara yang pernah berhasil menjebak Fanny Fabriana untuk tampil dalam sebuah film buruk lain berjudul True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011). Dedi sendiri sebenarnya terlihat berusaha keras untuk menjadikan Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita sebagai sebuah film yang dapat memberikan penontonnya berbagai kenangan manis akan film-film aksi Indonesia yang banyak dirilis pada tahun 1980an dahulu. Sayangnya, tidak ada satupun materi pendukung presentasi film ini yang mampu membuat Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita tampil memuaskan. Hasilnya, kemungkinan besar, Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita justru akan memberikan rasa malu bagi siapapun yang terlibat dalam film ini.

Continue reading Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (2013)

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)