Tag Archives: Miles Teller

Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)

insurgent-posterDirilis tepat setahun yang lalu, bagian pertama untuk adaptasi film layar lebar dari novel The Divergent Series karya Veronica Roth, Divergent, mampu mencuri perhatian penikmat film dunia ketika film arahan Neil Burger tersebut berhasil meraih kesuksesan komersial meskipun mendapatkan penilaian yang tidak terlalu memuaskan dari banyak kritikus film dunia. Bagian kedua dari adaptasi film layar lebar The Divergent Series sendiri, Insurgent, menghadirkan beberapa perubahan di belakang layar pembuatannya: kursi penyutradaraan kini beralih dari Burger ke Robert Schwentke (Red, 2010) dengan Brian Duffield, Akiva Goldsman dan Mark Bomback mengambil alih tugas penulisan naskah cerita dari Evan Daugherty dan Vanessa Taylor. Apakah perubahan-perubahan ini mampu memberikan nafas segar bagi penceritaan Insurgent? Tidak, sayangnya.

Insurgent sendiri masih mengikuti perjalanan dari Tris (Shailene Woodley) yang kini bersama dengan Four (Theo James), Peter (Miles Teller) dan Caleb (Ansel Elgort) bersembunyi di wilayah tempat tinggal kaum Amity setelah mereka diburu oleh pimpinan kelompok Erudite, Jeanine Matthews (Kate Winslet). Jeanine sendiri melakukan segala hal untuk berusaha menangkap Tris – mulai dari menugaskan pasukannya untuk memburu semua orang yang pernah berhubungan dengan gadis tersebut hingga melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah agar Tris mau keluar dari persembunyiannya. Benar saja. Meskipun dicegah oleh Four, Tris akhirnya memilih untuk meninggalkan persembunyiannya guna menghadapi Jeanine secara langsung.

Tidak seperti Divergent yang memperkenalkan dunia penceritaannya yang memiliki begitu banyak sisi dan konflik, Insurgent justru hadir hanya dengan satu permasalahan pokok: perburuan yang dilakukan karakter Jeanine Matthews terhadap Tris. Disinilah letak permasalahan utama dari film ini. Terlepas dari kehadiran sajian aksi yang lebih banyak dan mampu dieksekusi dengan baik oleh Schwentke, naskah cerita Insurgent tidak menawarkan apapun selain kisah perburuan yang dilakukan Jeanine Matthews tersebut. Duffield, Goldsman dan Bomback bahkan tidak berminat untuk menggali lebih dalam sisi romansa jalan cerita dari hubungan yang terjalin antara karakter Tris dan Four. Tentu saja, ketika jalan cerita dengan alur monoton dan tanpa tambahan plot pendukung yang kuat tersebut dihadirkan sepanjang 119 menit, Insurgent jelas berakhir datar dan gagal untuk menawarkan daya tarik yang berarti.

Entah karena ditangani oleh barisan penulis naskah yang baru, Insurgent sendiri terasa amat bergantung pada pengalaman para penontonnya dalam menyaksikan Divergent untuk dapat benar-benar mencerna konflik yang dihadirkan dalam film ini. Banyak bagian kisah yang melibatkan deskripsi kelas-kelas pada dunia penceritaan The Divergent Series sekaligus karakter-karakter yang terlibat di dalamnya gagal untuk disajikan secara jelas. Insurgent jelas bukan sebuah film yang dapat berdiri sendiri dan akan memberikan kebingungan yang cukup mendalam bagi mereka yang memutuskan untuk menyaksikan film ini sebelum menikmati seri pendahulunya. Dengan kondisi seperti ini, keputusan untuk menghadirkan seri terakhir The Divergent Series, Allegiant, dalam dua bagian film jelas terdengar cukup mengkhawatirkan.

Meskipun hadir dengan kapasitas kualitas penceritaan yang lebih terbatas dari Divergent, Insurgent setidaknya mampu hadir dengan penampilan akting yang begitu berkelas dari para barisan pengisi departemen aktingnya. Woodley jelas memegang penuh perhatian penonton pada kehadirannya dalam setiap adegan film. Begitu juga dengan Winslet yang semakin mampu membuat karakter antagonis Jeanine Matthews akan dibenci para penonton. Barisan pemeran lain seperti James, Teller, Elgort dan Jai Courtney juga tampil solid. Naomi Watts dan Octavia Spencer yang kini hadir memperkuat departemen akting Insurgent juga mampu memberikan warna tersendiri bagi kualitas film – meskipun dengan karakter yang begitu terbatas penceritaannya. [C]

The Divergent Series: Insurgent (2015)

Directed by Robert Schwentke Produced by Douglas Wick, Lucy Fisher, Pouya Shabazian Written by Brian Duffield, Akiva Goldsman, Mark Bomback (screenplay), Veronica Roth (novel, Insurgent) Starring Shailene Woodley, Theo James, Octavia Spencer, Jai Courtney, Ray Stevenson, Zoë Kravitz, Miles Teller, Ansel Elgort, Maggie Q, Naomi Watts, Kate Winslet, Mekhi Phifer, Ashley Judd, Daniel Dae Kim, Keiynan Lonsdale, Suki Waterhouse, Rosa Salazar, Emjay Anthony, Janet McTeer, Jonny Weston Music by Joseph Trapanese Cinematography Florian Ballhaus Edited by Nancy Richardson, Stuart Levy Production company Red Wagon Entertainment/Summit Entertainment/Mandeville Films Running time 119 minutes Country United States Language English

Review: Whiplash (2014)

whiplash-posterSeorang murid yang sangat berambisius untuk mengejar mimpinya. Seorang guru yang begitu berhasrat untuk menemukan bakat baru dan membentuknya menjadi sosok yang dikagumi oleh khalayak ramai. Seperti yang dapat diduga, kedua karakter tersebut kemudian bertemu. Sang guru memberikan dorongan yang keras pada sang murid dalam melatih talentanya. Dan sang murid memberikan dedikasi penuh untuk meraih mimpi yang ia inginkan – termasuk dengan meninggalkan kehidupan personal yang dianggap dapat menghalanginya dalam meraih mimpi tersebut. Terdengar familiar? Whiplash memang memiliki struktur penceritaan yang telah berulangkali diangkat Hollywood. Namun penulis sekaligus sutradara film ini, Damien Chazelle, mampu memberikan perspektif yang lebih segar dan mendalam mengenai hubungan dua karakter tersebut.

Tidak ada barisan dialog yang terdengar inspirasional dalam Whiplash. Tidak terdapat juga drama maupun kelembutan yang memberikan pandangan lain tentang banyak segi kehidupan dari dua karakter yang diceritakan dalam film ini, Andrew Neiman (Miles Teller) dan Terence Fletcher (J. K. Simmons). Chazelle membentuk Whiplash sebagai sebuah pembelajaran karakter melalui proses latihan yang dijalani oleh karakter Andrew Neiman dalam bimbingan keras karakter Terence Fletcher. Proses latihan yang diwarnai dengan makian-makian, berbagai alat musik yang dilempar ke berbagai arah, kemarahan, tamparan, depresi serta bagian tubuh yang mengalami pendarahan. Dengan teknik penceritaan yang cenderung sempit inilah Chazelle berhasil membuat Whiplash hadir dengan tingkat intensitas yang (sangat) tinggi di sepanjang 106 menit durasi penceritaannya.

Dalam pengisahannya sebagai sebuah pembelajaran karakter, Whiplash begitu menonjolkan dua karakter utamanya yang sama-sama memiliki ambisi yang begitu memuncak dalam usaha mereka untuk mencapai mimpi masing-masing. Karakter Andrew Neiman adalah sosok murid yang memiliki hasrat untuk menjadi musisi yang terbaik di kelasnya dan akan melakukan apapun untuk mencapai mimpi tersebut. Sementara karakter Terence Fletcher adalah sosok guru yang sangat yakin bahwa ia adalah yang terbaik di bidangnya karena mampu, dan rela, melakukan apa saja untuk dapat mengeluarkan talenta terbaik dari orang-orang yang dipilihnya. Hubungan yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain inilah yang menjadi jiwa utuh dari Whiplash dan, beruntung, Chazelle memiliki Miles Teller dan J. K. Simmons yang mampu memberikan kehidupan yang sangat meyakinkan bagi kedua sosok karakter tersebut.

Karakter Andrew Neiman dan Terence Fletcher, sejujurnya, dapat saja berubah menjadi dua sosok karakter karikatural yang sering digambarkan oleh film-film Hollywood sejenis. Penampilan sangat prima dari Teller dan Simmons-lah yang menyelamatkan kedua karakter tersebut. Meskipun hadir dalam teriakan dan warna kekerasan, Simmons tetap mampu memberikan sentuhan manusiawi dalam diri karakter Terence Fletcher. Daripada melihatnya sebagai sosok kejam yang tak berperasaan, Simmons mampu membuat penonton melihat karakter yang diperankannya sebagai sosok ambisius yang ingin melihat dirinya menghasilkan seorang sosok yang dapat ia banggakan. Teller sendiri memberikan kenaifan tersendiri bagi sosok Andrew Neiman. Penampilan Teller menjadikan karakternya terlihat begitu lugu dalam menghadapi sosok Terence Fletcher namun memiliki sisi kelam tersendiri yang membuat penonton tersadar bahwa karakter Andrew Neiman tidak akan berhenti begitu saja dalam meraih ambisi hidupnya. Chemistry yang luar biasa kuat antara dua karakter yang juga berhasil diterjemahkan secara sempurna oleh dua pemerannya.

Kemampuan Whiplash dalam menghadirkan ketegangan bagi para penontonnya tidak hanya murni datang dari keberhasilan Chazelle dalam menggarap penceritaan yang baik. Chazelle juga berhasil menyajikan filmnya dengan penataan teknis yang luar biasa memikat. Lihat saja penataan gambar dari Tom Cross yang mampu menyatukan tiap kepingan gambar dalam Whiplash dengan begitu handal untuk menjadikan film ini hadir dengan ritme penceritaan yang cepat. Tentu saja, kehandalan Cross dalam penataan gambar Whiplash menjadi lebih kuat berkat dukungan dan suplai gambar dari sinematografer Sharone Meir yang berhasil menangkap detil setiap getaran alat musik atau tetes keringat atau perubahan emosi dalam ekspresi wajah setiap karakter dengan sempurna. Tata musik karya Justin Hurwitz juga mampu melengkapi kesuksesan tata teknis Whiplash dalam membungkus sekaligus menjadikan penceritaan film ini menjadi lebih emosional lagi. [B]

Whiplash (2014)

Directed by Damien Chazelle Produced by Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster Written by Damien Chazelle Starring Miles Teller, J. K. Simmons, Paul Reiser, Melissa Benoist, Austin Stowell, Nate Lang, Chris Mulkey, Jayson Blair, Kavita Patil, Michael Cohen, Kofi Siriboe, Suanne Spoke, April Grace Music by Justin Hurwitz Cinematography Sharone Meir Edited by Tom Cross Production company Sierra/Affinity/Bold Films/Blumhouse Productions/Right of Way Films Running time 106 minutes Country United States Language English

Review: Divergent (2014)

Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)
Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)

Hollywood’s search for the next great young adult adaptation continues with Divergent. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Veronica Roth, Divergent sekilas terasa seperti sebuah kolaborasi warna penceritaan dari beberapa film hasil adaptasi novel young adult yang sebelumnya telah dirilis: penggambaran mengenai struktur masyarakat yang modern dan sempurna seperti dalam The Host (2013), pengelompokan kondisi masyarakat serta pelatihan dan pengujian fisik seperti yang terdapat dalam The Hunger Games (2012 – 2013), pemilihan kelompok yang dilakukan oleh setiap individu muda seperti dalam dunia Harry Potter (2001 – 2011) hingga kehadiran sosok karakter terpilih layaknya dalam Ender’s Game (2013). Meskipun menawarkan jalinan kisah yang terasa familiar dan tidak lagi baru, Divergent cukup mampu tergarap dengan baik, khususnya dengan pengarahan sutradara Neil Burger (Limitless, 2011) yang mampu menghadirkan penceritaan film ini dengan ritme yang tepat sekaligus mendapatkan dukungan kuat dari penampilan akting para jajaran pengisi departemen aktingnya.

Continue reading Review: Divergent (2014)

Review: Rabbit Hole (2010)

Seringkali, penampilan terbaik seorang aktor atau aktris dalam sebuah film akan muncul ketika memerankan karakter yang sedang berada dalam keadaan duka mendalam. Karakter-karakter ini biasanya akan mampu memberikan kesempatan bagi sang aktor atau sang aktris untuk tidak hanya menunjukkan kemampuan akting mereka, namun juga kesempatan untuk menunjukkan tingkat emosional yang mampu menyentuh siapapun yang menyimak jalan cerita film tersebut. Sayangnya, seringkali pula, karakter maupun film yang memuat tema mengenai duka tersebut kemudian akan terjebak dalam berbagai hal-hal klise khas sinema Hollywood dalam menceritakan kisahnya. Untungnya, Rabbit Hole bukan salah satu diantara film tersebut.

Continue reading Review: Rabbit Hole (2010)