Tag Archives: Michael Caine

Review: Kingsman: The Secret Service (2015)

kingsman-the-secret-service-posterDo you like spy movies?”

Nowadays they’re all a little serious for my taste.”

Yep. Dialog yang terjadi antara karakter Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan Harry Hart (Colin Firth) dalam salah satu adegan Kingsman: The Secret Service dengan jelas menggambarkan apa yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Matthew Vaughn (X-Men: First Class, 2011) dalam film mata-mata garapannya. Dan benar, lewat satir sekaligus tribut tentang film mata-mata yang disajikannya dengan deretan adegan yang dipenuhi dengan aksi sekaligus darah dalam ritme penceritaan yang cepat, Vaughn berhasil menghadirkan sebuah film mata-mata yang tidak hanya mampu tergarap dengan baik namun juga sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti petualangannya.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Vaughn dan Jane Goldman – yang sebelumnya sempat bekerjasama lewat Stardust (2007) – dari seri buku komik berjudul The Secret Service karya Mark Millar dan Dave Gibbons, Kingsman: The Secret Service memiliki seluruh elemen yang selalu hadir dalam seri film James Bond: seorang agen rahasia yang berpenampilan stylish, tempat persembunyian yang berada di lokasi yang sama sekali tidak terduga, perangkat senjata yang canggih dan sangat mematikan hingga karakter antagonis maniak yang berniat untuk menguasai dunia. Namun, tidak seperti halnya seri James Bond, Vaughn menghadirkannya dalam nada penceritaan layaknya Kick-Ass (2010) yang muda, penuh gairah, humor kelam yang menghibur, ritme penceritaan yang berjalan dengan cepat plus dipenuhi dengan genangan darah dan potongan tubuh manusia.

Juga berbeda dengan kebanyakan film yang berkisah tentang para mata-mata, Vaughn dan Goldman mampu mengemas setiap karakter dalam Kingsman: The Secret Service dengan begitu baik. Setiap karakter, termasuk karakter-karakter pendukung, dihadirkan secara humanis, memiliki perasaan dan motivasi yang akan membuat para penonton dengan mudah terhubung dengan mereka. Di sisi lain, fokus yang diberikan pada beberapa karakter pendukung dengan latar penceritaan yang kurang menarik justru menghambat ritme penceritaan film di beberapa bagian. Walau sama sekali tidak mengurangi kesolidan kualitas penceritaan secara keseluruhan, namun harus diakui bahwa banyaknya karakter pendukung dalam jalan cerita membuang cukup banyak durasi penceritaan. Dari sisi teknikal, Vaughn menghadirkan Kingsman: The Secret Service dalam kualitas yang berkelas. Setiap adegan aksi dalam film mampu tergarap dengan tata koreografi aksi yang kuat dan akan mampu menarik penuh perhatian para penonton.

Tentu saja, dengan deretan karakter yang telah tergambarkan dengan baik, Vaughn juga berhasil menghadirkan deretan pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan meyakinkan. Berada di barisan terdepan adalah duo Colin Firth dan aktor muda Taron Egerton. Berperan sebagai seorang agen rahasia senior yang mampu melakukan apa saja demi menyelesaikan misi yang telah ditugaskan padanya – termasuk deretan adegan aksi yang jelas jauh dari imej Firth sebagai seorang aktor selama ini – Firth tampak begitu nyaman dalam perannya. Pesona Firth sebagai seorang aktor memang tampil memukau dan Vaughn mampu memanfaatkan pesona tersebut untuk menjadikan karakter Harry Hart yang diperankan Firth menjadi karakter yang begitu mudah disukai (sekaligus sangat mematikan).

Meskipun tergolong wajah baru, Taron Egerton mampu hadir dengan kapabilitas akting yang dapat hadir setimpal dengan penampilan Firth. Adalah dapat diprediksi dengan mudah, dengan penampilan fisiknya yang tampan serta kemampuan aktingnya yang cukup berkualitas, Egerton adalah wajah baru yang akan segera diincar oleh banyak produser film Hollywood. Samuel L. Jackson tampil kuat sebagai karakter antagonis utama namun pemeran karakter asistennya-lah, Sofia Boutella, yang berhasil mencuri perhatian sebagai sosok wanita yang sangat mematikan. Penampilan lain dalam departemen akting Kingsman: The Secret Service juga hadir dari paduan nama-nama populer dan segar di dunia perfilman seperti Mark Strong, Michael Caine, Mark Hamill, Sophie Cookson hingga Jack Davenport. [B-]

Kingsman: The Secret Service (2015)

Directed by Matthew Vaughn Produced by Adam Bohling, David Reid, Matthew Vaughn Written by Mathew Vaughn, Jane Goldman (screenplay), Mark Millar, Dave Gibbons (comic book, The Secret Service) Starring Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sophie Cookson, Sofia Boutella, Mark Hamill, Jack Davenport, Samantha Womack, Geoff Bell, Edward Holcroft, Nicholas Banks, Jack Cutmore-Scott, Tom Prior, Fiona Hampton, Hanna Alström, Bjørn Floberg, Richard Brake, Alex Nikolov Music by Henry Jackman, Matthew Margeson Cinematography George Richmond Edited by Eddie Hamilton, Jon Harris, Conrad Buff IV Production company Marv Films Running time 129 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Review: Now You See Me (2013)

now-you-see-me-header

Diarahkan oleh Louis Leterrier (Clash of the Titans, 2010), Now You See Me membuka pengisahannya dengan memperkenalkan empat karakter pesulap yang masing-masing memiliki keahlian yang berbeda: J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher), Jack Wilder (Dave Franco) dan Merritt McKinney (Woody Harrelson). Sebuah undangan dari sosok misterius kemudian membawa mereka ke satu tempat dan akhirnya memperkenalkan mereka satu sama lain. Linimasa jalan penceritaan kemudian berpindah ke masa satu tahun kemudian, dimana keempatnya kini telah tergabung dalam sebuah kelompok bernama The Four Horsemen dan memiliki pertunjukan yang begitu popular di Las Vegas dengan bantuan sokongan dana dari milyuner, Arthur Tressler (Michael Caine).

Continue reading Review: Now You See Me (2013)

Review: The Dark Knight Rises (2012)

Ketika dirilis pada tahun 2005, Batman Begins yang diarahkan oleh Christopher Nolan berhasil membersihkan imej karakter pahlawan tersebut dari kegagalan besar yang disebabkan oleh Joel Schumacher dengan Batman & Robin (1997) yang sempat dianggap telah mematikan potensi perkembangan franchise tersebut secara keseluruhan. Tidak hanya itu, atmosfer kelam dan cenderung depresif yang ditampilkan dalam penceritaan Batman Begins yang diarahkan Nolan kemudian memberikan pengaruh besar bagi banyak adaptasi kisah-kisah superhero yang muncul setelahnya, bahkan hingga saat ini. Kini, tujuh tahun setelah perilisan Batman Begins dan empat tahun selepas perilisan sekuelnya, The Dark Knight (2008), yang fenomenal itu, Nolan melengkapi trilogi The Dark Knight-nya dengan merilis The Dark Knight Rises: sebuah bagian yang nantinya mungkin akan dikenal sebagai bagian terkelam, termegah sekaligus terambisius dari trilogi The Dark Knight arahan Nolan. Tapi apakah The Dark Knight Rises akan menjadi bagian terbaik?

Continue reading Review: The Dark Knight Rises (2012)

Review: Journey 2: The Mysterious Island (2012)

Michael Caine adalah salah satu aktor yang paling dihormati di Hollywood. Berhasil memenangkan dua penghargaan Academy Awards dan kemudian menjadi salah satu aktor yang secara konsisten selalu berhasil meraih nominasi akting di ajang penghargaan film Hollywood tersebut di setiap dekade semenjak tahun 1960an, Caine mempertajam reputasinya sebagai seorang aktor kelas atas dengan selalu memberikan penampilan yang sempurna pada film-film yang secara hati-hati ia pilih untuk bintangi. Karenanya, cukup mengherankan untuk melihat mengapa Caine mau ambil bagian dalam Journey 2: The Mysterious Island – sekuel dari film Journey to the Center of the Earth yang sukses besar secara komersial ketika dirilis pada tahun 2008 dan menjadi salah satu film pelopor bangkitnya penggunaan teknologi 3D di film-film Hollywood. Journey 2: The Mysterious Island tidak hanya memiliki jalan cerita yang begitu mudah ditebak. Jalan cerita film ini tampil begitu malas, tanpa berusaha untuk memberikan sebuah nuansa penceritaan baru serta deretan karakter yang begitu dangkal dan sulit untuk disukai.

Continue reading Review: Journey 2: The Mysterious Island (2012)

Review: Cars 2 (2011)

Seandainya Pixar bukanlah sebuah rumah produksi animasi yang menghasilkan film-film seperti The Incredibles (2007), WALL•E (2008), Up (2009) dan Toy Story 3 (2010), mungkin tidak akan ada seorangpun yang memandang sebelah mata terhadap Cars 2. Namun, seperti yang telah diketahui setiap penggemar film di dunia, semenjak merilis Toy Story di tahun 1995, Pixar telah tumbuh menjadi sebuah trademark akan sebuah kualitas film animasi bercitarasa tinggi yang sulit untuk disaingi rumah produksi lainnya. Di empat tahun terakhir, Pixar secara perlahan lebih meningkatkan kualitas penulisan naskah cerita film-filmnya, dengan menjadikan film-film seperti WALL•E, Up dan Toy Story 3 terkadang bahkan lebih mampu menguras emosi penontonnya jika dibandingkan dengan film-film non-animasi yang dirilis pada tahun bersamaan.

Continue reading Review: Cars 2 (2011)

Review: Gnomeo & Juliet (2011)

Tentu, dengan mendasarkan kisahnya pada salah satu naskah drama paling populer di atas muka Bumi yang ditulis oleh William Shakespeare, semua orang tahu cerita apa yang akan mereka dapatkan dalam Gnomeo & Juliet: sebuah kisah cinta terlarang antara dua anak manusia yang keluarganya semenjak lama berseteru satu sama lain. Errr… ganti kata manusia dengan patung kurcaci maka Anda akan mendapatkan premis dasar dari film animasi pertama karya rumah produksi Sir Elton John ini. Walau begitu, premis tersebut hanyalah satu-satunya yang dapat menghubungkan film ini dengan karya Shakespeare tersebut. Sembilan orang penulis naskah telah mengubah total kisah tragedi tersebut menjadi sebuah komedi sekaligus menjadikan kisah film animasi ini menjadi lebih mudah untuk dilupakan begitu saja.

Continue reading Review: Gnomeo & Juliet (2011)

Review: Inception (2010)

Setelah Memento dan The Dark Knight, sutradara Christopher Nolan kembali datang untuk menantang setiap penonton filmnya untuk dapat menggunakan sedikit pemikiran mereka dalam mengikuti salah satu film yang paling ditunggu untuk tahun ini, Inception. Merilisnya di saat musim panas, masa di mana Hollywood biasanya cenderung untuk merilis film-film popcorn yang hadir hanya sebatas hiburan belaka, tentu akan menjadi resiko tersendiri yang harus dihadapi Nolan. Namun, apakah Inception benar-benar sekompleks yang dibayangkan oleh setiap penontonnya?

Continue reading Review: Inception (2010)