Tag Archives: Marcell Darwin

Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Ketika pertama kali dirilis pada tahun 2003, buku Jakarta Undercover karangan Moammar Emka berhasil menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pecinta literatur Indonesia, khususnya karena buku tersebut berisi kumpulan cerita yang dengan berani mengangkat berbagai sisi kehidupan seksual warga Jakarta yang selama ini masih belum banyak diketahui atau malah dianggap tabu untuk dibicarakan. Emka kemudian melanjutkan kesuksesan bukunya dengan menerbitkan dua seri Jakarta Undercover lainnya, Jakarta Undercover 2: Karnaval Malam yang dirilis pada tahun 2006 serta Jakarta Undercover 3: Forbidden City yang hadir setahun setelahnya. Layaknya banyak novel sukses lainnya, Jakarta Undercover menarik perhatian produser Erwin Arnada yang berniat untuk mengadaptasi buku tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Dengan bantuan penulis naskah Joko Anwar, versi film dari Jakarta Undercover yang diarahkan oleh Lance dan dibintangi Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar serta Christian Sugiono akhirnya dirilis pada awal tahun 2007. Sayang, terlepas dari banyaknya perhatian yang diberikan pada versi film dari Jakarta Undercover akibat deretan permasalahan yang harus dihadapi film tersebut ketika berhadapan dengan Lembaga Sensor Film, Jakarta Undercover mendapatkan reaksi yang tidak begitu menggembirakan, baik dari banyak kritikus film maupun para penonton film Indonesia. Continue reading Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Review: Miss Call (2015)

miss-call-posterFilm-film Indonesia yang dirilis pada sepanjang bulan April lalu cukup mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Bukan. Bukan karena banyak diantara film-film tersebut berhasil menarik penonton dalam jumlah yang besar untuk menyaksikannya di layar bioskop. Namun, secara kualitas, hampir seluruh film Indonesia yang dirilis di sepanjang April lalu tersebut berhasil menunjukkan taji yang cukup kuat – termasuk film-film yang masih tergolong lemah seperti Wewe maupun Romeo + Rinjani. Hampir, karena di penghujung bulan, penikmat film Indonesia kembali dihadiahi sebuah film thriller berjudul Miss Call dengan kualitas yang layak dipertanyakan. Bukan sebuah hal yang terlalu mengejutkan mengingat film ini datang dari sutradara yang juga menghasilkan film-film seperti Rumah Pondok Indah (2006), Rumah Bekas Kuburan (2012) dan Main Dukun (2014).

Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh penulis naskah Main Dukun, Alexander Harry, Miss Call menceritakan tentang seorang gadis pengoleksi berbagai benda bernuansa mistis bernama Mitha (Susan Sameh) yang juga memiliki kegemaran untuk melakukan telepon iseng ke nomor-nomor telepon asing. Suatu hari, seperti yang mungkin dapat ditebak oleh banyak penggemar film-film sejenis, keisengan tersebut menghubungkan Mitha dengan kejadian tewasnya seorang gadis yang pernah diteleponnya. Meskipun dia tidak menyadari hal tersebut, namun kehidupan Mitha dan orang-orang yang ada disekitarnya mulai mendapatkan teror dari sosok asing. Mitha jelas harus segera melakukan sesuatu sebelum teror tersebut berhasil merenggut nyawanya.

Dibandingkan dengan film-film horor bernuansa supranatural yang ditawarkan oleh kebanyakan film Indonesia belakangan, Miss Call sebenarnya berusaha tampil unik sebagai sebuah slasher yang akan mengingatkan banyak penonton pada film-film semacam Scream (1996) atau I Know What You Did Last Summer (1997). Sayangnya, nyaris seluruh elemen penceritaan film tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membangun Miss Call hadir sekuat film-film tersebut. Naskah cerita yang digarap oleh Alexander Harry hadir berantakan. Banyak konflik dan karakter yang disajikan dalam jalan cerita film muncul dan menghilang seenaknya – yang jelas akan membuat film ini terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya. Dan, by the way, jika film ini hendak berkisah tentang “panggilan yang tak terjawab”, bukankah judul film ini seharusnya Missed Call?

Pengarahan Irwan Siregar atas alur penceritaan dan akting para pengisi departemen akting film juga tidak tampil lebih baik. Hadir dalam kualitas medioker dan cukup mengganggu. Lihat saja bagaimana Marcell Darwin yang tampil kaku di sepanjang penampilannya di film ini. Atau Susan Sameh – yang meskipun memiliki penampilan fisik yang cukup atraktif sebagai seorang pemeran utama dalam sebuah film – yang gagal untuk menjadikan karakternya dapat dengan mudah disukai penontonnya. Percayalah, sayang. Hadir meneriakkan setiap dialog yang dimiliki karaktermu dengan histeris tidak lantas akan membuat karaktermu terlihat lebih emosional. Sejujurnya, satu-satunya hal yang membuat film ini setidaknya tampil lebih baik dari Tes Nyali (Vijei Al Fajr, 2015) yang buruk itu adalah tata gambar film yang masih mampu dirangkai secara runut. Selebihnya? Miss Call akan sekali lagi mengingatkan penonton film Indonesia mengapa mereka seringkali bersikap apatis terhadap kualitas produksi film buatan sineas negara mereka sendiri. [E]

Miss Call (2015)

Directed by Irwan Siregar Produced by Shanker RS Written by Alexander Harry Starring Marcell Darwin, Susan Sameh, Naomi Appel, Wulandari, Maureisha, Agus Leo, M. Rizki Billar, Permata Persik, Ratu Sal Savana, Westny, Tiga Setia Gara, Maya Azizah, Salfa Music by Areng Widodo Cinematography Indra Edited by Bimmo DJ Production company Eagleclaw Entertainment Hollywood/PT Digital Film Media Running time 77 minutes Country Indonesia Language Indonesian