Tag Archives: Kimberly Ryder

Review: Romeo + Rinjani (2015)

romeo-rinjani-posterLooks can be deceiving… Jika, dengan menilai penampilan poster film ini, Anda mengira bahwa Romeo + Rinjani akan hadir dengan kisah petualangan beberapa karakter yang berpetualang di liarnya alam Gunung Rinjani a la 5 cm (2012) atau Sagarmatha (2013), maka bersiaplah untuk kecewa. Sesungguhnya, cukup sulit untuk menilai apa yang sebenarnya diinginkan oleh Fajar Bustomi lewat film ini. Romeo + Rinjani menawarkan begitu banyak warna penceritaan dalam deretan konflik film ini – mulai dari drama, romansa, komedi hingga thriller – yang sayangnya kemudian gagal untuk dieksplorasi dan akhirnya membuat setiap konflik dalam film ini gagal untuk berkembang dan berkisah dengan baik. Bukan sebuah presentasi yang teramat buruk namun jelas masih jauh dari kesan memuaskan.

Romeo + Rinjani sendiri berkisah mengenai Romeo (Deva Mahenra), seorang fotografer tampan yang memiliki kemampuan untuk menarik perhatian setiap wanita yang didekatinya. Sial, salah satu wanita yang ia kencani, Raline (Kimberly Ryder), kemudian hamil dan menuntut pertanggungjawabannya. Walau merasa berat, Romeo menyetujui permintaan Raline untuk menikahinya seusai dirinya selesai melaksanakan tugasnya untuk mengambil gambar di wilayah Gunung Rinjani. Dalam perjalanan tugasnya tersebut, Romeo lantas bertemu dengan gadis cantik bernama Sharon (Alexa Key) yang jelas kemudian menggoda perhatian Romeo. Romeo dan Sharon, yang ternyata seorang pecinta kegiatan petualangan, kemudian memutuskan untuk berangkat menjelajahi Gunung Rinjani bersama. Sebuah keputusan yang mungkin akan disesali Romeo dalam seumur hidupnya kelak.

Kesalahan jelas tidak selayaknya dibebankan penuh di pundak Fajar Bustomi sebagai seorang sutradara. Naskah film yang ditulis oleh Angling Sagaran jelas memegang peranan penting bagi kedangkalan penampilan penceritaan film ini. Romeo + Rinjani sebenarnya memulai kisahnya dengan baik, menyentuh beberapa ide cerita yang tergolong segar bagi sebuah film Indonesia – sebuah film yang anti pernikahan? – hingga karakter utama dengan karakteristik yang jelas akan sulit disukai oleh banyak penontonnya. Namun, secara perlahan, awal yang menjanjikan tersebut kemudian berubah menjadi sajian yang sukar dinikmati dengan baik akibat pengembangan konflik-konfliknya yang kurang matang. Warna penceritaan film mulai hadir silih berganti dengan jalan cerita yang hadir tanpa konsistensi yang kuat. Membingungkan, khususnya ketika setiap konflik yang tersaji terasa hadir hanyalah sebagai deretan sketsa belaka tanpa pernah mampu digambarkan sebagai penceritaan yang kuat maupun utuh.

Kedangkalan penceritaan jelas juga memberikan pengaruh pada karakter-karakter yang tersaji dalam jalan cerita film. Banyak karakter yang akhirnya tampil tanpa adanya pendalaman yang jelas, termasuk dua karakter pendukung utama yang diperankan Kimberly Ryder dan Alexa Key. Kedua karakter tersebut nyaris hadir hanya sebagai plot device untuk memberikan permasalahan dalam kehidupan sang karakter utama. Lebih dari itu, penonton sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dalam siapa karakter tersebut meskipun keduanya memiliki peran yang cukup krusial dalam jalan cerita. Begitu pula dengan karakter-karakter lain yang terlihat hilir mudik di dalam jalan penceritaan film tanpa pernah mendapatkan ruang pengisahan yang tepat.

Departemen akting Romeo + Rinjani sendiri diisi deretan pemeran muda dengan penampilan yang tidak mengecewakan. Deva Mahenra, yang mendapatkan peran utama perdananya di film ini, mampu menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan sebagai aktor utama yang kuat bagi banyak film Indonesia di masa mendatang. Alexa Key dan Kimberly Ryder sendiri tampil dalam penampilan yang sesuai dengan kapasitas akting mereka. Tidak istimewa, namun jelas bukanlah dua penampilan yang buruk. Sayang, kedangkalan penulisan karakter dalam film ini menghalangi setiap aktor yang berperan di dalamnya untuk dapat tampil lebih lugas lagi dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. [C-]

Romeo + Rinjani (2015)

Directed by Fajar Bustomi Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Angling Sagaran Starring Deva Mahenra, Kimberly Ryder, Alexa Key, Donna Harun, Fico Fachriza, Ryn Chibi, Novi Chibi, Gary Iskak, Ananda Faturrahman, Sam Brodie, Sammy Not a Slim Boy, Sandrinna Michelle Skornicki, Uus, Amel Alvie, Iranty Purnamasari, Gani Kurniawan, Jefan Nathanio, Adjis Doaibu Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography Paps Bill Siregar Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 80 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Manusia Setengah Salmon (2013)

manusia-setengah-salmon-header

Mudah-mudahan Anda masih belum merasa jenuh dengan kehadiran Raditya Dika. Hanya dalam jeda beberapa bulan setelah merilis Cinta Brontosaurus dan Cinta dalam Kardus, sang raja stand up comedy Indonesia kini hadir lagi dalam film ketiganya di tahun 2013, Manusia Setengah Salmon. Seperti halnya Cinta Brontosaurus, Manusia Setengah Salmon diadaptasi dari buku populer berjudul sama karya Raditya Dika yang juga sekaligus menjadi sekuel bagi Cinta Brontosaurus. Layaknya sebuah sekuel, Manusia Setengah Salmon masih berbagi begitu banyak kemiripan dengan seri pendahulunya: Anda masih akan melihat karakter-karakter yang sama, gaya humor khas Raditya Dika yang familiar serta sederetan dialog bernuansa puitis yang jelas akan segera menjadi kutipan favorit para penonton remaja. Namun, berbeda dengan Cinta Brontosaurus, Raditya Dika mampu memberikan struktur jalan cerita yang lebih terpadu pada Manusia Setengah Salmon sehingga membuatnya menjadi lebih matang dalam bercerita dan jauh lebih menyenangkan untuk diikuti.

Continue reading Review: Manusia Setengah Salmon (2013)

Review: 308 (2013)

308-header

Heeeee’s baaaack! Jose Poernomo kembali hadir dengan membawakan sebuah film horor yang, tentu saja, berkisah tentang berbagai lokasi yang dianggap memiliki aura mistis di berbagai wilayah Indonesia. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Riheam Junianti serta aktris Shandy Aulia setelah sebelumnya sukses dalam Rumah Kentang (2012), lewat 308, Jose mencoba untuk bercerita mengenai keberadaan sebuah kamar hotel misterius dan keterkaitannya dengan salah satu tokoh mistis legendaris yang sebenarnya telah dieksplorasi oleh banyak film horor Indonesia: Nyi Roro Kidul. Sejujurnya, Jose Poernomo pernah hadir dengan kualitas film yang jauh lebih buruk dari 308. Namun tetap saja, dengan dukungan penggalian naskah cerita dan penampilan jajaran pemeran yang begitu minimalis, masih terasa sulit untuk dapat memberikan kredit lebih bagi film ini.

Continue reading Review: 308 (2013)

Review: Operation Wedding (2013)

operation-wedding-header

Setelah merilis Sampai Ujung Dunia dan Test Pack: You’re My Baby pada tahun lalu – yang berhasil membuktikan bahwa film drama dewasa Indonesia mampu dikemas secara ringan namun tetap berhasil tampil emosional, Monty Tiwa kembali hadir dengan film terbarunya yang kali ini bernafaskan drama komedi, Operation Wedding. Dengan departemen akting yang diisi oleh jajaran pemeran muda berbakat di industri film Indonesia, Operation Wedding sepertinya akan dapat dengan mudah menjadi sebuah film drama komedi yang menghibur dan, tentu saja, menarik perhatian banyak penonton. Well… para jajaran pemeran muda dengan penampilan sangat atraktif tersebut memang mampu membuat Operation Wedding menjadi sangat menyenangkan untuk dilihat. Namun ketika berhubungan dengan jalan cerita yang mereka lakoni… buruk mungkin hanya satu-satunya kesan yang dapat disematkan pada film ini.

Continue reading Review: Operation Wedding (2013)

Review: Kata Hati (2013)

kata-hati-header

Kata Hati dimulai dengan kisah patah hati yang dialami oleh dua karakter utamanya: Randi (Boy Hamzah) yang baru saja ditinggal kekasihnya, Dera (Kimberly Ryder), karena lebih memilih untuk mengejar karirnya sebagai model serta Fila (Joanna Alexandra) yang baru menyadari bahwa sahabat yang telah ia kagumi selama 10 tahun, Adrian (Arnhezy Arczhanka), ternyata sedang menjalin cinta dengan orang lain. Satu pertemuan yang tidak disengaja di sebuah kafe akhirnya memperkenalkan dua orang yang sedang dilanda kegalauan hati tersebut satu sama lain. Dan seperti yang dapat diduga… perkenalan tersebutlah yang kemudian secara perlahan mulai menyembuhkan luka cinta di hati masing-masing.

Continue reading Review: Kata Hati (2013)

Review: Air Terjun Pengantin Phuket (2013)

air-terjun-pengantin-phuket-header

Merupakan sekuel dari Air Terjun Pengantin (2009), Air Terjun Pengantin Phuket berkisah mengenai kehidupan Tiara (Tamara Bleszynski) selepas beberapa tahun setelah peristiwa tragis yang menewaskan teman-teman sekaligus kekasihnya seperti yang diceritakan pada seri film sebelumnya. Kini, Tiara mulai menemukan kembali ketenangan dalam hidupnya setelah dirinya pindah dan tinggal di sekitar keindahan Pantai Phuket, Thailand. Bersama dengan sahabatnya, Lea (Laras Monca), Tiara membuka sebuah bar kecil yang mulai ramai dikunjungi para pendatang di daerah tersebut. Tidak melupakan masa lalunya yang kelam begitu saja, Tiara juga memperkuat pertahanan diri dengan mendalami olahraga bela diri Thai Boxing yang dilakukannya sebagai persiapan jika saja ada bahaya yang kembali dapat mengancam kehidupannya di masa yang akan datang.

Continue reading Review: Air Terjun Pengantin Phuket (2013)

Review: Perahu Kertas 2 (2012)

Membagi sebuah penceritaan film menjadi dua bagian jelas bukanlah sebuah hal yang baru di industri film dunia. Beberapa franchise besar yang mendasarkan kisahnya dari sebuah novel – seperti Harry Potter, The Twilight Saga sampai The Hobbit – telah (atau dalam kasus The Hobbit, akan) melakukannya dengan dasar alasan bahwa agar seluruh detil dan konflik yang ada di dalam jalan cerita dapat ditampilkan dengan baik. Tentu saja, mereka yang skeptis akan berpendapat bahwa keputusan tersebut diambil tidak lebih hanyalah karena alasan komersial belaka – dibuat agar rumah produksi dapat meraih keuntungan dua kali lebih besar dari satu material cerita yang sama. Well… beberapa pendapat skeptis tersebut mungkin saja benar. Namun, bagaimanapun, ketika berada di tangan sutradara yang tepat, sebuah material cerita yang memang sengaja diperpanjang akan setidaknya mampu tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi penonton untuk menyaksikannya.

Continue reading Review: Perahu Kertas 2 (2012)