Tag Archives: Josh Gad

Review: The Wedding Ringer (2015)

The-Wedding-Ringer-posterJeremy Garelick, yang mungkin lebih dikenal sebagai penulis naskah film komedi yang dibintangi Jennifer Aniston dan Vince Vaughn, The Break-Up (2006), melakukan debut penyutradaraan film layar lebarnya lewat sebuah film komedi lain berjudul The Wedding Ringer. Sebagai sebuah film komedi yang mengisahkan tentang persahabatan antara sekelompok pria, melibatkan sebuah pernikahan dan satu sosok karakter yang digambarkan sebagai sosok yang sangat mengerti tentang wanita, The Wedding Ringer sangat menggantungkan dirinya pada kehangatan chemistry antara dua bintangnya, Kevin Hart dan Josh Gad. Dan beruntung, Hart dan Gad mampu menyajikan penampilan komikal yang sangat menghibur untuk mampu membuat penonton melupakan materi cerita film yang akan terasa familiar bagi penggemar film-film sejenis.

Gad berperan sebagai Doug Harris, seorang pengacara pajak sukses namun menghadapi masalah besar ketika dirinya tidak memiliki satupun teman untuk menjadi pendamping dalam acara pernikahannya dengan Gretchen Palmer (Kaley Cuoco-Sweeting). Doug lantas berkenalan dengan Jimmy Callahan (Hart) yang dikenal sebagai penasehat paling sukses bagi kaum pria dalam menghadapi pernikahan. Doug akhirnya mempercayakan seluruh masalahnya kepada Jimmy. Sebagai seseorang dengan kualitas kerja profesional, Jimmy mulai merekrut sekelompok pria yang akan berperan sebagai sahabat Doug dalam pernikahannya sekaligus menyusun berbagai rencana untuk membuat Doug terlihat sebagai calon menantu idaman bagi kedua orangtua Gretchen (Mimi Rogers dan Ken Howard).

Tentu, adalah cukup mudah untuk melihat bahwa Garelick mengimplementasikan berbagai elemen komedi dari film-film seperti The Wedding Crashers (2005), Hitch (2005) dan, tentu saja, The Hangover (2009) dalam naskah cerita The Wedding Ringer. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal pula bahwa Garelick memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengelola sekaligus mengeksekusi dialog-dialog komedi dalam film ini. Penonton mungkin akan segera melupakan alur kisah maupun nama-nama deretan karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini namun dalam 101 menit perjalanan durasi film ini Garelick berhasil menempatkan cukup banyak ruang yang akan mampu membuat para penontonnya tertawa dengan lepas. And isn’t that the true meaning of comedy, folks?

Selain berisi elemen-elemen komedi yang terlanjur terlalu familiar dan hadir tanpa adanya kejutan berarti, Garelick juga harus diakui gagal untuk mengolah karakter-karakter dalam jalan ceritanya untuk menjadi lebih memorable. Karakter-karakter teman sewaan bagi Doug yang berjumlah tujuh orang nyaris hanya disajikan sebagai aksesoris tanpa pernah dimanfaatkan untuk memberikan nilai lebih pada unsur komedi The Wedding Ringer. Karakter Gretchen Palmer juga tergambar begitu dangkal sehingga seringkali membuat sulit bagi penonton untuk mengerti mengapa karakter Doug Harris mau bersusah payah demi menyenangkan dirinya. Ritme penceritaan The Wedding Ringer juga terasa mulai berantakan di paruh kedua penceritaannya – khususnya dengan semakin minimnya bagian yang mampu memberikan hiburan. Untungnya, secara perlahan, Garelick mampu membangkitkan kembali komedinya dan menutupnya dengan paruh ketiga penceritaan yang cukup gemilang.

Chemistry Hart dan Gad dalam film ini memang menjadi menu utama yang mampu mengalirkan komedi serta alur penceritaan film. Baik Hart maupun Gad berhasil menghidupkan karakter mereka untuk dapat terasa sebagai dua sosok karakter yang sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain dalam sebuah persahabatan namun sama sekali tidak menyadarinya. Penampilan komedi keduanya juga saling melengkapi dan tidak pernah terasa tampil berlebihan antara satu dengan yang lain. Penampilan-penampilan pendukung lain juga tampil baik meskipun adalah sangat mengecewakan untuk melihat Garelick tidak memanfaatkan momen kehadiran nama-nama seperti Mimi Rogers, Cloris Leachman, Ken Howard, Olivia Thirlby dan Josh Peck dalam kapasitas penceritaan yang lebih besar lagi ketika kehadiran mereka dalam porsi penceritaan yang cukup minimalis ternyata seringkali mampu mencuri perhatian. [C]

The Wedding Ringer (2015)

Directed by Jeremy Garelick Produced by Adam Fields, William Packer Written by Jeremy Garelick, Jay Lavender  Starring Kevin Hart, Josh Gad, Kaley Cuoco-Sweeting, Alan Ritchson, Cloris Leachman, Mimi Rogers, Ken Howard, Affion Crockett, Jenifer Lewis, Olivia Thirlby, Jorge Garcia, Josh Peck, Joe Namath, John Riggins, Ed “Too Tall” Jones, Aaron Takahashi, Dan Gill, Corey Holcomb, Colin Kane, Ignacio Serricchio, Nicole Whelan, Whitney Cummings, Jeff Ross, Nikki Leigh Music by Christopher Lennertz Cinematography Bradford Lipson Edited by Jeff Groth, Shelly Westerman, Byron Wong Production company Miramax/LStar Capital/Will Packer Productions Running time 101 minutes Country United States Language English

Review: Frozen (2013)

frozen-header

Berbeda dengan Pixar Animation Studios yang belakangan terlihat mengalami sedikit kesulitan dalam menghadapi para kompetitornya – semaniak apapun Anda terhadap rumah produksi film animasi ini, Anda harus mengakui bahwa tak satupun karya mereka semenjak Toy Story 3 (2010) mampu meraih kredibilitas kualitas yang sekuat film-film pendahulunya – Walt Disney Animation Studios justru berhasil bangkit setelah bertahun-tahun dinilai semakin tidak relevan dengan dunia modern. Dimulai dengan Tangled (2010) dan diikuti Wreck-It Ralph (2012), rumah produksi bermaskot Mickey Mouse tersebut secara perlahan meraih kembali masa-masa kejayaan film-film animasi mereka terdahulu. Di tahun 2013, Walt Disney Animation Studios merilis Frozen, yang sekaligus menjadi film animasi ke-53 yang mereka produksi. Layaknya Tangled, Frozen diadaptasi dari sebuah kisah klasik dan disajikan dengan penceritaan musikal yang humoris serta hangat yang tentunya akan mengingatkan para penontonnya pada film-film animasi klasik karya Walt Disney Animation Studios.

Continue reading Review: Frozen (2013)

Review: The Internship (2013)

The-Internship-header

They’re back! Setelah sebelumnya sukses berperan dalam Wedding Crashers (2005) – yang berhasil meraih banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus meraup keuntungan komersial sebesar lebih dari US$285 juta dari masa rilisnya di seluruh dunia, duo Vince Vaughn dan Owen Wilson kini kembali hadir dalam sebuah film komedi arahan Shawn Levy (Real Steel, 2011) yang berjudul The Internship. Vaughn sendiri kali ini tidak hanya berperan sebagai seorang aktor. Selain bertindak sebagai produser bersama Levy, Vaughn juga menuliskan naskah cerita film ini bersama dengan Jared Stern (Mr. Popper’s Penguins, 2011) berdasarkan ide cerita yang dikembangkan sendiri oleh Vaughn. Kualitas naskah cerita The Internship sebenarnya jauh dari kesan istimewa. Namun, pengarahan serta penampilan jajaran pengisi departemen akting yang kuat mampu membuat The Internship tampil hangat dalam bercerita dan begitu menghibur di sepanjang 119 menit durasi penceritaannya.

Continue reading Review: The Internship (2013)

Review: Ice Age: Continental Drift (2012)

Setelah Rio (2011), yang berhasil mendapatkan pujian luas dari kalangan kritikus film dunia sekaligus berhasil memperoleh kesuksesan komersial dengan jumlah pendapatan lebih dari US$400 sepanjang masa rilisnya di seluruh dunia, Blue Sky Studios kini melanjutkan seri keempat dari franchise Ice Age milik mereka. Tidak seperti tiga seri sebelumnya, Ice Age: Continental Drift tidak lagi disutradarai oleh Carlos Saldanha – yang lebih memilih untuk berkonsentrasi pada pembuatan sekuel Rio yang direncanakan rilis tahun 2014 mendatang. Berada di tangan Steve Martino – yang sebelumnya merupakan co-director dari Horton Hears a Who! (2008) – dan Mike Thurmeier – yang merupakan co-director dari Ice Age: Dawn of the Dinosaurs (2009) – Ice Age: Continental Drift masih melanjutkan kisah petualangan trio Manny, Sid dan Diego di zaman es. Terdengar seperti premis film-film di seri Ice Age sebelumnya? Mungkin karena Ice Age: Continental Drift memang tidak menawarkan sebuah sisi penceritaan yang benar-benar baru dalam naskah ceritanya.

Continue reading Review: Ice Age: Continental Drift (2012)

Review: Love and Other Drugs (2010)

Komedi romantis. Sebuah genre yang sama halnya seperti horor, terlalu sering mendapat eksplorasi dari para pembuat film yang sebenarnya tidak mampu melakukannya dan berakhir sebagai sebuah genre yang seringkali melahirkan film-film berkualitas kacangan… kalau tidak mau dikatakan buruk. Hollywood sendiri lebih sering merilis film komedi romantis yang diperuntukkan untuk kalangan muda. Adalah sangat langka untuk melihat sebuah film komedi romantis dengan naskah cerita bernada dewasa yang mampu menghibur sekaligus menghanyutkan setiap penontonnya akhir-akhir ini.

Continue reading Review: Love and Other Drugs (2010)