Tag Archives: John Requa

Review: Focus (2015)

focus-posterDengan kemampuan akting dan daya tariknya yang demikian memikat, Will Smith pernah menjadi bintang terbesar di Hollywood. Film-film yang ia bintangi seperti Independence Day (1996), Men in Black (1997), Hitch (2007) dan Hancock (2008) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dan meraup pendapatan lebih dari US$500 juta selama masa edarnya di seluruh dunia. Tidak hanya itu, Smith juga mampu mengimbangi kesuksesan komersialnya dengan kesuksesan artistik ketika ia berhasil meraih nominasi Best Actor in a Leading Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film Ali (2001) dan The Pursuit of Happyness (2006). Namun, layaknya sebuah roda yang berputar, peruntungan Smith mulai menemui masa terjal. Dimulai dengan Seven Pounds (2008) yang gagal baik secara komersial maupun kritikal, film-film lain yang dibintangi Smith seperti Men in Black 3 (2012), After Earth (2013) dan Winter’s Tale (2014) turut menemui nasib yang tidak lebih baik daripada Seven Pounds. Ketidakberuntungan secara beruntun itulah yang kemudian menyebabkan banyak pihak kini memandang Smith sebagai aktor yang tidak lagi relevan di Hollywood.

Namun Hollywood selalu dipenuhi oleh kisah para petarung yang tidak akan pernah berhenti berjuang demi harga dirinya. Dan jika ada satu film yang akan mampu meremajakan kembali karir Smith yang telah melesu maka film itu adalah Focus. Film arahan duo Glenn Ficarra dan John Requa (Crazy, Stupid, Love., 2011) ini adalah sebuah film drama komedi romansa yang mampu mendayagunakan daya tarik dan kemampuan komikal Smith sebagai seorang aktor secara maksimal. Tidak seperti empat film terakhirnya dimana Smith terlihat setengah hati dalam menghidupkan karakter yang ia perankan, Smith yang hadir dalam Focus terlihat sebagai seorang aktor yang mencoba membuktikan kembali kemampuan dirinya… dan berhasil. Perannya sebagai seorang pencopet dan penipu lihai bernama Nicky Spurgeon mampu disajikan dengan begitu matang, dan benar-benar hidup.

Oh. Hal lain yang jelas mendukung kesuksesan penceritaan Focus jelas adalah kualitas penulisan naskah cerita Ficarra dan Requa yang benar-benar cerdik. Berkisah mengenai kehidupan komplotan para penipu yang mencari penghidupan mereka dengan mencopet di jalanan – plus dengan beberapa plot romansa di beberapa bagiannya, Ficarra dan Requa mampu memberikan apa yang diinginkan penonton dari film-film sejenis. Dalam penceritaannya, Focus membawa para penontonnya untuk mengenal berbagai trik penipuan yang dapat berlangsung di jalanan. Dikemas secara komikal, kejutan demi kejutan yang dikemas dengan baik oleh kedua sutradara film ini akan berhasil memberikan hiburan tersendiri bagi para penontonnya.

Focus sendiri tidak lepas dari beberapa kelemahan. Sebagai sebuah film yang berjudul Focus, Ficarra dan Requa seringkali terasa kehilangan fokus mereka dalam bercerita akibat terlalu… errr… berfokus dalam penyajian kejutan dalam cerita. Kejutan yang awalnya terasa segar di setengah bagian awal penceritaan secara perlahan mulai terasa menjemukan pada beberapa bagian akhir. Beberapa plot penceritaan juga kurang mampu terasah dengan baik, khususnya di bagian pengisahan mengenai karakter Nicky Spurgeon dan Jess Barrett (Margot Robbie) dalam menjalani kehidupan baru mereka di paruh kedua penceritaan. Belum lagi dalam hal pengaturan ritme penceritaan yang kadang terasa berbenturan antara berusaha menjadi sebuah film romansa atau film tentang kehidupan para penipu jalanan. Pengarahan cerita Ficarra dan Requa benar-benar melemah meskipun akhirnya mampu dibangkitkan kembali di penghujung bagian ketiga penceritaan.

Berbicara mengenai Margot Robbie, Focus juga mampu tampil demikian memikat berkat chemistry yang demikian erat antara Smith dan Robbie. Jalinan love and hate relationship yang terjalin antara dua karakter yang mereka perankan benar-benar mampu diterjemahkan dengan sangat baik. Robbie sendiri – selepas penampilannya yang spektakuler dalam The Wolf of Wall Street (2013) – juga mampu membuktikan bahwa dirinya adalah lebih dari sekedar aktris yang hanya bermodalkan tampang saja. Penampilan dan kharisma Robbie mampu mengimbangi Smith dengan baik untuk menjadikan penonton lupa akan beberapa kelemahan yang hadir dalam penyajian cerita film ini.

Selain Smith dan Robbie, Focus juga didukung oleh penampilan solid para pengisi departemen akting lainnya – meskipun penulisan karakter yang terasa benar-benar minimalis jelas membuat kehadiran mereka terasa kurang berarti. Dari sisi teknikal film ini juga mampu dihadirkan dalam tata produksi yang kuat. Tata sinematografi yang tampil glossy serta pemilihan musik yang benar-benar menghidupkan atmosfer playful dalam jalan cerita film menjadi dua elemen teknikal paling kuat dalam film yang akan sanggup membuat penontonnya kembali menghargai kehadiran Will Smith. Welcome back, Mr. Smith! [B-]

Focus (2015)

Directed by Glenn Ficarra, John Requa Produced by Denise Di Novi Written by Glenn Ficarra, John Requa  Starring Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Gerald McRaney, B. D. Wong, Robert Taylor, Dominic Fumusa, Brennan Brown, Griff Furst, Adrian Martinez, Alfred Tumbley Music by Nick Urata Cinematography Xavier Pérez Grobet Edited by Jan Kovac Production company Zaftig Films/Di Novi Pictures/Kramer & Sigman Films/Overbrook Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)

Sesuai dengan kesan yang akan didapatkan penonton ketika membaca judul film ini, Crazy, Stupid, Love. mencoba untuk menggabungkan elemen drama, komedi dan romansa ke dalam sebuah jalinan kisah yang berdurasi sepanjang 118 menit. Berhasil? Sebagai sebuah komedi, Crazy, Stupid, Love. cukup mampu untuk tampil stabil di berbagai bagian ceritanya. Didukung dengan penampilan apik para jajaran pemerannya serta naskah cerita yang berisi deretan dialog menghibur dan ditulis oleh Dan Fogelman (Cars 2, 2011), Crazy, Stupid, Love. harus diakui berhasil memberikan banyak momen-momen menyenangkan bagi penontonnya. Sayangnya, usaha untuk melebarkan sayap ke wilayah drama romansa seringkali berakhir dengan kegagalan akibat terlalu banyaknya sisi cerita yang ingin dikembangkan yang berakibat kurang fokusnya penceritaan yang disampaikan kepada penonton.

Continue reading Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)