Tag Archives: John Ortiz

Review: Blackhat (2015)

blackhat-posterSebagai produk dari seseorang yang telah duduk di kursi penyutradaraan semenjak akhir tahun ‘70an dan kini (pernah?) dianggap sebagai salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Hollywood, Blackhat terasa begitu berantakan. Merupakan film perdana arahan Michael Mann setelah merilis Public Enemies di tahun 2009 lalu, Blackhat mengisahkan mengenai perjalanan seorang peretas yang direkrut oleh lembaga intelijen Amerika Serikat dan China untuk menangkap seorang peretas yang telah menerobos sistem keamanan internet di kedua negara dan diduga memiliki sebuah rencana lebih besar lagi untuk menyebabkan kekacauan di berbagai belahan dunia. Untuk Mann yang pernah sukses menggarap film-film crime thriller seperti The Thief (1981), Manhunter (1986), Heat (1995) dan Collateral (2004), premis yang dimiliki Blackhat jelas merupakan lahan yang familiar untuk digarap. So what went wrong?

Semuanya. Mari mulai dengan naskah cerita Blackhat yang digarap Mann bersama dengan Morgan Davis Foehl. Meskipun berisi berbagai istilah dan taktik peretasan yang cukup akurat, namun naskah cerita Blackhat sama sekali tidak mampu mengembangkan berbagai ide yang ditampungnya – Politik! Isu sosial! Ekonomi! Keamanan! – untuk menjadi sebuah kesatuan cerita yang utuh. Ada banyak hal yang coba diceritakan Mann dalam Blackhat namun tak satupun bagian tersebut mampu disajikan menjadi penceritaan yang menarik. Tata pengarahan Mann juga terasa begitu datar. Setiap bagian elemen penceritaan terkesan diarahkan begitu saja tanpa terasa adanya hasrat yang kuat untuk menjadikan film crime thriller ini menjadi sebuah sajian yang dapat menggigit kuat setiap penontonnya.

Yang lebih membuat 133 menit perjalanan Blackhat terasa begitu menjemukan adalah keberadaan deretan karakter yang sama tidak menariknya dengan kualitas eksekusi jalinan cerita film ini. Selain karakter Nicholas Hathaway yang diperankan oleh Chris Hemsworth, tak satupun dari karakter-karakter pendukung mendapatkan porsi penggalian karakter yang pas. Padahal, merujuk pada peran karakter mereka di dalam cerita, karakter-karakter tersebut harusnya mampu mendapatkan perhatian lebih. Sebagai contoh, lihat bagaimana karakter Chen Lien yang diperankan Tang Wei. Karakter ini dikisahkan sebagai karakter wanita yang begitu cerdas dalam dunia internet dan kemudian ditunjuk sang kakak, Chen Dawai yang diperankan Wang Leehom, untuk membantunya dalam pemecahan sebuah kasus. Pada kenyataannya, karakter Chen Lien kemudian sama sekali tidak mampu terlihat cerdas, seringkali hanya dijadikan pemanis dan teman tidur bagi sang karakter utama, Nicholas Hathaway. Tidak lebih. Begitu juga dengan karakter antagonis utama yang semenjak awal film hanya ditampilkan sebagai sesosok siluet. Begitu karakter tersebut mulai dieksplorasi lebih oleh Mann dalam jalan cerita Blackhat, karakter tersebut justru tampil dengan porsi penceritaan yang begitu terbatas dan (sangat) tidak berarti. Terasa pointless.

Dengan kualitas penulisan karakter yang dangkal, jelas kemampuan deretan pengisi departemen akting yang berisi nama-nama seperti Hemsworth, Viola Davis hingga Wang Leehom dan Tang Wei terbuang dengan percuma. Davis mungkin satu-satunya yang masih berusaha berakting di film ini. Kemampuan yang, jika dibandingkan dengan penampilan para pemeran lain di Blackhat, membuat penampilan Davis terasa berlebihan di banyak bagian. Hemsworth juga terlihat berusaha kuat untuk menjadikan karakternya meyakinkan – seorang peretas dengan tubuh dan kemampuan laga dari seorang pemeran film pahlawan super Hollywood? Namun, sayangnya, tak peduli bagaimana usaha Hemsworth, karakternya tetap jatuh sebagai sesosok karakter yang terlihat menggelikan.

Jika ada beberapa bagian dimana Blackhat mampu terasa menarik, maka bagian tersebut adalah ketika film ini menyajikan beberapa adegan aksinya. Disinilah Mann benar-benar menunjukkan tajinya. Dengan menggunakan teknik pengambilan gambar menggunakan handheld camera untuk menghasilkan adegan-adegan yang terasa berguncang, adegan aksi dalam Blackhat berhasil tampil dengan kesan nyata yang luar biasa mendalam. Tetap saja. Sekelumit adegan tersebut tidak akan mampu menyelamatkan keseluruhan kualitas Blackhat yang jelas-jelas akan menjadi salah satu catatan buruk (dan memalukan) dalam filmografi seorang Michael Mann. [D]

Blackhat (2015)

Directed by Michael Mann Produced by Thomas Tull, Michael Mann, Jon Jashni Written by Morgan Davis Foehl, Michael Mann Starring Chris Hemsworth, Tang Wei, Viola Davis, Wang Leehom, Manny Montana, William Mapother, Holt McCallany, Archie Kao, Jason Butler Harner, John Ortiz, Ritchie Coster, Andy On Music by Harry Gregson-Williams, Atticus Ross Cinematography Stuart Dryburgh Edited by Joe Walker, Stephen Rivkin, Jeremiah O’Driscoll, Mako Kamitsuna Studio Legendary Pictures/Forward Pass Running time 133 minutes Country United States Language English

Review: Fast and Furious 6 (2013)

fast-and-furious-6-header

Terakhir kali penonton menyaksikan petualangan duo karakter Dominic Toretto dan Brian O’Conner dalam Fast Five (2011), keduanya, bersama dengan segerombolan rekan-rekannya, sedang berada di Rio de Janeiro, Brazil dan sedang berada di bawah pengejaran seorang agen rahasia bernama Luke Hobbs (Dwayne Johnson), akibat kejahatan pencurian mobil-mobil mewah yang mereka lakukan. Terdengar seperti… errrOcean’s Eleven (2001)? Well… jika Fast Five adalah Ocean’s Eleven dari franchise The Fast and the Furious, maka Fast and Furious 6, atau yang juga dikenal dengan judul Furious 6, adalah Ocean’s Twelve (2004) dengan menggunakan lini penceritaan yang sama dimana karakter Hobbs kini berbalik kepada pasangan Dominic Toretto dan Brian O’Conner untuk membantunya dalam menyelesaikan sebuah kejahatan. Yep. Hollywood is definitely in the danger of running out their original ideas.

Continue reading Review: Fast and Furious 6 (2013)

Review: Silver Linings Playbook (2012)

silver-linings-playbook-header

Selepas keberhasilannya dalam mengarahkan The Fighter (2010) – yang berhasil meraih sukses komersial dengan total pendapatan lebih dari US$129 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus film dunia dan meraih 6 nominasi di ajang The 83rd Annual Academy Awards, termasuk untuk kategori Best Director – David O. Russell kembali hadir dengan film terbarunya, Silver Linings Playbook. Diadaptasi oleh Russell dari sebuah novel karya Matthew Quick yang berjudul sama, filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan antara seorang pria dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki ketidakstabilan emosional… dan awalnya terlihat saling tidak menyukai satu sama lain… dan kemudian berusaha saling membantu kekurangan diri masing-masing… and finallyyou guessed it! Keduanya terlibat dalam hubungan asmara. Yep. Silver Linings Playbook is indeed a romantic comedy. Tapi apakah Russell mampu menggarap Silver Linings Playbook menjadi sebuah komedi romantis yang lebih dari sekedar… well… komedi romantis?

Continue reading Review: Silver Linings Playbook (2012)

Review: Jack Goes Boating (2010)

Jack Goes Boating adalah sebuah film komedi romantis yang mengisahkan mengenai cinta, pengkhianatan dan persahabatan yang terjalin antara dua pasangan yang berasal dari kota New York, Amerika Serikat. Sebuah tema yang cukup banyak untuk dibawakan bagi sebuah debut penyutradaraan yang dilakukan oleh aktor pemenang Academy Awards, Philip Seymour Hoffman. Walau begitu, berbekal dengan pengalamannya dalam membintangi versi drama teater dari kisah film ini, Hoffman sepertinya mampu menerjemahkan seluruh elemen unik yang ada dalam jalan cerita Jack Goes Boating dengan cukup baik. Walau harus diakui, keberhasilan itu sendiri sebagian besar didorong akibat performa para jajaran pemeran film ini yang begitu tanpa cela.

Continue reading Review: Jack Goes Boating (2010)