Tag Archives: John C. Reilly

Review: Kong: Skull Island (2017)

Setelah Godzilla (Gareth Edwards, 2014), rumah produksi Legendary Pictures melanjutkan ambisinya dalam membangun MonsterVerse dengan Kong: Skull Island. Film yang diarahkan oleh Jordan Vogt-Roberts (The Kings of Summer, 2013) ini merupakan reboot dari seri film King Kong yang pertama kali diproduksi Hollywood pada tahun 1933 dan sempat memiliki sejumlah sekuel sekaligus diulangbuat beberapa kali. Pengisahan Kong: Skull Island sendiri memiliki perspektif yang berbeda jika dibandingkan dengan film-film dalam seri King Kong sebelumnya – meskipun masih tetap menghadirkan beberapa tribut terhadap alur kisah klasik King Kong dalam beberapa adegan maupun konfliknya. Namun, tidak seperti Godzilla garapan Edwards yang cukup mampu membagi porsi penceritaan antara karakter-karakter manusia dengan monster-monster yang dihadirkan, Kong: Skull Island justru terasa lebih menginginkan agar penonton berfokus penuh pada karakter Kong dan kehidupan yang berada di sekitarnya. Sebuah pilihan yang kemudian membuat karakter-karakter manusia dalam jalan penceritaan film ini menjadi sama sekali tidak berguna kehadirannya. Continue reading Review: Kong: Skull Island (2017)

Review: Sing (2016)

Di sepanjang karirnya sebagai seorang sutradara musik video, Garth Jennings telah menghasilkan beberapa musik video yang cukup mengesankan seperti Freedom (Robbie Williams, 1996), Right Here, Right Now (Fatboy Slim, 1999), Coffee & TV (Blur, 1999) hingga Imitation of Life (R.E.M., 2001) dan Lotus Flower (Radiohead, 2011). Kesuksesannya tersebut lantas membuat Jennings mencoba peruntungannya dalam mengarahkan film layar lebar. Film layar lebar perdana yang ia arahkan, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (2005), mendapatkan sambutan yang cukup beragam, baik dari kalangan kritikus maupun para penikmat film. Film keduanya, Son of Rambow (2007), bernasib sedikit lebih baik. Meskipun gagal untuk mendapatkan jumlah penonton dalam jumlah yang lebih luas, film komedi tersebut cukup berhasil membuat banyak kritikus film memberikan pujian pada Jennings. Continue reading Review: Sing (2016)

Review: Wreck-It Ralph (2012)

Walt Disney Animation Studios sepertinya telah banyak belajar begitu banyak hal dari kerjasama mereka dengan Pixar Animation Studios. Setelah film-film animasi seperti Tangled (2010) dan The Princess and the Frog (2009), yang masih mempertahankan pola penceritaan tradisional khas Walt Disney namun mulai mendekati tampilan visual khas Pixar, Wreck-It Ralph sepertinya menandai masa dimana Walt Disney mulai mampu menghasilkan film animasi dengan jalan penceritaan yang lebih modern dan imajinatif namun, tentu saja, tetap mempertahankan kehangatan tampilan jalan cerita seperti yang selalu dilakukan film-film produksi Walt Disney sebelumnya. Sebuah paduan kuat yang jelas akan membuat bendera Walt Disney Animation Studios kembali berkibar di tengah panasnya persaingan film-film animasi di Hollywood.

Continue reading Review: Wreck-It Ralph (2012)

Review: We Need to Talk About Kevin (2011)

We Need to Talk About Kevin adalah sebuah penggambaran dari mimpi terburuk yang dapat dialami oleh para orangtua – bahkan lebih buruk dari apa yang digambarkan oleh Beautiful Boy, film bertema sama yang telah dirilis terlebih dahulu di awal 2011. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Lionel Shriver, We Need to Talk About Kevin akan memberikan kesempatan pada para penontonnya untuk menyelami deretan nasib buruk yang dialami satu pasangan orangtua dalam menghadapi anak mereka. Lynne Ramsay (Morvern Callar, 2002) menghadirkan kisah kompleks yang ditulis Shriver dengan alur yang acak, mencoba untuk menghadirkan setiap detil kehidupan para karakternya sehingga para penonton dapat menganalisa apa yang salah dari potret sebuah kisah keluarga yang mereka saksikan untuk kemudian akan merasa dihantui oleh kisah tragis yang baru saja mereka ikuti.

Continue reading Review: We Need to Talk About Kevin (2011)

Review: Carnage (2011)

Ada sebuah alasan mengapa Carnage mampu menjadi sebuah film dengan penceritaan yang tertata rapi, intensitas yang terjaga dan bekerja dengan sangat sempurna sebagai sebuah komedi satir: Roman Polanski. Diadaptasi dari drama panggung berjudul God of Carnage karya Yasmina Reza, Carnage sebenarnya bukanlah sebuah film yang tepat bagi seorang sutradara untuk menunjukkan kemampuan penyutradaraannya. Carnage adalah sebuah film yang memiliki jalan cerita yang menggantungkan dirinya pada kemampuan para aktor pemeran karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita tersebut untuk dapat menghidupkan intensitas cerita – dan dengan keberadaan nama-nama seperti Jodie Foster, Kate Winslet, Christoph Waltz dan John C. Reilly, Polanski hampir dapat dikatakan sama sekali tidak perlu melakukan sebuah usaha yang berarti. Namun, Carnage membutuhkan seorang sutradara yang mampu merangkai kemampuan akting para jajaran pemeran dengan satuan intensitas cerita yang ingin disampaikan. Untuk hal tersebut, Roman Polanski telah berhasil melakukan sebuah tugas yang cemerlang!

Continue reading Review: Carnage (2011)

Review: Cedar Rapids (2011)

Kisah mengenai seorang karakter yang lugu dan naif dalam menatap dunia untuk kemudian dipermainkan beberapa karakter lainnya hingga akhirnya masing-masing karakter mampu memperoleh pelajaran hidup dari satu sama lain mungkin adalah sebuah kisah yang telah terlalu familiar di Hollywood. Di tangan seorang sutradara yang tidak memiliki kemampuan khusus, kisah tersebut bisa saja berakhir dengan berjalan terlalu predictable dan monoton. Untungnya, Miguel Arterta (Youth in Revolt, 2009) bukanlah salah satu sutradara yang berada di golongan tersebut. Dengan bantuan naskah karya Phil Johnston dan akting prima dari Ed Helms (The Hangover, 2009), ia mampu menghasilkan Cedar Rapids yang memiliki jalan kisah familiar namun mampu tampil begitu segar, kocak sekaligus menyentuh di beberapa bagian kisahnya.

Continue reading Review: Cedar Rapids (2011)