Tag Archives: Jim Broadbent

Review: Paddington (2014)

paddington-posterIt’s seriously going to be really, really hard to not to fall in love with Paddington.

Baiklah. Harus diakui, sebagai sebuah film keluarga, Paddington tidak memberikan sebuah sajian yang benar-benar baru maupun segar dalam penceritaannya: sebuah keluarga bertemu dengan seorang yang asing, awalnya menjaga jarak terhadap dirinya namun secara perlahan mulai merasakan bahwa sang orang asing adalah sosok anggota keluarga yang akhirnya tidak dapat dilepaskan keberadaannya – khususnya setelah adanya ancaman yang dapat memisahkan kebersamaan mereka. Sebuah formula film-film petualangan yang ditujukan bagi pasar penonton keluarga khas Hollywood.

Adalah tangan dingin produser David Heyman – orang yang juga bertanggungjawab atas keberadaan seri film Harry Potter (2001 – 2011) – dan sutradara Paul King yang berhasil mengolah formula khas tersebut untuk tetap menjadi sajian yang begitu menyenangkan untuk dinikmati dalam Paddington. Seperti layaknya seri Harry Potter, Paddington diberkahi talenta-talenta akting asal Inggris yang sangat mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Tidak lupa, Paddington juga memanfaatkan latar belakang lokasi cerita yang berada di kota London dengan sangat maksimal sehingga mampu menjadi bagian penunjang tersendiri bagi kualitas penceritaan film. Paul King, yang bersama dengan Hamish McColl mengadaptasi kisah Paddington dari buku cerita anak-anak klasik berjudul Paddington Bear karya Michael Bond, juga berhasil mengisi naskah cerita Paddington dengan deretan guyonan (juga khas Inggris) yang cukup segar. Meskipun pengarahan King terasa statis di beberapa pojokan cerita namun Paddington sama sekali tidak pernah berubah kaku ataupun lamban dalam perjalanannya.

Di barisan departemen akting, nama-nama seperti Sally Hawkins, Julie Walters, Madeleine Harris, Samuel Joslin dan Hugh Bonneville berhasil tampil dengan chemistry yang hangat sekaligus meyakinkan untuk terasa sebagai sebuah satuan keluarga – plus dengan Bonneville yang terlihat lancar dang sangat menghibur dalam menghadirkan deretan one liner yang diberikan bagi karakternya. Nicole Kidman juga tampak bersenang-senang dengan peran antagonisnya dalam film ini. Aktor Ben Whishaw juga terdengar sangat nyaman dalam mengisisuarakan karakter Paddington. Whishaw berhasil menjadikan Paddington sebagai sosok yang begitu familiar dan likable bagi setiap penonton film. Berbicara mengenai Paddington, pujian khusus juga layak diberikan bagi tim efek khusus film yang berhasil menciptkan karakter para beruang, Paddington dan keluarganya, dengan begitu nyata. Tidak istimewa namun Paddington cukup menyenangkan untuk menjadi sebuah sajian yang akan mampu dinikmati kalangan penonton muda sekaligus para penonton dewasa. [B-]

Paddington (2014)

Directed by Paul King Produced by David Heyman Written by Paul King, Hamish McColl (screenplay), Michael Bond (book, Paddington Bear) Starring Hugh Bonneville, Sally Hawkins, Madeleine Harris, Samuel Joslin, Julie Walters, Jim Broadbent, Peter Capaldi, Nicole Kidman, Tim Downie, Simon Farnaby, Matt Lucas, Ben Whishaw, Michael Gambon, Imelda Staunton Music by Nick Urata Cinematography Erik Wilson Edited by Mark Everson Studio Heyday Films/StudioCanal Running time 95 minutes Country United Kingdom, France Language English

Review: Cloud Atlas (2012)

cloud-atlas-header

Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.

Continue reading Review: Cloud Atlas (2012)

Review: The Iron Lady (2011)

The Iron Lady adalah sebuah film biopik yang mengisahkan mengenai perjalanan hidup Margaret Thatcher, salah satu tokoh politik wanita paling berpengaruh di dunia yang berhasil mencatatkan sejarah sebagai wanita pertama yang menduduki kursi Perdana Menteri di Inggris dan kemudian menjabat posisi tersebut selama lebih dari satu dekade. Jelas, dalam masa kepemimpinan yang panjang tersebut, Inggris telah melalui begitu banyak gejolak maupun intrik politik, ekonomi dan sosial dalam tatanan pemerintahan dan masyarakatnya. Pun begitu, The Iron Lady, yang diarahkan oleh Phyllida Lloyd (Mamma Mia!, 2008) dengan naskah yang dituliskan oleh Abi Morgan (Shame, 2011), sama sekali tidak memiliki kedalaman apapun dalam penceritaannya yang mampu membuat kehidupan Thatcher – yang dipenuhi banyak drama baik dalam kehidupan politik maupun pribadinya – terlihat menarik untuk disaksikan dalam sebuah film yang berdurasi sepanjang 105 menit.

Continue reading Review: The Iron Lady (2011)

Review: Arthur Christmas (2011)

Bahkan seorang Santa Claus tidak mampu menolak fakta bahwa kemajuan teknologi dapat membantu dalam kesehariannya… termasuk dalam tugas vitalnya untuk membagikan seluruh bingkisan yang ia miliki untuk para anak-anak yang telah berkelakuan baik selama satu tahun terakhir di seluruh penjuru dunia. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh Arthur Christmas. Berkat anaknya yang paling tua – dan kini sedang bersiap untuk menggantikan posisinya, Steve (Hugh Laurie), pria yang saat ini sedang menjabat posisi sebagai Santa Claus (Jim Broadbent) telah mengadopsi teknologi canggih yang mampu membuatnya dan sekelompok besar pembantunya untuk menghantarkan setiap bingkisan yang ia miliki kepada setiap anak di seluruh dunia dengan tepat waktu sebelum masa perayaan Natal dimulai. Namun, seiring dengan waktu, pemanfaatan teknologi tersebut membuat masa pembagian bingkisan-bingkisan tersebut menjadi kurang berkesan… dan hanya sekedar menjadi sebuah tugas dan kewajiban belaka. Kini, bagi sang Santa Claus sendiri, Natal tak lebih dari sekedar sebuah roda bisnis yang harus ia jalani.

Continue reading Review: Arthur Christmas (2011)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

This is it! Setelah sebuah usaha untuk sedikit memperpanjang usia franchise film Harry Potter dengan membagi dua bagian akhir dari kisah Harry Potter and the Deathly Hallows, dunia kini tampaknya harus benar-benar mengucapkan salam perpisahan mereka pada franchise yang telah berusia satu dekade dan memberikan tujuh seri perjalanan yang mengagumkan ini. Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 memiliki nada penceritaan yang menyerupai bagian awal kisahnya – yang sekaligus membuktikan bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah kesatuan penceritaan yang unik sekaligus akan memberikan efek emosional yang lebih mendalam jika diceritakan dalam satu bagian utuh. Pun begitu, dengan apa yang ia hantarkan di …The Deathly Hallows – Part 2, David Yates akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang tentang bagaimana final dari salah satu kisah yang paling dicintai di muka Bumi akan berakhir: EPIK!

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

Because It’s Good for Your Mind!: How Moulin Rouge! Stays on Top After a Decade Later

Di tahun 1899, Christian (Ewan McGregor) pindah ke daerah Montmare, Paris, guna mengejar mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Secara tidak sengaja, ia kemudian terlibat dalam proses penulisan sebuah drama berjudul Spectacular Spectacular yang ditujukan untuk dijual dan ditampilkan di Moulin Rouge, sebuah klub malam paling eksklusif yang ada di kota Paris. Secara tidak sengaja pula, Christian berkenalan dengan Satine (Nicole Kidman), seorang courtesan dari Moulin Rouge yang paling populer karena kecantikannya. Sederhana, dua manusia ini kemudian jatuh cinta… namun kemudian harus menghadapi tantangan dari The Duke of Monroth (Richard Roxburgh) yang semenjak lama telah bernafsu untuk memiliki Satine.

Continue reading Because It’s Good for Your Mind!: How Moulin Rouge! Stays on Top After a Decade Later

Review: Another Year (2010)

Bagi sebagian orang, hidup berjalan dengan begitu indah dan lancar, bahkan tanpa mereka mengusahakannya sekalipun. Bagi sebagian lainnya, kebahagiaan dan manisnya hidup dapat diraih setelah mereka berhasil mengatasi berbagai rintangan dan tantangan yang mereka dapati di dalam keseharian hidup mereka. Namun, sayangnya, hidup tak selalu berakhir dengan kebahagiaan. Bagi sebagian orang lainnya, tak peduli seberapa keras usaha mereka dalam mewujudkan kebahagiaan, harus mengakhiri perjalanan hidup mereka dalam kegagalan, kesedihan maupun kesendirian.

Continue reading Review: Another Year (2010)