Tag Archives: Jennifer Ehle

Review: The Forger (2015)

the-forger-posterDalam The Forger, John Travolta berperan sebagai seorang narapidana bernama Raymond Cutter yang meminta bantuan rekannya, Keegan (Anson Mount), untuk membebaskannya dari penjara agar dirinya dapat menemani puteranya, Will (Tye Sheridan), yang sedang menderita kanker. Keegan dengan senang hati membantu Raymond dengan cara menyuap jaksa yang menangani kasus pemalsuan barang-barang seni yang melibatkan Raymond. Namun, jelas, bantuan tersebut tidak diberikan Keegan secara percuma. Keegan lantas meminta Raymond untuk memalsukan lukisan Woman in Parasol karya pelukis tersohor asal Perancis, Claude Monet, sekaligus mencuri lukisan aslinya dari museum tempat lukisan tersebut sedang dipamerkan. Terjebak, Raymond justru kemudian mendapatkan bantuan dari ayahnya, Joseph (Christopher Plummer), dan puteranya sendiri agar dapat terlepas dari jeratan Keegan.

Merupakan debut penyutradaraan film layar lebar bagi sutradara Philip Martin, The Forger sebenarnya menyimpan potensi sajian cerita yang cukup menarik dan menyenangkan lewat tawaran premis mengenai tiga generasi yang saling bersatu untuk melakukan sebuah pencurian benda seni. Naskah garapan Richard D’Ovidio (The Call, 2013) sendiri juga mampu mengeksplorasi hubungan ayah dan anak yang terjalin antara ketiga karakter utamanya. Bukan sebuah penggarapan cerita yang benar-benar terasa segar dan baru namun tetap mampu menjadi poin paling menarik dalam jalinan kisah The Forger. Baik Martin maupun D’Ovidio sepertinya berusaha menjadikan The Forger sebagai sajian drama yang berkesan tangguh dan jauh dari rasa sentimental berlebihan – yang kadang membuat The Forger kurang mampu untuk mengangkat kedalaman hubungan emosional antara karakter-karakternya. Namun secara kesleuruhan, Martin mampu mengemas film ini sebagai sebuah drama keluarga yang baik.

Di sisi lain, The Forger sama sekali gagal untuk terlihat meyakinkan ketika film ini berusaha untuk mengangkat sisi heist movie dari dalam pengisahannya. Kisah karakter Raymond, Joseph dan Will Cutter yang menyusun rencana dalam usaha mereka untuk menembus jaringan keamanan sebuah museum guna mencuri sebuah lukisan Claude Monet terkesan hanyalah sebuah tempelan plot belaka akibat ketidakmampuan D’Ovidio untuk menggali konflik tersebut lebih dalam. Hasilnya, plot pencurian yang harusnya mampu menjadi highlight tersendiri bagi film ini di paruh ketiga penceritaan akhirnya harus tampil datar dan berlalu begitu saja. Beberapa keluhan mungkin juga muncul atas kurangnya penggalian kisah beberapa karakter pendukung yang sebenarnya memegang peranan penting pada karakter maupun jalinan kisah utama. Tidak sampai menjadikan The Forger tampil demikian buruk namun jelas terasa sebagai potensi yang terbuang dengan percuma.

Departemen akting The Forger sendiri tampil dengan kualitas yang memuaskan – meskipun harus diakui jauh dari kesan istimewa. Jelas rasanya tidak adil untuk melihat aktor sekaliber Christopher Plummer, Jennifer Ehle maupun Tye Sheridan – yang tampil sangat, sangat bersinar dalam The Tree of Life (Terrence Malick, 2011), Mud (Jeff Nichols, 2012) dan Joe (David Gordon Green, 2013) – hadir dengan kapasitas yang cukup terbatas dalam film ini. Pun begitu, disandingkan dengan penampilan Joe Travolta yang tidak mengecewakan, jajaran pemeran film ini setidaknya mampu menjadikan film yang dapat saja tampil dengan kualitas yang klise dan benar-benar buruk menjadi sebuah sajian drama sederhana yang cukup layak untuk disaksikan. [C-]

The Forger (2015)

Directed by Philip Martin Produced by Rob Carliner, Al Corley, Eugene Musso, Bart Rosenblatt Written by Richard D’Ovidio Starring John Travolta, Christopher Plummer, Abigail Spencer, Jennifer Ehle, Tye Sheridan, Victor Gojcaj, Anson Mount, Marcus Thomas, Travis Aaron Wade Cinematography John Bailey Editing by Peter Boyle, Joan Sobel Studio Saban Films Running time 92 minutes Country United States Language English

Review: RoboCop (2014)

RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)
RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)

Ketika dirilis pada tahun 1987, RoboCop yang disutradarai oleh Paul Verhoeven tidak hanya mampu mencuri perhatian para penikmat film dunia karena keberhasilan Verhoeven mewujudkan imajinasinya mengenai kehidupan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, sama seperti film-film arahan Verhoeven lainnya, RoboCop hadir dengan deretan adegan bernuansa kekerasan yang kental namun mampu diselimuti dengan naskah cerita yang begitu cerdas dalam memberikan satir tajam mengenai kehidupan sosial masyarakat dunia di saat tersebut. Keunikan itulah yang kemudian berhasil membawa RoboCop meraih kesuksesan baik secara kritikal – dimana RoboCop berhasil meraih dua nominasi di kategori Best Film Editing dan Best Sound Mixing serta memenangkan penghargaan khusus di kategori Best Sound Effects Editing pada ajang The 60th Annual Academy Awards – maupun komersial serta dilanjutkan dengan dua seri film lanjutan (1990, 1993), serial televisi, dua serial televisi animasi, miniseri televisi, permainan video dan sejumlah adaptasi komik.

Continue reading Review: RoboCop (2014)

Review: The Ides of March (2011)

Dalam drama Julius Caesar yang ditulis oleh William Shakespeare, seorang peramal mengingatkan akan datangnya sebuah bahaya terhadap kekuasaan dan keselamatan Julius Caesar dengan mengucapkan kalimat, “Beware of the ides of March.” Istilah the ides of March, yang arti awalnya merupakan sebuah sebutan bagi masa ketika penanggalan bulan Maret telah mencapai masa pertengahannya, kemudian memiliki pergeseran arti ketika Julius Caesar akhirnya menemui the ides of March tersebut: ia dikhianati dan dibunuh oleh sekelompok anggota senat yang dipimpin oleh Marcus Junius Brutus. The Ides of March, yang menandai kali keempat aktor pemenang Academy Awards, George Clooney, menyutradarai sebuah film layar lebar, bukanlah sebuah film yang mengadaptasi Julius Caesar. Namun, The Ides of March berbagi tema yang serupa dengan karya klasik Shakespeare tersebut: sebuah cerita yang berisi intrik politik hitam dimana deretan karakternya saling berkonspirasi, melakukan pengkhianatan dan berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain.

Continue reading Review: The Ides of March (2011)

Review: Contagion (2011)

Adalah mudah untuk mendapatkan banyak bintang tenar untuk membintangi setiap film yang akan Anda produksi. Sepanjang Anda memiliki biaya produksi yang mencukupi, rasanya proses pemilihan aktor maupun aktris manapun yang Anda kehendaki tidak akan menemui masalah yang terlalu besar. Yang menjadi permasalahan, tentunya, adalah bagaimana Anda akan membagi dan memanfaatkan setiap talenta yang telah Anda dapatkan dalam jalan cerita film yang akan Anda produksi. Seperti yang telah dibuktikan oleh banyak film-film yang menampilkan jajaran pemeran yang terdiri dari nama-nama besar di Hollywood, kebanyakan dari talenta-talenta tersebut tampil kurang maksimal akibat minimnya karakterisasi dari peran yang harus mereka tampilkan. Pun begitu, jika Anda adalah Steven Soderbergh – yang telah mengumpulkan seluruh isi Hollywood dalam film-film seperti Traffic (2000) hingga The Ocean Trilogy (2001 – 2007) – Anda tahu bahwa Anda memiliki detil yang kuat untuk menampilkan setiap sisi terbaik dari kemampuan akting talenta pengisi film Anda.

Continue reading Review: Contagion (2011)

Review: The King’s Speech (2010)

Baiklah, sebuah film dengan latar belakang cerita mengenai keluarga kerajaan Inggris, ditata dengan tata artistik yang sangat rapi dan begitu memikat, tata sinematografi yang begitu indah, tata kostum yang tak kalah menariknya, tata musik yang mengisi jiwa di setiap adegannya dan, tentu saja, deretan aktor dan aktris Inggris yang mampu menghidupkan setiap karakternya. Tanpa cela. Namun, deretan keberhasilan tersebut telah mampu dicapai banyak film sebelumnya. Apa yang membuat The King’s Speech begitu istimewa? Bukan. Bukan karena film ini memasukkan Inggris dimasa-masa menjelang Perang Dunia II atau karena film ini bercerita mengenai bagaimana cara King George VI menghadapi kesulitannya dalam berbicara. Bagian tersebut memang sangat menarik, namun tak ada faktor yang membuat The King’s Speech tampil begitu mempesona selain dari kisah persahabatan yang terbentuk antara King George VI dan terapisnya, Lionel Logue, yang akan mampu menyentuh siapapun yang menyaksikannya.

Continue reading Review: The King’s Speech (2010)

The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Winners List

Kemenangan The Social Network di ajang The 68th Annual Golden Globe Awards, yang sepertinya akan memastikan langkah film arahan David Fincher tersebut untuk meraih banyak penghargaan di ajang The 83rd Academy Awards mendatang, secara perlahan mulai mulai mendapatkan persaingan ketat dari film arahan sutradara Tom Hooper, The King’s Speech. Setelah The King’s Speech diumumkan sebagai film yang meraih nominasi terbanyak di ajang Academy Awards, berturut-turut, momentum kemenangan film tersebut mulai terupa di berbagai ajang penghargaan lainnya, termasuk dengan kemenangan Tom Hooper di ajang Directors Guild Awards baru-baru ini.

Continue reading The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Winners List

The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Nominations List

Columbia Pictures sepertinya harus melakukan kampanye yang lebih giat lagi untuk mempromosikan film David Fincher, The Social Network, jika mereka tidak menginginkan film tersebut secara perlahan mulai tenggelam oleh kepopuleran The King’s Speech maupun The Fighter. Setelah “hanya” berhasil memperoleh enam nominasi di ajang The 68th Annual Golden Globe Awards, perolehan nominasi The Social Network di ajang The 17th Annual Screen Actors Guild Awards kali ini juga hanya mampu berdiri di belakang The King’s Speech dan The Fighter. Jika kedua film tersebut berhasil memimpin dengan meraih empat nominasi, maka The Social Network harus berpuas diri dengan hanya meraih dua nominasi.

Continue reading The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Nominations List