Tag Archives: James Wan

Review: Fast and Furious 7 (2015)

fast-and-furious-7-posterMeskipun lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang menghasilkan film-film horor seperti Saw (2004), Dead Silence (2007), Insidious (2011) dan The Conjuring (2013), James Wan sebenarnya pernah menginjakkan kakinya ke ranah film aksi ketika ia mengarahkan Death Sentence pada tahun 2007. Sayang, selain film tersebut gagal untuk meraih keuntungan komersial seperti film-film horornya, kritikus film dunia sepertinya juga tidak begitu terkesan dengan film yang dibintangi Kevin Bacon tersebut. Namun, film aksi kedua arahan Wan sepertinya tidak akan dilupakan begitu saja oleh penikmat film dunia: film tersebut dibintangi oleh nama-nama besar bintang aksi Hollywood, memiliki efek visual yang mengagumkan dan menjadi bagian dari salah satu seri film aksi terlaris di dunia sepanjang masa. A little indie movie called Fast and Furious 7.

Jika Fast and Furious 6 memiliki linimasa penceritaan yang berada diantara 2 Fast 2 Furious (2003) dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006), maka film yang naskah ceritanya masih digarap oleh Chris Morgan ini memiliki latarbelakang waktu penceritaan tepat setelah The Fast and the Furious: Tokyo Drift – termasuk dengan mengikutsertakan aktor film tersebut, Lucas Black, yang seringkali terlupakan keberadaannya dalam seri film ini. Kisahnya sendiri dimulai ketika Deckard Shaw (Jason Statham), yang merupakan kakak dari Owen Shaw (Luke Evans) yang telah dikalahkan oleh Dominic Toretto (Vin Diesel), Brian O’Conner (Paul Walker) dan rekan-rekannya di seri sebelumnya, berusaha menuntut balas terhadap kawanan tersebut. Dom dan Brian yang sebenarnya telah berusaha untuk meninggalkan masa lalunya akhirnya terpaksa kembali melakukan aksinya setelah Deckard Shaw mulai membahayakn diri keluarga dan rekan-rekan yang dekat dekat dengan mereka.

Harus diakui, melalui Fast and Furious 7, Wan membuktikan dirinya adalah seorang sutradara aksi yang begitu handal dalam menangani deretan adegan aksi yang brutal sekaligus membutuhkan ritme penceritaan yang sangat cepat. Memadukan sajian ledakan-ledakan spektakuler a la film-film aksi Michael Bay dengan pertarungan seni bela diri yang mungkin mengingatkan sebagian penonton pada The Raid (2012) arahan Gareth Huw Evans, Fast and Furious 7 tampil begitu dinamis sebagai sebuah film aksi. Wan juga berhasil mengarahkan para pengisi departemen aktingnya dengan sangat baik. Sebuah tugas mudah mengingat nama-nama seperti Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Tyrese Gibson dan Chris Bridges tentu saja telah mengenal dunia penceritaan seri film ini dengan baik. Jelas menjadi salah satu bagian dengan penggarapan terbaik dalam seri film ini yang akan sanggup membuat banyak penontonnya berdecak kagum.

Di sisi lainnya, sangat sulit untuk menyangkal bahwa Fast and Furious 7 dihadirkan secara (terlalu) berlebihan dalam penanganan ceritanya. Kisah yang semenjak seri sebelumnya telah dicanangkan menjadi ajang perburuan terhadap Deckard Shaw yang diperankan oleh Jason Statham ternyata kemudian mendapatkan banyak distraksi dari beberapa karakter sekaligus konflik baru. Plot yang melibatkan Deckard Shaw kemudian seringkali terasa hanya menjadi sekedar tempelan belaka dengan Jason Statham hadir dalam penampilan yang begitu terbatas. Sialnya, plot dan karakter tambahan yang dihadirkan untuk film ini juga tidak tersaji dengan kualitas lebih baik. Adalah sangat dimengerti bahwa plot baru tersebut diciptakan untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi film ini dalam menyajikan adegan aksi spektakulernya. Namun ketika plot tersebut gagal untuk terkelola dengan baik, adegan-adegan ledakan tersebut akhirnya hanya dapat tampil megah tanpa pernah memberikan sensasi menegangkan yang lebih kuat.

Fast and Furious 7 sendiri menjadi seri film terakhir yang dibintangi oleh Paul Walker yang meninggal dunia pada tahun 2013 lalu. Dan seri ini memberikan sebuah ucapan selamat tinggal yang begitu manis bagi Walker. Meskipun hanya berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit di akhir film, adegan yang didekasikan pada Walker tersebut menjadi bagian paling emosional dalam sepanjang sejarah seri film Fast & Furious. Walker memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari seri film yang kepopulerannya telah mengalami pancaroba selama lebih dari satu dekade keberadaannya. Dan para pengisi departemen akting film ini jelas telah memberikan sebuah persembahan yang begitu manis pada rekannya tersebut. [C]

Fast and Furious 7 (2015)

Directed by James Wan Produced by Neal H. Moritz, Vin Diesel Written by Chris Morgan (screenplay), Gary Scott Thompson (characters) Starring Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Tyrese Gibson, Chris Bridges, Jason Statham, Lucas Black, Elsa Pataky, Kurt Russell, Tony Jaa, Ronda Rousey, Nathalie Emmanuel, Djimon Hounsou, John Brotherton, Ali Fazal, Noel Gugliemi, Iggy Azalea, Sung Kang, Luke Evans Music by Brian Tyler Cinematography Stephen F. Windon, Marc Spicer Editing by Christian Wagner, Leigh Folsim Boyd, Dylan Highsmith, Kirk M. Morri Studio Original Film/One Race Films/Relativity Media Running time 134 minutes Country United States Language English

Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Continue reading Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Review: The Conjuring (2013)

the-conjuring-header

Nama James Wan mungkin selamanya akan dikenal sebagai seorang penulis naskah sekaligus sutradara dari film Saw (2004) – sebuah film thriller yang sukses mencuri perhatian penikmat film dunia dan lalu berkembang menjadi sebuah franchise yang berisikan tujuh seri film sekaligus menyebarkan kembali virus torture porn di kalangan pembuat film Hollywood lainnya. Pun begitu, seperti yang dapat disaksikan lewat Dead Silence (2007) dan Insidious (2011), Wan kemudian memilih untuk menyajikan kengerian dalam film-film yang ia hadirkan berikutnya lewat formula horor tradisional yang lebih mengutamakan atmosfer penceritaan yang mencekam, intensitas ketegangan yang terjaga serta kejutan-kejutan horor daripada deretan adegan yang dipenuhi kekerasan, simbahan darah maupun potongan tubuh para karakter yang ada di dalam jalan cerita. Film teranyar arahan Wan, The Conjuring, sekali lagi mencoba untuk mengeksplorasi formula horor tradisional tersebut dalam memaparkan dua tema penceritaan horor yang familiar – rumah berhantu dan aksi pengusiran setan – dan menggabungkannya menjadi sebuah kesatuan cerita yang mampu menghadirkan rasa ketakutan mendalam pada setiap penontonnya.

Continue reading Review: The Conjuring (2013)

Review: Insidious (2011)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Continue reading Review: Insidious (2011)