Tag Archives: James Remar

Review: Horns (2014)

horns-posterDikenal dengan film-film semacam Haute Tension (2003), The Hills Have Eyes (2006) dan Piranha 3D (2010) yang menawarkan kengerian dengan menampilkan darah dan potongan-potongan tubuh kepada para penontonnya, sutradara asal Perancis, Alexandre Aja, mencoba untuk bermain dalam sebuah wilayah pengarahan yang sedikit berbeda dalam film terbarunya, Horns. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Keith Bunin berdasarkan novel berjudul sama karya Joe Hill, Horns masih menempatkan Aja pada nada penceritaan yang cukup familiar – supernatural thriller dengan bumbu black comedy yang kental – namun hadir dalam jalinan kisah mengenai cinta, keluarga, persahabatan dan agama yang membuat film ini tampil sedikit lebih kompleks jika dibandingkan dengan film-film arahan Aja sebelumnya. Dan, sayangnya, hal itulah yang secara perlahan menjerat Aja dan membuatnya terasa sedikit kebingungan bagaimana menampilkan kekayaan konten ceritanya tersebut secara merata.

Bukan bermaksud untuk menyatakan bahwa Horns adalah sebuah presentasi yang buruk. Dalam banyak kesempatan di 120 menit durasi penceritaannya, Horns mampu hadir sebagai dengan deretan ide yang brilian dan mampu dieksekusi dengan baik melalui imajinasi visual Aja yang berani. Horns juga seringkali berhasil menjadi sebuah character study bagi tema-tema cerita yang ingin dibawakannya. Dan Aja masih dapat memberikan kesenangan yang melimpah bagi penontonnya melalui satir dalam jalan ceritanya serta deretan adegan kekerasan yang, tentu saja, akan mengingatkan penonton mengenai berbagai karya Aja di masa lampau.

Bagian yang menjebak Horns untuk gagal menjadi sebuah sajian yang lebih kuat lagi adalah kegagalan Aja dalam menyajikan ceritanya melalui ritme penceritaan yang tepat. Seringkali, Horns terasa begitu lamban dalam pengisahannya untuk kemudian menyeret penonton ke berbagai detil yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan dalam penceritaan. Beberapa alur penceritaan yang menampilkan adegan cerita di masa lampau juga tidak dipungkiri kurang mampu ditempatkan dengan baik oleh Aja yang menjadikan narasi cerita menjadi kurang kuat serta, yang lebih fatal, beberapa misteri kemudian menjadi “terselesaikan” sebelum waktunya.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Horns hadir dalam satuan penampilan akting yang kuat dari deretan pengisi departemen aktingnya, khususnya dari sang pemeran utama, Daniel Radcliffe. Dengan penceritaan karakter yang digambarkan sebagai sosok yang moody, datar dan cenderung melakukan pemilihan keputusan yang salah – alias cukup sukar untuk disukai, Radcliffe justru tetap mampu membuat penonton memberikan simpati kepada karakter yang ia perankan dan terus mengajak mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Dengan kharismanya yang begitu kuat, Radcliffe menjadi tombak utama bagi Horns untuk tetap mampu mengalir dalam penceritaan yang cukup mengikat.

Selain karakter yang diperankan Radcliffe, harus diakui naskah cerita Horns tidak memberikan ruang yang cukup bagi karakter-karakter lain untuk berkembang. Pada kebanyakan bagian, keberadaan karakter-karakter minor lain terkesan hanya dijadikan sebagai alat agar penceritaan tetap berwarna dan berjalan. Tidak lebih. Meskipun begitu, karakter-karakter pendukung tersebut tetap mampu tampil mencolok berkat penampilan akting yang kuat dari para pemainnya. Mulai dari Juno Temple, Max Minghella, Joe Anderson, Heather Graham, Kelli Garner hingga David Morse mampu memberikan penampilan akting terbaik mereka sekaligus menjadi salah satu faktor kuat mengapa Horns masih layak untuk dinikmati terlepas dari beberapa kelemahan krusialnya. [C]

Horns (2014)

Directed by Alexandre Aja Produced by Alexandre Aja, Riza Aziz, Joey McFarland, Cathy Schulman, Joe Hill Written by Keith Bunin (screenplay), Joe Hill (novel, Horns) Starring Daniel Radcliffe, Max Minghella, Joe Anderson, Juno Temple, Kelli Garner, James Remar, Kathleen Quinlan, Heather Graham, David Morse, Alex Zahara, Kendra Anderson, Michael Adamthwaite, Desiree Zurowski, Mitchell Kummen, Dylan Schmid, Jared Ager-Foster, Sabrina Carpenter, Laine MacNeil, Erik McNamee Music by Robin Coudert Cinematography Frederick Elmes Edited by Baxter Production company Red Granite Pictures/Mandalay Pictures Running time 120 minutes Country United States, Canada Language English

Review: Django Unchained (2012)

django-unchained-header

Berlatar belakang waktu penceritaan pada tahun 1858, Django Unchained dibuka dengan perkenalan antara dua karakter utamanya, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Dr. Schultz adalah seorang dokter gigi yang semenjak beberapa tahun terakhir telah tidak beroperasi dan memilih untuk menjadi seorang pemburu bayaran. Sementara Django… well… Django adalah pria kulit hitam yang kini sedang menjadi seorang budak. Perkenalan keduanya terjadi setelah Dr. Schultz meminta bantuan Django untuk mengenali beberapa penjahat yang telah menjadi target perburuannya. Hubungan keduanya kemudian berjalan dengan baik. Dr. Schultz bahkan kini menjadikan Django sebagai rekannya dalam memburu setiap targetnya.

Continue reading Review: Django Unchained (2012)

Review: X-Men: First Class (2011)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

Continue reading Review: X-Men: First Class (2011)

Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)

Adalah sebuah pengetahuan umum bagi setiap pecinta film di dunia bahwa Michael Bay adalah seorang sutradara yang sangat handal ketika ia menghantarkan sebuah film yang disertai dengan begitu banyak adegan ledakan yang memerlukan tingkat pengarahan special effect yang tinggi. Namun, merupakan rahasia umum pula bahwa dalam setiap film-film yang diarahkan oleh Bay, tidak seorangpun seharusnya mengharapkan adanya pengembangan karakter yang jelas, kontinuitas jalan cerita yang terjaga maupun aliran emosi yang akan mampu membuat penonton peduli dengan apa yang terjadi pada setiap karakter di film yang mereka tonton. Transformers: Dark of the Moon sepertinya menjadi sebuah pembuktian kembali atas kenyataan tersebut.

Continue reading Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)

Review: Red (2010)

Sebagai sebuah film yang diadaptasi dari sebuah komik, Red cukup mampu menawarkan sebuah daya tarik yang cukup kuat lewat barisan pemerannya yang terdiri dari para aktor dan aktris senior Hollywood. Nama-nama seperti Bruce Willis, Morgan Freeman dan John Malkovich sepertinya akan menjadi sebuah perpaduan yang unik untuk disatukan dalam sebuah film yang menggunakan action comedy sebagai garis besar haluan naskah ceritanya. Ditambah lagi dengan kehadiran Helen Mirren yang tak pernah mengecewakan, Red jelas menawarkan sebuah paket hiburan yang tidak mudah untuk ditolak.

Continue reading Review: Red (2010)