Tag Archives: Jacki Weaver

Review: The Voices (2015)

the-voices-posterNama Marjane Satrapi mungkin akan lebih banyak dikenal atas dua film animasi yang pernah diarahkannya, Persepolis (2007) dan Chicken with Plums (2011), yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari kritikus film dunia namun juga menghasilkan cukup banyak kontroversi akibat penceritaan kedua film tersebut akan kondisi sosial politik dari negara Iran. Setelah sebelumnya mengarahkan sebuah film live action berjudul Gang of the Jotas (2012) yang juga ia bintangi, Satrapi kini beranjak ke Hollywood untuk mengarahkan film live action keduanya, The Voices. Dengan dukungan penampilan berkelas dari para aktor dan aktris papan atas internasional yang berada dalam jajaran departemen aktingnya, The Voices sekali lagi membuktikan kehandalan Satrapi dalam mengolah naskah cerita bernuansa black comedy yang kental menjadi sebuah sajian yang tidak hanya menghibur namun juga tajam sekaligus cerdas dalam pengisahannya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Michael R. Perry (Paranormal Activity 2, 2010), The Voices berkisah mengenai Jerry Hickfang (Ryan Reynolds), seorang pria penyendiri yang bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi perlengkapan kamar mandi. Sifat penyendiri Jerry sendiri bukannya hadir tanpa sebab. Jerry memiliki masa lalu yang kelam akan keluarganya. Untuk membantunya melupakan berbagai kenangan masa lalu akan keluarganya tersebut, semenjak lama Jerry telah berkonsultasi dengan seorang psikiater bernama Dr. Warren (Jacki Weaver). Sesi konsultasi bersama Dr. Warren sendiri awalnya mampu menghadirkan sedikit ketenangan dalam hidup Jerry. Namun, semua hal berubah ketika Jerry mulai menyukai seorang rekan kerjanya, Fiona (Gemma Arterton). Secara perlahan, Jerry berubah menjadi sosok brutal yang mampu melakukan berbagai hal mengerikan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Jika dibandingkan dengan film-film arahan Satrapi sebelumnya, The Voices jelas menghadirkan perubahan yang cukup radikal dalam nada pengarahan sutradara wanita kelahiran Iran berkewarganegaraan Perancis tersebut. Bukan hanya karena Satrapi kali ini mampu mengenyampingkan berbagai isu sosial maupun politik demi sajian komedi dalam jalan cerita filmnya namun Satrapi juga mampu menghadirkan The Voices dengan ritme penceritaan yang terasa lebih santai. Di satu bagian, Satrapi mampu mengupas kehidupan Jerry Hickfang dengan seksama, bagaimana cara ia memandang lingkungannya, cara ia berinteraksi dan bereaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya hingga caranya untuk menghadapi masa lalunya yang kelam. Di sisi lain, The Voices mampu dihadirkan dengan ritme cepat yang menegangkan ketika bagian-bagian penceritaan film ini sedang tampil sebagai sebuah horor bagi para penontonnya. Perpaduan warna dan ritme penceritaan itulah yang kemudian berhasil menghidupkan kecerdasan naskah cerita garapan Michael R. Perry sekaligus menjadikan The Voices terasa begitu emosional di beberapa bagian pengisahannya.

The Voices juga memberikan Satrapi peluang untuk bekerja dengan tata visual efek yang cukup rumit. Tanpa menghadirkannya sebagai sebuah sajian yang berlebihan, Satrapi menyajikan dua dunia yang berada dalam jalan pemikiran karakter Jerry Hickfang dengan sangat baik. Dua dunia yang terasa kontras tersebut mampu dihadirkan secara berdampingan dan tegas mempresentasikan kisahnya sehingga Satrapi tidak perlu lagi memberikan pengarahan kisah yang bertele-tele bagi penontonnya. Penataan gambar juga dimanfaatkan dengan efektif oleh Satrapi dalam menyajikan potongan-potongan kenangan dalam masa lalu karakter utama film ini. Memang, kehadiran potongan motif perilaku karakter Jerry Hickfang dalam jalan cerita The Voices memang terkesan klise. Meskipun begitu, pengemasannya yang apik berhasil membuat bagian pengisahan tersebut tidak menjadi distraksi bagi plot utama film.

Berperan sebagai sang karakter utama – serta mengisisuarakan karakter Mr. Whiskers dan Bosco yang menjadi peliharaannya, Ryan Reynolds jelas hadir bersinar dalam film ini. Tanpa pernah berusaha menjadikan karakter yang ia perankan terasa karikatural, Reynolds menyelami karakter Jerry Hickfang dengan seksama dan menyajikannya sebagai sosok – yang meskipun seorang pembunuh berdarah dingin dengan kejiwaan yang begitu terganggu – yang dapat terasa begitu humanis dan nyata. Pernah merasa bersimpati pada sosok seorang penjahat? Reynolds berhasil melakukannya dengan baik kepada karakter Jerry Hickfang. Jelas tampil kuat sebagai salah salah performa terbaik yang pernah disajikan Reynolds dalam karir beraktingnya.

Performa prima Reynolds juga didukung oleh kekuatan jajaran pengisi departemen akting lainnya dalam film ini. Nama-nama seperti Gemma Arterton, Anna Kendrick, Jacki Weaver hingga Ella Smith mampu menyajikan penampilan akting terbaik mereka dalam menghadirkan sosok karakter yang benar-benar akan mampu membius penonton dengan pesonanya. Kualitas departemen akting yang berkelas bagi sebuah film yang mampu disusun dan dieksekusi secara cerdas. Salah satu film terbaik tahun ini. Oh. Jangan terburu-buru untuk pergi begitu saja seusai jalan cerita film ini selesai. Dalam sentuhan komedinya yang begitu kuat, Satrapi menugaskan jajaran pemerannya untuk menyanyikan lagu Sing a Happy Song dari The O’Jays untuk ditampilkan dalam end credit film yang akan segera menghapus segala kenangan akan kekelaman yang dimiliki oleh jalan cerita The Voices. [B]

The Voices (2015)

Directed by Marjane Satrapi Produced by Matthew Rhodes, Adi Shankar, Roy Lee, Spencer Silna Written by Michael R. Perry Starring Ryan Reynolds, Anna Kendrick, Gemma Arterton, Jacki Weaver, Sam Spruell, Adi Shankar, Ella Smith, Paul Chahidi, Stanley Townsend, Valerie Koch, Paul Brightwell, Alessa Kordeck, Stephanie Vogt, Gulliver McGrath Music by Olivier Bernet Cinematography Maxime Alexandre Editing by Stephanie Roche Studio 1984 Private Defense Contractors/Babelsberg Studio/Mandalay Vision/Vertigo Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Magic in the Moonlight (2014)

magic-in-the-moonlight-posterLayaknya Scoop (2006) dan Cassandra’s Dream (2007) setelah Match Point (2005) atau Whatever Works (2009) dan You Will Meet a Tall Dark Stranger setelah (2010) setelah Vicky Christina Barcelona (2008), karya-karya Woody Allen serasa selalu melemah setelah menghasilkan satu film yang berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia. Dan setelah tahun lalu merilis Blue Jasmine (2014) yang tidak hanya berhasil meraih kesuksesan kritikal dan komersial namun juga memenangkan aktris utamanya, Cate Blanchett, sebuah Academy Awards untuk Best Actress in a Leading Role, banyak orang mungkin telah berharap bahwa karya teranyar Allen, Magic in the Moonlight, akan memiliki kualitas yang seadanya. Guess what? It’s not. Meskipun tidak mampu mencapai raihan kualitas Blue Jasmine, ataupun film-film terbaik Allen lainnya, Magic in the Moonlight mampu tampil begitu elegan dan menghibur – khususnya berkat penampilan spektakular dari Colin Firth dan Emma Stone.

Seperti halnya Midnight in Paris (2011), Allen kembali membawa penontonnya ke atmosfer romansa yang hadir di Perancis pada penghujung tahun ‘20an. Film yang menjadi film ke-44 yang ditulis dan diarahkan oleh Allen ini sendiri berkisah mengenai seorang ilusionis popular, Stanley Crawford (Firth), yang ditugaskan untuk membongkar kepalsuan seorang gadis bernama Sophie Baker (Stone) yang mengaku memiliki indra keenam lalu menggunakannya untuk kepentingan komersialnya. Konflik antara karakter Stanley yang menggambarkan dirinya sebagai manusia paling rasional di Bumi melawan karakter Sophie yang memiliki kemampuan spiritual inilah yang menjadi sajian utama film ini. Allen dengan lihai menggunakan kemampuan komedinya untuk memasukkan berbagai satir tentang kaum rasional dan kaum spiritual dalam setiap dialog karakter-karakternya untuk menghasilkan sajian hiburan yang cukup cerdas namun tetap terasa ringan.

Allen juga mampu mengeksekusi dan mengemas jalan ceritanya dengan baik. Ritme pengisahan Magic in the Moonlight berada pada tempo menengah yang mampu membuat film ini bercerita secara lebih mendetil namun tidak pernah terasa terlalu lamban dan membosankan. Inspirasi yang diberikan Perancis juga begitu mendukung pada tampilan keindahan visual film. Kembali bekerjasama dengan sinematografer Darius Khondji yang dahulu sempat mendukung Allen dalam Midnight in Paris, Magic in the Moonlight tidak pernah kehabisan persediaan deretan gambar yang akan mampu memanjakan mata penontonnya sekaligus mendukung unsur romansa yang terdapat dalam jalan cerita film.

Dari departemen akting, seperti biasa, Magic in the Moonlight berisikan nama-nama pemeran yang jelas tidak diragukan lagi kredibitas aktingnya. Berada di barisan utama adalah Colin Firth dan Emma Stone. Dengan daya tarik yang mereka miliki, Firth dan Stone mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik meskipun dengan karakterisasi peran yang saling bertolak belakang satu sama lain: Firth sebagai seorang pria yang selalu memandang dunia dengan rasa pesimis dan Stone sebagai gadis yang selalu menghabiskan waktunya dengan menikmati hidup. Penampilan keduanya adalah nyawa utama bagi film ini. Chemistry yang mereka hasilkan juga benar-benar terasa hangat, kuat dan meyakinkan. Setiap kali Firth dan Stone hadir bersamaan dalam adegan-adegan film, di saat itu pula Magic in the Moonlight mengeluarkan daya tarik terbaiknya yang tidak akan sanggup ditolak oleh siapapun.

Karakter-karakter lain yang berada di sekitar dua karakter yang diperankan Firth dan Stone hadir dalam kapasitas pendukung. Suatu hal yang cukup disayangkan sebenarnya. Dengan talenta-talenta seperti Marcia Gay Harden, Jacki Weaver hingga Hamish Linklater, Allen seharusnya mampu memberikan karakter-karakter pendukung dalam jalan cerita Magic in the Moonlight kesempatan dan porsi penceritaan yang lebih luas dan berisi. Deretan aktor pendukung tersebut tetap mampu tampil prima namun Magic in the Moonlight mungkin akan dapat tampil lebih kuat penceritaannya. [B-]

Magic in the Moonlight (2014)

Directed by Woody Allen Produced by Letty Aronson, Stephen Tenenbaum, Helen Robin Written by Woody Allen Starring Colin Firth, Emma Stone, Hamish Linklater, Marcia Gay Harden, Jacki Weaver, Erica Leerhsen, Eileen Atkins, Simon McBurney, Lionel Abelanski Cinematography Darius Khondji Edited by Alisa Lepselter Production company Perdido Productions Running time 97 minutes Country United States Language English

Review: Stoker (2013)

stoker-header

Menyutradarai film berbahasa Inggris jelas bukanlah sebuah hal yang mudah… khususnya ketika Anda merupakan seorang sutradara dari negara asing yang mencoba untuk menembus industri film dalam skala yang lebih besar seperti Hollywood. Lihat saja bagaimana sutradara pemenang Academy Awards asal Jerman, Florian Henckel von Donnersmarck (The Lives of Others, 2007), yang seketika menjadi bahan guyonan pemerhati film dunia ketika debut film berbahasa Inggris-nya, The Tourist (2010), mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film. Atau, contoh yang terbaru, ketika sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), harus menerima kenyataan bahwa film berbahasa Inggris pertama yang ia arahkan, The Last Stand (2013), gagal meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial ketika dirilis ke pasaran.

Continue reading Review: Stoker (2013)

Review: Silver Linings Playbook (2012)

silver-linings-playbook-header

Selepas keberhasilannya dalam mengarahkan The Fighter (2010) – yang berhasil meraih sukses komersial dengan total pendapatan lebih dari US$129 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus film dunia dan meraih 6 nominasi di ajang The 83rd Annual Academy Awards, termasuk untuk kategori Best Director – David O. Russell kembali hadir dengan film terbarunya, Silver Linings Playbook. Diadaptasi oleh Russell dari sebuah novel karya Matthew Quick yang berjudul sama, filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan antara seorang pria dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki ketidakstabilan emosional… dan awalnya terlihat saling tidak menyukai satu sama lain… dan kemudian berusaha saling membantu kekurangan diri masing-masing… and finallyyou guessed it! Keduanya terlibat dalam hubungan asmara. Yep. Silver Linings Playbook is indeed a romantic comedy. Tapi apakah Russell mampu menggarap Silver Linings Playbook menjadi sebuah komedi romantis yang lebih dari sekedar… well… komedi romantis?

Continue reading Review: Silver Linings Playbook (2012)

The 85th Annual Academy Awards Nominations List

oscars-2013They did it again! Tentu saja, Academy of Motion Pictures Arts and Sciences akan selalu menghadirkan kejutan dalam pemilihan nominasi Academy Awards mereka. Namun dengan tidak mengikutsertakan Ben Affleck (Argo) dan Kathryn Bigelow (Kathryn Bigelow) – yang banyak diprediksi merupakan calon nominasi yang dipastikan akan masuk – dalam nominasi Best Director? Jelas adalah sebuah kejutan besar! Menggantikan posisi Affleck dan Bigelow di posisi tersebut adalah Ben Zeitlin (Beasts of the Southern Wild) dan Michael Haneke (Amour). Sementara tiga nama lain, David O. Russell (Silver Linings Playbook), Ang Lee (Life of Pi) dan Steven Spielberg (Lincoln) merupakan nama-nama yang sebelumnya telah banyak diprediksi akan mendapatkan nominasi di kategori Best Director.

Continue reading The 85th Annual Academy Awards Nominations List

Review: Animal Kingdom (2010)

Dalam adegan pembukaan Animal Kingdom, Joshua Cody (James Frecheville), sedang duduk di sofa dan menonton sebuah acara televisi berdua bersama ibunya… hingga akhirnya ia menyadari bahwa ibunya telah meninggal dunia akibat heroin yang ia konsumsi. Saat pihak paramedis datang, Joshua menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan kepadanya mengenai kematian sang ibu, walau matanya masih terfokus pada acara televisi yang sedang ia saksikan. Kehidupan Joshua dan ibunya memang tidak pernah berjalan menyenangkan. Namun, kehidupan bersama ibunya tersebut masih tergolong jauh lebih baik dengan kehidupan yang akan ia hadapi setelah kematian sang ibu.

Continue reading Review: Animal Kingdom (2010)

The 83rd Annual Academy Awards Nomination Predictions

Ajang penghargaan bagi insan perfilman dunia tertinggi, Academy Awards, siap digelar untuk ke-83 kalinya pada 27 Februari 2010 mendatang. Setelah beberapa ajang penghargaan perfilman lainnya digelar, sepertinya telah semakin jelas mengenai film dan siapa saja yang berada di barisan terdepan untuk merebut Academy Awards tahun ini. Menjelang pengumuman nominasi 83rd Academy Awards yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, At the Movies mencoba membuat sedikit analisis dan prediksi mengenai mereka yang kemungkinan besar akan mendapatkan nominasi pada delapan kategori utama.

Continue reading The 83rd Annual Academy Awards Nomination Predictions